Malam kelam tanpa setitik pun cahaya bintang, di sudut ruangan sunyi Barley termangu menatap dengan hampa sekelilingnya.
Bulir bening menetes membasahi pipinya, baru dua hari kepergian sang kekasih' rasanya ia sudah begitu merindukannya.
Tok..tok.. terdengar suara ketukan pintu.
Pintu langsung terbuka karna memang tak di kunci.
Seorang perawat datang menghampiri Barley.
"Maaf tuan muda, makan malammu sudah siap,"ucap gadis muda tersebut.
Gadis itu mendekati Barley, ia meletakan mampan diatas pangkuanya.
"Makan lah tuan muda,"ucap perawat yang bernama Dini tersebut seraya menyuapi nasi ke dalam mulut Barley.
"Aku tidak mau makan!"Barley menepis nampan tersebut hingga sup panas tumpah mengenai gadis itu.
"Aw, panas!panas!," teriak Dini, ketika sup tersubut tumpah di atas pangkuannya.
Dini berlari mencari pertolongan pertama, ia langsung menuju kamar mandi menyiram air pada bagian tubuh yang terkena tumpahan sup panas tersebut.
Setelah merasa baikan, Dini kembali ke kamar Baeley, ia membersihkan tumpahan makanan yang mengotori lantai.
Setelah bersih, ia pun keluar dari kamar Barley.
Perawat tersebut, turun dengan isi mampan yang kosong.
"Bagaimana dengan putra ku? apa dia memakan makanannya ?"tanya Andini pada Dini.
"Tidak Nyonya, saya sudah tak sanggup menghadapi tuan muda, ini yang ketiga kalinya beliau menumpahkan makanannya dan mengenai tubuh saya, saya ingin berhenti saja,"ucap Dini dengan wajah tertunduk serta bibir yang gemetar.
"Ya sudah, nanti saya akan bayarkan gaji kamu langsung ke rekening kamu,"ucap nyonya Andini.
Pelayan tersebut pun buru-buru pergi meninggalkan nyonya besarnya.
Andini menuju lantai atas kamar Barley.
"Barley kenapa kamu bersikap seperti itu Nak? jika kamu tidak makan dan minum obat, bagaimana kamu bisa sembuh?"
"Biarkan saja Mom, apa arti hidup ini, kini aku hanya seorang tuan muda yang cacat, kenapa aku tidak mati saja, agar aku bisa menyusul kekasih ku," ucap Barley dengan nada datarnya.
"Barley, kenapa kamu bicara seperti itu Nak, kamu putra kami satu-satunya, jika terjadi sesuatu sama kamu, bagaimana mommy bisa menjalani hidup ,tanpa kamu Barley."
Andini menangis memeluk putranya.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Barley, agar keadaan kamu pulih seperti sedia kala," ucap Anindi.
"Kamu masih muda Nak, masa depan kamu masih panjang, jadi kamu jangan putus asa, jodoh dan maut semua Tuhan yang menentukan, kita tak bisa menolak takdir dari Yang Kuasa." papar Andini.
Barley hanya tertunduk seraya menangis pilu, untuk selama-lamanya dirinya tak kan pernah bertemu dengan sang kekasih lagi.
Setelah menenangkan Barley, Andini menghampiri ruang kerja suaminya.
"Daddy, bagaimana menurut mu? baru dua hari sudah tiga orang suster yang berhenti, mereka tidak tahan dengan sikap Barley yang agresip, bahkan aku harus membayar ganti rugi, karna beberapa dari mereka terluka akibat perbuatan anak mu itu," keluh Andini kepada suaminya.
"Sudalah Mommy, untuk sementara kau saja yang mengurus putramu itu, setelah Barley menikahi adik Sania itu, barulah kita serah kan semua pada istrinya."
"Apa Daddy?! aku tidak setuju jika anak ku menikahi gadis seperti Santi, bahkan sebenarnya aku aku juga ngak setuju dengan Sania, tapi Barley sudah cinta mati, yah mau apalagi, "keluh Andini.
"Sudalah Mommy yang terpenting Barley mau menikah, soal cinta bisa datang belakangan."
"Dengan menikah, kemungkinan Barley bisa melupakan Sania. selain itu ada yang mengurus dia kan?"
"Ehm, bener juga Daddy, semoga Santi bisa diandalkan ya, hingga Barley bisa kembali bangkit serta sembuh kembali seperti sedia kala."
"Lalu kapan kita akan melamar Santi, Daddy?"
"Setelah empat puluh hari saja mommy, saat ini mereka sedang berduka, "ucap Hasta Raja Prawira.
"Iya jika begitu, tanggal pernikah Barley ngak usah dirubah, mereka akan menikah sesuai rencana semula," saran Andini.
"Atur saja mommy, Daddy sibuk ini," ucap tuan Hasta.
***
Setelah mengadakan tahlilan di rumah mereka, Santi kembali masuk ke kamar, kali ini ia tidur di kamar kakaknya.
Santi mengedarkan pandanganya kesegala arah, melihat photo-photo kenangan yang ditinggalkan oleh Sania.
Matanya pun tertuju pada manaken yang mengenakan gaun pengantin tersebut.
Santi mendekat kearah manaken, menatap gaun pengantin yang terpajang di sana.
"Kak, apa tahayul gaun pengantin yang kita bicarakan kemaren, kini menjadi kenyataan kak, harusnya...harusnya aku tak mengenakan gaun ini, jika akhirnya kau yang meminta ku untuk menggantikan mu menjadi pengantin dari tuan Barley, sungguh kak, aku tak bermaksud untuk merebutnya, hingga kau harus pergi meninggalkan dunia ini!" ucap Santi terbata-bata ia pun bersimpuh menangis pilu menyesali semuanya yang telah terjadi.
"Maafkan aku Kak, " tangis Santi meringkuk menyesali kepergian Sania yang tiba-tiba.
Asti masuk kedalam kamar Santi, dilihatnya Santi yang kembali menangis.
"Sudah Santi, kasihan kakak kamu, dia ngak akan tenang jika kamu terus menangisinya," papar Asti seraya merangkul Santi.
***
Waktu berlalu begitu cepat, kini sudah empat puluh hari sejak kepergian Sania.
Keluarga Barley dan keluarga Santi, sudah sepakat jika malam ini akan di langsungkan acara lamaran.
Andini telah bersiap mengenakan pakaian serba mewahnya, dengan kepercayaan diri penuh ia langsung menuju kamar Barley.
"Barley, ayo bersiap, "ucap Mommy sambil menuju walk in closed, ia mencari jas yang akan di gunakan Barley.
Setelah mengenakan putranya tersebut pakaian resmi, Andini membawa putranya menggunakan lift yang di buat khusus untuk Barley.
Dengan menggunakan kursi roda, Barley menghadiri acara lamaran tersebut.
Wajah Barley masih datar dengan tatapan kosong," Jika saja bukan kamu yang meminta ku menikahi Santi, aku pasti tak akan mau menikah lagi."
Sesampainya di sana mereka sudah di sambut oleh keluarga Santi.
Santi merias dirinya di depan cermin kesedihan masih tergambar jelas di wajahnya.
"Jika bukan karna Kakak yang meminta ku, aku pasti tak kan mau di jodohkan dengan tuan muda itu," Santi bermonolog di depan cermin.
Kedua keluarga pun bertemu dan mulai membicarakan tentang pernikahan keduanya yang akan berlangsung sebulan lagi.
Barley dan Santi terlihat datar, tak satu kata pun mereka ucapkan.
"Bagaimana Santi? kamu setujukan dengan rencana pernikahan kamu, kamu akan menikah tanpa menggelar resepsi karna keadaan Barley yang sedang tak memungkinkan?"tanya Andini.
"Iya saya setuju," jawab Santi datar.
"Kamu bersedia menerima kekurangan Barley yang kamu sendiri mengetahuinya?" Andini bertanya lagi.
"Bersedia nyonya,"jawab Santi masih dengan nada datarnya, sementara wajahnya tertunduk lesu.
"Baiklah Santi, kamu akan menikmati segala fasilitas sebagai istri Barley, tapi kamu juga punya tugas dan tanggung jawab sebagai istrinya..
"Kamu harus bisa merawat Barley, dan menemaninya kemana pun ia pergi selama dia menjalani perawatannya, kamu sanggup kan?" papar Andini.
"Sanggup nyonya," jawab Santi.
Santi menelan air ludahnya untuk membasahi kerongkangannya yang terasa kering, sudah terbayang kan bagaimana pernikahan yang akan ia jalani bersama Barley.
Santi berusaha menahan titik air matanya agar tak jatuh menetes. Andai saja aku bisa memilih, Batin Santi.
Bersambung, mohon tinggalkan jejak dukungan nya terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kinay naluw
menangisi orang yang meninggal boleh tapi yang meratapi itu yang ga boleh.
2022-09-04
1
imafe
tapi aku bersyukur jgk santinya gk koma langsung mnnggl
klo koma pasti ceritanya sm seperti disebelah,
pas lg sayang2nya santi sadar dr komanya
2022-07-07
0
Sufiah Suci
makin seru
2022-06-17
0