Seberkas sinar mentari masuk melalui celah jendela, membuat Santi tersadar seraya menerjabkan matanya.
"Sudah siang,"gumanya.
Santi kembali tidur, setelah terbagun pada subuh hari sehabis menunaikan dua rakaatnya.
Tok..tok...
Terdengar suara pintu di gedor oleh seseorang dari luar, setelah merapikan rambutnya, Santi pun bergegas membuka pintu.
Krek ...pintu di buka, tampaklah wanita cantik berwajah sinis.
Andini menatap lekat Tari, matanya melihat dari atas sampai bawah tubuh gadis itu.
"Jadi begini busana mu sehari-hari?" tanya Andini dengan tatapan sinisnya.
Santi melihat pakaian yang ia kenakan.
"Ada yang salah nyonya?"tanya Santi pada mertuanya.
"Aduh kamu tuh kampungan banget Santi, dengan busana seperti itu, wajar saja jika Barley tidak berselera terhadap kamu," cetusnya.
Santi terdiam, saat itu ia mengenakan celana kain dan baju kaos biasa.
"Sudah, nanti saya akan belanja keperluan untuk kamu Santi, pakaian, sepatu dan tas, jika seperti ini, aku jadi malu memperkenalkan kamu sebagai menantu," papar Andini dengan ketus.
Santi hanya terdiam, tanpa bisa menyahut.
Andini kembali melirik tajam kearah Santi.
"Sampai kapan kamu tetap diam?"tanya Andini.
"Sekarang kamu urus suami kamu, tugas kamu adalah melayani segala keperluan dan kebutuhan Barley, dan satu lagi, kamu harus bisa memberi kami keturunan,"cetus Andini.
"Mengerti kan?"tanya Andini lagi.
"Iya nyonya," jawab Santi.
"Bagus, sekarang sudah waktunya putra ku untuk sarapan, usahakan agar dia makan yang banyak, gunakan segala cara untuk merayunya," ucap Andini lagi.
"Ayo kedapur bikin roti lapis untuk suami mu."
Mereka pun berjalan beriringan.
"Kamu harus tahu, makanan favorite dari suamimu, setelah makan, kamu bantu dia untuk mandi," papar Andini.
"Sa..sa..saya harus membantu tuan muda untuk mandi?"tanya Santi.
"Iya dong, kamu kan istrinya,"sahut Andini ketus.
Roti isi selai pun sudah siap diatas piring, Santi membawa sarapan Barley menuju kamarnya.
Tok..tok... pintu di ketuk oleh Santi.
"Masuk!" seru Barley, suaranya terdengar karna pintu tersebut sedikit terbuka.
"Permisi tuan," ucap Santi seraya masuk kedalam kamar.
"Letakan saja sarapan saya di atas meja," ucap Barley datar.
"Baik tuan," ucap Santi seraya meletakan napannya di atas meja.
Santi pun menjauhi meja, dan bergerak membelakangi Barley.
"Tunggu apalagi kamu?" tanyanya ketus.
"Saya..di perintahkan nyonya untuk menyuapi tuan makan, setelah itu saya harus membantu tuan untuk mandi," ucap Santi lirih.
"Ngak perlu, saya bisa sendiri," sahut Barley dingin.
"Tapi tuan saya_"
"Saya bilang ngak perlu, ya ngak perlu! saya bisa lakukan sendiri, apa kamu pikir dengan keadaan saya seperti ini saya tak melakukan hal apa pun?!" sahutnya dengan membentak.
Barley mendekati mampannya berusaha menjangkau makanannya, namun ia justru tersungkur akibat ketidak seimbangan bagian depannya kursi roda yang menumpu beban tubuh Barley.
Bluk, tubuh Barley jatuh tersungkur, ia pun mengerang kesakitan, karna kakinya yang patah terbentur lantai.
Akh, teriak Barley seraya mengerang kesakitan.
"Tuan muda!" Santi mendekati Barley, kemudian membantu Barley mengangkat tubuhnya namun ia juga tak mampu.
Akhirnya, tubuh Barley terhuyung kedepan dan kembali jatuh menimpa tubuh Santi.
Keduanya pun jatuh.
"Akh, sakit," keluh Santi, saat bokongnya mendarat terhempas di atas lantai, belum lagi tubuh Barley yang menimpa tubuhnya.
Andini yang ingin melihat keadaan Barley menjadi kaget, melihat keduanya jatuh.
"Oh astaga!"
"Santi, kamu apakan Barley"tanya Andini.
"Saya membantu tuan muda yang jatuh dari kursi rodanya nyonya, namun karna saya tak mampu mengangkat tubuhnya saya pun ikut jatuh," papar Santi.
"Akh" Barley menahan sakit, ia coba untuk duduk diatas lantai.
Andini memanggil seseorang untuk membantu Barley kembali duduk di atas kursi rodanya, kebetulan saat itu Arief datang menghampiri mereka.
Di bantu oleh Andini akhirnya Barley kembali duduk di kursinya.
"Akh," ucap Barley seraya memegang kakinya yang terasa sakit.
"Kenapa Barley ?"tanya Andini.
"Aw kaki ku sakit sekali mommy," sahut Barley sambil meringis.
"Ayo kita periksa saja, Mommy takut terjadi sesuatu pada mu, " ucap Andini.
Andini melirik kearah Santi, "Baru saja kau menyentuh putraku, sekarang ia menjadi cedera karna kecerobohonan mu," cecar Andini.
Santi tertunduk, lagi-lagi ia yang di persalahkan.
Mereka pun membawa Barley untuk melalukan pemeriksaan.
Sesampainya di sana, Kaki barley kembali di rotgen, Hasil yang di terima sungguh mengejutkan.
"Tidak ada masalah, semuanya bagus, hanya sedikit trauma saja," papar dokter.
"Lalu kapan putra saya bisa melepas pen nya dok?"tanya Andini antusias.
"Jika tuan muda rutin mengkomsumsi obat serta vitamin yang saya berikan, serta tak melakukan gerakan yang berlebihan, kemungkinan enam sampai delapan bulan kedepan, namun ada resiko lain yang akan timbul dari trauma ini," papar dokter.
Andini kaget, "Apa itu dokter?"tanya Andini lagi.
Barley dan Arief pun menanti jawaban dokter tersebut.
"Tuan muda kemungkinan akan pincang," ucap dokter tersebut.
"Pincang dok?"tanya Andini.
"Berapa persen kemungkinannya dok?"tanya Andini lagi.
"Sekitar tujuh puluh sampai delapan puluh persen, tapi kemungikinan itu bisa sedikit berkurang jika saja tuan muda bisa bersabar dengan tidak melakukan gerakan spontan yang bisa menimbulkan cedera, seperti yang baru saja terjadi," ungkap dokter tersebut.
Andini menatap kearah Barley, "Dengar Barley mulai sekarang segala yang kau butuhkan akan di layani oleh istrimu."
Barley dan Santi hanya tertunduk.
Selesai pemeriksaan mereka langsung membawa Barley pulang kerumah.
Arief mendorong masuk Barley menuju kamarnya, begitupun Andini dan Santi.
"Santi! mulai sekarang kau harus tidur di kamar Barley, dua puluh empat jam kau harus mengawasinya, aku tak ingin terjadi sesuatu pada putra ku hingga membuatnya harus menanggung cacat seumur hidup," titah Andini.
"Kau juga Barley, apa gunanya kalian menikah jika kalian pisah ranjang," cetus Andini.
"Sudah, sepertinya kalian memang butuh waktu berdua, nanti biar aku menyuruh Wati untuk membawa semua barang-barang kamu Santi."Andini.
"Jaga Barley, makan, minum dan segala sesuatu yang ia butuh kan termasuk urusan ranjang, aku ingin putra ku bahagia," papar Andini kembali.
"Arief tinggalkan saja mereka berdua, "titah Andini pada Arief.
"Baik nyonya," ucap Arief'
"Tuan muda, nyonya, saya permisi,"ucap Arief seraya membungkuk kan sedikit tubuhnya.
Mereka berdua keluar dari kamar tersebut, sementara Santi hanya bisa menatap punggung mereka yang perlahan menghilang di balik pintu.
Santi menghela napas beratnya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk saat ini.
Berada di dalam sebuah kamar sebagai suami istri,namun semuanya terasa kaku, hanya kesunyian dan keheningan yang terjadi di dalam kamar itu.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka terdiam dalam kesunyian, hingga akhirnya Santi memutuskan untuk bertanya pada suaminya tersebut.
"Tuan muda, ada yang bisa ku lakukan untuk mu?"tanya Santi seraya meremas ujung kaosnya.
Barley mengalihkan pandanganya kearah Santi.
"Bisakah kau mengandung anak untuk ku?"tanya Barley dengan nada datar.
Hah, Santi terperangah, untuk beberapa saat dia terdiam.
Barley menatap kearah Santi.
"Kau bertanya pada ku kan? apa yang bisa kau lakukan untuk ku?"tanya Barley.
Santi terdiam seraya menunduk.
"Sekarang aku bertanya pada mu?" Mau kah kau mengandung anak ku?"tanya Barley.
Santi menelan ludahnya, untuk membasahi kerongkongannya.
"Jawab!" bentak Barley yang langsung mengagetkan Santi.
Bersambung berikan like komen dan votenya ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
linanti yani
sukurin
2023-10-23
1
Nurhayati Lubis
hahahaha...lucu sok jual mahal taunya 🤣🤣🤣
2023-07-01
0
𝖒𝖔𝖓🆁🅰🅹🅰❀∂я💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
jawaban telak 🤣🤣🤣🤣🤣
2023-02-18
0