Mentari pagi ini bersinar dengan cerah, sinarnya perlahan menilik di balik jendela.
Santi menyibak gorden yang berwarna putih tersebut, agar suasana segar dan hangat terasa di kamar itu.
Mata Barley menerjab-nerjab karna merasa silau, ia pun melirik kearah Santi.
"Hai, kenapa kau buka jendelanya, aku masih ingin tidur!" teriak Barley.
"Hari ini kita akan terbang ke Jerman tuan, sebaiknya kau bersiap, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu, "papar Santi seraya mendekat kearah Barley.
Setelah beberapa hari menjadi istri Barley, ia sudah terbiasa mengurusi suaminya tersebut, dan selama ini, Barley tak bisa protes terhadap apa yang ia lakukan.
Santi menjalani rutinitas biasanya, memandikan Barley, menyuapinya makan, dan mengurus semua kebutuhannya.
Pagi-pagi sekali Santi harus mengepack barang barang yang akan di bawa ke Jerman selama Barley menjalani perawatan di sana.
Setelah semua koper dan kebutuhan mereka siap, Santi kembali memulai aktifitasnya sebagai seorang istri lebih tepatnya sebagai perawat sang suami.
Setelah Barley siap, Santi turun ke dapur untuk membuat roti isi sebagai sarapan mereka.
Seorang pelayan datang menghampirinya di dapur.
"Nyonya, anda di panggil oleh nyonya besar," ucap Wati salah seorang pelayan di rumah itu.
"Iya, saya akan segera ke sana, " sahut Santi.
Iya pun pergi menghadap Andini, Santi masuk kedalam sebuah ruangan, di sana tak hanya ada ibu mertuanya tapi juga seorang wanita cantik berparas blasteran.
"Santi kemari!" seru Andini memanggilnya.
Santi berjalan menghampiri kedua wanita tersebut.
"Santi, perkenalkan ini Amora." cetus Andinin seraya melirik ke arah Amora.
"Amora adalah gadis yang sudah di jodohkan dengan Barley sejak mereka kecil,"papar Andini dengan tatapan sinisnya kearah Santi.
Santi menggangguk pelan, ia tak tahu apa maksud mertuanya tersebut membicarakan hal itu kepadanya.
"Iya Nyonya, apa ada hal yang lebih penting?"tanya Santi ketus.
"Tidak ada, silahkan kembali, "sahut Andini.
Saat Santi hendak pergi, Andini menahannya.
"Oh ya, satu lagi Santi, dalam waktu dekat Amora dan Barley akan menikah, tentunya setelah Barley selesai dari pengobatannya." ucapnya secara lugas dengan tatapan mata yang merendahkan Santi.
Santi merasa syok, tapi tak sedikit pun merubah perasaannya, toh iya juga tak mencintai Barley.
"Iya Nyonya, "sahut Santi datar.
"Dan ini uang dua puluh lima juta, uang bulanan untuk mu, anggap saja sebagai upah karna kerja keras kamu dalam merawat Barley." papar Andini.
Kali ini ada rasa sakit yang terbesit di hati Santi, jika memang dirinya dianggap sebagai perawat mengapa mereka harus menikah.
"Iya Nyonya," Santi pun menerima amplok tersebut, kemudian keluar.
Iya kembali mengambil nampannya yang tertinggal di dapur, kemudian membawanya menuju kamar Barley.
Wajah Santi yang ceria tiba-tiba saja berubah murung.
Santi mendekat kearah Barley, kemudian duduk dihadapanya.
Tuan muda makanlah, ucap Santi lemah wajahnya juga terlihat murung.
Barley melihat keanehan pada diri Santi namun dia tak ambil pusing.
Barley menghabiskan sarapannya dengan tenang, karna tak ada gangguan dari Santi lagi.
Andini masuk kekamar Barley dengan langkah angunnya bersama Amora," Barley lihatlah siapa yang datang," ucap Andini seraya tersenyum kearah Amora.
Santi membereskan nampan, kemudian membawanya keluar dari kamar tersebut.
"Hay Bar,aku baru tahu jika kau mengalami kecelakaan, baru saja aku pulang dari paris, "tuturnya seraya menyunggingkan senyum kearah Barley, namun di balas dengan tatapan mata yang dingin oleh Barley.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya calon istri kamu," imbuhnya lagi namun Barley masih bersikaf dingin terhadapnya.
"Ayo sayang sekarang kita berangkat, operasi kali ini semoga saja berhasil agar kau bisa berjalan seperti sedia kala," ucap Andini.
"Santi! Ayo bersiap, sebentar lagi kita akan pergi ke bandara," ucap Andini.
Santi membawa koper mereka keluar dari kamar, pak Deden segera membawa koper tersebut kedalam mobil.
Andini mendorong kursi roda Barley menuju lift, kemudian mereka menuju mobil.
Arief sudah menunggu di luar, ia juga bertugas mengantar Barley dan keluarganya di bandara.
"Selamat pagi tuan dan Nyonya," ucap Arief.
"Selamat pagi Arief, tolong koper-koper tersebut kamu bawa ke mobil kamu," titah Andini.
"Baik Nyonya, "ucap Arief.
Santi bermaksud membantu Arief memnawa koper-koper tersebut kedalam mobilnya.
Jangan Nyonya! biar saya lakukan sendiri," cegah Arief dengan sopan.
Santi membalas dengan menggangguk pelan, ia memperhatikan wajah tampan dan dingin dari pria tersebut, kekagumannya bertambah saat kening Arief mengeluarkan keringat, membuatnya terlihat macho.
Entalah lah apa yang berbeda dengan Arief, padahal jika di banding dengan Barley, tentu Barley lebih tampan dan lebih macho, hanya saja keadaanya yang membuat penampilan Barley menjadi minus.
Sejak pertama Santi melihat Arief, ia sudah menyukai pria tersebut, tapi sepertinya ia harus membuang jauh-jauh perasaanya tersebut, karna kini ia sudah syah menjadi istri Barley.
Lagi pula Arief terlihat tak mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.
Barang-barang mereka sudah masuk kedalam mobil.
Santi menghampiri mobil yang membawa Barley, ia ingin ikut dengan mobil tersebut namun di cegah oleh Andini.
"Santi, karna mobil ini sudah penuh, kamu pergi ke bandara bersama Arief saja, "ucap Andini ketus.
Rasa sakit kembali terasa di hati Santi, dirinya seperti tak di angap menantu oleh keluarga Barley.
Mereka lebih memilih Amora yang tak ada hubungan apapun terhadap mereka.
Barley mentap aneh kearah Andini, kemudian ia berbalik menatap Santi.
Beberapa saat kemudian mobil mereka bergerak secara perlahan meninggalkan halaman rumah yang luas itu.
Santi terpaku sendiri melihat kepergian mobil tersebut yang meninggalkannya.
"Nyonya, sudah siap ayo kita berangkat, suara Arief membuyarkan lamunan Santi.
Santi menggangguk perlahan, kemudian ia membuka pintu mobil bagian depan, tapi kemudian Arief menegurnya.
"Nyonya, duduklah di belakang,"ucap Arief.
"Emangnya kenapa? aku tak boleh duduk di depan bersama mu?" tanya Santi.
"Bukan begitu Nyonya, anda adalah Nyonya, anda tak pantas berada di depan bersama saya," ungkap Arief.
Santi tetap membuka pintu mobil bagian depan.
"Sudalah bang Arief, aku bukan nyonya, kita ini setara, hanya status yang membeda kan kita, pada dasarnya aku juga pelayan dirumah ini,"papar Santi.
Ehm, Arief menyeritkan dahi nya, ia sebenarnya mengerti maksud dari Santi, hanya saja ia tak mau ikut campur.
Arief mempercepat laju mobilnya ketika mereka memasuki jalan raya, matanya sesekali melirik kearah Santi yang terlihat sedih.
Ada rasa iba di hati Arief, karna ia tahu rencana Andini sebenarnya.
"Bang Arief, berapa lama mereka berada di Jerman?"tanya Santi memecah kebisuan diantara mereka.
"Mungkin dua minggu, saya dan tuan Hasta hanya mengantar, sementara Nyonya Andini yang akan menjaga tuan muda," papar Arief.
Santi tersenyum, ia merasa senang karna Arief juga ikut bersama mereka.
Setelah obrolan tersebut mereka kembali bungkam, untuk menuju bandara dari rumah mereka memang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.
"Bang, boleh aku buka jendela mobilnya?"tanya Santi.
"Iya nyonya, sebentar." Arief menekan tombol agar kaca mobil turun secara otomatis.
"Maaf Nyonya, lain kali jangan panggil saya bang Arief, panggil saja Arief," tuturnya dengan sopan.
Santi tersenyum seraya melirik kearah Arief.
Lagi-lagi mereka bungkam, mata Santi mulai merasa ngantuk saat hembusan angin dari jendela menerpa wajahnya, pelan-pelan ia pun memejam kan mata dan terlelap begitu saja.
Mengetahui Santi tertidur, Arief menarik seatbelt Santi agar lebih kencang, sesekali matanya melirik kearah gadis cantik dan manis tersebut, seraya menyunggingkan senyuman yang sulit diartikan.
Mohon dukunganya ya reader, like, komen, vote dan hadiah semuanya gratis.
Mereka menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Hasta Raja Prawira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Denni Siahaan
buat kejahatan siamora itu terbongkar ya Thor
2025-01-16
0
istripak@min
pas baca bab ini aku tersa bantalku basah 😭😭😭 sedih pernah diposisi yg gak dianggap
2023-06-02
1
Juwita
bukannya si amora ya yg menyebabkan kematian sania
2023-02-13
0