Langit cerah seketika menjadi gelap, bumi basah oleh curah hujan yang tinggi.
Suara petir menggelegar di langit, rintik hujan terus berjatuhan tanpa tertahan.
"Kakak,"tangis Santi ketika berada di dalam mobil.
Curah hujan yang tinggi membuat Arief tak bisa melaju karna jalanan begitu licin.
Santi terus menangis, ia merasa gelisah.
"Kakak," tangisnya terisak dengan sesekali menyebut nama Sania.
Arief memperhatikan jalanan, ia mencoba untuk tetap fokus meski hatinya merasa gelisah. sesekali ia juga melirik kearah Santi yang menangis hingga air mata membajiri pipinya.
"Tenanglah Nona, kita berdoa saja untuk keselamatan keduanya," bujuk Arief menenangkan Santi.
Namun kata-kata Arief bak angin lalu, ia tak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan gelisahnya.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mereka pun sampai di rumah sakit.
Santi langsung menghambur keluar dari mobil dan masuk lewat ruang ugd.
Begitu pun Arief yang langsung menemui kedua orang tua Barley.
Nyonya Andini bahkan pingsan mendengar kabar kecelakaan yang menimpa putra tunggalnya tersebut.
"Tuan, bagaimana keadaan tuan muda?"tanya Arief yang terlihat cemas.
"Barley dan Sania sedang menjalani operasi, kita tunggu saja hasilnya," ucap Tuan Hasta Raja Prawira.
Sementara Santi hanya bisa bersadar pada dinding, kakinya seolah tak kuat menahan beban tubuhnya.
"Kakak, "ucap Santi lirih.
Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya Sania pun keluar dari ruang operasi, kemudian di ikuti dengan Barley.
"Suster bagaima keadaan kakak saya suster?"tanya Santi seraya berjalan cepat mengikuti suster tersebut.
"Operasi pasien berhasil hanya saja terjadi pendarahan pada otak kirinya, kita sudah berusaha semaksimal mungkin hasilnya tinggal kita serahkan saja pada Tuhan," ucap suster tersebut seraya menuju pintu lift.
Santi tergaman, air matanya menetes melihat kakaknya yang cantik dan begitu baik terbaring tak berdaya.
Suster tersebut membawa Sania kedalam ruang intensif.
Sementara Barley, keadaannya lebih baik, ia hanya mengalami patah tulang namun beberap tulang pergelangan tangan nya ada yang retak.
***
Sudah dua hari Sania tak sadar kan diri, itu membuat kedua orang tuanya sedih, apalagi keadaan Sania semakin memburuk.
Orang tua Sania langsung datang saat mengetahui putri mereka mendapat musibah.
***
Barley membuka mata, setelah dua hari pasca operasi, hari ini barulah ia sadar secara penuh.
"Sayang, Sayang!" teriak Barley mencari Sania.
Nyoya Andini buru-buru menghampirinya.
"Sayang, Barley, kamu sudah sadar?' Andini menghampiri Barley.
"Mommy, mana Sania Mommy?"tanya Barley seraya menangis.
"Barley kamu pikirkann saja diri kamu Nak, Sania sudah di tangani, dia dalam keadaan baik-baik saja," ujar Andini berbohong, agar Barley lebih tenang.
"Tidak Mommy!, aku ngak akan tenang sebelum aku melihat Sania," ucap Barley.
"Barley, kamu itu tidak boleh banyak bergerak, berbahaya, kamu bisa di operasi lagi,"cegah Andini.
"Tidak! aku tidak bisa tenang sebelum aku bertemu dengan Sania!" teriak Barley.
Karna tak ingin terjadi sesuatu pada putranya, Andini pun menyanggupi permintaan Barley.
Andini dan tuan Hasta membawa Barley menuju ruang ICU.
Hati Barley begitu hancur saat mengetahui kekasih hatinya dalam keadaan koma, ia pun menangis tergugu.
Barley sampai di ruang Sania, seketika ia menangis dengan memekik tertahan melihat Sania yang tak berdaya dengan bernagai alat bantu kesehatan yang terpasang si sekujur tubuhnya.
Berley mendekati Sania dengan mendorong kursi rodanya.
"Sayang!" gumanya nya lirih, tubuh Barley terguncang menahan tangisnya.
"Sayang, bangun sayang," ucap Barley ia pun menangis tergugu.
"Sayang aku di sini," ucapnya seraya meraih tangan tangan Sania dengan tangan kirinya.
Semua orang yang hadir kembali menangis melihat Barley yang begitu sedih.
"Sayang bangun, sebentar lagi kita akan menikah," ucap Barley seraya mencium telapak tangan Sania.
"Sayang ayo bangun," ucap Barley berkali-kali , namun Sania tetap diam.
Barley pun menangis tanpa suara tubuhnya terguncang.
"Barley sudalah Nak, mungkin Sania butuh istirahat, besok kamu kesini lagi ya,"bujuk Andini.
"Tidak Mommy! aku ngak akan pergi dari sini sebelum Sania bangun!" teriak Barley.
Barley membuat kegaduhan di ruang ICU.
Barley kembali menangis tergugu.
Barley mendekati Sania kemudian mencium pipinya, "Bangun sayang, katakan sesuatu pada ku," ucap Barley.
Lama menunggu namun tak bereaksi, tiba tiba saja mereka melihat Sania menggerak-gerakkan kelopak matanya, kemudian secara perlahan ia membuka matanya.
Melihat hal tersebut, keluarga pun mendekati Sania, mereka senang karna melihat Sania sudah sadar.
Barley menghapus air matanya, ketika melihat Sania siuman.
" Sayang, sayang kamu sudah sadar?"tanya Barley senang.
Ehm, Sania mengguman.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?"tanya Barley.
Sania meraba tangan Barley, kemudian ia memanggil Santi.
"Dek, dek," ucapnya lirih.
Santi yang sedang menangis pun mendekati Sania.
"Iya kak, dedek di sini," ucapnya seraya menyentuh tangan kakanya.
"Sayang!"Sania memanggil Barley.
"Iya sayang," sahut Barley.
"Sayang jika aku tidak sudah tidak ada, nikahi lah adikku, aku hanya percaya padanya untuk menjaga mu, " ucap Sania lirih.
Mendengar ucapan Sania, mereka semua menangis histeris.
"Tidak sayang, kau tak boleh pergi dari ku," tolak Barley.
"Tapi aku sudah tidak kuat sayang, aku harus pergi," ucap Sania terbata-bata.
"Dek!"Sania memanggil lirih Santi.
"Dek, kau mau kan menggantikan kakak menjadi pendamping hidup tuan muda Barley," ucap Sania kepada Santi.
"Ngak kak, kakak harus kuat, kakak ngak boleh pergi, "ucap Santi sambil terisak.
"Dek, kamu jaga Barley untuk Kakak ya, kakak yakin kamu bisa membahagia kannya." ucap Sania dengan suara yang terputus putus.
"Sayang, kamu harus bisa melupakan dan mengiklaskan aku, belajarlah mencintai Santi," ucap Sania.
Barley tak sanggup berkata-kata begitu pun Santi, mereka hanya menangis dalam dukanya.
"Bapak, Ibu, Sania pamit, maafkan kesalahan Sania, maaf Sania belum bisa berbakti pada bapak dan ibu, iklaskan Sania," ucapnya dengan bola mata yang berpendar.
"Iya Nak, kami iklas, pergilah dengan tenang, menuju tempat terbaikmu, "ucap Sang bunda kepaa Sania, mereka pun tersedu-sedu.
Sania menarik napas panjang beberapa kali dam mengembuskanya secara teratur, yang terakhir, ia menarik napas panjang dan menghempaskanya, matanya terpejam seiring hembusan nafas terakhirnya.
Sania pergi dalam keadaan tersenyum.
"Sania, !Kakak, !Sayang!" teriak mereka serempak, tangis haru dan pilu pun memecah kesunyian ruangan tersebut.
Sahut menyahut mereka memanggil nama Sania.
"Sayang, kenapa kau tega meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini!" teriak Barley dalam tangisnya.
"Kakak!" jangan tinggalkan dedek Kak, dedek sayang sama kakak," tangis Santi.
Bunda Asti merangkul Santi seraya mengusap kepala putri bungsunya.
"Sabar Santi, iklaskan Kakak mu Nak, dia sudah tenang disana," ucap Asti sambil memeluk Santi.
Ayah Sania pun menangis, mereka bergantian mencium kening Sania.
Seperti tak menerima kenyataan, Barley terus menangis, memberontak, seperti orang yang kesurupan.
Bersambung, setelah baca tekan like beri komentarnya ya reader yang baik hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Denni Siahaan
tuan muda kok gak ada pengawal
2025-01-16
0
Siti Kolisah
menyedihkan😭
2023-04-17
0
Juwita
meleleh aku thoor
2023-02-11
0