Angin berhembus menerpa sebuah helaian kain yang terikat di sebuah tiang panjang, kain itu terukir simbol Kerajaan Nestrad yang berkibar di atas sebuah gedung kecil.
Dari kejauhan, seorang prajurit pembawa pesan dari pusat komando Kerajaan Nestrad memacu kudanya menuju pintu masuk pos penjaga. Kuda yang dibawanya membawa kantung besar yang berisi lembaran-lembaran kertas yang tersegel dengan lingkaran sihir.
Prajurit pembawa pesan itu tiba dan bersiap melapor ke salah satu pimpinan yang bertanggung jawab memimpin pos penjaga ini.
Seorang pria paruh baya dengan raut wajah yang mengintimidasi keluar dari pintu utama pos penjaga. Sisa-sisa wajahnya yang setengah terbakar dan salah satu matanya yang tersayat menimbulkan kesan mengerikan hanya dari tatapan kedua matanya. Pria itu menatap prajurit yang membawa pesan penting dari komando pusat. Dengan tubuhnya yang bergetar karena penampilan pria paruh baya itu, dia mencoba memberikan surat perintah itu.
Penampilan paruh baya itu diselimuti jubah hitam yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Saat tangannya keluar dari balik jubahnya, sebuah pangkat dan medali penghargaan yang melekat di pakaiannya membuat prajurit pembawa pesan itu terkejut. Tubuhnya yang semula bergetar ketakutan kini kembali tegak. Bukan hanya dia menjadi percaya diri kembali, prajurit pembawa pesan itu bahkan memberinya sebuah hormat militer untuk menghormati jasa pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu menghiraukan prajurit pembawa pesan itu dan berjalan pergi meninggalkannya.
Prajurit pembawa pesan itu selanjutnya pergi setelah dirasa cukup menghormati sosok yang dikaguminya. Suasana hatinya kini kembali segar setelah bertemu dengan sosok yang menjadi kebanggaan Kerajaan Nestrad.
Di dalam ruang komando pos penjaga, pria paruh baya itu berjalan menuju salah satu sofa yang ada di sudut ruangannya. Di sana, sosok gadis terbaring dengan dengkuran kecil yang terdengar. Air liurnya menimbulkan bercak kilauan cahaya pagi yang memantul pada bantal yang menopang kepalanya.
Dengan surat perintah kecil yang ada ditangannya, pria paruh baya itu mengangkat tangannya dan memasukkan beberapa sihir kecil yang mulai menyelimuti surat itu. Surat itu tiba-tiba bergerak dengan cepat menuju gadis yang tertidur itu. Saat surat itu hampir mengenai kepala gadis itu, sebuah pisau kecil berhasil menahannya.
Gadis itu perlahan membuka matanya, terlihat sayu namun insting tubuhnya mampu merespon bahaya bahkan ketika dia tertidur. Gadis itu terkejut saat mengetahui pisau kecil miliknya menahan kertas kecil yang terselimuti sihir.
Ya, serangan kecil untuk kejutan berhasil ditahan oleh gadis itu.
Tiba-tiba saja, kertas itu meledak dan membuat kegaduhan kecil untuk prajurit yang menjaga pos ini.
“Eh? A-ada apa ini?”
Gadis itu dengan polosnya bertanya seperti itu. Dia tidak menyadari serangan yang baru saja dia terima telah menghancurkan sofa tempat dia tertidur.
“Ohh- Ayah.. selamat pagi.. Hoooaam-“
Tanpa mempedulikan kerusakan disekitarnya, gadis itu kembali tertidur.
Sebuah urat nadi yang mengeras muncul di kepala pria paruh baya itu. Dia lalu berjalan menghampiri meja kerjanya mengambil sebuah kertas dan pena bulu. Dia menulis beberapa baris kata dan kemudian melepaskan pangkat militer yang dia kenakan.
Dengan jubah tebal yang masih menutupi tubuhnya, dia berjalan pergi meninggalkan pos penjaga ini.
Rasa frustasinya yang selama ini dia pendam sudah tidak tertahankan. Kali ini, dia pergi untuk mengubah suasana hatinya dan meninggalkan perintah resmi untuk menyerahkan rantai pusat komando pos ini pada putrinya. Tidak ada satu pun prajurit yang tahu ke mana perginya pria paruh baya ini.
Namun satu hal pasti..
Dia telah pergi menghilang begitu saja bagaikan seorang hantu.
Keadaan ini menjadi gempar setelah gadis itu sepenuhnya sadar dari tidurnya. Melihat isi ruangannya berantakan dan kertas kecil yang ditinggalkan oleh ayahnya membuat pagi hari yang dialaminya menjadi sebuah malapetaka baru.
Tidak hanya itu, setumpuk laporan yang telah diselesaikan kini berhamburan tidak jelas. Gadis itu menyadari kesalahannya telah menghiraukan jam disiplin bertugas yang selalu saja diingatkan oleh ayahnya.
Karena ayahnya kini ngambek, dia harus menerima konsekuensi ini.
Mau tidak mau, dia harus mengatasi permasalahan yang telah menumpuk di hari sebelumnya. Sebenarnya ada sangsi militer yang berlaku jika prajurit melalaikan tugasnya. Hukum militer Kerajaan Nestrad terbilang cukup berat, tetapi ayahnya telah menyerahkan rantai komando pada dirinya. Maka gadis itulah yang kini mengemban tanggungjawabnya.
Air mata kecil mulai membasahi matanya. Tugas yang ditinggalkan ayahnya itu ternyata cukup untuk membuatnya menangis.
Ada beberapa laporan masyarakat yang muncul akhir-akhir ini. Bisa dikatakan masalah yang sedang dialami Kerajaan Nestrad berjalan tanpa henti.
Terdapat laporan penculikan anak kecil yang sedang terjadi akhir-akhir ini. Terlebih dengan adanya surat perintah yang ada ditangan gadis itu membuat mereka tidak bisa bergerak bebas.
Surat itu berisi pembatasan aktivitas masyarakat dan perintah resmi untuk setiap prajurit Kerajaan Nestrad menjalankan protokol darurat militer. Dengan adanya situasi darurat militer yang akan diberlakukan, itu sudah cukup menambah beban pekerjaan yang akan dilakukan.
“Apa yang sedang terjadi sih?”
Pikiran gadis itu melayang setelah membaca surat perintah yang baru saja dia terima.
Di sisi lain, ayahnya yang baru saja pergi meninggalkan tugasnya tengah bersenang-senang menikmati sarapan paginya di penginapan yang bernama Nekoya Inn.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Dr. Rin
Sama2 sengklek ternyata.
2023-05-16
0
Dr. Rin
Normal Greeting between Father and daughter I see... 😅
2023-05-16
0
alfy
lanjut toor👍😘
2022-03-12
0