Santi mengemasi pakaian seadanya dan memasukannya kedalam koper.
Matanya mengedar pandangan kesetiap sudut kamar pengantin yang sudah di persiapkan untuk ia dan Barley.
Namun semua terasa sia-sia, karna ia harus mengikuti keingin mertuanya, malam ini juga, ia harus mengikuti mereka untuk tinggal di mention mewah keluarga Hasta Raja Prawira.
Asti mendekati Santi, mendengar derap langkah kaki ibundanya, Santi langsung menghapus air matanya, seraya bersikap baik-baik saja.
"Santi, kenapa kamu lakukan ini Nak, jika kita bersikap lemah, maka mereka akan menginjak harga diri kita Nak," ucap Asti.
"Santi ngak apa-apa kok Bu, mungkin ada benarnya juga, keadaan tuan muda begitu memprihatinkan, dia pasti ngak nyaman tinggal di rumah ini,"sahut Santi seraya mengunci kopernya.
"Bu Santi harus pamit ya," ucap Santi seraya mencium punggung tangan Asti.
"Iya Nak, semoga tuan muda segera sembuh dan pulih seperti sediakala, dan pernikahan kamu akan langgeng selamanya," ucap Asti seraya memeluk putrinya.
"Aamiin, semoga saja," ucap Santi dengan bulir bening yang kembali menetes di pipinya.
"Santi pamit Bu, bapak dan ibu jaga diri baik-baik,"ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Iya Nak, jika kamu butuh sesuatu, kamu harus hubungi kami ya," ucap Asti sambil menangis.
"Pasti Bu," sahut Santi.
Mereka berdua keluar dari kamar dengan membawa koper.
Harjo dan tuan Hasta, mengobrol santai, sementara Andini dan Barley menunggu dengan gelisah.
Santi menghampiri Harjo, sang Ayah.
"Pak, Santi pamit ya," ucap Santi seraya memeluk bapaknya.
"Iya Nak, jaga diri kamu baik-baik ya," ucap Harjo.
"Baik lah Pak Harjo, kami sekeluarga pamit, saya janji kami akan menganggap Santi seperti putri kandung kami sendiri,"ucap tuan Hasta.
"Iya tuan, saya titipkan putri saya kepada anda," ucap Harjo seraya menjabat tangan tuan Hasta.
Hasta kemudian menghampiri istrinya dan Barley.
"Nyonya kami sekeluarga pamit ya," ucap tuan Hasta sopan seraya menakup kedua tanganya di dada.
"Iya tuan, saya titip putri saya kepada anda," ucap Asti.
"Baik nyonya, kami akan mengganggap Santi seperti keluarga kami sendiri." tuan Hasta.
Asti mengantar Santi hingga ke muka pintu, sementara Andini mendorong kursi roda Barley.
Mereka semua masuk kedalam mobil, tangan Asti perlahan melambai kearah mobil yang berjalan lambat keluar dari halaman rumah mereka.
Asti menangis pilu, baru saja ia kehilangan Sania, kini Santi juga harus pergi karna harus tinggal dan mengurusi suaminya.
Melihat istrinya yang terlihat sedih, Harjo buru-buru menghampirinya.
"Sudalah Bu, memang begitu jika memiliki anak perempuan, mereka akan pergi meninggalkan kita dan akan ikut dengan suaminya," ucap Harjo seraya menenangkan istrinya.
Asti mendaratkan tubuhnya bersandar pada dada bidang sang suami, baru saja mereka merasa suka cita dengan acara ijab qabul putri mereka, kini mereka kembali di landa kesunyian setelah kepergian Santi dari rumah itu.
Didalam mobil atmosper berbeda di rasakan Santi, meski mereka kini adalah keluarga. Namun, Santi merasa seperti berada di keterasingan.
Tak ada obrolan apalagi candaan yang terdengar di dalam mobil tersebut, wajah mereka menunjukan mimik nada serius.
Kurang dari setengah jam, mereka pun Sampai, kedatangan mereka yang di sambut oleh deretan pelayan yang bekerja di rumah itu.
Mereka semua menyambut kehadiran nyonya baru di rumah mereka.
Andini dan Hasta keluar dari mobil, di bantu oleh sopir, mereka menngangkat tubuh Barley untuk duduk di atas kursi roda.
Tak hanya para pelayan, Arief pun hadir di sana, melakukan penyambutan terhadap tuanya.
"Saya ucapkan selamat atas pernikahan tuan dan nona Santi, semoga pernikahan kalian langgeng untuk selamanya dan dikarunia keturunanan yang banyak dan soleh, "ucap Arief tulus.
Bukannya, mengamin kan doa Arief, Barley justru membuang mukanya.
"Antar saya ke kamar sekarang!" titahnya pada Arief.
Sementara para pelayan yang berjumlah belasan orang tersebut berderet, memberi selamat kepada Nyonya baru di rumah itu.
"Selamat datang di rumah ini Nyonya, perkenal kan, saya wati," ucap salah satu dari mereka dan di ikuti oleh yang lainnya, satu persatu mereka menyebut kan nama seraya memberi ucapan selamat kepada Santi.
"Selamat malam, saya Santi, panggil saja Santi, ngak usah di tambah nyonya," ucap Santi dengan senyum ramahnya.
"Tidak bisa nyonya, kami menaruh hormat karna anda adalah istri tuan muda Barley," imbuh salah satu dari mereka lagi.
"Baik lah kalau begitu." Santi.
"Nyonya kami antar anda ke kamar tuan Barley, kami sudah persiapkan segalanya, kamar pengantin anda sudah di dekor sesuai permintaan tuan dan nyonya besar," ucap pelayan tersebut.
Santi hanya menggangguk.
Sementara Arief mengantar Barley menuju kamarnya dengan menggunakan lift khusus.
Sesampainya di depan kamar, Arief membukakan pintu untuk Barley.
Mata Barley membulat secara sempurna melihat kamar yang sudah didekorasi seperti kamar pengantin umumnya.
"Siapa yang mengijinkan kamar ini di dekorasi!"teriak Barley dengan rahang yang mengeras serta urat leher yang menonjol keluar.
"Maaf tuan, ini perintah dari nyonya dan tuan besar," papar Arief.
Barley terus mendengus, diagframanya turun naik tak beraturan.
"Bersihkan kamar ku seperti semula!"teriak Barley.
"Siap tuan!"ucap Arief kemudian ia langsung membawa keluar beberapa rangkaian bunga yang menghias di sudut dinding.
Teriakan Barley mengagetkan tuan dan nyonya besar rumah tersebut, mereka pun berlari kecil menghampiri Barley.
"Barley, ada apa Nak?"tanya Andini.
"Siapa yang memberi ijin kamar ku di buat seperti in!" tanya dengan suara baritonnya.
"Sayang, ini semua mommy lakukan untuk kamu, ini malam pertama kalian, jadi wajar saja jika mama mendekorasi kamar ini sesuai dengan kamar pengantin baru," papar Andini.
"Kamu itu pantas bahagia Barley, nikmati malam pertama kamu sebagai seorang suami, "bisik Andini di telinga Barley.
Barley mengepal tangan kirinya, seraya memicingkan matanya.
"Arief, bersihkan semua itu, aku tak mau ada yang berubah sedikit pun di kamar ku!"titah Barley.
"Baik tuan muda," ucap Arief kemudian langsung mengeluarkan segala pernak pernik dekorasi.
Andini dan suaminya hanya bisa mendengus melihat kelaluan putra mereka yang keras kepala.
Sementara, beberapa pelayan mengantar Santi untuk melihat-lihat sekitar rumah, mulai dari ruang tamu hingga dapur, mulai dari kamar tamu hingga kamar pelayan.
Setelah membawa Santi berkeliling di rumah yang cukup besar tersebut, mereka pun membawa Santi menuju kamar Barley.
Pintu kamar Barley sudah tertutup saat Santi tiba di depan kamarnya.
"Ini kamar tuan muda Nyonya, silahkan anda masuk, tuan muda pasti sudah menunggu anda," ucap Pelayan tersebut.
Deg, jantung Santi berdetak kencang, entah kenapa hatinya terasa berat memasuki kamar tersebut.
Santi mengatur napas seraya memberanikan diri menekan handle pintu.
Barley masih berada di tepi tempat tidur dengan kursi rodanya, matanya tajam melihat kearah Santi.
"Siapa yang menyuruh mu kemari?" suara yang berat serta dingin keluar dari mulut dari seorang yang memiliki tatapan tajam.
"Ehm..ehm salah seorang pelayan mengantar saya kemari, tuan, "ucap Santi gelagapan.
wajahnya terus tertunduk.
"Aku tak ingin ada seorang pun yang menempati kamar ku! jadi sebaiknya kau keluar dari sini!" ucapnya dengan suara meninggi seraya menunjuk pintu keluar.
"Ehm, baik tuan."
Santi mendorong kopernya keluar dari kamar Barley, sekarang ia binggung harus tidur dimana malam ini'
Santi berinisiatif untuk bertanya pada pelayan, apa masih ada kamar kosong untuknya.
Saat ingin menuruni tangga, Santi berpapasan dengan Andini.
"Santi, mau kemana kamu?"tanya Andini karna melihat Santi yang mendorong kopernya.
"Saya mau cari kamar kosong nyonya,"sahut Santi.
"Kamar kosong? harusnya malam ini kamu tidur bersamanya," ucap Andini.
"Tapi, tuan muda tak mengijinkan saya memasuki kamarnya," sahut Santi.
"Huh Barley memang keras kepala, ya sudah kamu tidur di kamar pembantu saja malam ini, besok saya akan bujuk dia lagi," sahut Andini ketus.
Andini pun menunjukan sebuah kamar kecil, dengan kasur ala kadarnya yang berada di lantai, kamar tersebut bahkan lebih kecil dari kamarnya di yang ada kampung.
"Huh, paling tidak malam ini.aku bisa istirahat," ucap Santi seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Belum genap sehari ia dan Barley menikah sehari, kini mereka sudah tidur dengan ranjang yang terpisah.
Melihat dan mengalami langsung sipat dan watak dari suaminya, Santi bisa membayangkan pernikahan seperti apa yang akan di jalaninya.
Santi menghempaskan tubuhnya yang lelah, setelah menghanti pakaianya dengan piyama, ia pun menekan tombol kipas angin yang membuat sejuk ruangan tersebut.
Santi menutup matanya, ia berharap ini sebuah mimpi dan sebentar lagi ia akan terjaga.
please tinggalkan jejak dan dukungan nya guys 😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Juwita
nanti juga jadi bucin akut tuh si barle
2023-02-13
0
Kinay naluw
sian amat sih.
2022-09-04
0
Yoni Asih
mertuanya kok kek gtu sih thor
2022-08-06
0