Situasi Nekoya Inn saat ini terbilang cukup menegangkan.
Pecahan kaca, potongan kayu, goresan senjata tajam di dinding, sisa-sisa makanan yang terjatuh di lantai. Itu sudah memberi petunjuk kecil apa yang telah terjadi.
Hans dengan tenang menikmati secangkir teh yang menjadi menu utama Nekoya Inn. Tepat di sampingnya terdapat dua Player yang saat ini terbaring lemas di lantai. Sebuah status berbentuk angka yang menghitung mundur muncul di atas mereka.
[Tactical Baton : Takedown, In-effect 00:04:36.]
Kedua Player yang ada di samping Hans terdiam sembari menunggu efek yang ada di karakter mereka menghilang.
Hans tidak sendirian di sana. Rencana awalnya, mereka akan saling bertemu dan membentuk sebuah Party kecil untuk menyelesaikan Quest pencarian. Tetapi kenyataan berkata lain.
“Jadi, bisa kau jelaskan mengapa ini terjadi?” Hans meletakkan cangkir tehnya dan menatap Will Isaac dan Yuuki Saku.
Karakter mereka masih dalam keadaan lumpuh setelah terkena efek [Tactical Baton : Takedown] milik Hans.
“S-sebelum itu, Hans.. bisa kau jelaskan apa yang sudah kau lakukan?” Will menatap Hans dengan susah payah. Seluruh tubuhnya terasa kaku bahkan dia perlu tenaga lebih untuk sekadar memutar kepalanya.
“Hmm?? Apa maksud mu?” Hans menjawabnya dengan tenang.
“Y-Ya, itu karena jika Saku yang menghajar ku kurasa itu masih bisa di terima, tetapi...!”
“Wow.. Will.. sejak kapan kau sudah berani memanggil nama belakangnya? Tidak ku sangka hubungan kalian cepat berkembang. Apa rahasianya?”
“Rahasianya? Itu karena ada dua Yuuki di sini!! Jika aku memanggilnya dengan nama itu. Maka akan ada dua gadis menoleh!” nada ucapan Will sedikit tegas untuk menekan posisinya.
“Tenanglah sedikit, Will. Tidak perlu terburu-buru” Hans mencoba menenangkannya.
Itu memang benar, saat ini ada dua gadis dengan nama depan "Yuuki". Mereka adalah Yuuki Saku dan Yuuki Kotori. Keduanya memiliki hubungan kakak-adik.
“Anoo.. Senpai?” gadis bernama Yuuki Kotori itu memanggil Hans yang secara kebetulan adalah kakak kelas di sekolahnya.
“Kurasa aku harus memanggil mu Kotori mulai saat ini” ucap Hans sembari menatap Kotori.
Yuuki Kotori duduk bersimpuh memangku kepala kakaknya yang terkena efek [Tactical Baton : Takedown].
Suara tangisan kecil Yuuki Saku terdengar.
Kotori yang melihat kakaknya menangis hanya bisa mengelus kepalanya dan mencoba menenangkannya.
“Onee-chan, kau juga salah untuk mencari masalah di hadapan Senpai. Tidak banyak orang yang berani membuat masalah saat di depan Senpai. Senpai tidak peduli entah itu wanita atau pria tetapi jika mereka memang melakukan kesalahan. Senpai pasti akan menghukumnya tanpa keraguan. Itu sudah menjadi kebiasaannya” Kotori mengusap kepala kakaknya itu. Di sampingnya terdapat anggota Guild mereka yang tidak berani bergerak setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh Hans.
Will Isaac dan Yuuki Saku yang memiliki sertifikasi sebagai Player Profesional dengan akun karakter berlevel 300 kalah dalam pertarungan jarak dekat oleh Player Amatir dengan karakter berlevel 30.
Harga diri mereka sebagai Player Profesional berkurang saat anggota Guild mereka yang menemani pertemuan ini melihat kekalahan mereka.
“Sebagai catatan.. itu salah kalian” Hans menegaskan kata-katanya.
“Hans.. kau kasar sekali” balas Saku yang masih saja menahan tangisnya.
“Hoohoo.. kurasa betina yang satu ini masih belum mengerti!” sembari mengatakan itu. Hans mengeluarkan Tactical Baton miliknya dan memanjangkan baton lipat itu hingga ke titik maksimal. Tatapan matanya yang bersiap memukul seseorang tanpa rasa bersalah membuat Yuuki Saku memiliki trauma baru yang muncul saat itu juga.
“Hiiiiekkkkk!!” Saku yang tidak sengaja menatap tatapan keji Hans kembali meletakkan wajahnya ke pangkuan adiknya.
“A..hahaha..” tawa canggung adiknya membuat suasana mencekam ini sedikit mencair.
Hans mengambil napas terdalamnya dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia lalu berdiri dan bergegas menuju meja pemesanan Nekoya Inn. Dibalik meja itu terdapat NPC yang sedang bersembunyi karena ketakutan. Tubuhnya yang bergetar hebat menandakan seberapa mengerikannya jika ada dua Player dengan level 300 bertarung bebas di wilayah NPC.
Hans meletakkan 10 Koin Emas di atas meja pemesanan.
“Maafkan tentang kelakuan teman-teman ku. Sebenarnya mereka bukan orang jahat yang suka merusak tempat bisnis orang lain. Tetapi kelakuan mereka cukup bodoh, jadi harap pengertiannya” Hans berusaha mendinginkan suasana dengan membayar kerusakan properti yang diakibatkan oleh kedua temannya itu.
“Hey!!!” Will dengan sekuat tenaga memprotes pernyataan Hans.
“Apa kau keberatan dengan kata-kata ku, Will?” Hans menoleh ke arah Will dengan tatapan yang belum pernah dia lihat di dalam hidupnya. Tatapan itu berisi kekecewaan, amarah, dan perasaan jijik yang bercampur menjadi satu.
Anggota Guild yang ada di samping Will tersenyum melihat kelakuan konyol pemimpin mereka.
“Aku merasa kecewa dengan kalian berdua” ucap Hans.
Tujuan Hans menerima ajakan Will Isaac dan Yuuki Saku adalah untuk mempelajari bagaimana memecahkan sebuah Quest yang melibatkan zona pencarian. Tetapi setelah tiba pada tempat tujuannya, tiba-tiba saja dia dilempar kekecewaan setelah mengetahui itu hanyalah perlombaan dua Guild besar untuk menunjukkan eksistensi kekuatan mereka.
Rasa kekecewaan yang dialami Hans ini tidak lebih dari penipuan promosi barang yang tidak sesuai dengan perjanjian yang tertulis di dalam promosinya atau pengkhianatan seorang mata-mata yang membocorkan informasi penting negaranya.
“Awalnya aku senang kalian mengajak ku untuk menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan Quest pencarian..”
“Aku sudah bersemangat loh..”
“Tetapi yang kudapat hanyalah...”
“Haaaaaaaaah~ jika aku tahu akan begini. Lebih baik aku pergi ke OUTNET.”
Ucapan yang dilontarkan Hans sudah cukup untuk membuat Will Isaac dan Yuuki Saku menerima serangan yang menusuk hati kecil mereka. Serangan yang mampu menembus tubuh asli mereka.
“Kami minta maaf!!”
“Kami minta maaf!!!”
Will Isaac dan Yuuki Saku mengucapkan kalimat itu bersamaan. Sembari memperbaiki posisi tubuh mereka yang telah pulih dari efek [Tactical Baton : Takedown].
Kombinasi serangan yang memicu efek [Defense Break]. Efek [Tactical Baton : Takedown] sangat spesial karena adanya [Paralyze] dan [Stun] yang aktif bersamaan. Untuk karakter dengan level 300 yang terkena efek serangan hingga 5 menit lumpuh, itu sudah masuk ke dalam serangan fatal. Will Isaac dan Yuuki Saku yang tidak tahu mengenai efek senjata Exclusive milik Hans hanya bisa terdiam menerima serangannya. Sejauh yang mereka tahu, karakter mereka memiliki ketahanan untuk menahan serangan seperti itu. Namun Hans masih bisa membungkam mereka dengan [Paralyze] dan [Stun] hingga 5 menit lamanya. Insting Player Profesional mereka menangkap adanya keanehan pada senjata milik Hans.
“Hans.. boleh kutahu senjata apa itu?” tanya Will.
“Ini?” Hans menunjukkan Tactical Baton miliknya.
“Itu.. boleh ku tahu statistiknya?”
“Well.. tidak ada yang spesial dengan ini sih” Hans memberikan Tactical Batonnya.
Will Isaac dan Yuuki Saku yang penasaran pun melihat statistik Tactical Baton milik Hans.
“Apa-apaan ini!! Attack 0! Tetapi durability nya gila!” Will terkejut saat melihat statistik senjata Hans.
“Humu.. senjata Exclusive rupanya. Kebanyakan senjata Exclusive hanya ditujukan untuk satu Class yang mencapai tingkat Master. Ngomong-ngomong apa Class mu?” Will yang dipenuhi rasa penasaran memandangi Hans.
“Class ku? Kalian pasti akan tertawa mendengarnya. Class ku adalah tipe Non-Combat Class” jawab Hans.
“Heeee.. Class apa itu?” ucap Will yang penasaran dengan Class Hans.
Namun sebuah notifikasi kecil muncul dihadapan Hans. Notifikasi itu berisi undangan memasuki Party yang di kirim oleh Kotori.
Ini bukan pertama kalinya dia terlibat hal kecil bersama Kotori. Dia seperti sedang membantu Hans untuk lari dari pertanyaan merepotkan itu.
“Senpai...” Kotori tersenyum memandangi Hans.
“Sepertinya kau masih saja memahami diriku, Kotori.”
Pintu utama ruang makan Nekoya Inn terbuka.
Di balik pintu itu, terdapat sosok wanita dewasa dengan kimono hitam yang sedikit terbuka. Rambut hitam panjang dan telinga kucing berwarna hitam yang ada dikepalanya sudah cukup untuk menarik perhatian NPC disekitarnya.
Ekor hitam muncul dibalik kimono nya. Dilihat dari posisi ekornya, dia sangat terkejut melihat ruang makan yang ada dihadapannya berantakan. Layaknya kapal besar yang terhantam badai besar dan meninggalkan berbagai macam barang rusak bertebaran di lantai.
“Bisa dijelaskan apa yang telah terjadi?” wanita itu dengan suara lembutnya bertanya ke salah satu NPC yang berlindung di bawah meja pemesanan.
NPC yang berlindung di bawah meja itu menampakkan wajahnya yang masih ketakutan dan hanya menunjuk kedua Player yang ada dihadapannya.
Sorotan mata tajam wanita dewasa itu memperhatikan Hans dan juga beberapa tamu tak di undang di belakangnya.
“Seingat ku, aku tidak pernah mencari masalah dengan Player yang mengunjungi penginapan ku, tetapi..” tatapan mata hitamnya yang bercahaya tepat mengarah ke Hans.
Hans merasakan sensasi menggelitik yang menjalar tubuhnya.
“Player dengan Level 30 tidak mungkin bisa melakukan kerusakan seperti ini.”
“Berbeda dengan kalian yang memiliki Level 300.”
Hans yang menyadari perubahan arah ekornya yang mengembang berdiri bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
“Ano.. Nyonya Mile.. Maaf jika mengganggu tetapi semua biaya kerugian telah dibayar oleh Player dengan Level 30 itu” ucap NPC yang menjaga tempat pemesanan.
“Oh, ternyata ada Player yang memiliki tata krama dan sopan santun rupanya” kali ini ekornya yang berdiri tegak mulai lemas dan berayun dengan santainya.
Hans yang melihat perubahan kecil ekornya ini mulai mengerti bagaimana cara untuk mengatasi ras yang terpaku pada perubahan kecil ekornya. Berbeda dengan manusia yang diliputi emosi, gerak wajah, dan reaksi tubuh untuk mengerti kondisi suasana hatinya, ras dengan tipe yang menyalurkan suasana hati melalui ekornya sangat mudah untuk dibaca.
“Kurasa tidak sia-sia aku menjinakkan kucing liar di taman” gumam Hans.
“Tetapi tetap saja, harus ada pertanggung jawaban dari pelaku yang menyebabkan kerusakan ini” sebuah kalimat yang tegas dan padat itu terdengar oleh Will Isaac dan Yuuki Saku.
“Oh tidak! Sudah jam segini. Aku ada jadwal belanja makan malam. Aku permisi dahulu, Ketua!”
“Wah! Aku hampir kelupaan menjemput adikku sore ini! Izin pamit, Ketua!”
“Ojou-sama, ada laporan mengenai anggaran Guild yang masuk hari ini. Kami permisi dahulu untuk mengurusnya”
“Ah, bukankah hari ini jadwal kita untuk farming material di dungeon?”
Satu per satu, tamu yang tak di undang itu pergi dengan berbagai macam alasan klasik. Meninggalkan Ketua Guild mereka begitu mudahnya.
“Semudah itu kah bawahan kalian meninggalkan kalian?” pernyataan yang dilontarkan oleh Hans ini sudah cukup menusuk hati mereka. Serangan yang menusuk itu mampu menumbangkan kedua Ketua Guild itu dan tersungkur kembali ke lantai.
“Tidak bosan-bosannya aku mengatakan ini, tetapi itu semua salah kalian yang bertengkar di sini loh” pernyataan ini membuat mereka berdua makin tertekan.
Hans mendekati wanita dewasa itu.
“Sebagai formalitas saja, aku minta maaf tentang apa yang diperbuat oleh kedua teman ku itu. kami sadar bahwa kerusakan tempat ini pasti butuh waktu untuk diperbaiki. Mereka bukan orang jahat yang suka merusak tempat bisnis orang lain. Hanya saja mereka terlalu bodoh untuk mencari tempat bertarung.”
Candaan kecil itu sudah cukup membuat wanita dewasa itu tertawa kecil.
“Jika tidak keberatan, aku ingin kedua Player itu bertanggung jawab. Aku akan mengembalikan pembayaran yang kau berikan. Rasanya tidak adil jika kau yang bertanggung jawab, bukan?” ucap wanita dewasa itu dengan senyum yang menggoda Hans.
“Aku paham perasaan mu, tetapi tolong jangan kasar pada kedua teman ku yang spesial ini” balas Hans.
“Tenang, aku hanya ingin mereka mencari seorang Player. Sebagai sesama Player bukan kah itu terdengar mudah?”
Hans merasakan adanya sesuatu yang merepotkan akan terjadi pada dirinya. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri seperti adanya sesuatu yang mengancam dirinya.
“Kok perasaan ku tiba-tiba tidak enak yah?” gumam Hans.
“Humm??” wanita dewasa itu mendengar gumam Hans dan memiringkan kepalanya.
“Lebih baik kalian bergegas ke ruangan ku, tolong siap kan beberapa teh untuk tamu ku” wanita dewasa itu memberi perintah pada NPC di dekatnya.
“Baik, Nyonya Mile” mendengarkan perintah yang diberikan, NPC itu langsung bergegas pergi.
Will Isaac, Yuuki Saku, Yuuki Kotori, dan Hans yang mendengarnya saling bertatapan.
Wanita dewasa itu berjalan pergi melewati pintu yang terbuka dan menunggu mereka untuk mengikutinya.
“Apa boleh buat” Hans berjalan memasuki pintu itu. Will Isaac, Yuuki Saku, dan Yuuki Kotori bergegas menyusul Hans.
Mereka di bawa masuk ke dalam ruang tamu khusus yang terletak sangat jauh di dalam bangunan Nekoya Inn. Ruang tamu itu sebenarnya tempat khusus untuk aktivitas jual-beli informasi dan tidak sembarang orang bisa masuk.
Hans mengamati keadaan sekitar. Pemandangan baru yang ada di hadapannya itu cukup menarik perhatian kecilnya. Aroma kertas terbakar dan bekas tetesan tinta kering menghiasi meja di depan mereka. Ini merupakan hal yang biasa untuk bisnis sampingan seperti ini. Kertas informasi yang tidak terbakar sempurna memasuki pandangan Hans.
Hans membaca perlahan mengenai informasi gratis yang ditemukannya itu.
Will Isaac dan Yuuki Saku masih belum bisa bangkit dari rasa gelisah mereka.
Di hadapan mereka tampak wanita dewasa yang dengan anggunnya tersenyum kepada mereka berdua.
Senyuman itu layaknya predator yang mengamati mangsanya untuk menikmati makanan terakhirnya. Agak berlebihan memang, tetapi senyuman itulah yang mereka rasakan.
Keringat dingin mulai menjalar di wajah mereka.
Ketukan kecil muncul di balik pintu masuk ruangan, Hans memperhatikan telinga kucing wanita itu bergerak kecil.
Keheningan mereka di ruangan itu dipecah oleh kedatangan NPC yang membawa troli berisi cangkir teh dan teko. NPC itu menuangkan teh hangat dan menyajikan teh buatannya kepada tamu istimewa Nyonya nya.
“Silakan.. Teh buatan anak ini sangat enak loh” ucap wanita itu.
Keraguan kecil muncul di wajah mereka. Sebenarnya Will Isaac dan Yuuki Saku tidak tertarik mencicipi cita rasa kuliner di dalam game. Jadi, ini pengalaman pertama mereka mencicipi kuliner di dalam game.
Hans yang memahami kecanggungan mereka pun mengalah dengan mengambil secangkir teh yang masih hangat itu. Walaupun dia sudah meminum teh saat di ruang makan, namun untuk tata krama dan sopan santun menghargai pemberian wanita itu. Hans memaksakan tangannya untuk mengambil dan mencicipi teh itu.
Aroma, tekstur warna, dan kehangatan teh itu dapat dirasakan. Saat hisapan pertama masuk, sebuah notifikasi kecil muncul dalam pandangan Hans.
[Nekoya Inn Tea No.1 : Darjeeling Harmony Active.]
[HP Recovery Active.]
[MP Recovery Active.]
[Reset Fatigue Active.]
[Reset Poison Active.]
Setelah Hans meminum hisapan pertamanya, Will yang kebetulan ingin merasakan bagaimana cita rasa minuman di dalam game pun mencoba hidangan teh yang disajikan.
Setelah menghisap teh itu, ekspresi Will yang terkejut pun memancing rasa penasaran Saku dan Kotori.
Mereka berdua mencoba hidangan teh itu.
Reaksi yang sama muncul di ekspresi wajah mereka.
“Teh apa ini? Dan apa-apaan efek ini? Aku tidak tahu ada minuman yang memiliki efek seperti ini selain Potion?” tanya Will.
“Benar-benar enak” ucap Saku menambahkan.
“...”
Kotori tidak meninggalkan komentar apa pun. Dia terlihat sibuk menikmati teh yang disajikan.
Sementara itu, Hans yang duduk memandangi mereka mengalihkan tatapannya langsung pada wanita di hadapannya.
“Jadi, apa yang akan mereka cari?” tanya Hans memecah suasana.
“Sebelum itu, bukankah seharusnya kita saling berkenalan?” balas wanita itu.
“Ah, benar juga. Maaf atas kelancanganku. Namaku adalah Guest177013 dan mereka adalah..”
“Snow Storm” ucap Will Isaac.
“Sakura Crimson” ucap Yuuki Saku.
“Sakura Lily” ucap Yuuki Kotori.
“Perkenalkan nama ku, Mile Sinov. Pemilik Nekoya Inn. Sudah sejak lama aku ingin bertanya tentang ini, mengapa nama Player itu unik-unik?” wanita itu membungkuk memberikan salam kepada mereka.
Di rasa perkenalan mereka telah selesai. Hans mulai membuka topik utama mereka.
“Kesampingkan masalah mengenai nama unik Player, memang sudah menjadi kewajiban jika nama Player unik dan aneh. Kebanyakan dari mereka menaruh harapan besar tentang nama mereka di dalam game. Yang mana itu tidak berguna juga pada akhirnya, kecuali jika mereka Player terkenal atau pembuat masalah” Ucap Hans sembari melirik Will Isaac dan Yuuki Saku.
“Uh-huuh.. G-Game??” wanita itu tampak kebingungan.
“Aku mendengar kau sedang mencari seseorang?” Hans mencoba meluruskan kembali topik utama mereka.
“Tepat seperti itu, apa kalian bisa membantuku?”
“Itu tergantung dari seberapa besar.. kau tahu apa yang ku maksud bukan?”
“Player memang selalu perhitungan mengenai ini ya, kebetulan sekali aku baru saja mengirimkan permohonan Quest ke Guild Master Adventure. Ini salinan Quest yang ku ajukan” Sembari mengatakan itu. Wanita itu memasukan tangannya ke selipan kimono hitamnya dan mengeluarkan kertas yang tergulung dengan sebuah pita.
Hans menerima kertas itu dan membuka pita yang mengunci gulungan kertas.
Ekspresinya tampak gelisah setelah melihat isi Quest.
“Etto.. Mile.. boleh ku tahu mengapa kau mencari orang ini?” tanya Hans.
“Aku ingin menyewa kemampuannya untuk menyelidiki ke mana hilangnya cucu ku.”
“Cucu?” tanya Hans.
“...”
“...”
“Apa ada yang salah dengan itu?” tanya Mile.
“Ah, tidak. Hanya saja aku merasa dejavu. Ini bukan pertama kalinya aku menerima Quest dari nenek-nenek.”
Sebuah urat nadi kecil yang mengembang besar terlihat jelas di pelipis Mile.
“Asal kau tahu, usia ku saat ini masih terbilang sangat muda tahu! Hanya saja anak-anak angkat ku yang terlalu aktif membuat keturunan sehingga keluarga ku bertambah besar!” Mile mulai menaikkan nadanya untuk menyangkal pernyataan Hans.
Hans terdiam dan menyerahkan gulungan kertas itu kepada Will yang tengah menunggu. Rasa penasaran mengenai isi kertas itu tercermin pada tatapan matanya yang selalu mengikuti gerakan kertas yang ada ditangan Hans.
Will membaca kertas pemberian Hans.
“Hah? 30 Koin Emas untuk menemukan orang ini? Ini bukan mimpi kan? Tidak mungkin ada Quest dengan bayaran setinggi ini?” ucap Will.
“Tunggu, itu bayaran yang tinggi?” tanya Hans.
“Tentu sajalah! 1 Koin Emas saja sudah setara dengan 1.000 Koin Perak. Bayangkan saja 30 Koin Emas itu sudah setara dengan 30.000 Koin Perak. Saat ini sangat jarang ada pembayaran yang menggunakan Koin Emas. Rata-rata Player hanya mendapat bayaran dengan Koin Perak dan karena itulah saat ini hanya ada Koin Perak yang beredar di kalangan Player sebagai mata uang tertinggi.”
“Eh, benarkah? Berarti saat aku membayar kerugian dengan 10 Koin Emas. Itu sudah sangat tinggi?” ucap Hans dengan nada datar.
“Eh? 10 Koin Emas?” Will terkejut mendengarnya.
“Hans, kau dapat dari mana Koin Emas itu?” tanya Will yang penuh dengan rasa penasaran.
“Aku dapat dari Quest” jawab singkat Hans.
“Quest macam apa yang memberi mu bayaran Koin Emas!?”
“Oh, Saat itu aku hanya di minta untuk menyelidiki sesuatu.”
“Bagaimana kau bisa mendapat Quest seperti itu?”
“Aku juga tidak tahu, saat pertama kali Login sudah ada nenek-nenek yang menunggu ku dan meminta bantuan ku lalu Quest itu datang.”
“Yang benar saja, Quest macam apa itu?”
“Secara singkat nenek itu memiliki pasukan khusus yang ditugaskan untuk menyelidiki sesuatu. Dalam penyelidikannya itu hanya ada satu orang yang pulang dalam kondisi mengenaskan. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk disembuhkan, aku membunuhnya. Dan nenek itu meminta ku untuk mencari penyebab mengapa salah satu cucunya menjadi seperti itu. Penyelidikan ku berjalan mengarah ke satu tempat hingga aku berhasil menyelesaikan Quest itu dan mendapat hadiah Koin Emas. Tamat!”
“Quest macam apa itu! dan juga mengapa kau melakukan Quest penyelidikan di hari pertama Login?”
“Well.. itu karena Class ku Non-Combat jadi aku tidak bisa melakukan Quest secara normal seperti membasmi monster atau apa pun itu.”
“Sebenarnya apa sih Class mu ini?” tanya Will.
“Hanya Class Detective kok” balas Hans.
“Oh, Class Detective.”
“...”
“...”
“...”
“Tunggu! Apa!? Class Detective!!!” keheningan sementara itu ditutup oleh teriakan histeris Will Isaac.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Dr. Rin
si jendral kok tiba2 ngilang, apa aku yg kelewat baca ya? 🤔
2023-05-16
0
Dr. Rin
bedanya apa? 😅
2023-05-16
0
alfy
lanjut thoor
2022-03-16
0