🚫Mengandung adegan dewasa, yang di bawah umur tolong di skip ya.🚫
Arief tiba di titik dimana ia mengantar Santi, namun sesampainya di sana ia mencari-cari Santi malah tak menemukan nya, hanya berkas Santi yang tercecer di jalan.
Arief meminta di antar kembali oleh pria tersebut menuju rumah Barley.
Arief turun dari motornya, kemudian berlari menuju pintu gerbang rumah tersebut.
"Pak Satpam tolong buka pintunya!" teriak Arief.
"Maaf tuan Arief sebaiknya anda pergi dari sini," ucap Satpam tersebut seraya mengusir Arief.
" Saya ingin menemui tuan muda, saya ingin menjelaskan sesuatu kepadanya!"Teriak Arief.
"Tuan muda tidak ada di rumah, beliau pergi ke luar kota." Satpam.
"Tolong lah Pak, sekali ini saja, biar kan saya menemui tuan muda," pinta Arief dengan mengiba.
"Sudah saya katakan tuan muda tidak ada di rumah, lihat saja mobilnya tidak ada kan?"
Pak Satpam menekan tombol untuk membuka garasi yang terlihat kosong, hanya ada beberapa mobil antik koleksi tuan Hasta.
"Kemana tuan muda membawa Santi, aku yakin Santi pasti dalam bahaya, Aku tahu seperti apa tuan muda Barley, "dengus Arief.
Sementara itu Santi berada di dalam mobil dalam keadaan tak sadarkan diri, mobil tersebut membawanya menuju luar kota.
Setibanya di sebuah villa, tubuh Santi di angkat dan di bawa ke dalam sebuah ruangan dengan tangan yang ikat.
Bebetapa saat berlalu Santi mulai sadar, matanya menerjab-nerjab melihat kearah sekeliling.
"Di mana aku?" Santi bertanya dengan kepala yang terasa berat, tangannya juga terikat.
Ia pun syok dan ketakutan, napasnya memburu dengan detak jantung yang berdetak kencang.
Santi menarik dan coba melepas cengraman tangannya.
Namun semua sia-sia, tubuhnya yang masih terasa lemah tak mampu melepas ikatan tali tambang tersebut.
Dari luar terdengar seperti suara langkah kali yang hendak masuk ke dalam ruangan di mana ia berada.
Keringat dingin mengucut deras dengan tubuh yang gemetar, Santi mencoba untuk duduk seraya kembali mencoba melepaskan ikatannya.
Langkah kaki tersebut berhenti, kemudian terdengar suara handle pintu seperti di tekan.
Kreakk pintu terbuka, dan tampaklah seorang pria tingga tampan dan gagah namun menggunakan tongkat, pria tersebut tak lain adalah Barley.
"Tuaan, tuan muda apa yang tuan akan la lakukan, kenapa mengikat dan menculik ku?"tanya Santi, tubuhnya semakin gemetar karna melihat senyum Barley yang menyeringai.
"Ha aku sudah bilang pada mu kan, jika suatu saat aku pasti membalaskan dendamku padamu." Barley.
Barley melihat wajah Santi yang ketakutan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada ku tuan muda?!"tanya Santi berteriak.
Ia begitu ketakutan saat melihat sorot tajam pada netra Barley.
"Aku ingin hak ku sebagai seorang suami," ucap Barley.
"Maksud, maksud mu apa ?" Santi semakin gemetar berkali-kali ia menelan ludahnya.
"Aku ingin melakukan apa yang seharusnya ku lakukan terhadap istriku, tapi aku tak ingin melakukannya dengan cinta karna aku tak mencintai mu, aku akan melakukanya dengan penuh dendam! dan tanpa perasaan."
Tatapan mata Barley kembali menintimidasi Santi, Santi benar-benar ketakutan.
"Jangan tuan, semua yang aku lakukan hanya karna aku ingin kau bamgkit dan tak putus asa, hanya itu saja, aku tak bernah berniat merendahkan mu, semua ku lakukan agar kau semakin bersemangat untuk sembuh, percayalah tuan, percayalah pada ku." Santi mengiba, matanya memerah dengan tetesan air yang mengalir.
"Ha ha aku tak butuh penjelasan mu, kau harus terima semua akibat, karna kau telah menghianati ku," ucap Barley dengan penuh emosi.
ha ha ha , Santi mengatur napasnya, ketika Barley melepas pakaiannya.
"Tolong tuan, jangan lakukan ini pada ku tuan, akan ku lakukan apa saja, asal jangan rusak mahkota ku," ucap Santi memohon, ia pun menangis.
Kini Barley berdiri dengan hanya mengenakan segitiga pengamannya, dan di balik segitiga tersebut terdapat senjata berbentuk rudal yang besar dan siap merobek mahkotanya.
Santi semakin genetar kini Barley mendekatkan wajah nya ke wajah Santi, hidungnya mendengus arona tubuh Santi.
"Sayang, akhirnya aku bisa memiliki mu," ucap Barley, pikirannya trafeling karna merasa yang ada di hadapannya tersebut Sania.
"Jangan tuan, jangan tuan, aku mohon," Santi memohon dengan tubuh yang gemetar, melihat Barley yang sudah begitu berhasrat terhadapnya.
Barley merebahkan tubuh Santi, mencium ceruk lehernya , dengan tanggan yang membuka kancing kemeja Santi satu per satu.
"Tidak! jangan tuan!" Santi memekik mengiba, kakinya menendang nendang ke segara arah.
Tapi Barley tak perduli, pikirannya di penuhi dengan hasrat dan sakit hati terhadap Santi, lagi pula Santi mirip Sania hingga Barley merasa bisa melampiaskan hasratnya seolah ia melakukanya dengan Sania.
Seluruh kancing kemeja Santi terlepas, dan secepat kilat ia menyambar dua bukit kembar yang masih menggunakan kaca mata pengaman.
"Jangan tuan! jangan, aku mohon." Santi terus meronta, menangis hingga histeris.
Dengan rakus Barley menghisap salah satu puncak bukit tersebut sementara tanganya merem*mas lembut pada bukit yang lainnya.
"Akh manis sekali, aku sudah lama tak merasakannya,"guman Barley.
Kini bibirnya menjejal bibir Santi, namun Santi berusaha melepaskan cengraman Barley, ia memaling kan wajahnya kearah lain.
"Tuan kasihanilah aku!" ucap Santi dengan wajah yang bersimbah air mata, suaranya pun parau karna berteriak-teriak.
Barley tak perduli, ia melepas seluruh pakaian yang menutupi tubuh Santi tanpa sehelai benang pun.
"Akh jangan tuan !" pintanya lagi mengiba.
"Kenapa? aku suami mu? dan aku lah yang paling berhak memilikinya, atau kau akan memberi tubuhmu pada selingkuhanmu itu?!"tanya Barley.
"Tidak tuan! aku tak pernah berselingkuh," tangis Santi.
Tapi Barley tak peduli hasratnya sudah memuncah ketika melihat tubuh indah Santi.
Barley membuka lebar sela*kangan Santi.
"Akhh jangan!" teriak Santi yang terakhir sebelum Barley benar-benar memasukan senjatanya.
Akh Akh, dengan kasar Barley menghentak hentak pertahanan Santi dan mengoyak mahkotanya dengan paksa , saat itu Santi sudah pasrah, matanya menatap langit langit rasa sakit dan pedih dari bawah bagian tubuhnya membuatnya mengerang.
"Akh!" Barley memejamkan matanya menikmati sensasi yang ia rasakan ketika berhasil membobol kegadisan istrinya.
Barley menarik senjatanya agar larva merah keluar, kemudian ia memasukan kembali senjatan laras panjangnya kembali masuk kedalam goa yang telah licin.
Santi putus asa keringat sudah mengucur seluruh tubuhnya, tubuhnya terasa lemas, tak mampu lagi melawan, karna semua sia-sia, ia harus menerima kenyatan jika mahkotanya terenggut paksa.
Barley terus berayaun di atas tubuh Santi, suara lengkuhan dan des*ahan terdengar sepanjang permainannya.
Setengah setengah jam ronde pertama usai dengan rasa kepuasan yang luar biasa, kini tubuh Barley yang basah oleh keringat tersebut tumbang di samping tubuh Santi, dengan senyum kemenangan ia membersihkan perlengkapan perangnya.
Santi meratapi nasibnya dengan tangan terikat tubuhnya pun terasa lemas.
Setelah mengatur napas, Barley melepas ikatan pada kedua pergelangan tangan Santi.
Santi menarik tangannya ia meringis karna terdapat luka pada pergelangan tanganya.
Barley tersenyum smirk, kini tubuhnya kembali berada di atas tubuh Barley.
Ronde kedua sayang," ucap Barley seraya menyambar bibir Santi.
Santi hanya bisa pasrah seraya menangis dalam hati, ia biarkan saja Barley menikmati tubuhnya sampai puas, hanya saja kini di hatinya tumbuh benih-benih kebencian terhadap suami tersebut.
Bersambung dukung author ya berikan like, komen, saran dan hadiahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Umaimah Syi'ra
semoga setelah Santi membencinya maka barleylah yg akan tergila-gila PD santi
2023-05-21
0
Yanti dian Nurhasyanti
😭😭😭😭
2022-11-28
0
Kinay naluw
makin benci deh Santi.
2022-09-04
0