Janur kuning melambai di depan rumah mendiang Sania, lengkap dengan tenda dan pelaminan yang sederhana.
Para keluarga dan tamu undangan, hadir untuk menyaksikan dan memberi doa pada akad nikah Santi dan Barley.
Santi terdiam menatap wajahnya di depan cermin yang sedang menggunakan kebaya yang sudah di persiapkan Sania dan Barley untuk akad nikah mereka, rona kesedihan terpancar jelas di wajahnya, ia tak pernah tahu pria seperti apa yang akan dinikahinya.
Barley Milano sebelumnya adalah tunangan dari kakaknya, ia sering mendengar kisah romantis dan kebaikan Barley terhadap saudaranya itu, tapi di sisi lain ia juga pernah mendengar sifat-sifat buruk dari tuan muda tersebut.
MUA, yang merias Santi beberapa kali membenahkan make-up gadis tersebut yang luntur karna guyuran air matanya.
Karna kesal, perias tersebut pun membuka suaranya.
"Mbak, jika Mbak menangis terus maka pekerjaan kita tak akan pernah selesai," protes MUA tersebut kepada Santi.
Hiks hiks, Santi berusaha untuk menahan air matanya agar tak menetes kembali.
Asti yang juga sedang di rias di sebelahnya menggelengkan kepala.
"Santi, jika kamu tak menginginkan pernikahan ini, kenapa kamu setuju Nak,, saat kami menanyakan kesediaan kamu untuk menikah dengan tuan muda Barley." Asti.
Hiks hiks
"Santi hanya sedih Bu, harusnya hari ini kakak yang bersanding dengan tuan muda Barley, bukannya Santi, hiks,hiks," tangisnya kembali.
"Santi kamu jangan ingat hal itu lagi Nak, saat ini kakak kamu sudah tenang di alamnya, dia pasti senang melihat kamu menikah," ucap Asti yang juga haru, ia pun memeluk Santi.
"Iya Bu, ini semua Santi lakukan hanya karna permintaan kakak, tak pernah sekali pun terlintas di benak Santi, ingin merebut tuan Barley dari kakak,"ucap Santi terbata-bata.
"Tapi jika kamu tak menginginkan pernikahan ini, kita masih bisa membatalkannya Santi, kamu ngak harus menanggung kesalahan yang tak kamu lakukan," ucap Asti.
"Hiks..hiks, biar saja Bu, semoga saja Santi bisa membahagiakan tuan muda, seperti harapan kakak, hiks..hiks." tutur Santi.
"Ya sudah jika memang itu keputusan kamu, ibu dan bapak tak pernah memaksa kamu Nak, kamu lakukan saja yang menurut kamu benar dan sesuai keinginan kamu, kami sebagai orang tua hanya bisa berdoa agar rumah tangga kamu langgeng, kamu juga bahagia," ucap Asti seraya menangis haru.
"Semoga saja Bu,"ucap Santi.
Keduanya pun berpelukan haru.
Sementara di rumah Barley, Barley sudah mengenakan pakain resmi pengantin pria, bulir bening terus menetes di pipinya namun langsung dihapus olehnya.
Bayangan Sania yang mengenakan gaun pengantin mereka, masih terbayang di pelupuk mata Barley, ia berharap ini hanya mimpi buruk yang sebentar lagi ia akan tersadar.
"Sayang hari ini adalah hari yang sudah lama aku tunggu, setelah sekian menanti datangnya saat ini, tapi apalah arti pernikahan yang ku jalani, jika bukan kau yang menjadi pengantinnya,"
" sayang aku merindukan mu, merindu kan mu, aku sangat merindukan mu, " ucap Barley lirih ia pun menangis kembali.
Tubuh Barley pun bergetar menahan tangisan pilunya, berkali-kali ia berusaha menyeka air mata yang tak pernah kering tersebut.
Barley memang terkenal arogan, dingin, dan keras kepala, namun sebalik itu pria tangguh seperti juga bisa terluka dan menangis.
Ketika sesuatu yang begitu ingin ia milik, hilang dalam sekejab mata, bahkan ia sudah menanti hari ini dalam penantiannya yang lama.
Apalah daya, sebanyak apapun harta yang kau miliki, kau tak akan mampu membeli takdir mu sendiri.
Barley menarik nafasnya seraya menghapus air matanya sendiri, sungguh suatu kisah cinta yang memilukan dan menyesakkan dadanya.
Barley tergaman, terdiam, di ruang sepi dalam ruang hampa hatinya sendiri.
Andini yang sudah siap dengan atributnya memasuki kamar Barley.
"Barley ayo Nak, "ajak Andini seraya menarik kursi roda Barley.
Barley hanya diam, duduk tenang dengan tatapan mata kosong penuh kehampaan.
Mereka pun membawa Barley menuju rumah calon mempelai wanita.
Selama di perjalanan tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya.
Kedatangan keluarga Barley di sambut meriah oleh keluarga Santi.
Setelah melakoni beberapa ritual adat, keluarga calon mempelai pria pun di persilakan masuk.
Andini mendorong kursi roda Barley menuju meja kecil yang akan di gunakan tempat Barley dan Santi menandatangani buku nikah mereka.
"Barley kau susah menghapal ikrar akad nikahmu kan?"tanya Andini.
"Sudah Mommy,"sahut Barley datar.
Kedua orang tua Santi beserta penghulu dan beberapa saksi, sudah memenuhi kursi mereka masing-masing.
Suasana kembali tenang, karna acara ijab qabul segera di mulai.
Harjo menghadap Barley seraya menjabat tangan Barley.
"Sudah siap?"tanya penghulu.
"Siap," ucap Harjo.
"Baiklah Bapak Harjo selaku orang tua kandung akan menjadi wali nikahnya," papar penghulu tersebut.
"Kita mulai saja, "penguhulu memberi abaaba.
Harjo menarik nafas panjang dan menghelanya secara perlahan.
"Saudara Barley saya nikah dan kawinkan kamu dengan putri saya yang bernama Ariesanti binti harjo dengan mas kawin sebentuk cincin di bayar tunai."
Barley menyambut jabatan tangan Harjo.
"Saya terima nikah dan kawinya Sania_" Barley tak melanjutkan kata-katanya,
jabatan tangan pun di lepas oleh Harjo karna Barley salah dalam menyebut nama calon istrinya.
Sejenak mereka semua hening.
Harjo menatap lekat Barley, hingga membuat Barley merasa tak nyaman, ia pun menundukan wajahnya.
"Baiklah kesalahan dalam mengucapan ijab qabul itu biasa, kita bisa mulai lagi." Penghulu.
"Ayo pak Harjo kita mulai lagi,"ucap penghulu tersebut.
"Sudah siapkan saudara Barley?"tanya penghulu, yang hanya di jawab anggukan oleh Barley.
Harjo kembali menjabat tangan Barley.
Andini membisikan sesuatu kepada Barley, Barley hanya menggangguk.
"Saudara Barley Milano, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan anak saya yang bernama Ariesanti dengan mas kawin sebentuk cincin di bayar tunai."
Barley menghela nafas panjangnya kemudian menghempaskannya, ia pun langsung menyambut jabatan tangan Harjo.
"Saya terima nikahnya Ariesanti binti Harjo dengan mas kawin cincin berlian di bayar tunai, "ucap Baley.
Sejenak hening,
"Bagaimana saksi, Sah?"tanya Penghulu.
"Sah!" hadirin menjawab.
Air mata Santi tak terbendungkan, saat itu ia kembali menangis, padahal sudah ia lakukan segala cara agar air mata tersebut tak lagi tumpah.
"Kakak, aku sudah memenuhi keinginan mu," ucap Santi lirih, seraya kembali menyapu air matanya.
Andini mendekati Barley, yang terdiam di kursi rodanya.
"Barley, sekarang kamu resmi menjadi seorang suami," mommy senang sekali, ucap Andini sambil memeluk Barley.
"Karna keduanya resmi menikah kalian berdua silahkan mendatangani buku nikah ini, "ucap penghulu.
Karna tangan kanan Barley belum bisa berfungsi seperti semula, Barley menggunakan cap jempolnya sebagai pengganti tanda tanganya.
Berbagai acara pun mereka lakoni, keduanya samasama terlihat dingin, tak ada rona kebahagian yang terpancar pada wajah pengantin baru tersebut.
Setelah serangkaian acara, kini kedua keluarga kembali duduk bersama.
Andini mengemukakan keinginannya di sela-sela perbincangan mereka.
"Setelah pernikahan ini, Santi kamu harus kemasi barang-barang yang kamu, karna hari ini juga kamu akan ikut tinggal bersama kami," ucap Andini.
Asti kaget mendengar pernyataan dari besannya tersebut.
"Tapi bu biasanya pengantin akan menghabiskan malam pertama mereka di rumah pengantin wanita,"sanggah Asti.
"Ngak bisa bu, Barley ngak akan nyaman tinggal di rumah yang sempit seperti ini, ibu tahu kan keadaan anak saya," sahut Andini ketus.
Asti tertunduk, besannya mulai menunjukan sikap arogan mereka.
"Tapi_"Asti
"Sudalah Bu, Santi ngak apa-apa kok, nanti Santi akan sering-sering mengunjungi bapak dan ibu," ucap Santi menengahi keduanya.
Santi langsung menuju kamarnya seraya mengganti pakaiannya, untuk menebus rasa bersalahnya pada Sania ia bersedia melakukan apapun.
Bersambung, tinggalkan jejak dukungan untuk author ya, terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kinay naluw
ed dah tu bumer judes amad.
2022-09-04
0
Amanda irmawati
semoga Santi baik2 saja
2022-06-29
0
Atik Aulia Hery
apakah Santi akan tertekan dg pernikahan ini
2022-06-07
2