Chapter 14 - Kelas Abnormal

Berbicara tentang sesuatu hal yang di benci maka jawaban yang di dapat akan sangat beragam. Terkadang rasa benci itu bisa terjadi secara alami atau tercipta sesuai dengan kondisi yang sedang di alami. Contohnya seperti yang sedang di alami oleh pemuda satu ini.

Ada dua hal yang saat ini dibencinya, pertama adalah nama dari pemberian orang tuanya yang terkesan tidak niat dan kedua adalah acara televisi yang kurang berkualitas. Pada kebencian yang kedua, itu tercipta karena kondisi yang sedang dialaminya saat ini.

Setelah memasuki ruang kelas yang begitu mewah ini. Dirinya mendapati sensasi aneh seperti adanya mata yang selalu mengawasi gerak-geriknya. Terlebih dengan banyaknya kamera yang berkumpul di depan gerbang sekolahnya.

Sesuatu yang besar akan terjadi dan dia yakin akan hal itu!

Di dalam kelas itu, matanya bergerak ke seluruh penjuru ruangan. Mengamati setiap tempat yang dirasa mencurigakan. Bahkan calon teman sekelasnya yang datang dan terkejut memiliki reaksi yang sama saat melihat ruang kelas ini.

Mereka duduk menyisakan satu sofa kosong sebagai pembatas. Suasana canggung dapat dengan mudah dirasakan. Tidak ada salahnya dengan itu. Karena ini adalah hari pertama mereka bertemu.

Secara keseluruhan, ruang kelas ini benar-benar aneh. Itu akan terasa wajar jika ruang kelas memiliki satu kamera pengawas namun ruang kelas ini memiliki enam kamera pengawas yang terpasang di setiap sisi ruangan dan beberapa microphone kecil yang tersembunyi. Pemuda itu bisa merasakannya saat bersandar di sofa, seperti ada kabel kecil yang bisa dirasakan oleh punggungnya.

Berbicara tentang hal aneh lain, dapur kecil yang ada dibelakangnya dan bersebelahan dengan kamar mandi kecil mulai mengundang rasa penasarannya.

Dia bangkit dari sofa tempatnya duduk dan berjalan menuju dapur kecil yang terletak di belakang area kelas. Satu hal yang membedakan area dapur dan area kelas adalah tinggi lantainya.

Area dapur itu di isi dengan perlengkapan sederhana yang biasa digunakan. Terdapat enam lemari gantung yang terpasang, perlengkapan memasak, satu set kompor elektrik induksi, satu ventilasi udara yang terpasang di atas kompor elektrik, satu meja makan dengan tiga kursi saling berhadapan, satu penanak nasi yang bersebelahan dengan microwave, satu dispenser air isi ulang bersebelahan dengan lemari pendingin dua pintu, dan masih ada peralatan lain yang terlihat mewah.

“Yep.. ini sangat tidak normal dan terkesan dibuat-buat. Tetapi, mengapa?”

Pemuda itu melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi yang berada di sebelah dapur kecil ini.

Saat dia membuka pintu masuknya, ruangan itu di isi dengan ruang rias kecil, WC duduk, tempat shower, dan lemari loker kecil. Sesuatu yang sangat jarang ada di dalam kamar mandi. Misteri kecil ini sudah cukup membuat tubuh pemuda itu mengeluarkan sebuah insting “Sesuatu yang merepotkan” akan terjadi ditempat ini.

Dalam sekejap, pemuda itu berjalan keluar dari kelas ini.

Dia mencoba untuk membandingkan ruang kelas ini dengan ruang kelas lain. Tidak jauh dari ruang kelasnya, ada ruang kelas yang normal. Dia membandingkan posisi, panjang, lebar, tata telak peralatan, antara ruang kelasnya dengan ruang kelas normal itu.

Hasilnya, tidak ada yang berbeda! Ruang kelas miliknya dan ruang kelasnya memiliki panjang dan lebar yang sama. Yang menjadi perbedaan adalah isi di dalamnya.

Pemuda itu kembali lagi ke kelasnya. Menyadari perubahan jarak pandangnya ini membuatnya terkejut.

“Oh, begitu! Ini terasa begitu luas karena meja dan kursi yang memakan tempat digantikan dengan sofa dan meja panjang. Itu membuat tempat ini terlihat luas” gumam kecilnya ini mengundang rasa penasaran dari calon teman sekelasnya yang mengamati tingkah lakunya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya nya penuh keheranan.

Apa pertanyaan itu sangat penting?

Apa dia tidak merasakan kegelisahan saat berada di tempat seaneh ini?

Dengan keraguan yang sedikit terukir di wajahnya. Pemuda itu membalasnya dengan sebuah pertanyaan. “Apa kau tidak merasa aneh dengan kelas ini?”

Pertanyaan itu sebenarnya sudah cukup menjelaskan situasi mereka berdua.

“Apa maksud mu?” balasan yang diterimanya sungguh di luar dugaan.

Karena balasan itu, pemuda ini justru kebingungan.

Apakah dia sama sekali tidak paham dengan situasi yang sedang dialaminya ini.

Situasi ini makin membuatnya kebingungan. Terlalu banyak potongan puzzle yang belum terkumpulkan. Kejadian yang seperti ini hanya membuatnya bertanya-tanya. Kejahilan apa yang sedang terjadi?

Pemuda itu teringat pada aplikasi sekolah yang terpasang di ponselnya. Dengan cepat dia mengambil ponselnya dan mencari informasi mengenai kelasnya. Terdapat dua puluh orang yang terdaftar di dalam kelas ini. Itu sesuai dengan jumlah sofa dan meja yang terpasang.

“Emm.. sebagai permulaan.. boleh ku tahu nama mu?” sembari mengumpulkan informasi yang masih kasar. Pemuda itu mencoba berkenalan dengan salah satu calon teman sekelasnya itu.

Pemuda itu mengulurkan tangannya, berharap mendapatkan balasan positif dari lawan bicaranya.

Lawan bicaranya sedikit ragu-ragu dengan perubahan suasana yang tiba-tiba ini. Dengan perasaan penuh kecanggungan, dia menjabat tangan pemuda itu.

“Will Isaac.”

“Hans."

Mereka berdua saling bertukar nama sebagai awal pertemanan mereka.

“Humm.. Hans??” pemuda bernama Will Isaac sedikit terkejut mendengar nama pemuda yang ada dihadapannya itu.

“Y-ya??” dengan penuh tanda tanya di wajahnya, Hans merespon perkataan Will.

“Hanya Hans?” seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Will mencoba mengulang kembali pertanyaannya, berharap telinganya tidak salah dengar.

“Apakah nama yang hanya terdiri dari empat huruf mengganggu dirimu?”

“Ah! Tidak maksudku! Hanya Hans saja? Tidak ada nama belakang atau apa begitu?”

“Oh, jadi itu maksud mu... Sejak lahir nama ku hanya Hans. Entah mengapa orang tua ku terlalu malas memikirkan arti sebuah nama saat aku lahir, mengapa juga aku lahir dengan kondisi orang tua seaneh ini? Terkadang aku iri dengan orang-orang yang mempunyai nama depan dan belakang.”

“...”

“...”

Terdapat keheningan di antara mereka berdua. Hans kini menaruh seluruh perhatian untuk mencari nama Will Isaac pada daftar nama penghuni kelas. Dia menemukannya, ternyata mereka memang ditempatkan pada kelas yang sama. Keraguan mengenai salah kelas kini perlahan menghilang.

Hans memandang Will yang masih memandangnya penuh dengan keraguan.

“Will Isaac, boleh ku bertanya sesuatu pada mu?”

Will yang sedari tadi mengamati Hans terkejut.

Hans memberikan ponselnya yang menampilkan daftar nama penghuni kelas.

“Di antara semua penghuni kelas ini, apa ada seseorang yang kau kenal?”

Will menerima pemberian ponsel Hans dan membaca satu per satu nama penghuni kelas yang terdaftar. Saat dia menemukan nama “Hans” yang benar-benar hanya memiliki empat huruf membuatnya heran sekaligus kagum pada keberanian orang tuanya yang memberi nama sederhana seperti itu.

“Jadi nama mu itu benar-benar Hans?” ucap Will untuk memastikannya.

“Mengapa kau sangat tertarik dengan nama ku sih?” Hans membalasnya dengan nada sedikit kesal.

“Maafkan aku, kurasa nama mu sedikit unik.”

“...” Hans tidak membalasnya dan hanya terdiam.

Mengetahui Hans sedikit terganggu dengan pembahasan mengenai namanya. Will melanjutkan membaca satu per satu daftar penghuni kelas.

“Eh? Chiyuri? Okita? Azumi? Anri? Rika? Hikari? Sakura?”

Merespon kata-kata yang diucapkan oleh Will. Hans merasa mendapatkan jawaban yang sedang dicarinya.

“Kau kenal mereka?” tanya Hans.

Will mengembalikan ponsel milik Hans.

“Tentu saja, mereka itu grup idol yang terkenal loh! Apa kau tidak tahu mereka itu siapa?”

“Memangnya siapa mereka?” tanya Hans sembari memasang ekspresi polos ketidaktahuan.

Will hanya memegang kepalanya. Walaupun grup idol itu sudah terkenal hingga ke tingkat internasional tetapi ada saja seseorang yang tidak mengenalnya.

“Apa kau tidak pernah mendengar tentang grup idol Queen Order?”

“Kurasa aku pernah mendengar atau membacanya di suatu tempat” jawab Hans secara singkat.

“Hanya itu tanggapan mu? Mereka itu grup idol yang sangat terkenal loh!”

“Oh, kurasa aku pernah mengenalnya. Apa manajer mereka seorang masokis akut?” tanya Hans untuk memastikan.

“Huh? Apa?” Will sedikit kebingungan dengan pertanyaan tiba-tiba itu.

“Jika manajer mereka seorang masokis, maka aku kenal dengan Queen Order yang kau maksud itu” imbuh Hans.

“Huuh?” Will hanya kebingungan mendengar penyataan yang dikeluarkan Hans.

Tiba-tiba saja, pintu ruang kelas mereka terbuka. Menampilkan seseorang wanita dengan setelan jas laki-laki tengah menyeret seseorang.

Hans dan Will terdiam melihat apa yang ada dihadapan mereka.

Dengan santainya, Hans menunjuk sosok itu. “Itu maksud ku, seorang masokis akut.”

“O-oooh!!” Will segera sadar dari lamunan kecilnya dan mengamati keadaan yang berubah tiba-tiba ini.

Dengan cepat, sosok yang masuk ke ruang kelas kembali ke posisinya yang normal. Mengalihkan pandangan mereka ke satu sama lain dan menganggap kejadian yang baru saja terjadi seolah-olah tidak pernah terjadi.

Hans dan Will saling bertukar tatapan kembali menatap mereka.

“Apa kau punya ketertarikan aneh seperti itu?” tanya Hans kepada laki-laki yang ada dihadapannya.

“Hey!” Will tiba-tiba saja menutup mulut Hans dengan kedua tangannya.

Tawa kecil terdengar di samping pintu masuk kelas. Mereka memperlihatkan dirinya.

Dihadapan mereka, sosok yang begitu cantik dan anggun membuat Will terkesima.

Will sedikit terkejut dan melepaskan tangan yang menutup mulut Hans.

“Q-quuu-quuuuuuuuu!!” mulut Will sedikit berantakan untuk mengucapkan sesuatu.

“Queen Order?” ucap Hans membantu Will yang terbata-bata. Will dengan cepat kembali pulih dari keadaan terkesimanya.

“Hans! Tolong tampar aku! Pastikan ini bukan mimpi!” di samping Hans, Will merengek untuk memastikan ini bukanlah mimpi.

Sebuah tamparan keras tanpa basa-basi menyentuh pipi Will. Suaranya begitu keras menandakan seberapa banyak energi yang dikeluarkan untuk menimbulkan ruam merah di pipi Will.

Will sedikit mengerang kesakitan menerima tamparan yang dilayangkan Hans.

Itu adalah tamparan yang tidak ada keraguan di dalamnya.

“Sebagai pembelaan.. Will yang meminta untuk ditampar” sembari mengatakan itu. Hans berjalan menuju tempat duduknya.

“Tunggu dahulu!” tangan Hans tiba-tiba saja ditarik oleh Elliot Felder. Seorang manajer yang mengurus Queen Order.

Hans dan Elliot setidaknya saling mengenal setelah pertemuan mereka di OUTNET.

Tatapan Elliot yang sedikit menusuk itu membuat Hans sedikit waspada. Lalu dengan gerakan kecil, dia mengeluarkan ponselnya dan memberinya kepada Hans.

“Ijinkan aku menjadi penggemar nomor satu mu!”

“HUH?”

“HUUH??”

“HUUUH???”

Beberapa orang terkejut, tidak terkecuali Hans yang sangat terkejut saat mendengarnya. Sekilas dia melihat karakter game miliknya di ponsel Elliot. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi tetapi Elliot memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku melihat rekaman mu saat bermain dan itu sangat mengesankan!”

“Siapa sangka di dalam game seperti itu ada misteri besar di dalamnya!”

“Itu membuatku sangat ingin memainkannya! Tetapi pekerjaan ku sangat menumpuk akhir-akhir ini.”

“Tolong undang aku ke dalam party jika kau ingin menyelesaikan sebuah misteri yang menarik!”

Serangkaian kata-kata itu cukup menyudutkan Hans yang mulai menarik perhatian orang disekitarnya. Ekspresi wajahnya mengatakan “Cukup! Hentikan!”

“Tunggu! Kau mendapat rekaman permainanku?” pertanyaan besar muncul di pikiran Hans.

“Oh! Aku melihatnya saat kau selesai bermain. Itu cukup panjang dan memakan waktu seharian tetapi aku sangat puas melihatnya. Siapa sangka ada kejadian seperti itu di dalam game.”

“Dari mana kau mendapatkannya?” ekspresi wajah Hans menjadi serius.

“Eh? Apa kau tidak tahu jika semua perangkat di OUTNET memiliki log catatan permainan yang bisa diakses?”

“Oh, kurasa aku harus memiliki peralatan pribadi” balas singkat Hans.

“Tenang saja! Ruangan itu kini menjadi ruangan pribadi khusus untuk mu” sembari mengatakan itu. Elliot mengeluarkan sebuah kartu akses VVIP OUTNET dan memberikannya kepada Hans.

“Kakakku menitipkan ini untuk diberikan pada mu.”

“Hah? Bahkan dia sudah tahu aku bersekolah di sini?” Hans menerima pemberian kartu akses itu.

“Hahaha! Kebetulan seperti ini jarang terjadi bukan?” Elliot sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.

“Ya, benar juga. Kebetulan seperti ini memang jarang terjadi. Jika itu memang murni kebetulan!” sembari mengatakan itu. Hans memberikan ponselnya kepada Elliot yang berisi daftar nama penghuni kelas.

“Well, aku tidak percaya pada kebetulan seperti itu. bantu aku.. selain Will Isaac dan member grup idol mu. Adakan seseorang yang kau kenal dalam daftar itu?” Hans memberinya sedikit penekanan pada kata-katanya.

“Sebagai gantinya, aku akan secara berkala menemui mu di OUTNET dan memberi mu tanda tangan.”

Penawaran yang menggiurkan itu langsung saja diterima oleh Elliot. “Oke, deal!”

Elliot mulai membaca daftar nama itu, ekspresi Elliot yang berubah-ubah membuat Hans merasakan sesuatu yang tidak biasa ada di kelas ini.

“Boleh kuberi catatan khusus?” tanya Elliot dengan ekspresi seriusnya.

“Tentu saja” jawab singkat Hans.

Orang-orang yang ada disekitarnya terdiam melihat aura serius di antara mereka berdua. Bahkan asisten yang biasanya kasar terhadap Elliot terdiam setelah melihat ekspresi serius yang terpampang di wajah Elliot.

Elliot menyerahkan ponsel Hans kembali.

Hans menerimanya dan membaca catatan kecil yang ditinggalkan oleh Elliot.

“Dunia ini sangat sempit ternyata” Hans bergumam kecil.

“Ya, sangat kecil bahkan orang penting seperti itu ada di sini” Elliot menambahi gumam kecil Hans.

“Ngomong-ngomong, mengapa kau ada di sini? Pastinya bukan hanya mengantar anak-anak mu bukan?” tanya Hans.

“Ah, ada beberapa kontrak yang harus ditanda tangani dan sedikit pemberitahuan kecil.”

“Oh, kontrak Reality Show?”

“!”

Elliot terkejut mendengarnya.

“Jadi aku tidak perlu menjelaskannya, kapan kau mengetahuinya?” tanya Elliot.

“Sejak kau muncul, semua pertanyaanku terjawab.”

“I-inikah rasanya bertemu dengan seseorang yang genius?”

“Aku bukan orang genius, berhenti melebih-lebihkan sesuatu. Aku hanya sedikit peka dengan keadaan.”

“Aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut bukan?”

“Kurasa kau perlu menjelaskannya untuk penghuni kelas yang lain.”

“Benar juga! Aku akan bersiap-siap” Elliot menyerahkan ponselnya yang berisi karakter Hans di dalam game Isekai Online.

Hans menerima ponsel itu dan memberikan tanda tangan digitalnya.

Setelahnya, mereka berpisah setelah transaksi kecil keduanya saling terpenuhi.

Will yang sedari tadi menjadi orang luar mulai mendekati Hans. Pertanyaan besar ada di kepalanya dan Hans bisa menebaknya.

Kejadian ini sudah menambah daftar hal yang dibenci Hans selain nama yang diberikan untuk seumur hidupnya.

Dia sekarang benci melihat seseorang yang mengamati kehidupannya terutama jika ditampilkan pada ruang publik. Dalam kasus ini adalah acara televisi dengan tema Reality Show. Itu terjadi karena dia secara kebetulan satu kelas dengan grup idol yang sedang terkenal atau itu bukanlah sebuah kebetulan.

Entah dia sedang beruntung atau sial disaat yang bersamaan. Yang pasti, dia harus memperhatikan tingkah lakunya saat berada di depan kamera.

Hans kembali ke tempat duduknya, menyender pada sebuah sofa yang dilengkapi oleh microphone kecil yang tertutup kulit sofa.

Dia menatap layar ponselnya yang berisi daftar nama penghuni kelas.

Dan tatapannya tertuju pada catatan kecil yang ditinggalkan oleh Elliot Felder.

Bisa dibilang penghuni kelasnya bukanlah orang biasa. Semua nama yang ada di dalam daftar kelasnya itu memiliki kekuatan tersendiri.

Contohnya adalah Will Isaac. Identitasnya sebagai pemegang juara dunia pada pertandingan game profesional e-sport Isekai Online kategori Pria yang membawa Indonesia menempati posisi pertama. Itu adalah prestasi dengan total hadiah yang tidak sedikit.

Bukan itu saja, catatan kecil lain yang sangat berbahaya membuat kepala Hans pusing.

Selain prestasi yang mengguncang dunia, ada beberapa nama penting yang harus Hans ingat untuk tidak menimbulkan masalah jika dia ingin selamat di sekolah ini.

Bahkan, lebih baik untuk menghindari orangnya.

Singkatnya, ada beberapa nama penting yang harus diingat dan diwaspadai.

Beberapa nama seperti anak dari Direktur perusahaan raksasa dunia, CEO dari militer swasta, cucu dari Kepala Badan Intelijen Negara, garis keturunan langsung dari Yakuza, bahkan calon pemimpin dari sindikat Mafia.

“Yang benar saja, dari mana Elliot dapat informasi seperti ini?” gumam kecilnya ini sudah cukup untuk mewaspadai keadaan sekitarnya.

Keuntungan yang di dapat dari informasi ini adalah kewaspadaan untuk bertahan hidup.

Insting Hans mengatakan, dirinya akan selamat jika tidak menimbulkan masalah yang berkaitan dengan predator puncak kelas ini.

Hanya memikirkan itu saja sudah membuatnya merinding ketakutan.

Bagaimanapun juga, ini bukanlah kelas biasa.

Ini adalah kelas abnormal!

Terpopuler

Comments

꧁𝙉Ⓐノ𝙎ム꧂💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

꧁𝙉Ⓐノ𝙎ム꧂💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

semangat trs kak

2022-08-18

0

lihat semua
Episodes
1 Volume 1 - Prolog
2 Chapter 1 - Internet Cafe OUTNET
3 Chapter 2 - Class Detective
4 Chapter 3 - Permintaan Saintess
5 Chapter 4 - Korban Terakhir
6 Chapter 5 - Biological Evidence
7 Chapter 6 - Krisis Kerajaan Nestrad
8 Chapter 7 - Boot Camp Servere
9 Chapter 8 - Presumptive Blood Test
10 Chapter 9 - Sumber Bencana
11 Chapter 10 - Pertemuan Darurat
12 Chapter 11 - LOGOUT
13 Chapter 12 - Kasus Menumpuk
14 Chapter 13 - Aktivitas Normal
15 Chapter 14 - Kelas Abnormal
16 Chapter 15 - Scam Quest
17 Chapter 16 - Nekoya Inn
18 Chapter 17 - Pertikaian Kecil
19 Interlude - Senpai
20 Chapter 18 - Kontrak Perjanjian
21 Chapter 19 - Sistem MOCAD
22 Chapter 20 - Teleport Magic
23 Chapter 21 - Solo Investigation
24 Chapter 22 - In Vino Veritas
25 Chapter 23 - Pengakuan Hitam
26 Chapter 24 - Investigasi Akhir
27 Interlude - Ruang Hitam
28 Chapter 25 - Kasus Gagal?
29 Chapter 26 - Princess Nekoya Inn
30 Chapter 27 - Kembali Pulang
31 Chapter 28 - Lembaran Misteri Dunia
32 Chapter 29 - Kontrak Promosi
33 Chapter 30 - Sisi Lain Internet
34 Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis
35 Chapter 32 - Ratu Iblis
36 Interlude - Langit Malam
37 Chapter 33 - Old Gang Tea Party
38 Chapter 34 - Private Detective Contractor
39 Chapter 35 - Maid Service
40 Chapter 36 - Antropologi Forensik
41 Chapter 37 - Analisis Berkelanjutan
42 Interlude - Ex-Demon Queen Council
43 Chapter 38 - Kekuatan 100 Keping Emas!
44 Chapter 39 - Sambutan Kecil
45 Interlude - Perjanjian Antar Player
46 Chapter 40 - Un-Wanted Kill
47 Chapter 41 - Social Stealth
48 Interlude - Can u stand in Friendly-Fire Line of sight?
49 Emergency Update
50 Chapter 42 - Detektif dan Asisten Detektif
51 Chapter 43 - Lorong Gua
52 Informasi & Terima Kasih
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Volume 1 - Prolog
2
Chapter 1 - Internet Cafe OUTNET
3
Chapter 2 - Class Detective
4
Chapter 3 - Permintaan Saintess
5
Chapter 4 - Korban Terakhir
6
Chapter 5 - Biological Evidence
7
Chapter 6 - Krisis Kerajaan Nestrad
8
Chapter 7 - Boot Camp Servere
9
Chapter 8 - Presumptive Blood Test
10
Chapter 9 - Sumber Bencana
11
Chapter 10 - Pertemuan Darurat
12
Chapter 11 - LOGOUT
13
Chapter 12 - Kasus Menumpuk
14
Chapter 13 - Aktivitas Normal
15
Chapter 14 - Kelas Abnormal
16
Chapter 15 - Scam Quest
17
Chapter 16 - Nekoya Inn
18
Chapter 17 - Pertikaian Kecil
19
Interlude - Senpai
20
Chapter 18 - Kontrak Perjanjian
21
Chapter 19 - Sistem MOCAD
22
Chapter 20 - Teleport Magic
23
Chapter 21 - Solo Investigation
24
Chapter 22 - In Vino Veritas
25
Chapter 23 - Pengakuan Hitam
26
Chapter 24 - Investigasi Akhir
27
Interlude - Ruang Hitam
28
Chapter 25 - Kasus Gagal?
29
Chapter 26 - Princess Nekoya Inn
30
Chapter 27 - Kembali Pulang
31
Chapter 28 - Lembaran Misteri Dunia
32
Chapter 29 - Kontrak Promosi
33
Chapter 30 - Sisi Lain Internet
34
Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis
35
Chapter 32 - Ratu Iblis
36
Interlude - Langit Malam
37
Chapter 33 - Old Gang Tea Party
38
Chapter 34 - Private Detective Contractor
39
Chapter 35 - Maid Service
40
Chapter 36 - Antropologi Forensik
41
Chapter 37 - Analisis Berkelanjutan
42
Interlude - Ex-Demon Queen Council
43
Chapter 38 - Kekuatan 100 Keping Emas!
44
Chapter 39 - Sambutan Kecil
45
Interlude - Perjanjian Antar Player
46
Chapter 40 - Un-Wanted Kill
47
Chapter 41 - Social Stealth
48
Interlude - Can u stand in Friendly-Fire Line of sight?
49
Emergency Update
50
Chapter 42 - Detektif dan Asisten Detektif
51
Chapter 43 - Lorong Gua
52
Informasi & Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!