Interlude - Senpai

Setiap orang pasti memiliki satu orang yang mereka kagumi.

Keluarga, tokoh masyarakat, ilmuwan, bahkan artis yang terkenal lewat sensasi bisa masuk ke dalam kategori seseorang yang bisa dikagumi.

Tapi bagi ku..

Ada satu orang yang benar-benar menjadi obsesi terbesarku untuk tetap berada di sampingnya.

Tidak peduli bagaimana tanggapan musuh-musuh kecilnya, dia tetap dengan bebas mengurus mereka secara "harafiah" agar tetap tunduk pada aturan yang berlaku. Karena dirinya pula, sekolah yang menjadi tempat peninggalannya ini memiliki aturan tidak tertulis yang bahkan bisa dipatuhi dan menjadi warisan turun-temurun sebagai pedoman Dewan Keamanan Siswa.

Sebagai penerusnya yang berjarak satu tahun dibawahnya, aku sangat mengagumi dirinya.

Pertemuan pertama saat bertemu dengan dirinya adalah saat pemeriksaan rutin yang diadakan setiap hari Senin. Pemeriksaan itu diwajibkan untuk mengecek pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh pelajar di sekolah ini.

Tapi seperti biasa.

Orang yang ku kagumi ini bukan hanya mengecek barang bawaan tetapi kesehatan dan psikologisnya. Hal yang tidak biasa jika seseorang bisa menebak mu hanya dari tanda-tanda kerutan di wajah, titik jerawat yang muncul, kondisi telapak tangan, hingga perubahan perilaku yang sangat tipis untuk disadari. Menggunakan ilmu yang bermanfaat itu untuk kepentingan publik, dia sangat mengagumkan.

Rasanya aku sedikit kasihan jika aku melihat Senpai yang ku kagumi melakukan semua itu sendirian.

Itu karena.. semua skill yang dimilikinya itu adalah hasil paksaan dari Ketua OSIS yang menyuruhnya untuk mempelajari semua itu demi menyelesaikan aduan siswa.

Ya.. benar... Senpai yang ku kagumi itu memaksakan dirinya untuk bisa mempelajari itu yang entah bagaimana Senpai berhasil menguasainya dalam waktu singkat.

Aku pernah berpikir jika Senpai sebenarnya orang jenius tapi kenapa nilai rata-ratanya hanya sampai pada angka standar. Terlebih semua nilai akademisnya diposisi nilai yang sama. Apakah Senpai sengaja mengatur semua nilainya pada angka yang sama?

Tidak banyak yang ku ketahui tentang Senpai, aku hanya mengenal beberapa sifat kecilnya saja.

Senpai memiliki kepribadian tertutup dan sulit dimengerti. Tidak banyak berbicara kecuali jika lawan bicaranya sudah mengenalnya, terlalu mengedepankan kesetaraan jenis kelamin terutama jika perempuan terbukti bersalah, memiliki selera humor dimana kita perlu mengetahui sejarah terbentuknya humor itu, dan hobi yang cukup unik.

Walaupun Senpai itu terlihat aneh dan introvert, entah kenapa aku merasa nyaman saat berada di dekatnya. Ini seperti aku sudah memahami bagaimana Senpai akan bertindak dan aku selalu berada tepat di sampingnya untuk mengikuti langkahnya.

Tapi saat ini, Senpai telah pergi dan aku menggantikan posisinya sebagai Ketua Dewan Keamanan Siswa.

Jauh di dalam hati ku ada sebuah pertanyaan kecil yang selalu muncul saat memikirkan Senpai. Sebuah reaksi dimana aku ingin bertemu dengannya, menghabiskan satu hari dengan berdiri disampingnya, bahkan pemikiran gila untuk mengurung Senpai di dalam kamar ku.

Aku mungkin akan menganggap perasaan ini hanyalah candaan kecil yang dikeluarkan otak ku, tapi entah mengapa hati ku mempertahankan perasaan itu seolah aku benar-benar ingin bertemu dengannya.

Apakah ini yang dinamakan cinta?

Semenjak Senpai lulus dari sekolah ini, perlahan perasaan ku menjadi hampa. Biasanya aku sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tapi.. saat ini hanya ada rasa bosan yang menunggu ku.

Mungkin kah aku benar-benar memiliki perasaan terhadap Senpai?

Aku mencoba melupakan perasaan ini namun setiap kali bayangan Senpai masuk ke dalam ingatan ku, tanpa sadar ekspresi wajah ku tersenyum. Aku tersadar setelah layar komputer di hadapan ku meredup dan menampilkan bayangan hitam yang menampilkan bayangan wajah ku.

Sebuah senyum manis yang tidak ku sadari.

Senyuman manis yang memiliki kerinduan terdalam.

Hati ku perlahan berdetak dan berteriak untuk menemui Senpai.

Mau sampai kapan aku harus seperti ini!

Bertahanlah diriku!

Bertahanlah Yuuki Kotori!

Kau pasti bisa bertahan dan bertemu Senpai kembali saat lulus dari sekolah ini!

[...]

Setelah aku merapihkan semua berkas yang menumpuk ini. Aku bergegas untuk kembali pulang. Dari kejauhan aku bisa melihat mobil yang telah menunggu ku.

Sekolah ini sudah terlalu sepi, terutama saat mendekati pukul 17:00. Karena pekerjaan yang menumpuk itu, aku harus terlambat pulang hari ini.

Yang benar saja, aku tidak tahu jika menjadi Ketua Dewan Keamanan Siswa akan merepotkan seperti ini.

Pantas saja Senpai selalu mengeluh tentang pekerjaannya yang bertambah tanpa henti. Aku sedikit mengerti bagaimana perasaannya itu.

Sebagai seorang Sekretarisnya saat itu, pekerjaan ku hanyalah menyemangati Senpai dengan membuatkan beberapa makanan ringan dan teh hangat untuknya. Terkadang aku sedikit meringankan bebannya dengan membantunya mengurus beberapa dokumen yang ternyata itu tidak penting sama sekali.

Aku berjalan dengan cepat menuju loker pribadi yang telah disiapkan sekolah, mengambil jaket yang ku tinggalkan di dalamnya dan mengecek beberapa surat masuk yang ditujukan untuk menilai kinerja Dewan Keamanan Siswa.

Setelah merapihkan semua yang ku butuhkan. Aku bergegas menuju mobil jemputan yang telah menunggu.

Sembari menikmati perjalan pulang, aku merobek beberapa surat yang terkumpul di dalam loker ku. Aku terdiam lesu saat membaca surat cinta yang dipenuhi omong kosong.

Aku memisahkan beberapa surat itu.

Ada beberapa saran penting dan juga permintaan yang masuk untuk Dewan Keamanan Siswa.

Sisanya hanyalah sampah.

Aku tidak mengerti kenapa masih ada yang mengirim surat cinta kepadaku. Padahal aku sama sekali tidak mengenal mereka. Seseorang dari lawan jenis yang ku kenal selama ini hanyalah Senpai.

Awalnya tidak ada yang berani melakukan hal seperti ini namun semenjak Senpai lulus, mereka sudah mulai menunjukkan taringnya.

Perlukah aku melakukan hal yang sama seperti Senpai?

Tapi aku tidak yakin untuk bersikap kejam kepada semua orang. Butuh keberanian lebih untuk bersikap berani dan tegas dihadapan orang banyak.

Jika Senpai bisa melakukannya, apakah aku juga bisa?

Setidaknya aku harus mencobanya, kita tidak tahu jika itu berhasil atau tidak. Jadi mungkin aku harus mencoba apa yang pernah Senpai lakukan.

Pada akhirnya, aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang Senpai.

Sebagai seorang gadis yang tidak memahami perasaannya, aku merasa seperti seorang pecundang yang tidak biasa apa-apa jika tidak ada seseorang di sampingku. Aku memiliki Sekretaris yang selalu membantu ku tapi itu terasa berbeda jika itu bukan Senpai yang ada di sisi ku.

“Haaaaaaaah~” tanpa sadar aku mengeluarkan nafas panjang yang menandakan puncak kelelahan ku.

Perjalanan pulang ini terasa cukup lama.

[...]

Saat berada di depan pintu masuk rumah. Aku merasa ada sesuatu yang aneh.

Kejadian ini sangat berbeda karena terdengar suara Mama yang sedang berbicara dengan seseorang. Dari nada bicaranya, itu terdengar seperti seorang pria muda dan suara Onee-chan yang sedikit marah.

Eh? Onee-chan?

Apa mungkin itu teman pria di sekolahnya?

Onee-chan memang sangat populer terutama untuk orang-orang yang terpikat pada kecantikannya tapi aku tidak menyangka di hari pertamanya pulang dari sekolahnya. Ia berani membawa pria lain masuk ke dalam rumah.

Atau mungkinkah dia itu pacarnya Onee-chan?

Aku sangat iri dengan Onee-chan yang begitu mudahnya menjawab perasaan hatinya. Disisi lain, hati dan perasaan ku masih saja berselisih.

“Nama ku Hans.. aku hanya terseret pada keisengan putri mu dan juga untuk menemani Will melewati kecanggungan ini.”

Sebuah suara yang tidak asing masuk ke dalam telinga ku.

Suara yang begitu nostalgia dan suara yang selalu ku tunggu.

Langkah kaki ku tak sengaja berjalan menuju sumber suara itu, tubuh ku bergerak mengikuti perintah hati dan perasaan ku. Dalam sekejap aku membuka pintu ruang tamu dan memancing perhatian yang ada di dalamnya.

Sosok yang sangat familiar masuk ke dalam pandangan mata ku.

Detak jantung ku berdebar kencang memancing hati dan perasaan ku untuk melampiaskan kerinduan yang sudah lama terpendam.

“S-Se-Senpai?”

Tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu.

Dengan senyuman yang tipis itu, Senpai memandang ku.

“Oh, Kotori? Lama tidak bertemu.”

Aku merasa jantung ku berdegup kencang tak tertahankan.

Air mata mulai membasahi pipi ku.

Saat itu juga, entah kenapa aku mulai menangis dan berlari memeluk Senpai.

[...]

Perasaan lembut sebuah tangan yang membelai rambut ku membuat tubuh ku terasa nyaman. Isak tangis kecil yang ku keluarkan perlahan mereda.

Itu semua karena aku menahan rasa malu.

Kenapa sih aku berlari memeluk Senpai yang ada dihadapan ku?

Mama sedikit panik saat melihat ku dalam kondisi seperti ini. Tapi Senpai yang pandai membaca situasi langsung menutupinya dengan menanyakan masalah yang sedang dihadapi oleh Dewan Keamanan Siswa.

Setidaknya rasa malu itu tertutupi.

Senpai benar-benar mengerti perasaan ku.

Tunggu, apa dia juga paham dengan diri ku yang menaruh perasaan cinta padanya?

Seketika rasa malu yang perlahan memudar kembali memuncak.

Aku merasakan muka ku dipenuhi rona merah.

Kenapa aku sangat bodoh untuk urusan percintaan sih!

Senpai menghentikan belaian tangannya dan memberi ku kertas catatan kecil. Tulisan tangannya itu sangat mudah untuk dipahami. Senpai memberi ku solusi terbaik pada permasalahan yang sedang dihadapi oleh Dewan Keamanan Siswa sebagai pengalih perhatian atas apa yang telah ku lakukan.

Apakah wajar jika aku jatuh cinta pada seseorang yang kompeten seperti Senpai?

“Kurasa itu akan sedikit membantu mu, kau punya pengalaman di bidang itu. Percayalah pada kemampuan mu itu.”

Suara yang lembut dan menenangkan itu sudah cukup untuk membuat jantung ku kembali meledak-ledak.

Sudah cukup!

Aku tidak mau tenggelam dalam suasana hati ku dan menampilkan sisi bodoh ku dihahadapan Senpai.

“Senpai? Apa yang sedang kau lakukan disini?” aku bertanya seperti itu karena tidak ada satu pun yang tahu dimana rumah ku berada. Tapi entah kenapa Senpai dan laki-laki dengan seragam yang sama bertamu ke rumah ku.

“Itu karena kakak mu dan orang yang satu itu menculik ku demi kepentingan mereka” Senpai mengatakannya dengan nada yang sedikit kasar.

Tatapan ku beralih melihat orang yang dimaksud Senpai, ia tampak tidak asing bagi ku. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat.

“Kotori.. apa hari ini kau sibuk mengurus keperluan Guild?” tiba-tiba saja Onee-chan bertanya kepada ku.

“Hari ini tidak ada keperluan khusus, memangnya ada apa, Onee-chan?” balas ku.

Tidak biasanya Onee-chan bertanya seperti itu. Guild yang dimaksud Onee-chan adalah sebuah perkumpulan Player Isekai Online yang dikhususkan untuk perempuan. Entah sejak kapan Onee-chan memainkan game itu tapi tiba-tiba saja Onee-chan pulang membawa hadiah dari turnamen game Isekai Online.

Orang tua kami sangat senang tapi khawatir bagaimana untuk mengolah uang itu, jadi untuk masa depan kami berdua. Sedikit demi sedikit uang itu dijadikan investasi yang membuat hidup kami berubah.

Tidak enak rasanya jika Onee-chan yang bekerja keras jadi aku membantunya dengan mengurus Guild yang membawa Onee-chan menjadi juara dunia. Tidak banyak yang ku lakukan selain mengatur pemasukan Guild, menerima aduan member Guild, membuat jadwal pengumpulan material, hingga menyaring permintaan member Guild.

Setidaknya itu bisa membantu beban Onee-chan.

“Hari ini kita akan Login bersama dan tolong kumpulkan beberapa member yang ahli dalam menggunakan skill pelacakan.”

“Skill pelacakan?” sebenarnya apa yang akan dilakukan Onee-chan sih? Terkadang strategi yang digunakannya terlalu aneh tapi itu selalu berhasil.

“Ada beberapa Quest yang membutuhkan keahlian itu, jadi tolong bantu Onee-chan Oke?” kali ini matanya berkedip menatap ku.

Aku hanya bisa menerima permintaan Onee-chan. Dilihat dari skill yang dibutuhkan, Class yang ku pakai memiliki skill yang membantu pelacakan. Jangan bilang dia ingin mencari item yang merepotkan?

Naluri wanita ku mengatakan sesuatu yang merepotkan akan terjadi.

“Kalau begitu aku akan mempersiapkan peralatannya di basecamp kita” aku berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Sebelum aku benar-benar meninggalkan ruang tamu, aku mencuri perhatian kecil untuk melirik Senpai yang tengah menikmati makanan ringan sembari mendengarkan pembicaraan yang sedang terjadi.

Bahkan sikapnya yang menjadi pendengar itu tidak berubah.

Sekali lagi, jantung ku berdetak kencang.

Pertemuan ini membuat tubuh ku yang kelelahan menjadi bersemangat.

[...]

Saat aku masuk ke dalam game Isekai Online.

Beberapa member Guild yang telah ku hubungi terlihat dalam status online.

Menggunakan sistem Guild Chat untuk mengirim teks ke semua member Guild, aku mengundang mereka untuk membentuk party. Beberapa diantaranya merespon dan langsung bergegas menemui ku di dalam ruang Ketua Guild. Guild yang dibuat Onee-chan berdiri di sebuah dungeon yang dihiasi dengan pemandangan hutan dan tanaman herbal.

Onee-chan bekerja keras untuk menaklukan dungeon ini dan menjadikannya sebagai markas besar Guild miliknya. Ini terjadi karena Guild yang berisi perempuan ini sangat suka dengan pemandangan semacam ini dan ingin memisahkan diri pada tempat yang membuat mereka nyaman.

Onee-chan paham akan hal itu dan tanpa banyak pertimbangan ia langsung menghajar dungeon ini untuk di jadikan markas besar Guild miliknya.

Itu semua berjalan lancar sampai saat ini.

Terkadang aku harus mengecek beberapa member yang berpura-pura menjadi perempuan untuk sekedar masuk ke dalam Guild ini.

Sangat merepotkan memang, tapi demi kenyamanan, aku akan tetap mengawasi permintaan Player yang ingin bergabung.

Terdapat empat orang yang masuk ke dalam ruangan Ketua Guild. Diantara mereka masing-masing memiliki Class dan level yang jauh di atas rata-rata.

Master Assasins, Elementalist, Master Summoner, dan Master Kunoichi. Jika digabungkan dengan diriku dan Onee-chan. Sudah ada enam master yang cocok untuk membentuk satu party.

Party di dalam game Isekai Online memiliki jumlah maksimal hingga sepuluh orang. Jadi kombinasi ini sudah lebih dari cukup.

Berdasarkan chat informasi dari Onee-chan. Kita harus menemuinya di Nekoya Inn yang berlokasi di wilayah Kerajaan Nestrad.

Kami mulai melakukan teleportasi ke wilayah Kerajaan Nestrad. Tujuan teleportasi kami adalah Guild Master Adventure yang terletak di jantung pusat Kerajaan Nestrad. Untuk setiap Player yang menggunakan layanan teleportasi yang bertempat di Guild Master Adventure diharuskan membayar biaya yang setara dengan memasuki pintu gerbang utama kerajaan.

Sistem pajak disini terbilang cukup unik.

Setelah membayar pajak masuknya, kami bergegas menuju Nekoya Inn. Tempat dimana Onee-chan dan Senpai telah menunggu.

Saat kami tiba di dalam Nekoya Inn, kami disambut dengan teriakan keras seorang wanita. Telinga ku berkedut saat mengetahui ciri khas suara itu.

Itu adalah suara dari karakter yang Onee-chan gunakan.

Karakter yang kami gunakan awalnya memiliki ras yang sama. Sosok Elf yang mencintai alam dan juga kecantikan yang abadi. Itu adalah ras yang di idolakan oleh semua kaum wanita untuk lari dari kenyataan.

Tapi seiring berjalannya waktu, ras ku pun berubah menjadi High Elf dan Onee-chan menjadi Elder Elf. Class kami pun berbeda, karena Onee-chan menjadi juara dunia dia mendapatkan Class Exclusive berupa Class Hero. Class yang diberikan khusus oleh juara dunia. Jika karakter dan Class itu dijual, entah berapa harga yang bisa ditawarkan.

Kami masuk ke dalam ruang makan Nekoya Inn. Pemandangan yang tidak biasa muncul di hadapan kami.

Melihat karakter dengan ras Dragon Emperor dan Elder Elf yang menarik lengan ras manusia bukanlah hal yang biasa disini. Keributan kecil itu pun cukup menarik banyak perhatian dari NPC.

Melihat keributan ini, aku hanya terdiam. Pantas saja aku pernah merasa melihat orang itu. Ternyata dia adalah seorang Player Profesional sama seperti Onee-chan.

Itu sangat lucu saat melihat dua Player dengan Class Hero berlevel 300 memperebutkan Player biasa berlevel 30.

Senpai hanya terlihat pasrah melihat tingkah laku mereka berdua.

“Apa perlu kita berduel disini, Will? Yang menang akan membuat party!”

Eh? Apa ini? Aku tidak salah dengar kan? Onee-chan akan membuat masalah dihadapan Senpai?

Walaupun ini di dalam dunia game tapi keringat dingin ku rasanya mulai keluar di dunia asli.

Aku merasakan hal buruk akan terjadi.

Onee-chan mulai menganti status karakternya menjadi mode agresif. Status Player nya kini berubah menjadi warna merah. Aku segera memperingati member Guid lain untuk segera menjauh. Tapi saat melihat Senpai masih tetap tenang menikmati secangkir teh di mejanya. Aku jadi merasa kasihan kepada mereka berdua.

Senpai bukanlah tipe orang yang berdiam diri saat ada masalah di depannya. Sebaliknya, ia tetap tenang sembari memikirkan solusi menyelesaikan masalah itu berdasarkan prioritasnya.

Jika cara halus tidak bekerja maka cara kasar akan digunakan.

“Will.. Saku.. tenanglah” itu adalah peringatan pertama yang dikeluarkan oleh Senpai. Untuk seseorang yang mengenal metode penyelesaian masalah yang sering digunakan oleh Senpai pasti akan langsung paham dengan peringatan itu.

Mereka berdua tidak merespon kata-kata itu.

Mereka berdua telah masuk ke dalam mode bertarung dan menggenggam senjata ditangan mereka.

Tanpa adanya aba-aba dan hanya mengandalkan hembusan angin di sekitar. Mereka mulai maju dengan kecepatan yang tidak bisa dijangkau oleh mata. Itu adalah skill yang sering digunakan untuk pertarungan tempo cepat.

Hembusan angin dari gesekan pedang mereka menciptakan gelombang suara yang cukup berbahaya. Hembusan itu bahkan bisa menghancurkan perabotan yang ada di dalam ruang makan ini.

Pertempuran mereka sangat sulit ditebak. Keduanya benar-benar ahli dalam bidang ini. Perlahan namun pasti, ruangan ini menjadi hancur. Bahkan meja tempat dimana Senpai menikmati minumannya nyaris menjadi korban.

Dan Senpai hanya terdiam menunggu keduanya terhenti.

Tidak ada rasa takut dimana level 30 seharusnya berlindung dari amukan level 300.

Sekali lagi aku menatap Senpai, dia tersenyum.

Berbeda dengan senyuman manis yang hangat, kali ini senyuman yang penuh amarah muncul di wajahnya. Aku paham arti senyuman itu.

“Onee-chan.. ku harap kau tidak trauma dengan apa yang akan terjadi”

“Eh??” member Guild yang ada di sampingku bertanya-tanya tentang ucapan ku.

Senpai bangkit dari tempat duduknya, dibalik karakternya yang tampan itu. Sebuah tongkat kecil yang ada ditangannya tiba-tiba memanjang. Senpai berjalan menuju arena pertarungan mereka berdua.

Senpai berhenti tepat diantara keduanya. Memotong jalur pertempuran mereka. Beruntungnya, tidak ada serangan yang mengenai Senpai. Jika saja ada serangan yang mengenainya, secara otomatis akan menjadi satu serangan mematikan karena level mereka jauh berbeda.

“Will Isaac...”

“Yuuki Saku...”

Ah, Senpai memanggil nama lengkap mereka. Aku tahu ini akan terjadi tapi apa boleh buat. Mereka harus menerima pengalaman ini sebagai pelajaran hidup mereka.

Tongkat yang dibawa Senpai perlahan dinaikkan. Ada jeda kecil sebelum tongkat itu menghantam kepala mereka berdua. Suara hantaman di kepala mereka sangat keras seperti batang kayu besar yang retak. Belum sempat mereka mengerang kesakitan, suara pukulan kedua yang menghantam tangan disertai dengan suara armor mereka yang rusak terdengar. Pukulan itu terus berlanjut mengincar tangan dan kaki mereka. Tapi kali ini armor yang melekat di tubuh mereka hancur. Status armor yang hancur pun muncul di atas mereka.

Tubuh mereka tersungkur di lantai dan status kecil kembali muncul di atas kepala mereka.

[Tactical Baton : Takedown, In-effect 00:05:00].

Mereka berdua saling mengerang kesakitan dalam satu harmoni suara yang merdu. Dibelakang mereka terlihat member Guild yang tercengang melihat kejadian ini.

Level 30 mana yang mampu memukul balik level 300 hingga terbaring di lantai?

Aku bahkan tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Tapi jika itu Senpai maka aku bisa memakluminya.

Terkadang di dalam game seperti ini, Senpai masih saja menyimpan misteri bagaimana ia bisa melakukan semua itu.

Begitulah Senpai yang ku kagumi.

Tidak ada salahnya jika aku menaruh perasaan cinta yang terpendam ini bukan?

[...]

Terpopuler

Comments

Dr. Rin

Dr. Rin

Sensei, kalau interlude boleh ga narasi doang? 🤔

2023-07-04

0

Dr. Rin

Dr. Rin

mohon pencerahannya hehe

2023-05-16

0

alfy

alfy

absen sek no1...😂😂🤭🙏

2022-03-16

0

lihat semua
Episodes
1 Volume 1 - Prolog
2 Chapter 1 - Internet Cafe OUTNET
3 Chapter 2 - Class Detective
4 Chapter 3 - Permintaan Saintess
5 Chapter 4 - Korban Terakhir
6 Chapter 5 - Biological Evidence
7 Chapter 6 - Krisis Kerajaan Nestrad
8 Chapter 7 - Boot Camp Servere
9 Chapter 8 - Presumptive Blood Test
10 Chapter 9 - Sumber Bencana
11 Chapter 10 - Pertemuan Darurat
12 Chapter 11 - LOGOUT
13 Chapter 12 - Kasus Menumpuk
14 Chapter 13 - Aktivitas Normal
15 Chapter 14 - Kelas Abnormal
16 Chapter 15 - Scam Quest
17 Chapter 16 - Nekoya Inn
18 Chapter 17 - Pertikaian Kecil
19 Interlude - Senpai
20 Chapter 18 - Kontrak Perjanjian
21 Chapter 19 - Sistem MOCAD
22 Chapter 20 - Teleport Magic
23 Chapter 21 - Solo Investigation
24 Chapter 22 - In Vino Veritas
25 Chapter 23 - Pengakuan Hitam
26 Chapter 24 - Investigasi Akhir
27 Interlude - Ruang Hitam
28 Chapter 25 - Kasus Gagal?
29 Chapter 26 - Princess Nekoya Inn
30 Chapter 27 - Kembali Pulang
31 Chapter 28 - Lembaran Misteri Dunia
32 Chapter 29 - Kontrak Promosi
33 Chapter 30 - Sisi Lain Internet
34 Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis
35 Chapter 32 - Ratu Iblis
36 Interlude - Langit Malam
37 Chapter 33 - Old Gang Tea Party
38 Chapter 34 - Private Detective Contractor
39 Chapter 35 - Maid Service
40 Chapter 36 - Antropologi Forensik
41 Chapter 37 - Analisis Berkelanjutan
42 Interlude - Ex-Demon Queen Council
43 Chapter 38 - Kekuatan 100 Keping Emas!
44 Chapter 39 - Sambutan Kecil
45 Interlude - Perjanjian Antar Player
46 Chapter 40 - Un-Wanted Kill
47 Chapter 41 - Social Stealth
48 Interlude - Can u stand in Friendly-Fire Line of sight?
49 Emergency Update
50 Chapter 42 - Detektif dan Asisten Detektif
51 Chapter 43 - Lorong Gua
52 Informasi & Terima Kasih
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Volume 1 - Prolog
2
Chapter 1 - Internet Cafe OUTNET
3
Chapter 2 - Class Detective
4
Chapter 3 - Permintaan Saintess
5
Chapter 4 - Korban Terakhir
6
Chapter 5 - Biological Evidence
7
Chapter 6 - Krisis Kerajaan Nestrad
8
Chapter 7 - Boot Camp Servere
9
Chapter 8 - Presumptive Blood Test
10
Chapter 9 - Sumber Bencana
11
Chapter 10 - Pertemuan Darurat
12
Chapter 11 - LOGOUT
13
Chapter 12 - Kasus Menumpuk
14
Chapter 13 - Aktivitas Normal
15
Chapter 14 - Kelas Abnormal
16
Chapter 15 - Scam Quest
17
Chapter 16 - Nekoya Inn
18
Chapter 17 - Pertikaian Kecil
19
Interlude - Senpai
20
Chapter 18 - Kontrak Perjanjian
21
Chapter 19 - Sistem MOCAD
22
Chapter 20 - Teleport Magic
23
Chapter 21 - Solo Investigation
24
Chapter 22 - In Vino Veritas
25
Chapter 23 - Pengakuan Hitam
26
Chapter 24 - Investigasi Akhir
27
Interlude - Ruang Hitam
28
Chapter 25 - Kasus Gagal?
29
Chapter 26 - Princess Nekoya Inn
30
Chapter 27 - Kembali Pulang
31
Chapter 28 - Lembaran Misteri Dunia
32
Chapter 29 - Kontrak Promosi
33
Chapter 30 - Sisi Lain Internet
34
Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis
35
Chapter 32 - Ratu Iblis
36
Interlude - Langit Malam
37
Chapter 33 - Old Gang Tea Party
38
Chapter 34 - Private Detective Contractor
39
Chapter 35 - Maid Service
40
Chapter 36 - Antropologi Forensik
41
Chapter 37 - Analisis Berkelanjutan
42
Interlude - Ex-Demon Queen Council
43
Chapter 38 - Kekuatan 100 Keping Emas!
44
Chapter 39 - Sambutan Kecil
45
Interlude - Perjanjian Antar Player
46
Chapter 40 - Un-Wanted Kill
47
Chapter 41 - Social Stealth
48
Interlude - Can u stand in Friendly-Fire Line of sight?
49
Emergency Update
50
Chapter 42 - Detektif dan Asisten Detektif
51
Chapter 43 - Lorong Gua
52
Informasi & Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!