Di luar dugaan, jam pertama di isi dengan diskusi kontrak belajar dan perkenalan antar individu. Terdapat lima orang laki-laki dan lima belas gadis yang menghuni kelas ini. Di antara semua siswa itu, Hans menahan ekspresi wajahnya dan membuat raut mukanya untuk terbiasa dengan semua kejadian abnormal di kelas ini.
Seperti bertemu dengan hantu yang menakutkan, bulu kuduknya berdiri menandakan respons kewaspadaan dirinya untuk tetap aktif setiap saat.
Hans menanam pemikiran bawah sadarnya agar tidak membawa masalah pada salah satu penghuni kelas ini atau sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.
“Ini sangat menakutkan” Hans bergumam kecil dan memastikan suaranya itu tidak terdengar pada laki-laki yang duduk disebelahnya.
Kelas yang dihuninya itu bagaikan bom waktu yang siap meledak.
Mereka berkumpul di dalam kelas ini dengan latar belakang yang tidak normal.
Hanya Hans dengan latar belakang normal di kelas ini. Siapa sangka beasiswa yang diterimanya malah membawanya ke tempat menakutkan seperti ini.
Beasiswa yang diterimanya membuat dia harus bertahan di kelas ini hingga masa beasiswanya selesai dan itu memakan waktu hingga satu tahun lamanya.
Setidaknya kerja kerasnya mempelajari contoh soal Higher Order Thingking Skills yang tersebar gratis di internet membuat kemampuan analisisnya meningkat pesat. Karena kejadian itu, penalaran deduksi dan penalaran induksinya meningkat tajam.
Hans tidak menyadari kemampuannya itu, hanya saja jika dia merasa ada hal yang aneh dan berlawanan dengan logika di kepalanya. Hans akan langsung merasa gelisah.
Tetapi, rasa senang menghemat biaya pendidikan dengan mendapatkan beasiswa memiliki rasa kepuasan tersendiri. Ada kebanggaan di dalam diri Hans untuk menikmati fasilitas gratis yang telah disediakan. Meskipun itu dibayar dengan predator yang siap menerkam setiap saat. Sekolah ini bagus, begitu juga dengan penghuninya.
Hans harus terbiasa merasakan aura mengerikan yang tersebar di kelas ini.
Saat perkenalan antar individu di mulai. Beberapa nama dan ekspresi terkejut saling bersahutan. Terutama dengan senyuman kebanggan mereka tersendiri.
Format perkenalan yang diajukan mengenai nama, alamat, hobi, dan kata-kata opsional yang bebas untuk menambah kekuatan nama mereka. Tetapi, bagi Hans itu adalah celah terbesar untuk mendapatkan informasi pribadi yang bisa saja disalahgunakan terutama jika latar belakang mereka bukanlah orang biasa.
Perkenalan Hans cukup singkat sesuai dengan namanya, menggunakan alamat palsu yang berjarak tiga jalan dari rumahnya, dan hobi kecilnya yang sangat jarang diminati orang-orang.
Dan kata-kata opsional yang ditambahkan untuk menambah kekuatan namanya adalah..
“Aku membuka jasa konsultasi masalah dengan penyelesaian berupa Good Ending maupun Bad Ending berdasarkan nominal yang diberikan” tentu saja kata-kata itu bukan hanya omong kosong belaka karena Hans mendapatkan beasiswa dengan nilai sempurna. Kecerdasan miliknya bukanlah isapan jempol belaka, meski dia menolak jika disebut genius.
Hans berharap tidak ada masalah kedepannya, karena dia juga ketakutan dengan kalimat yang dilontarkannya itu.
Rasa penyesalan seperti, “Mengapa aku mengatakan kalimat seperti itu!” mulai bermunculan di kepalanya.
Jika nasi telah menjadi kerak, apa boleh buat. Hans bersiap menerima konsekuensi dari pernyataan kalimatnya itu walaupun kebanyakan teman sekelasnya hanya meliriknya dengan penuh rasa penasaran, beberapa diantaranya berpikir itu hanyalah candaan ringan.
Rasa malu tentu saja menggerogoti tubuh Hans.
Cringe? Tentu saja ada!
Hans ingin cepat-cepat pulang dan mengakhiri penderitaan rasa malunya itu. Ini baru hari pertama Hans ada di sini tetapi dia telah mendapatkan serangan mental karena kesalahannya sendiri.
Beruntungnya, teman sekelasnya memilih untuk rendah diri dan ingin menjalin tali pertemanan tanpa memandang latar belakang keluarga mereka.
Yup, pertemanan yang didasari dengan tingkat kasta pasti menimbulkan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Untung saja mereka menyadarinya.
Hans bisa merasa tenang untuk saat ini jika saja pertanyaan kecil isengnya tidak muncul di kepalanya.
Apa mereka takut sifat asli mereka keluar dan diketahui oleh publik?
Apa mereka sedang melatih sandiwara kamera untuk menipu publik?
Sampai kapan mereka bertahan dengan ego mereka?
Jika saja Elliot Felder tidak memberi tahu mereka bahwa ada kamera yang sedang merekam, akan seperti apa sikap mereka satu sama lain?
Pikiran iseng otaknya itu sudah cukup menambah beban pikiran di otaknya.
Terkadang sifat manusia bagaikan topeng opera dan longsword bermata dua.
Hans sudah terbiasa berprasangka buruk tetapi untuk kali ini dia ketakutan jika prasangka buruknya menjadi kenyataan.
Tidak ada yang tahu mengenai hal itu.
Untuk menghilangkan pemikiran buruknya itu, Hans mencoba mengalihkan fungsi otaknya untuk membahas sebuah Quest unik yang di bahas di dalam forum Isekai Online.
Sebuah Quest pencarian bocah yang terjadi di dunia dengan skill dan sihir di dalamnya. Tentu saja, dengan musuh yang beragam seperti monster di dalamnya.
Bagaimana bisa ada Quest seperti itu?
Bagaimana cara menyelesaikan Quest seperti itu?
Otak Hans mulai bekerja memikirkan itu, memberikan ruang sempit untuk tidak melanjutkan prasangka buruknya pada teman sekelasnya.
Setidaknya itu berhasil untuk saat ini.
Otak Hans bekerja hingga bel istirahat pertama berbunyi.
Menyadari adanya suara keras yang terdengar, tubuh Hans sedikit terkejut dan bangkit dari pemikiran panjangnya. Hans bahkan tidak menyadari bahwa papan tulis di hadapannya telah terisi penuh dengan tulisan. Teman-teman sekelasnya bahkan mencatat tulisan di papan tulis itu.
Namun, ketika Hans melihat satu baris kalimat papan tulis itu. Dia sudah mengetahui subjek mata pelajaran apa yang baru saja dijelaskan oleh guru di depannya.
Hans mengambil roti yang masih terbungkus di tasnya dan berjalan mendekati Will Isaac.
Berjarak hanya dengan satu sofa, dia tiba dalam jangkauan Will Isaac. Hans bersiap memberi beberapa roti yang masih terbungkus di dalam kantung plastik.
“Will Isaac” sembari mengatakan itu. Hans mengulur tangannya untuk memberikan kantung plastik berisikan roti.
“Apa kau ada waktu luang untuk satu atau dua pertanyaan?” Hans meraba sakunya dan mengambil ponselnya.
Pada layar kunci ponselnya terdapat pesan singkat dari adiknya. Pesan singkat itu berisi ucapan terima kasih dan pujian atas sarapan pagi yang telah disiapkan untuknya.
Will Isaac sedikit kebingungan dengan tingkah laku Hans yang tiba-tiba mencoba akrab dengannya.
Walaupun mereka sudah bertemu dan berkomunikasi sebelumnya, tetapi ikatan mereka masih terasa asing dan canggung.
Will menerima roti pemberian Hans dan mengambil botol air minum dari tasnya.
“Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?” ucap Will sembari membuka pembungkus roti pemberian Hans.
“Aku hanya penasaran pada satu hal, apa kau pernah mengambil Quest mencari seorang anak kecil?” tanya Hans.
“Huh? Maksudnya?” pertanyaan Hans sedikit membuat Will mengkerut kan keningnya.
“Well, bukankah kau salah satu Player Isekai Online? Aku sedang membicarakan Quest yang ada di dalam game itu.”
“Ah! Jadi itu maksud mu” Will mulai mengerti ke mana alur percakapan ini berjalan.
“Kau ingin mencoba menyelesaikan salah satu Quest yang membuat sakit kepala?” tanya Will sembari memakan roti pemberian Hans.
“Itu rencananya, ada saran atau masukan untuk menyelesaikan Quest seperti itu?” Hans mulai duduk di sebelah Will.
“Asal kau tahu, Hans. Quest yang seperti itu hanyalah membuang-buang waktu. Kau perlu bergantung pada keberuntungan dan takdir ketika mencari seseorang.”
“Bahkan untuk Player Profesional itu tergolong Quest yang sulit?” Hans melirik Will dengan tatapan yang meragukan kemampuannya.
“Tunggu! Sejak kapan kau tahu aku Player Profesional?” Will sedikit panik saat Hans mengatakan identitas rahasianya. Di perkenalan individu, Will Isaac hanya menjelaskan pekerjaan kecil sampingan bersama teman-temannya. Dalam hal ini adalah tim e-sport miliknya.
Hans terdiam.
“Keberuntungan dan takdir?” Hans menjawabnya dengan sebuah pernyataan bodoh.
“Apa kau baru saja membalikkan kata-kata ku barusan?”
“Hanya perasaan mu.”
Mereka berdua minum di saat yang bersamaan.
“Aku mungkin Player Profesional di dalam game itu, tetapi perkara Quest dan semacamnya. Aku sangat jarang menyentuhnya. Aku hanya fokus pada pertarungan antar player untuk kompetisi dengan tim ku.”
“Hmm.. pertarungan antar Player yah. Apa semenarik itu?”
“Untuk hiburan dan media promosi produk digital, kurasa itu sangat menarik perhatian.”
“Yah, itu tidak membantu ku sama sekali dengan masalah ini” Hans mengambil ponselnya dan membuka Forum Isekai Online.
Sebuah pembahasan kecil yang baru saja dia baca saat perjalanan menuju sekolah kini menjadi pembahasan besar dengan komentar yang makin bertambah.
Will yang penasaran mulai mengintip layar ponsel Hans.
“Postingan pembahasan yang menarik. Itu tidak salah jika menyebutkan sebagai Scam Quest. Aku pernah mendengar rumor saat berada di dalam Dungeon Nation dari salah satu Guild besar yang tengah membicarakan Quest semacam itu. Rumornya mereka mengalami kerugian yang besar saat mencari Putri Kerajaan yang pergi menghilang.”
“Rumor dari Guild besar?”
“Salah satu anggota mereka terlalu nekat mengambil Quest itu dan berakhir membayar denda kegagalan Quest. Bisa dibilang itu adalah Quest dengan tingkat kesulitan paling Extreme dan Scam tentu saja. Aku tidak bisa membayangkan mengapa mereka termakan rayuan maut dari Quest itu.”
“Ini menarik.. aku jadi ingin mencoba memecahkan Quest itu.”
“Hah? Hans.. ini hanya perasaan ku saja atau kau sangat penasaran dengan Quest ini?”
“Aku penasaran karena Quest ini sangat menarik bagiku.”
“Jangan coba-coba! Sudah banyak korban berjatuhan dari Scam Quest itu!”
“Bisa jadi mereka terlalu bodoh untuk menyelesaikan Quest itu.”
“...”
Will mendadak menatap Hans dengan tatapan dingin. Seolah tidak percaya bahwa kata-kata kejam itu keluar dari mulutnya.
“Setidaknya jika gagal kita hanya kehilangan waktu dan tenaga di dalam game kan?”
“Lebih baik kau menggunakan waktu mu untuk farming material karaktermu.”
“Aku akan mati kebosanan jika bermain seperti itu. Lagi pula itu bukan cara bermain ku.”
“Berbicara tentang karakter, mengapa kau sangat akrab dengan Elliot Felder yang tiba-tiba menjadi penggemar mu?”
“Oh, dia?” jawab Hans singkat.
“Aku mengenalnya karena dia secara tidak sengaja menabrak adikku dan secara kebetulan aku berteman dengan kakaknya” Hans menjawabnya dengan nada yang datar.
“O-Oh, maaf menanyakannya. Apa adikmu baik-baik saja?”
“Ya, untungnya dia masih bisa selamat dan kini sedang beristirahat untuk kesembuhannya.”
“Aku senang mendengarnya.”
“...”
“Balik ke masalah utama kita, misalkan kita gagal menjalankan Quest yang dimaksud. Apakah ada konsekuensi yang diterima oleh karakter kita?” Hans dengan cepat meluruskan arah pembicaraan mereka.
“Kau benar-benar penasaran dengan Quest ini ya?” tanya Will.
“Ya begitulah, lagi pula ini hanya untuk menyembuhkan rasa penasaran ku saja.”
“Berdasarkan pengalaman ku, Quest yang gagal memang memiliki konsekuensi penalti yang berbeda-beda. Ada beberapa yang membayar biaya kerugian, menggantinya dengan sebuah item, tingkat reputasi yang menurun di beberapa wilayah tertentu, dan sikap NPC yang berubah menjadi dingin. Oh! Yang terakhir itu sangat merepotkan. Aku pernah mengalaminya!”
Hans menaruh tangannya di dagunya. Otaknya mulai terpikirkan sesuatu untuk mengakali kemungkinan mendapatkan konsekuensi penalti dari gagalnya Quest.
Sebuah titik terang dari hipotesis sementaranya mulai di dapat.
“Will, andai kata kita menerima Quest itu tetapi tidak menerimanya. Bukankah itu bisa menghindari penalti gagalnya Quest?”
“Huh? Apa maksudmu Hans?”
“Begini, jika kita menggunakan sebuah akun tumbal untuk mengambil Quest dan mendapat informasi sejauh mana titik pencarian lalu menggunakan akun utama untuk mencarinya. Bukankah itu sudah cukup untuk menghindari penalti gagalnya Quest?”
“!”
Will terkejut mendengarnya.
“Kurasa itu bisa dicoba!”
“Ide yang bagus!!!”
“...”
Sebuah suara dari pihak ke-3 mulai muncul di samping mereka.
Will dan Hans secara refleks melihat ke sumber suara yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Seorang gadis berambut pirang dan bermata biru muda tengah menatap mereka. Gaya rambutnya kepang silang di ikat menyamping dengan pita hitam dibelakangnya.
“Yuuki Saku..” Hans bergumam kecil.
Hans mengamati ponselnya dan mencari catatan kecil yang ditinggalkan oleh Elliot.
Yuuki Saku, juara dunia pertandingan e-sport Isekai Online kategori wanita.
Mengapa ada dua Dewa seperti ini di tempat yang bersamaan?
Ini bukanlah sebuah kebetulan lagi, Hans mulai tidak memercayai semua kebetulan yang telah terjadi akhir-akhir ini.
Ini seperti ada seseorang yang sengaja melakukan kebetulan seperti ini dan mencampurnya di satu tempat.
Kesempatan mendapatkan informasi gratis seperti ini segera dimanfaatkan oleh Hans.
“Em.. Etto?” Will sedikit malu-malu melihat gadis di depannya.
“Ah! Maaf memotong pembicaraan kalian tetapi makin ku dengar makin menarik pembahasan kalian. Aku tidak bisa menahan diri lagi untuk bergabung ke pembicaraan kalian.”
Hans memandangi Will yang sedikit gelisah. Gerakan tubuhnya sedikit gemetar saat berhadapan dengan seorang gadis bernama Yuuki Saku.
Hans sedikit tersenyum melihat ekspresi Will.
“Haaah~ masa muda” ucap Hans dengan suara kecilnya.
Hans memperhatikan keduanya dan diam membisu.
Alur pembicaraan mereka sepertinya masih berada di jalur yang sama. Hans hanya mendengar informasi yang mengalir ini secara gratis.
“Sebenarnya Quest yang semacam itu sangat mudah untuk diselesaikan loh!” ucap Yuuki Saku.
“Eh? Bukankah itu Quest yang sangat merepotkan untuk diselesaikan?” tanya Will sembari menahan getaran tubuhnya.
“Fufu~ tidak juga. Kau hanya perlu memilihnya disaat yang tepat!” Yuuki Saku dengan senyuman manisnya membuat Will tersipu.
“Hooh.. ini pasti kritikal hit!” Hans sedikit sibuk mengamati suasana dan memperhatikan suaranya agar tidak didengar oleh mereka berdua.
“Hehe~ itu jika kalian mengambil Quest yang asal-asalan. Jika kalian mengambil Quest dengan musuh yang sudah jelas maka Quest itu sangat mudah diselesaikan. Aku sudah menyelesaikan Quest itu berulang-ulang” Yuuki Saku dengan bangganya membusungkan dadanya.
Will Isaac makin salah tingkah saat melihat Yuuki Saku melakukan gerakan yang cukup berbahaya untuk menarik minat mata lelaki.
“Haaah~ terlalu polos” Hans lanjut mengomentari Will yang makin salah tingkah.
Will yang makin dibuat mabuk dengan pemandangan dihadapannya mulai melirik Hans.
Hans meresponnya dengan kalimat, “Oh.. akhirnya aku masuk ke dunia kalian.”
Yuuki Saku dan Will Isaac tertawa kecil mendengar penyataan Hans.
“Etto Saku, boleh ku tahu bagaimana trik dan masukan untuk menyelesaikan Quest pencarian seperti itu?” Hans kembali masuk ke dalam pembicaraan.
“Oh, itu mudah saja! Jika lawan kalian sudah jelas maka tinggal cari saja ditempat mereka! Hehe~” balas Yuuki Saku sembari tersenyum.
“Ah.. Saku.. itu.. bagaimana cara ku menjelaskannya-” Hans mencoba mencari kata-kata yang sesuai.
“Quest pencarian, penculikan, dan penyanderaan itu hal yang sangat berbeda walaupun terlihat sama” Hans melanjutkan kata-katanya yang tertunda.
“Eh? Begitu Kah?” Saku menggunakan ekspresi imutnya untuk menyerang hati Hans.
Bukannya Hans yang terkena serangan itu tetapi Will yang ada disebelahnya terjatuh setelah mendapat serangan kejutan penuh keimutan itu.
Dengan informasi yang di dapat ini. Hans mendapat sebuah titik cerah bagaimana Quest ini berjalan.
Quest pencarian dapat berkembang seiring berjalannya waktu. Jika NPC memiliki musuh yang jelas dan diketahui dengan siapa dia berkonflik, maka kemungkinan adanya penculikan dan penyanderaan bisa saja terjadi.
Semua kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.
Perkembangan alur Quest dari pencarian yang berlanjut ke penculikan hingga fase penyanderaan. Semua itu bisa saja terjadi.
“Game Isekai Online ternyata kompleks juga.”
Saat Hans bergumam dan pikirannya berlarian kecil di otaknya. Suara bel tanda waktu berakhirnya istirahat pertama telah berbunyi.
Itu menandakan bahwa sudah saatnya dia kembali ke tempat duduknya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Kurasa.. aku perlu terjun langsung dan mengamati situasi yang sedang terjadi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Dr. Rin
isekai online ntu kaya Project Alice di SAO kali yak konsepnya? 🤔
2023-05-16
0
Dr. Rin
perasaan introvert juga ga gni2 amat dah 🤣
2023-05-16
0
vina
semangat terus kk
2022-02-26
0