"Aku tanya pada mu sekali lagi, apa kau siap mengandung anak ku?" tanya Barley seraya menatap tajam kearah Santi.
Tatapan matanya justru membekukan Santi, mulutnya mengatup dengan detak jantung yang seakan berhenti untuk beberapa saat.
"Maksud tuan apa?"tanya Santi gelalapan.
Barley memalingkan wajahnya kearah lain.
"Aku hanya seorang yang cacat, aku sudah tak punya harapan lagi untuk hidup normal, tak akan ada cinta tulus yang akan menghampiriku, karna aku hanyalah tuan muda yang cacat."
"Aku memiliki banyak harta, aku bisa beli apa saja yang aku mau, hanya saja aku tak bisa membeli takdir ku sendiri, aku tak bisa menentukan jalan takdirku seperti yang ku mau."
"Kedua orang tua ku membutuhkan keturunan untuk mewarisi harta mereka, dan kurasa kau harus bisa melakukannya," ucap Barley dengan tegas.
"Aku akan membayar mu separuh dari harta ku, jika kau melakukanya, aku tak akan menyentuh mu, kita lakukan asimilasi buatan, "papar Barley.
Matanya menatap dengan hampa.
Santi berdiri kemudian berjalan mendekati Barley.
"Aku baru sadar jika kau ini orang yang cacat, bukan fisikmu tapi hatimu," cecar Santi seraya memicingkan matanya menatap tajam pada netra bening Barley.
Barley membalas tatapan tajam Santi, kemudian ia membalas dengan senyum menyeringai.
"Apa maksud mu?"tanya Barley.
"Kau seorang pecundang tuan, aku hanya heran kenapa kakak ku bisa mencintai lelaki lemah seperti dirimu,"cetus Santi sambil mendorong tubuh Barley dengan jari telunjuknya.
"Apa maksud mu?!"tanya Barley emosi matanya kembali memicing kearah Santi dengan nafas yang menderu.
"Apa kau pikir harga diri seseorang bisa di beli dengan harta yang kau punya?" tanya Santi.
"Jika saja, bukan kakak ku yang meminta ku untuk menikah dengan mu, maka aku tak akan pernah sudi menikah dengan lelaki sepertimu," cecar Santi.
"Kau bukan orang yang cacat tuan, kau hanya lelaki kuat yang mengalah kepada takdir, kau orang yang putus asa hingga apa pun yang terjadi pada dirimu kau terima mentah-mentah, tanpa mau merubahnya sedikit pun, aku kasihan pada mu tuan! aku iba sekali! kau masih punya banyak kesempatan untuk bangkit, tapi kau malah memilih untuk terpuruk, kau masih punya harapan tapi semua itu telah kau gantungkan, kau menyerah sebelum kalah."
"Apa kau tak malu pada dirimu sendiri, kau tidak berdaya atau hanya pura-pura tak berdaya, agar setiap orang yang melihat mu merasa kasihan pada mu," cecar Santi kembali.
"Berani nya kau!" teriak Barley menggeram.
"Tentu saja aku berani, bahkan tak hanya mencecar mu, aku bisa lakukan apa pun terhadapmu tuan muda!"
Santi mendekati telinga Barley, seraya berbisik, "Karna kau lelaki lemah, kau seorang pecundang, bahkan kau tak mampu melawan ku kan?" bisik Santi yang kemudian tersenyum menyeringai.
Barley menatap lekat wanita di hadapannya, hatinya seperti terbakar api kebencian pada gadis yang ada di hadapanya tersebut.
"Haha, ayo lah tuan muda, aku pernah mendengar sepak terjang mu, kebengisan mu, kesombongan mu, kemana itu semua hah?" ucap Santi seraya tertawa kecil.
Santi mendekati Barley, ia pun menyentuh punggung Barley untuk pertama kalinya.
"Ayolah tuan muda, jika terjadi sesuatu pada mu, maka aku bisa mendapatkan separoh dari harta mu kan?"tanyanya.
"Tanpa bersusah payah mengandung anak mu," ucap Santi.
"Apa yang kau inginkan, jika saja kau bukan saudara dari kekasih ku, kau sudah ku habisi detik ini juga!" ucap Barley dengan geram, ia pun mengepal tanganya.
"Ha ha ha Kau bisa apa?! mengadu pada ibumu, atau asisten mu? hah..hanya itu?!" Santi tawa tergelak tertawa.
Barley semakin menggeram, ia semakin membenci wanita yang bernama Santi tersebut.
Santi kembali menghadapkan wajahnya ke arah Barley, namun Barley membuang wajahnya.
"Kau sekarang berada di genggaman ku tuan muda, karna kau tak bisa apa-apa, jadi kau tak punya pilihan lain kecuali menurut," ucap Santi seraya menahan wajah Barley dengan tanganya.
"Kau pikir aku tak bisa berbuat apa-apa, akan ku hancurkan kau!"teriak Barley.
Ha ha ha, ayo lah tuan muda jangan membuatku tertawa," ha ha ha tawa Santi dengan nada merendahkan Barley.
Barley tergaman, apa yang dikatakan Santi ada benarnya, tapi kata-kata Santi hanya membuatnya semakin emosi, hingga timbul keinginan Barley untuk membunuh gadis tersebut dengan tanganya sendiri.
"Lihat saja jika aku sudah sembuh, maka aku akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri," guman Barley.
"Sudalah tuan muda! sebaiknya kau turuti saja aku, hari sudah siang dan kini sudah waktunya kau untuk mandi, aku sudah tak tahan mencium bau busuk dari tubuh mu!" cecar Santi.
Barley terperangah mendengar kata kata dari Santi, secara diam-diam ia mendengus mencium bau dari tubuh yang tercium wangi dan segar meski belum mandi.
Matanya menapak kearah Santi, Barley hanya bisa menggerutu dengan kesal.
Santi menyiapkan peralatan mandi untuk Barley, ia pun memakai sarung tangan agar tak menyentuh kulit Barley secara langsung.
Setelah dikiranya perlengkapan Barley sudah siap, ia pun mendekati Barley untuk melepas pakaianya.
Santi tak punya pengalaman khusus dalam merawat seseorang, namun ia harus membiasakan dirinya.
Karna ia merasa memang tugasnya sebagai seorang istri, dan itu telah ia pikirkan jauh-jauh hari sebelum ia menerima pinangan keluarga Barley.
Santi mendekati Barley, tanpa sungkan ia membuka kancing kemeja Barley.
"Hei apa yang kau lakukan?"protes Barley seraya menepis tangan Santi dengan tangan kirinya.
Tapi Santi tak menyerah, ia menarik kemeja Barley dan mengangkat kerahnya keatas.
"Apa kubilang tuan muda, ikuti saja perintah ku jika kau tak ingin celaka!" ancam Santi kemudian menurunkan kemeja Barley kembali.
Barley mendengus, ia tak punya pilihan lain kecuali menuruti istrinya tersebut.
Setelah melepas kemeja Barley dengan hati-hati, Santi pun melepas pengait pada celana kain yang di gunakan Barley.
Barley sedikit sungkan ketika Santi menurunkan resleting dari celananya, ia pun menghindar hingga membuat tangan Santi tanpa sengaja menyentuh burungnya yang langsung meneggang saat itu juga.
"Ops, apa ini tuan muda?" tanya Santi seraya menjauhkan tanganya pada benda yang tiba-tiba mengeras tersebut.
" Jangan sentuh, karna itu sangat sensitip," dengus Barley.
Santi tersenyum, seumur hidup ia tak pernah melihat apalagi menyentuh benda pusaka seperti itu.
Santi meraih handuk, untuk menutupi barang berharga milik Barley, namun karna merasa geli, ia berusaha mengulum senyumnya agar tak tertawa.
Santi merasa lucu melihat tuan muda yang tiba-tiba melunak tersebut.
Setelah itu, ia menarik celana kain Barley.
Sejak kecelakaan Barley memang hanya menggunakan busana berbahan ringan dan gampang untuk membuka dan melepasnya.
Kini hanya tinggal segitiga pengaman Barley, ia merasa sungkan untuk melepasnya, jadi ia biarkan saja benda tersebut melekat.
Mereka pun menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandi Barley.
Bagaimana ya cara Santi memandikan Barley di episode selanjutnya ya, karna Santi punya kejutan untuk para reader.
Berikan like, komen dan sarannya ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Dapur Mami
suka di kabari tian muda nya
2024-03-24
0
𝖒𝖔𝖓🆁🅰🅹🅰❀∂я💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-02-18
0
Juwita
semangat ya santi buat si barley jadi bucin akut sama kamu
2023-02-13
0