Cahaya pagi matahari menembus tirai tipis.
Jendela yang tertutupi tirai tipis itu terbuka, menampilkan seorang pemuda yang sedang bersiap untuk pergi sekolah.
Seragam yang dia kenakan tertutupi celemek hitam. Kantung mata hitamnya begitu terlihat, menandakan pemuda itu kekurangan kualitas waktu tidurnya. Di balik tubuh pemuda itu tersusun rapi sebuah porsi makanan lengkap di atas meja makan.
Pemuda itu melepas celemek hitam yang dikenakan dan berjalan keluar ruang makan. Dia berjalan menuju pintu keluar rumahnya dan tidak lupa mengunci pintu rumahnya. Dia berjalan menyusuri jalanan rumahnya yang masih sepi. Sepanjang perjalanan yang dilalui, hanya ada sebagian toko kecil yang membuka pintu masuk toko mereka dan tengah bersiap untuk menyusun barang dagangannya.
Di tengah perjalanan kecilnya itu, pemuda itu menghampiri salah satu toko langganannya. Saat dia memasuki toko itu, terlihat pemilik toko tengah menyajikan roti panas produk mereka. Aroma harum roti yang keluar dari pemanggang menyebar ke penjuru toko. Aroma itu sudah cukup memanjakan hidung pemuda ini.
Pemilik toko yang masih mempersiapkan barang dagangannya melirik pemuda itu. Seolah sudah terbiasa dengan kebiasaan pemuda itu, pemilik toko itu mengeluarkan kantung plastik yang berisi roti dan minuman kopi yang masih panas di dalam termos kecil.
Pemuda itu segera membayarnya dan bersiap meninggalkan toko roti itu tetapi langkah kakinya terhenti oleh sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh pemilik toko.
“Hans.. apa kau masih bertengkar dengan Yui?”
Tidak ada yang spesial dari pertanyaan itu. Pemuda ini dan anak pemilik toko merupakan teman masa kecil. Namun karena suatu hal membuat pemuda ini dan anak pemilik toko sedikit berselisih.
“Kami tidak bertengkar” balas singkat pemuda itu.
“Oh, benarkan? Lalu apa itu?” pertanyaan itu merujuk pada seragam yang dikenakan pemuda itu.
“Apa ada yang salah?” pemuda itu memiringkan kepalanya.
“Kau tahu.. akhir-akhir ini Yui sedikit lebih diam dari biasanya. Pekerjaan rumahnya sedikit berantakan, banyak kesalahan yang dilakukan saat membuat adonan roti, nafsu makannya berkurang, bahkan dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya. Sebagai orang tua, aku khawatir dengan kondisinya itu.”
“Bawa saja ke psikiater” jawaban pemuda itu begitu padat dan jelas.
“Tunggu Hans! Apa kau yakin tidak melakukan kesalahan apa pun? Ini bukan pertama kalinya kalian bertengkar.”
“Terdengar merepotkan bagiku jika terus bertengkar dengan orang yang sama.”
“Kalian memang selalu bertengkar seperti itu, bahkan itu sudah menjadi rutinitas kalian sehari-hari.”
“Kami tidak seperti itu!”
“Bisa kau jelaskan mengapa dia seperti itu sekarang? setidaknya kau mengetahui satu atau dua hal. Bukankah kalian selalu berada di kelas yang sama.”
“Mengapa pagi ini harus diisi dengan kejadian seperti ini sih?”
“Setidaknya bantu aku mencari penyebab mengapa Yui menjadi seperti itu!” nada pemilik toko itu sedikit naik.
“Kau benar-benar ingin mengetahuinya?" tanya pemuda itu.
Pemilik toko itu mengangguk.
Napas panjang pemuda itu terdengar. Dia sempat diam sejenak sembari memegang kedua matanya yang begitu kelelahan.
“Jika kau begitu penasaran mengapa putrimu menjadi seperti itu, saat putri mu tidur, cari ponselnya lalu gunakan sidik jari putri mu untuk membuka kode keamanan dan baca isi pesan chat media sosialnya. Ku harap itu bisa membantumu mencari jawabannya” pemuda itu lalu pergi meninggalkan toko roti itu.
Alasan yang itu lontarkan merupakan jawaban tercepat dari masalah yang dialami pemilik toko roti itu. Pemuda itu sudah lama tidak berbicara bahkan berkomunikasi dengan anak pemilik toko roti. Semua akun media sosial mereka saling memblokir satu sama lain. Pertengkaran yang dihadapi keduanya merupakan masalah sepele seperti remaja yang sedang memasuki masa pubertas.
Kisah panjang pertemanan mereka dihancurkan oleh perasaan cinta yang membagi jalan antara teman atau pasangan. Konflik yang begitu biasa terutama untuk remaja yang dimabuk oleh kelebihan hormon tubuh mereka.
Pemuda itu tidak terlalu memikirkan perasaan. Yang dia tahu, dia sudah mencoba untuk mencegah hal buruk terjadi pada teman masa kecilnya itu. Tetapi karena teman masa kecilnya sendiri yang memilih jalur yang diyakininya. Dia sudah merasa cukup untuk memperingatinya dan lebih memilih meninggalkannya.
Ketika akal sehat dihancurkan oleh perasaan cinta. Apa yang bisa diperbuat? Pemikiran kecilnya ini terus berputar memperkirakan nasib teman masa kecilnya itu. Semua risiko yang diterimanya sudah di luar tanggung jawab pemuda itu.
Yang terpenting adalah hubungan mereka sudah bukan siapa-siapa lagi. Ini dibuktikan dengan pemuda itu yang memilih sekolah berbeda. Menempuh jarak sekolah hingga lima kilometer akan menjadi cerita manis untuk nostalgia.
Pemuda itu kini duduk di halte bus, menunggu bus pagi dengan rute tercepat menuju sekolahnya. Jarak sekolah yang jauh membuatnya harus pergi pagi agar tepat waktu. Walaupun rute bus ini memiliki jalur sendiri yang dipisahkan oleh jalan utama tetapi menikmati jalanan sepi pagi hari cukup menjadi kesenangan tersendiri, terlebih udara segar pagi hari yang sejuk masih bisa dirasakan.
Pemuda itu mencoba memejamkan matanya. Dia berharap untuk bisa menikmati istirahat singkat ini setelah sepanjang malam mengurus rumahnya yang berantakan. Bisa dibilang itu juga salahnya tersendiri, mengetahui adiknya yang menjalani perawatan rumah sakit dia melewatkan berbagai macam tugas rumah. Sehingga setelah adik kecilnya pulang, dia menunggu kakak tercintanya pulang sembari menggenggam pisau ditangannya. Itu sudah cukup menakutkan untuk mengancam kakaknya sendiri supaya membereskan pekerjaan rumah yang berantakan.
Mengingat kejadian itu kembali membuat tubuhnya menggigil. Perasaan takut yang baru saja diterimanya tidak lain sebagai respons tubuhnya merasakan bahaya. Demi meluruskan kesalahannya itu, dia semalaman membersihkan rumahnya itu. Merapihkan perabotan rumah yang berantakan, menyapu sela-sela perabotan rumah, berburu debu diruang sempit, menggosok lantai dan dinding kamar mandi, mencuci pakaian yang menggunung, serta semua pekerjaan rumah yang dilewatkannya selesai dalam satu malam.
Tentu saja, pengorbanan yang dilakukannya sangat terasa saat ini.
Perasaan menahan rasa kantuk dan juga kelelahan karena kurang tidur.
“A-apa ini rasanya saat bekerja nanti?”
Pemuda itu membayangkan kemungkinan terburuk hidup dalam bermasyarakat. Seketika itu, tubuhnya bergetar hebat.
“Oh, tidak! Apa ini! Begitu mengerikan!”
Selain menahan rasa kantuk, pemuda itu juga harus menahan mimpi buruk yang perlahan melahapnya.
Bus yang dia tunggu telah datang, nampaknya dia menjadi orang pertama pagi ini. Hanya ada seorang sopir dan juga kondektur bus yang menunggunya. Tubuhnya terasa berat untuk melangkah. Pemuda itu benar-benar kelelahan.
Saat memasuki bus itu, dia membuka termos kopi panas yang baru saja dibelinya di toko roti untuk membuatnya tetap terjaga. Untungnya, stok minuman kopi toko itu masih tersedia.
Dia menikmati kopi panasnya dengan penuh kelembutan. Perlahan denyut jantungnya menjadi sedikit cepat dan rasa kantuk yang di alaminya perlahan menghilang. Mungkin ini akan menjadi kebiasaan buruk pada masa depan tetapi dia menerima risiko itu.
Mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dalam satu malam merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Dia menyimpan semua itu dalam pikirannya agar tidak terulang kembali.
Sekarang, pemuda itu mencoba tertidur setelah meminum kopi. Dia berharap untuk sedikit mengisi energinya untuk menghadapi satu hari sibuk di sekolahnya.
Tidak ada acara khusus, setelah upacara penerimaan yang telah dilakukan. Hanya ada pelajaran normal yang menunggu. Pemuda itu berharap dengan energinya yang sedikit ini cukup untuk bertahan satu hari ini.
“Cukup kali ini saja aku kelelahan seperti ini” sembari mengatakan itu. Dia mencoba mengistirahatkan badannya dengan memejamkan matanya.
Suara angin dan alunan nada perjalanan pagi hari membuat pemuda itu sedikit mengantuk. Tidak peduli seberapa berguncang bus yang dia tumpangi, rasa lelahnya lebih dominan dan membuat guncangan itu menjadi melodi indah untuk tertidur. Karena rute bus yang dilalui ini sedikit cepat, pemuda itu cukup percaya diri untuk tidak tertidur terutama setelah kondektur bus mengetahui tempat tujuannya melalui seragam yang dia kenakan.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya, dia terbangun seketika dan terkejut melihat bus yang ditumpanginya telah ramai. Untung saja kondektur bus itu perhatian dan membangunkan pemuda itu. Tujuan akhir dari perjalanannya sudah ada di depan mata. Tepat setelah dia turun dari bus itu, gerbang sekolah tujuannya tampak di depan mata.
“Yang benar saja, aku hanya memejamkan mata beberapa menit tetapi sudah tiba di sekolah?"
Pemuda itu merasa tidak cukup puas dengan istirahat singkatnya, sebuah ide kecil muncul dibenaknya.
“Tetapi.. kurasa itu ide yang buruk.”
Pemuda itu langsung mengurungkan niatnya untuk melaksanakan ide kecil di kepalanya itu. Terlebih sekolah ini masih cukup asing baginya.
Dari kejauhan dia melihat orang-orang yang membawa kamera di depan gerbang pintu masuk sekolahnya.
Sebuah pertanyaan kecil muncul di benaknya. Dia lalu melihat ada beberapa mobil dengan logo stasiun televisi yang terpasang di badan mobil.
“Ini hanya perasaan ku saja atau.. sekolah ini sedang diliput? Memangnya ada berita apa di sini?”
Pemuda itu bisa merasakan sesuatu yang tidak normal akan terjadi di tempat ini.
Tanpa mempedulikan kerumunan itu, dia berjalan memasuki pintu masuk sekolah yang dijaga ketat oleh satuan pengamanan. Meski matanya lelah mengantuk, dia berjalan memaksakan kakinya untuk tiba di ruang kelasnya. Secara kebetulan, kelas yang dia dapat berapa di lantai 4. Belum juga dia menaiki tangga, rasa lelah yang dipicu otaknya setelah membayangkan menaiki anak tangga telah dirasakan.
Jika dibandingkan menggunakan eskalator, 4 lantai itu bukanlah masalah. Hanya saja tempat itu begitu ramai.
"Mengapa sekolah ini ramai sekali sih? bukankah ini masih terlalu pagi?"
Sebagai seorang introvert, tentu saja dia akan merasa risi di keramaian seperti itu. Untung saja di sampingnya terdapat tangga darurat yang terhubung ke semua lantai.
Mungkin hanya pemuda ini saja yang menggunakan anak tangga darurat sebagai anak tangga utama.
Pemuda itu membuka ponselnya untuk mengisi waktu saat menaiki tangga darurat.
Sebuah pembahasan menarik sedang terjadi pada sebuah forum game. Entah mengapa forum game itu masuk ke dalam salah satu rekomendasi beritanya.
“Mengapa ada rekomendasi seperti ini di dalam lini masa berita ku?”
Pemuda itu mencoba mengingat kembali jejak penjelajahannya di internet. Dia teringat telah memasuki situs utama Isekai Online.
“Oh, karena itu lini masa berita ku berubah!”
“Eh, apalagi ini?”
Di bawahnya terdapat sebuah artikel yang berisi foto dari grup idol yang sedang terkenal mengenakan seragam sekolahnya.
Pemuda itu kini menyadari jawaban dari banyaknya kamera yang berkumpul di gerbang sekolahnya. Tetapi karena dia sama sekali tidak tertarik dengan dunia idol, dia memblokir rekomendasi tentang idol pada lini masa beritanya.
Matanya kini fokus pada sebuah topik pembicaraan yang muncul di forum Isekai Online.
“Quest scam Isekai Online?”
“Apa Quest itu sangat sulit hingga disebut scam?”
Rasa penasarannya membuat jemari tangannya membuka topik pembicaraan di forum itu.
\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-
Posted by [ArcherDude (Swordman)] 17 hours ago
[ASK] Apakah kalian memiliki masalah yang sama dengan Quest mencari bocah yang hilang? Aku sudah mengelilingi lokasi Quest yang ditunjukan tetapi hanya menemukan mayat bocah itu. Bayarannya mahal tetapi kalau menjadi mayat dibayar murah! Aku sangat kesal dengan ini! Apakah ini Scam Quest yang dibuat oleh GM?
[221 Komentar] [Berbagi] [Simpan] [Sembunyikan] [Laporkan]
Komentar:
[GG_GM (Novice Mage)]: Maksudmu Quest di sekitar pinggiran Ibukota Kerajaan Nestrad? Aku dengar itu Quest Khusus yang berbatas waktu. Jika kau gagal menemukannya maka bocah itu menjadi mayat. Kau harus bisa menemukannya sebelum dia jadi mayat, tetapi untuk perkara pemotongan hadiah, aku hanya bisa menekan F untuk respect, LOL.
[AllBaseLuck (Novice Summoner)]: Aku pernah dapat Quest itu! Gila!! Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa dengan misi itu. Bayarannya memang menggiurkan sih tetapi kalau gagal malah dapat penalti! Tidak salah lagi itu adalah GM Scam!
[JayLoggggone (Swordmaster)]: NOOOOB! Quest gampang seperti itu saja tidak bisa?
[PredatorPenjagaLoli (Enchanter)]: @[JayLoggggone (Swordmaster)] memangnya kau pernah menyelesaikan Quest itu?
[JayLoggggone (Swordmaster)]: @[PredatorPenjagaLoli (Enchanter)] ya enggak dong! Aku kan orang sibuk.
[GG_GM (Novice Mage)]: @[JayLoggggone (Swordmaster)] BACOT!
[AllBaseLuck (Novice Summoner)]: @[JayLoggggone (Swordmaster)] BACOT!
[PredatorPenjagaLoli (Enchanter)]: @[JayLoggggone (Swordmaster)] BACOT!
[PakzToyo (Dark Mage)]: Santai saudara-saudara, lebih baik kita report saja. Tidak usah bersusah payah meladeni bocil satu ini.
[GG_GM (Novice Mage)]: 👍
[AllBaseLuck (Novice Summoner)]: 👍
[PredatorPenjagaLoli (Enchanter)]: 👍
[TelapakTongSengSung (Spearman)]: @[ArcherDude (Swordman)] Apa kau benar-benar yakin itu mayat? Aku pernah menerima Quest itu. Kebetulan kami menemukan bocah yang tergeletak di jalan. Tetapi setelah di dekati, bocah itu dalam keadaan kritis dengan 1 HP tersisa. Berhubung di party ku ada healer jadi kita menyembuhkan bocah itu dan secara kebetulan bocah itu ada di malam Quest pencarian orang hilang. Langsung saja kita terima Quest itu dan hadiahnya mantep cuy!
[PenahanBerak_76 (Priest)]: @[TelapakTongSengSung (Spearman)] Hoki kali kau bang!
[TelapakTongSengSung (Spearman)]: Hehe..
[AllBaseLuck (Novice Summoner)]: Bahkan Luck rata kanan ku tak berkutik mendengarnya.
(OP)[ArcherDude (Swordman)]: Aku senang mendengarnya, ternyata bukan hanya aku saja yang kesulitan dalam Quest ini. @[TelapakTongSengSung (Spearman)] aku sangat yakin saat itu menemukan mayat bocah yang tergeletak di jalanan.
[TelapakTongSengSung (Spearman)]: @[ArcherDude (Swordman)] coba kau cek sekali lagi HPnya, siapa tahu masih ada sisa-sisa HP yang bisa disembuhkan.
(OP)[ArcherDude (Swordman)]: Nihil Bro.. gak ada status HP bar diatasnya. Waktu itu hanya ada opsi pilihan untuk melaporkannya ke NPC prajurit penjaga gerbang.
[TelapakTongSengSung (Spearman)]: Kalau itu berarti masih belum rezeki mu bro.. itu memang Quest paling susah sih menurut ku. Mencari NPC di game kek begini berasa beneran nyari orang yang di dunia asli. Kita cuma di kasih wilayah pencarian yang gede sangat. Gak kebayang kalau di suruh nyari satu kerajaan. Mending langsung menyerah saja dah.. Abandon Quest jalan ninja ku xixixi.
(OP)[ArcherDude (Swordman)]: Xixixi.. bapac bisa saja deh. Buay de way.. dapet hadiah berapa dari Quest itu?
[TelapakTongSengSung (Spearman)]: Kecil pak, cuma berapa Koin Perak lah pas itu.
(OP)[ArcherDude (Swordman)]: WTF! Gede sangat itu!
[GG_GM (Novice Mage)]: Quest gak jelas kek begini cuma ngarep keberuntungan lah.
[JayLoggggone (Swordmaster)]: Begitu saja di bikin repot.
[GG_GM (Novice Mage)]: DIEM LU!
[AllBaseLuck (Novice Summoner)]: Ini bocah masih ada toh.. tidur dah malem! Besok sekolah!
[Tampilkan 197 komentar lain...]
\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-\=-
Membaca pembahasan yang unik itu dan kebebasan berbahasa di internet membuat pemuda itu tersenyum. Melihat komunitas pemain Isekai Online yang toxic itu ternyata memiliki sisi keunikan tersendiri.
“Bagaimana untuk mengatakan ini, ternyata komunitas Isekai Online begitu family-friendly untuk sesama Player.”
Tentu saja itu hanyalah kiasan dari komentar yang telah dia baca. Bahkan dalam bermain game, tata krama masih diperlukan untuk menghargai sesama Player.
Sifat arogan memiliki dampak tersendiri dan biasanya itu akan mendapat sangsi sosial secara langsung. Pemuda itu harus mengingat tentang ini.
Tanpa terasa langkah kakinya telah membawanya ke lantai empat. Dia membuka aplikasi sekolah di ponselnya untuk memastikan kembali ruang kelasnya. Ada aplikasi sekolah yang telah dibagikan sebelum aktivitas pembelajaran dimulai. Itu memuat sistem absensi, pengumuman, chat, sosial media antar murid dan guru, dan sistem dukungan akademis lainnya.
“Kelas 1-A? di lantai 4 seperti ini? Cukup jauh juga ternyata dari pintu masuk. Sepertinya ini cocok untuk olahraga ringan.”
Pemuda itu memasuki ruangan 1-A yang terletak tidak jauh dari tangga darurat dan eskalator.
Begitu dia membuka pintu masuknya, dia sangat terkejut dengan ruangan yang ada di dalamnya. Bentuk ruang kelas ini tidak seperti ruang kelas normal. Secara normal, ruang kelas hanya memiliki beberapa peralatan sederhana seperti meja, kursi, papan tulis, pendingin ruangan, alat tulis kelas, dan proyektor. Itu jika ruang kelas itu normal dalam artian yang benar-benar normal.
Tetapi ruang kelas yang dilihat pemuda ini memiliki meja santai yang diisi dengan sofa kecil, laptop yang tersedia di masing-masing meja, terdapat kamar mandi dalam ruangan, bahkan ada dapur kecil di bagian belakang kelas. Ruang kelas itu sangat mewah dengan ornamen yang sulit dikatakan.
“Sebentar.. aku gak salah ruangan kan? Apa jangan-jangan aku salah lantai?” pemuda itu kembali mengecek ruang kelas yang ada di depannya dan membandingkan dengan nama kelas di atasnya. Dia melihat papan nama di atas pintu bertuliskan 1-A.
Itu memang ruangan yang benar, tetapi isinya berkata lain.
Kali ini rasa kantuknya telah diisi oleh sebuah pertanyaan besar dan itu membuat otaknya berkerja di pagi ini.
Mengapa ada ruangan seperti ini sebagai ruang belajar?
Untuk sementara, pemuda itu enggan memasuki ruang kelas yang ada dihadapannya ini. Sembari menunggu kepastian apakah ruangan ini benar-benar kelas 1-A.
Beberapa menit berlalu, pemuda itu berdiri di koridor terdalam dan menunggu waktu berjalan cepat hanya untuk memastikan situasi aneh yang sedang dialaminya ini.
Rasa penasarannya terbayarkan saat dari kejauhan ada murid yang berjalan menuju kelas 1-A.
Reaksinya sama persis seperti yang dialami pemuda itu. Terkejut, bimbang, bahkan ragu jika itu adalah ruang kelas.
“Sepertinya bukan hanya aku saja yang terkejut dengan ini.”
Pemuda itu menghampiri murid itu dan memasuki ruang kelas 1-A.
Jika dia tidak bertindak, maka tidak ada yang berani memasuki ruang kelas 1-A ini. Menyadari bahwa bukan dirinya saja yang terkejut menandakan bahwa ini adalah ruangan yang tepat.
Atas keyakinan itu, pemuda itu duduk di salah satu sofa yang telah disediakan dan menunggu untuk memulai pelajaran pertama.
Walaupun badannya meronta akan rasa berbahaya yang dipancarkan oleh ruang kelas ini. Tetapi dia harus bertahan untuk mendapat jawaban dari keanehan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Dr. Rin
Kurang perhatian MC kayanya, cewek biasanya gtu. sama, kah di sini kasusnya? 🤔
2023-05-16
0