Chapter 4 - Korban Terakhir

Pemuda itu duduk terdiam di sofa ruang tunggu. Matanya sibuk melihat layar inventorinya. Karena suatu hal, dia harus menunggu dan itu terasa sangat membosankan. Jadi untuk mengisi waktu luangnya, dia memanfaatkannya dengan melihat item yang baru saja dia dapatkan.

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

[1] 1 Exclusive Box

[2] 1 Newbie Box

[3] 1 Survival Box

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Tiga item box yang masih segar dan baru saja dia dapatkan. Pemuda itu terlalu sibuk menahan tangannya agar tetap berada di jarak aman untuk tidak menyentuh item itu.

Tetapi, hatinya berkata lain.

Rasa penasaran hati kecilnya membuat sebuah perintah mutlak untuk menekan layar inventorinya.

[Apakah anda ingin membuka Exclusive Box? YES/NO.]

[Apakah anda ingin membuka Newbie Box? YES/NO.]

[Apakah anda ingin membuka Survival Box? YES/NO.]

Suara napas panjang pemuda itu terdengar, dia melemaskan jemari tangannya dan menekan ketiga tombol YES yang melayang dihadapannya.

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Exclusive Box

[1] (Exclusive) Anzios 20mm AMR

[2] x100 20mm AP Shell

[3] x100 20mm HE Shell

[4] x50 20mm Magic Shell

[5] (Exclusive) gros 17 + Surpressor

[6] (Exclusive) gros Conversion Kit

[7] x1.000 9mm AP Shell

[8] x1.000 9mm HE Shell

[9] x500 9mm Magic Shell

[10] (Exclusive) Tactical Baton

[11] (Exclusive) Stealth Detective Outfit

[12] Exploit Bounty Bonus: +1000 Skill Poin

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Newbie Box

[1] x100 HP Potion I

[2] x100 MP Potion I

[3] x100 Antidote I

[4] x10 EXP Booster (60 Menit)

[5] 1.000 Koin Tembaga

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Survival Box

[1] x10 Emergency Teleport

[2] x10 Guardian Monster

[3] x10 Bait Monster

[4] Book: Monster Encyclopedia Vol. 1

[5] Book: Wild of Nature Vol. 1

[6] x100 Instant Repair Stone

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Hmm.. apa ini? Kukira ada perubahan besar yang terjadi tetapi hanya pergantian nama. Apa mereka takut terkena copyright strike?”

Pemuda itu mengeluarkan senjata yang di dapat dari inventori miliknya. Senapan dengan daya hancur tinggi untuk jarak jauh, pistol untuk jarak menengah, dan baton untuk jarak dekat. Bisa dibilang perlengkapannya sudah tercukupi untuk mengatasi segala situasi pertempuran yang mungkin terjadi. Kekurangannya adalah pemuda itu sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.

Pengetahuannya hanya terbatas pada film dengan tema aksi. Pemuda itu menyandarkan senjatanya pada posisi seperti pajangan museum senjata api.

“Untuk pistol, aku mengerti bagaimana mengaktifkan pin pengaman, mengisi peluru pada magazinenya tetapi untuk yang satu ini.”

Pandangan matanya tertuju pada monster yang masih tertidur di sampingnya. Dengan berat dan panjang yang tidak biasa dan di ikuti dengan ukuran peluru yang begitu ganas membuat dirinya gemetar.

“Tidak kusangka mendapatkan senjata mengerikan seperti ini.”

Dia mencoba mengangkatnya dengan kedua tangannya. Sosok monster itu terasa sangat berat bahkan dengan tubuhnya yang berbeda di game ini masih terasa sangat sulit untuk menjinakkan monster satu ini.

“Mari lihat seberapa hebatnya kau ini.”

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Anzios 20mm AMR

Level 1

Rarity: Exclusive

Range: Absolutly Very Long Range

Type: Anti-material Rifle

Attack: 100.000 – 900.000

Durability: 100.000

Weight: 27-59 kg

Length: 2,5 m

Minimum Level: 0

Special Effect:

[+] Knockback

[+] Healing Disable

[+] Blood Lost

[+] Aim-assist

[+] Splash

[+] Piercing

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Bukankah dirimu sangat menakutkan? tetapi aku masih belum terbiasa dengan ini. Kurasa, aku akan menggunakan beberapa peluru untuk uji coba lapangan.”

Pemuda itu mencoba untuk mengamati lebih dekat senjatanya.

Selain dia harus menyesuaikan ukurannya dengan tubuhnya, dia masih harus belajar bagaimana cara membidik dengan benar. Alat bidik digital yang terpasang pada Anzios 20mm AMR hanya memiliki sepuluh tombol kecil untuk menentukan titik bidik. Biasanya alat bidik memiliki beberapa turret yang terpasang untuk mengatur penyesuaian titik bidik. Tetapi dalam kasus ini, pembidik yang terpasang pada senjatanya hanya memiliki pengaturan untuk mengatur pembesaran dan titik fokus.

Pemuda itu mencoba menekan salah satu tombol pada alat bidik itu dan titik kecil berwarna merah terlihat.

“Oh! Ini seperti holoscope!”

Pemuda itu menyadari adanya beberapa variasi titik bidik yang dapat diubah seperti lingkaran dan titik. Bahkan terdapat tombol otomatis untuk menghitung pergerakan, jarak, arah angin, titik jatuh dan kemudahan lain untuk melakukan serangan jarak jauh.

“Bukankah scope ini terlalu mengerikan?” dengan berhati-hati dia meletakkan senjata besar itu.

“Selanjutnya, bagaimana denganmu?” kini pemuda itu memandangi pistol kecil yang ada di sampingnya. Jika dibandingkan dengan senjata utama, ukuran pistol ini jauh lebih kecil. Perbedaan ini sangat sepadan dengan fungsi penggunaannya.

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Gross 17

Level 1

Rarity: Exclusive

Range: Medium Range

Type: Pistol

Attack: 10.000 – 50.000

Durability: 25.000

Weight: 525 – 915 g

Length: 204 mm

Minimum Level: 0

Special Effect:

[+] Bleeding

[+] Wound Sting Pain

[+] All Stat Down 2%

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Aku tidak bisa berkata apa-apalagi tentang ini, perbedaan statistik keduanya terlalu jauh.”

Jika kedua senjata ini terlibat dalam pertempuran di dunia ini tentu saja bisa mengakibatkan pecahnya keseimbangan antar senjata. Walaupun tertutupi dengan skill dan magic namun untuk ukuran kekuatan masih bisa menghancurkan kedua keseimbangan itu.

“Kurasa aku harus lebih berhati-hati saat menggunakan senjata-senjata ini.”

Pemuda itu lalu mengamati senjata terakhirnya, sebuah solusi akhir dari dua senjatanya yang terlalu mengerikan.

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Tactical Baton

Level 1

Rarity: Exclusive

Range: Short Range

Type: Blunt Weapon

Attack: 0

Durability: 1.000.000

Weight: 20 oz

Length: 26 inch

Minimum Level: 0

Special Effect:

[+] Takedown

[+] Paralyze

[+] Stun

[+] Hardcase

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Pemuda itu hanya diam melihat statistik baton lipatnya. Sebuah senjata yang terbilang cukup aman dengan tingkat kerusakan minimal. Dia menggenggam baton itu dan menekan tombol kecil untuk mengeluarkan panjang maksimal senjata itu.

Pemuda itu mencoba mengayunkan baton itu. Suara ayunan itu terdengar cukup keras seperti memecah udara.

“Boleh juga, tidak terlalu berat dan nyaman di tangan. Kurasa ini senjata yang aman untuk selalu dibawa” tangannya menekan ujung baton itu dan melipatnya menjadi ukuran yang lebih kecil.

Bagian yang terakhir adalah armornya. Pemuda itu melihat dengan saksama pakaian yang dia dapatkan dari Exclusive Box. Sebuah pakaian bernama [Stealth Detective Outfit] bermotif semi-militer panjang dengan corak berwarna hitam dan abu-abu. Pada bagian kerah bajunya terdapat penutup kepala yang terkait masuk ke dalam seperti disembunyikan.

[Apakah anda ingin memakainya? YES/NO.]

Tangan pemuda itu menekan tombol YES.

Pakaian itu kini memudar menjadi partikel kecil lalu menyelimuti tubuh pemuda itu. Ukurannya terasa sangat sesuai, pemuda itu mencari sebuah cermin untuk mengamati seluruh tubuhnya.

Dia menaikkan kerah bajunya dan mencoba mengenakan penutup kepalanya.

“I-Ini..”

“Rasanya aku pernah melihat ini sebelumnya.”

“Ah, benar juga. Jika saja ada sebuah Hidden Blade pasti saat ini aku sudah bisa menyebut diriku Assasin.”

Pemuda itu melihat informasi statistik pakaiannya.

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Stealth Detective Outfit

Level 1

Rarity: Exclusive

Type: Light Armor

Physical Defense: 100.000

Magical Defense: 100.000

Durability: 200.000

Minimum Level: 0

Special Effect:

[+] Silent Step

[+] Ghost

[+] Sonar

[+] Piercing Ressist

[+] Blast Ressist

[+] Heat Ressist

[+] Cold Ressist

[+] Reactive Armor

\=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Mengapa informasi tentang ini begitu sedikit? Dan apa-apaan spesial effect ini. Terlalu banyak!”

Pemuda itu mendapati bayangan seluruh tubuhnya pada pantulan kaca jendela luar. Walaupun diterpa sinar dari luar tetapi dia masih bisa melihat bayangan tubuhnya secara jelas karena pakaiannya sedikit gelap.

“Cocok juga..”

Pemuda itu kembali duduk lalu memasukkan baton dan pistolnya ke dalam saku pakaiannya. Untuk sementara dia akan menyimpan senapan monster mengerikan itu sampai dibutuhkan.

Pistol sudah lebih dari cukup untuk sementara ini.

Tepat setelah dia memasukkan semua senjatanya, pintu ruangan terbuka. Nenek tua yang mengaku sebagai Saintess itu kembali.

“Bagaimana?” pemuda itu bertanya.

Ada alasan mengapa dia dipaksa menunggu, itu karena korban yang selamat dalam keadaan fase kritis.

“Sangat buruk” Saintess Vallie membalas perkataan pemuda itu. Nada suaranya sudah menandakan seberapa buruk kondisinya.

Mereka kembali duduk berhadapan. Menyadari pemuda di hadapannya berubah penampilan membuat Saintess Vallie sedikit kaget.

“Sejak kapan kau berganti pakaian?”

“Tidak lama setelah kau pergi.”

“Sangat cocok untuk mu.”

“...”

Pemuda itu sangat bingung merespon pujian dari Saintess Vallie.

“Terima kasih” dia hanya bisa membalasnya dengan ucapan itu.

“...”

“...”

Mereka kembali terdiam.

“Jadi, apa yang kau lakukan dengan permintaanku?” Saintess Vallie kini membuka percakapan.

“Aku tidak tahu, jika saja ada orang lain yang selamat dan menceritakan apa yang terjadi bukankah itu sedikit membantu?”

“Situasi kami juga begitu kacau.”

“Aku tahu itu.”

“Apa kita harus menunggu sampai dia sadar dari kondisi kritisnya?”

“Tidak ada pilihan lain selain bertanya ke saksi hidup bukan? Itupun jika dia bisa kembali dari kondisi kritisnya.”

“...”

“...”

Topik pembicaraan mereka berdua makin berat.

“Apa kau ingin melihatnya?” tiba-tiba saja Saintess Vallie berdiri.

“Eh?” pemuda itu kebingungan.

“Sebenarnya saat ini tidak boleh ada seseorang yang melihat kondisinya, tetapi untuk mu kurasa bisa untuk pengecualian.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja, ikuti aku.”

Mereka berdua berjalan keluar dari ruang tunggu. Berjalan dibelakangnya, pemuda itu mendapati beberapa pengurus kuil lain berpakaian Maid.

Sebuah rasa curiga muncul di pikirannya.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya pemuda itu.

“Eng???” Saintess Vallie kebingungan.

“Siapa mereka?” sembari menunjuk beberapa gadis berpakaian Maid.

“Ah, mereka cucu-cucuku.”

“Eh, kau sudah menikah? Jika pengetahuanku benar, bukankah seorang Saintess harus suci?” pandangan pemuda itu menatapnya dengan sinis.

“Bukan seperti itu! Saintess merupakan posisi puncak jadi wajar jika mereka menganggapku sebagai ibu mereka.”

“Ibu? Bukankah kau bilang tadi cucu mu?”

“Mereka masih dalam pelatihan!”

“Oh.. Ah.. begitu rupanya.. ngomong-ngomong.. mungkin ini sedikit mengganggu tetapi boleh aku bertanya sesuatu?”

“Apa itu? Aku merasakan adanya pertanyaan aneh akan muncul” balas Saintess Vallie.

“Tenang saja, tidak ada hubungannya dengan mu, Nenek.”

“!”

Saintess Vallie terkejut.

“Apa Priestess yang kau sebut bertemu dengan malaikat itu melihat malaikat berambut pirang dengan pakaian Maid?”

“Eh, dari mana kau tahu?” tanya Saintess Vallie dengan heran.

“...”

Rasa curiga pemuda itu terbayar sudah. Tidak disangka Maid yang ditemuinya merupakan malaikat dari dewi kuil ini.

“Tidak apa-apa, kurasa aku sudah mengenal malaikat ini.”

“Hmmm??” ekspresi Saintess Vallie dipenuhi kebingungan. Mereka berjalan menuju bagian terdalam kuil. Pemuda itu dengan tenang mengikuti Saintess Vallie hingga tiba pada sebuah ruang koridor dengan anak tangga ke bawah.

Ruangan yang begitu gelap dan sunyi.

Pemuda itu memandangi Saintess yang terhenti di depan tangga menurun. Menyadari adanya hal yang aneh, pemuda itu mendekati anak tangga. Tepat setelah dia berhadapan dengan anak tangga itu, bau busuk yang menyengat tercium.

Sembari menahan aroma busuk itu dan mengulur waktu untuk membuat hidungnya terbiasa mencium aroma baru ini. Hidung manusia memang bisa bosan dalam mencium aroma, jika sudah terbiasa menghirupnya maka secara langsung hidung akan menganggap itu bau yang normal.

“Maaf, aku tidak bisa memaksakan diriku untuk melanjutkan ini” Saintess Vallie melangkah mundur.

Pemuda itu mendapati sebuah perasaan buruk akan terjadi.

Pemuda itu perlahan melangkah maju menuruni anak tangga.

“Kau tidak butuh penerangan?” Saintess Vallie itu mencoba memberinya tongkat batu bercahaya.

“Ah, aku akan membiarkan mataku terbiasa dalam kegelapan. Ini bukan masalah” jawab pemuda itu sambil menuruni anak tangga.

Pandangan pemuda itu kini sudah terbiasa melihat kegelapan, dia bisa melihat tumpukan batu yang tersusun melingkar membentuk anak tangga. Makin jauh dia melangkah, aroma busuk yang dicium makin memudar. Hidungnya sudah mulai terbiasa dengan bau busuk ini.

Menyusuri anak tangga terakhir, dia bisa melihat sebuah pintu dengan sela-sela kecil yang bercahaya. Pemuda itu berjalan membuka pintu itu.

Perlahan pintu itu terbuka.

Pemandangan di dalamnya membuatnya terkejut.

Di ruangan ini ada satu lilin yang bersinar dan seseorang yang merintih kesakitan. Tubuhnya tertutupi dengan kain yang membungkus hingga menyisakan kepalanya yang terbuka.

Pemuda itu berjalan mendekat.

Tepat di samping orang itu terdapat sebuah pisau kecil yang bersinar memantulkan cahaya lilin.

Saat dia hendak mengambil pisau itu, dia merasa menginjak sesuatu dan mengambilnya. Itu sebuah kertas kecil usang dengan tulisan berantakan di dalamnya.

Pemuda itu mencoba membaca setiap arti tulisan tangan yang berantakan itu.

[PLEASE HELP ME]

“Apa ini?” mencoba memahami apa yang baru saja dia baca. Pemuda itu lalu memfokuskan pandangannya pada orang yang terbaring itu.

Nafasnya sedikit terganggu namun terdengar cukup teratur. Bahkan dalam kondisi kritis ini tidak ada yang menemaninya.

Pemuda itu mencoba mengintip isi tubuhnya yang terbalut dengan kain. Hanya menyentuh kain itu ujung jarinya merasakan sensasi basah dan meninggalkan noda hitam pada kain itu.

“Lembek sekali, apa ini?”

Pemuda itu kembali menyentuh kain itu dan tiba-tiba saja sesuatu berwarna hitam keluar dari sela-sela kain.

Gumpalan hitam itu menetes keluar.

Rasa penasaran pemuda itu membuatnya menarik kain itu sepenuhnya. Hanya dengan sentuhan kecil dia bisa merobek sebagian kain yang tipis.

Pemandangan yang tidak disangka muncul.

Dalam hitungan detik, pemuda itu memuntahkan isi perutnya.

“Apa ini!” mengelap mulutnya yang mengeluarkan air liur sisa muntahannya.

Pemuda itu kembali berdiri dan menarik habis kain yang menutup orang itu. Pemandangan mengerikan sekali lagi terpampang di hadapannya.

Kali ini, dia bisa menahan isi perutnya.

Tatapan pemuda itu dipenuhi berbagai pertanyaan.

“mengapa mereka tidak membiarkannya mati?”

Tubuh orang itu hampir sepenuhnya menghitam dan membusuk bahkan beberapa organ dalamnya terlihat karena kulitnya meleleh.

Tubuhnya hampir tidak mungkin bisa di selamatkan. Sebagian besar organ pentingnya telah membusuk bahkan dengan kondisi seperti ini membiarkannya tetap hidup merupakan penyiksaan yang paling buruk.

Orang itu membuka matanya.

Tatapan keduanya saling bertemu.

“Kau masih hidup selama ini?” tanya pemuda itu.

Hanya dengan sebuah kedipan, orang itu membalas pertanyaan pemuda itu.

“Aku bisa membantu mu” pemuda itu menggigit bibirnya. Rasa kesal dan prihatin bercampur di dalam hatinya.

Pemuda itu mengambil pistol yang tersimpan dalam sakunya.

Mengarahkan pistol itu ke kepala orang yang ada dihadapannya serta menarik pin pengaman pistol. Beruntungnya pistol itu terisi penuh dengan 17 peluru di magazinenya.

“Kau tahu, aku memberimu dua pilihan. Mati dengan rasa menyakitkan dengan pisau” pemuda itu mengangkat pisau yang ada di sampingnya dengan tangan kiri.

“Atau.. mati tanpa rasa sakit dengan ini” pemuda itu mengangkat pistol ditangan kanannya.

“Keduanya sama saja, hanya saja aku menawarkan pilihan rasa sakit. Cukup berkedip saja untuk menjawabnya!”

Mata kanan orang itu berkedip. Tidak ada cahaya harapan yang bersinar dimatanya. Mati adalah pilihannya saat ini.

Pemuda itu menarik pelatuk pistol tanpa ragu. Tanpa aba-aba, tanpa persiapan, sebuah hentakan kecil jarinya mengantarkan peluru menembus kepala orang itu.

Darah berwarna hitam terlukis dengan indah pada tembok belakang orang itu. Lubang kecil pada dahi kepalanya dan lubang besar pada kepala belakang menggambarkan seberapa besar kerusakan pistol itu.

Suara pistol bergema hingga terdengar hingga ke telinga Saintess.

Saintess Vallie meneteskan air matanya. Dia sudah tahu permintaan orang itu, namun tidak ada yang mampu mengabulkannya hingga dia memaksa seorang pemuda melakukannya.

Perasaan bersalah menjerat hati Saintess Vallie.

Pemuda itu berjalan keluar dari ruangan itu dan kembali menaiki anak tangga.

Ekspresinya cukup tertekan menyadari korban selamat tidak memiliki harapan hidup, bahkan memaksa tangannya untuk mengakhiri hidupnya. Sial bagi pemuda itu karena tidak ada satu informasi yang di dapat.

“Dia.. akhirnya beristirahat dengan damai” ucap pemuda itu sembari menyerahkan pisau yang dibawanya.

Saintess Vallie menerima pisau pemberian pemuda itu. Dia terkejut melihat pisau yang diterimanya dalam keadaan bersih.

Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan situasi mereka berdua.

[Selamat! Anda telah naik level 0 menjadi level 15!]

[Skill Dark terbuka!]

[Skill Detective terbuka!]

[Detective Tools Shop terbuka!]

[Title: Savior of Death terbuka!]

Mereka berjalan kembali menuju ruang tunggu.

Selama perjalanan itu, tidak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya.

“Kau tahu dia dalam kondisi seperti itu bukan?” tanya pemuda itu memecah keheningan.

Saintess Vallie terdiam.

“Hey, setidaknya boleh aku memiliki tubuhnya?”

“Huh?” Saintess Vallie dipenuhi dengan pertanyaan.

Pandangan pemuda itu tertuju pada layar skill barunya yang baru saja terbuka. Di dalamnya terdapat beberapa skill detektif tentang ilmu forensik.

Mengamati daftar skillnya yang berguna sesuai keadaan saat ini, dia merasa sangat senang dan puas.

“Aku akan menggunakan mayat itu sebagai bahan percobaan” Pemuda itu tersenyum saat mengatakan ini.

“Eh? Percobaan?” Saintess Vallie kebingungan dan panik.

“Kau ingin tahu apa yang terjadi bukan?” tanya pemuda itu.

“Tentu saja, tetapi apa maksudnya dengan percobaan?”

“Hanya percobaan kecil kok! Kau akan tahu itu nanti.”

Pemuda itu menutup layar daftar skillnya dan memandang sinis Saintess Vallie.

“Eh, tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi! Hey! jelaskan kepadaku!”

Pemuda itu tetap berjalan tanpa menjawab pertanyaan Saintess Vallie.

Terpopuler

Comments

Dr. Rin

Dr. Rin

ribet bnget klw setiap profesi cewe blakangnya harus pke ess semua kayanya ya 😅

2023-05-08

0

꧁𝙉Ⓐノ𝙎ム꧂💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

꧁𝙉Ⓐノ𝙎ム꧂💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

Hai kak seto jamur mampir yak

2022-08-18

1

GREED {KERAKUSAN}

GREED {KERAKUSAN}

lanjut terus

2022-02-02

1

lihat semua
Episodes
1 Volume 1 - Prolog
2 Chapter 1 - Internet Cafe OUTNET
3 Chapter 2 - Class Detective
4 Chapter 3 - Permintaan Saintess
5 Chapter 4 - Korban Terakhir
6 Chapter 5 - Biological Evidence
7 Chapter 6 - Krisis Kerajaan Nestrad
8 Chapter 7 - Boot Camp Servere
9 Chapter 8 - Presumptive Blood Test
10 Chapter 9 - Sumber Bencana
11 Chapter 10 - Pertemuan Darurat
12 Chapter 11 - LOGOUT
13 Chapter 12 - Kasus Menumpuk
14 Chapter 13 - Aktivitas Normal
15 Chapter 14 - Kelas Abnormal
16 Chapter 15 - Scam Quest
17 Chapter 16 - Nekoya Inn
18 Chapter 17 - Pertikaian Kecil
19 Interlude - Senpai
20 Chapter 18 - Kontrak Perjanjian
21 Chapter 19 - Sistem MOCAD
22 Chapter 20 - Teleport Magic
23 Chapter 21 - Solo Investigation
24 Chapter 22 - In Vino Veritas
25 Chapter 23 - Pengakuan Hitam
26 Chapter 24 - Investigasi Akhir
27 Interlude - Ruang Hitam
28 Chapter 25 - Kasus Gagal?
29 Chapter 26 - Princess Nekoya Inn
30 Chapter 27 - Kembali Pulang
31 Chapter 28 - Lembaran Misteri Dunia
32 Chapter 29 - Kontrak Promosi
33 Chapter 30 - Sisi Lain Internet
34 Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis
35 Chapter 32 - Ratu Iblis
36 Interlude - Langit Malam
37 Chapter 33 - Old Gang Tea Party
38 Chapter 34 - Private Detective Contractor
39 Chapter 35 - Maid Service
40 Chapter 36 - Antropologi Forensik
41 Chapter 37 - Analisis Berkelanjutan
42 Interlude - Ex-Demon Queen Council
43 Chapter 38 - Kekuatan 100 Keping Emas!
44 Chapter 39 - Sambutan Kecil
45 Interlude - Perjanjian Antar Player
46 Chapter 40 - Un-Wanted Kill
47 Chapter 41 - Social Stealth
48 Interlude - Can u stand in Friendly-Fire Line of sight?
49 Emergency Update
50 Chapter 42 - Detektif dan Asisten Detektif
51 Chapter 43 - Lorong Gua
52 Informasi & Terima Kasih
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Volume 1 - Prolog
2
Chapter 1 - Internet Cafe OUTNET
3
Chapter 2 - Class Detective
4
Chapter 3 - Permintaan Saintess
5
Chapter 4 - Korban Terakhir
6
Chapter 5 - Biological Evidence
7
Chapter 6 - Krisis Kerajaan Nestrad
8
Chapter 7 - Boot Camp Servere
9
Chapter 8 - Presumptive Blood Test
10
Chapter 9 - Sumber Bencana
11
Chapter 10 - Pertemuan Darurat
12
Chapter 11 - LOGOUT
13
Chapter 12 - Kasus Menumpuk
14
Chapter 13 - Aktivitas Normal
15
Chapter 14 - Kelas Abnormal
16
Chapter 15 - Scam Quest
17
Chapter 16 - Nekoya Inn
18
Chapter 17 - Pertikaian Kecil
19
Interlude - Senpai
20
Chapter 18 - Kontrak Perjanjian
21
Chapter 19 - Sistem MOCAD
22
Chapter 20 - Teleport Magic
23
Chapter 21 - Solo Investigation
24
Chapter 22 - In Vino Veritas
25
Chapter 23 - Pengakuan Hitam
26
Chapter 24 - Investigasi Akhir
27
Interlude - Ruang Hitam
28
Chapter 25 - Kasus Gagal?
29
Chapter 26 - Princess Nekoya Inn
30
Chapter 27 - Kembali Pulang
31
Chapter 28 - Lembaran Misteri Dunia
32
Chapter 29 - Kontrak Promosi
33
Chapter 30 - Sisi Lain Internet
34
Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis
35
Chapter 32 - Ratu Iblis
36
Interlude - Langit Malam
37
Chapter 33 - Old Gang Tea Party
38
Chapter 34 - Private Detective Contractor
39
Chapter 35 - Maid Service
40
Chapter 36 - Antropologi Forensik
41
Chapter 37 - Analisis Berkelanjutan
42
Interlude - Ex-Demon Queen Council
43
Chapter 38 - Kekuatan 100 Keping Emas!
44
Chapter 39 - Sambutan Kecil
45
Interlude - Perjanjian Antar Player
46
Chapter 40 - Un-Wanted Kill
47
Chapter 41 - Social Stealth
48
Interlude - Can u stand in Friendly-Fire Line of sight?
49
Emergency Update
50
Chapter 42 - Detektif dan Asisten Detektif
51
Chapter 43 - Lorong Gua
52
Informasi & Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!