Dari bandara Arief mengantar Santi menuju rumah Barley, karna Nyonya Andini memintanya untuk segera meninggalkan rumah tersebut.
Hampir satu jam Santi membereskan pakaiannya, berkali-kali ia memeriksa barang-barangnya agar tak ada satu pun yang tertinggal.
Santi melihat sekeliling kamar Barley ada perasaan sedih di hatinya, satu setengah bulan menjalani kehidupan rumah yang tak terbayangkan sebelumnya.
Suka duka menjadi istri pun sempat ia rasakan meski tuan muda selalu bersikaf angkuh, namun jauh di lubuk hatinya ia merasa jika Barley orang yang baik.
Setelah semua siap, Santi kembali menatap kamar itu untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal tuan muda,semoga kau bisa segera pulih seperti sedia kala," gunmannya pelan.
"Maaf Kak, aku memang tak layak mendampingi tuan muda, setidaknya aku sudah merawatnya hampir dua bulan, tuan muda berhak melanjutkan kehidupan dan memiliki pasangan terbaik," guman Santi sambil menutup pintu kamarnya.
Setelah pamit dan ijin dengan para assisten rumah tangganya, Santi pun kembali ke mobil dan memui Arief.
"Ayo Bang Arief kita pergi dari sini," ucapnya kemudian masuk kedalam mobil.
"Kita kemana Nyonya?" tanya Arief.
Seketika Santi melirik kerah Arief tajam, Arief pun mengkoreksi kesalahan ucapannya.
"Ops, lupa, kita kemana sekarang Dek Santi?"tanya Arief seraya tersenyum.
Santi tersenyum, "Langsung ke rumah saja Bang," cetusnya.
Mereka pun tersenyum malu-malu.
Setelah obrolan tersebut tak ada obrolan lain, mereka pun bungkam seribu baha, mungkin tak ada yang bisa di bahas oleh keduanya.
Setelah sampai tepat di depan rumah mendiang Sania, kehadiran Santi di sambut antusias oleh kedua orang tuanya, mereka mengira jika Santi datang hanya untuk berkunjung.
Namun bola mata mereka membulat secara sempurna ketika Arief mengeluarkan beberapa koper milik Santi dari dalam mobil.
"Nak, kenapa kamu bawa pakaian kamu banyak sekali?"tanya Asti heran.
Santi tersenyum kecut," Kita masuk dulu Bu," ucap Santi seraya menarik koper-kopernya.
"Bang Arief masuk dulu yuk!"ajak Santi.
"Ehm lain kali saja Ya, saya masih ada urusan," sahut Arief seraya membuka pintu mobil dan masuk kembali.
"Oke, terima kasih ya Bang," seru Santi kembali.
Arief hanya mengacungkan jempolnya kearah Santi.
Setelah kepergian Arief, Asti membawa koper-koper putrinya untuk masuk kedalam rumah.
Koper tersebut di biarkan saja di ruang tamu karna Asti tak sabar mendengar penjelasan dari Santi.
Santi duduk dengan tenang di sofa ruang tamu, kemudian Asti pun mengikutinya.
"Ada apa Nak? Apa sebenarnya yang terjadi" tanya Asti dengan perasaan khawatir terhadap anak gadisnya satu-satunya.
Asti menangkap raut wajah sedih pada wajah putrinya.
Santi memijat-mijat jarinya seraya mencari cara bagaimana menjelaskan semua yang telah terjadi padanya.
"Santi? ada apa ini? kenapa kamu terlihat binggung?"tanya Asti.
"Ehm Bu, Santi.... Santi sudah memutuskan untuk menggugat cerai tuan muda Bu," ucap Santi dengan gelisah.
"Apa?!"tapi kenapa Santi?.kamu pikir pernikahan itu seperti mainan, semudah itu kamu kawin cerai, ingat Santi kamu belum genap dua bulan menikah tapi sudah mau bercerai? Apa kata orang-orang Nak, kamu sendiri yang rugi!"cecar Asti dengan Emosi.
"Tapi Bu, Santi ngak cinta dengan tuan muda Barley, bahkan Santi membencinya," ujarnya berbohong.
"Santi, pasti terjadi sesuatu sama kamu di sana, hingga lamu secepat ini ingin mengakhiri pernikahan kamu, apa kamu mengalami KDRT di sana?!"tanya Asti dengan emosi.
"Ngak kok Bu, ibu boleh periksa di tubuh Santi, ngak ada bekas luka atau pun apa, hanya Santi tak suka berada di antara orang-orang kaya seperti mereka,"kilah Santi.
"Tapi kamu pikir baik baik lagi Santi, jadi janda di usia muda, tidak lah gampang Nak, status seorang janda sering kali jadi penghambat restu orang tua jika kelak kamu menikah lagi dengan pria lajang. apa kamu ngak pikir kan hal itu? tanya Asti kembali.
"Enggak kok Bu, Santi sudah yakin, sekarang Santi harus ke kamar, lain kali saja kita ngobrolnya, Santi capek," ujarnya seraya bangkit menuju kamarnya.
Asti menatap kecewa kepegian Santi.
***
Sudah dua minggu Barley di rumah sakit, keadaannya pun sudah mulai pulih, kini Barley tinggal belajar menggerakan anggota geraknya.
Barley sudah bisa berjalan dengan satu tongkat, tangannya pun telah berfungsi seperti sedia kala.
Setelah mengurus administrasinya kedua orang tua Barley langsung membawanya pulang untuk mas penyembuhan.
Belasan jam di habiskan Barley di dalam pesawat,di sampingnya kini ia duduk di samping Amora.
Entah kenapa, sejak terjadi kecelakaan tersebut, Barley bersikaf semakin acu terhadap Amora, bahkan terkesan ingin menghindarinya.
Amora melirik kearah Barley, setiap kali mereka bertentang mata, Barley selalu membuang mukanya.
"Barley kamu kenapa sih, kecut banget wajahnya, kamu ingat dong aku ini calon istri kamu, bahkan kita sudah di jodohkan sejak kita masih kecil," Amora.
Barley hanya diam tak bereaksi, melihat Amora yang terlalu agresif membuatnya semakin tak menyukai gadis blasteran tersebut.
"Barley, aku bicara pada mu,"dengus Amora kesal.
Tapi Barley tetap diam tak perduli sedikit pun.
Akhirnya Amora menutup rapat mulutnya karna omongannya tak di sahut sedikit pun oleh Barley.
Bayangan perjalanan romantis bersama Barley pun seketika musnah sudah, melihat sikaf Barley saja sudah cukup membuatnya menjadi emosi, ia pun menyandarkan kepalanya mencoba untuk menutup mata agar bisa terlelap.
Sama halnya dengan Barley perjalanan yang membosankan bersama orang yang membosankan membuat matanya mengantuk.
Setelah berjam-jam terbang akhirnya pesawat yang berhasil mendarat di bandara.
Rasa lelah menghampiri Barley, dan anggota keluarganya mereka pun memutuskan untuk segera pulang dan makan malam di rumah, agar bisa segera beristirahat.
Satu jam berlalu mereka pun tiba dimansion mewah mereka.
Dengan menggunakan satu tongkat Barley pun kini bisa mandiri, meski ia harus sering melatih gerakan otot-otonya yang lama tak di aktifkan.
Kedatangan mereka sudah di sambut oleh para asisten rumah tangga, Barley menatap satu persatu deretan wanita tersebut, namun juga tak menemukan Santi.
Ada dua hal yang membuatnya ingin bertemu Santi, yang pertama ia ingin membalas perbuatan Santi yang terhadapnya, yang kedua jauh di lubuk hatinya terselit perasaan rindu yang coba ia ingkari.
"'Barley!, ayo kita langsung makan malam!" ajak Andini ketika melihat Barley yang langsung menuju pintu lift.
"Nanti saja Mommy aku masih lelah," sahutnya seraya langsung menuji lift dan naik menuju kamarnya.
Sesampainya di lantai dua, pintu lift terbuka tepat berada di depan pintu kamarnya.
Barley langsung menuju kamar, namun ia
mersa heran kenapa kamarnya kosong.
"Kemana Santi?"gumannya.
Ah pasti dia mau mengerjaiku lagi, kali ini biar aku yang mengerjainya.
Barley mencari-cari Santi dari kamar hingga ke dapur, namun tak jua menemuinya.
"Wati!" seru Barley.
Wati menoleh dan langsung menghampiri Barley.
"Ada apa tuan?"tanya Wati.
"Kemana Santi?" tanya Barley.
"Oh Nyonya sudah pergi dari rumah ini dua minggu yang lalu tuan," jawab Wati.
"Apa beraninya ia pergi dari rumah ini tanpa ijin aku suaminya!" seru Barley dengan geram.
"Tunggu saja, akan ku cari dia sampai ketemu!" ucapnya seraya mengepal tangan.
Bersambung, tinggalkan jejak dukungan untuk karya receh author, dukungan kalian sangat bearti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kinay naluw
ish masih punya rindu.
2022-09-04
0
Sri Atun
mulai rindu
2022-06-26
0
Sri Atun
mulai rindu
2022-06-26
0