“Biar kuluruskan, kau ingin menjadikan mayat cucuku sebagai bahan percobaan dan mendatangi lokasi tempat kejadian?” Saintess Vallie sedikit terkejut setelah mendengar permintaan pemuda itu.
“Tentu saja” jawab singkat pemuda itu.
Saintess Vallie sedikit bimbang untuk mengambil keputusan ini. Menurut ajaran agama yang diyakininya, mengganggu tubuh seseorang yang telah mati merupakan perbuatan tabu dengan konsekuensi dosa yang besar. Dalam kepercayaannya, seharusnya mayat di beri penghormatan terakhir atas sisa hidupnya dan menguburkannya secara layak.
Tentu saja hal itu tidak berlaku pada pemuda di hadapannya. Bisa dibilang dia saat ini sangat tertarik untuk memeriksa mayat yang baru saja ditemuinya. Terlebih kondisi mayat itu masih segar, walaupun sebagian besar tubuhnya menghitam.
“Apa tidak ada cara lain?” Saintess Vallie mencoba untuk membujuk pemuda itu.
Pemuda itu memasang ekspresi datar dan berpura-pura tidak mendengar perkataan Saintess Vallie.
“Uji coba mayat.. rasanya sedikit keterlaluan.. bukankah harusnya mereka beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan lagi?”
“...” pemuda itu terdiam.
“Tunggu.. jangan bilang kau serius tentang hal ini?”
“...” pemuda itu masih saja terdiam.
“Kumohon.. apa pun itu.. bisakah kau tidak merusak tubuh salah satu cucuku itu.”
“...”
“Tolong.. biarkan untuk terakhir kalinya..” Saintess Vallie terlihat frustrasi dengan kata-katanya.
Beban di pikirannya sangat mudah dirasakan. Tentu saja karena tanggung jawabnya sebagai Saintess membuat dirinya begitu terikat dengan cucu-cucunya.
“Setidaknya.. biarkan dia tenang kali ini..” kali ini suara Saintess Vallie terdengar begitu lemah.
“...”
Pemuda itu masih saja menghiraukannya.
Ingatannya masih jelas tentang apa yang baru saja terjadi. Dengan kedua tangannya, dia membunuh salah satu NPC.
Sebenarnya, dia masih menyimpan dendam kecil karena diperalat untuk mengakhiri nyawa seorang NPC. Walaupun ini adalah dunia game, tetapi serangan mental yang diterimanya begitu besar. Karena ini pula, dia berencana untuk memeras Saintess Vallie dengan sejumlah bayaran yang cukup besar untuk ditukar dalam mata uang dunia asli.
Pemuda ini menyadari sesuatu, dia telah membunuh salah satu NPC tetapi status karakternya di masuk ke tingkat Wanted. Itu sedikit mengganggunya tetapi dia akan fokus pada masalah ini terlebih dahulu.
Saintess Vallie tertunduk lesu.
“Kau tahu, ada satu cara untuk itu” pemuda itu akhirnya membuka suara.
Saintess Vallie memandang pemuda itu.
“Berikan aku setidaknya beberapa sampel tubuh atau darahnya.”
“Darah?” Saintess Vallie sangat kebingungan. Dia mencoba memahami mengapa pemuda itu membutuhkan darah dari salah satu cucunya.
“Setidaknya aku ingin sampel darah pada bagian tubuh yang berbeda. Jika melihat dari kondisi tubuhnya yang rusak seperti itu tolong pisahkan beberapa bagian yang membusuk dan yang belum membusuk. Setidaknya, aku ingin tahu perbedaan keduanya.”
Saintess Vallie masih kebingungan.
“Untuk apa darah itu?” akhirnya Saintess Vallie menyerah pada kebingungannya dan memutuskan untuk bertanya.
“Tentu saja untuk bahan percobaan, bukankah aku sudah bilang itu sebelumnya.”
“Kau serius tentang hal itu?” Saintess Vallie memandangi pemuda itu dengan tatapan tajam.
“Tentu saja aku serius, seharusnya kau berterima kasih karena hanya sampel darahnya yang diambil bahkan dalam dunia forensik darah saja masih belum cukup. Informasi yang di dapat bisa saja kurang. Aku tertarik dengan kondisi darahnya pada tubuh yang seperti itu.”
“Fo-forensik?” wajah Saintess Vallie makin dibanjiri pertanyaan.
“Karena aku masih terlalu pemula untuk hal ini, setidaknya aku perlu banyak bahan untuk uji coba. Dalam hal ini, cucu mu itu sangat cocok.”
Saintess Vallie memegang kepalanya. Rasa pusing yang mendalam mulai menyerang kepalanya. Saat ini, dia begitu bimbang mengambil keputusan dari permintaan pemuda itu.
“Setelah kau membiarkannya dalam kondisi seperti itu, jangan bilang kau tidak tega melakukannya?” tanya pemuda itu.
“...” Saintess Vallie terdiam.
“Jangan lupa, karena kau tidak mau melepas penderitaannya. Dia jadi tersiksa seperti itu. Kau tahu.. itu sangat menyiksa dirinya. Hidup dalam kondisi seperti itu hanya dipenuhi rasa sakit.”
Ucapan pemuda itu memang benar. Dalam kondisi seperti itu, menambah harapan hidup untuk beberapa hari merupakan penyiksaan fisik dan mental secara tidak langsung, dia sekarang paham seberapa besar rasa sakit yang dialami cucunya itu.
Saintess Vallie tidak bisa berkata apa-apalagi. Dia hanya merasa bersalah karena menambah penderitaan salah satu cucunya.
Saintess Vallie kembali menatap pemuda itu, kali ini tatapannya sedikit lebih cerah dari sebelumnya.
“Apa dengan mengambil salah satu darah cucuku itu bisa mengetahui siapa pelaku dibalik semua ini?”
“Aku tidak tahu.. tetapi mungkin saja” pemuda itu membuka pengaturan daftar skillnya.
“Baiklah.. jika itu bisa membantu mu. Tetapi apa yang akan kau lakukan dengan darah itu?”
“Tidak apa-apa, hanya pemeriksaan kecil DNA saja.”
“DNA?” hanya melihat ekspresi Saintess Vallie, pemuda itu tahu bahwa Saintess tidak memiliki informasi tentang apa itu DNA.
“Baiklah nenek, saatnya pelajaran ringan untuk mu. Sejujurnya aku juga masih mempelajarinya tetapi kurasa kita bisa bersama-sama menggali informasi apa yang telah dialami cucu mu dengan menyelidiki darahnya. Terutama pada bagian tubuhnya yang membusuk.”
“...” tentu saja ekspresi wajah Saintess Vallie sangat muram ketika teringat cucunya itu.
“Pertama, kita mulai dari dasar dahulu. Apa itu DNA? DNA sendiri adalah kependekan dari deoxyribonucleic acid. DNA ini merupakan fondasi utama yang menyusun genetik individu yang bisa dipastikan ada di setiap sel tubuh manusia. DNA merupakan alat yang sangat luar biasa karena mampu membedakan setiap individu melalui rangkaian pita DNA terkecuali pada kembar identik, ada beberapa yang bisa membedakan kembar identik tetapi kita bisa lewati saja hal itu. Jika saja kita memiliki sampel DNA saja, itu bisa membantu menghubungkan pelaku, mengaitkan bukti pendukung, identifikasi korban, bahkan jika beruntung kita bisa mendapati kondisi fisik tersangka yang terkunci pada DNA yang tertinggal di lokasi kejadian.”
“Tunggu sebentar, kita bisa mengetahui pelaku hanya dari darah saja?” tanya Saintess Vallie.
“Tentu saja, tetapi jika kita menemukan ‘Biological Evidence’ dalam kasus ini darah milik pelaku. Tetapi untuk cucu mu ini mungkin kita bisa mengetahui mengapa tubuhnya bisa seperti itu setelah memeriksa darahnya.”
“Bagaimana cara kita menemukan darah milik pelaku?”
“Itu dia masalah utama kita, kejadian itu sudah berlalu hingga tiga hari bukan? Ada beberapa faktor yang memengaruhi DNA yang tertinggal pada lokasi kejadian yaitu suhu, kelembapan, bakteri, dan jamur. Aku ingin beberapa sampel darah karena tidak semua bukti DNA yang ditemukan dapat membantu penyelidikan bahkan profil DNA yang dihasilkan bisa saja rusak setelah beberapa hari dengan kondisi tempat yang tidak menentu terlebih dalam kasus ini darah. Dalam rekaman kristal itu setidaknya aku berharap dari semua mayat yang berjatuhan, salah satu diantaranya mampu melukai pelaku utama... kuharap.”
“Jadi itu tidak menjamin bisa menemukan pelaku?”
“Walaupun itu tidak menjamin tetapi masih bisa membantu penyelidikan dan mendapatkan informasi tambahan.”
“Tetapi, kau bilang ingin mendatangi tempat lokasi kejadian itu untuk apa?”
“Tentu saja untuk mencari bukti lain yang tersisa. Kuharap bisa menemukan bukti DNA lain atau sebuah petunjuk, aku berharap bisa menemukan biological evidence lain di sana. Darah cucu mu hanya bisa menjamin penyebab tubuhnya menjadi busuk.”
“Aku makin pusing.. bisa kita bicara perlahan-lahan” Saintess Vallie memegang kepalanya.
“...” pemuda itu terdiam.
“Oh, ada satu hal yang menggangguku. Mengapa aku harus berterima kasih karena hanya sampel darah yang diambil?” tanya Saintess Vallie.
“Karena ada sumber lain untuk mengambil DNA.”
“Jangan bilang itu, membedah mayat?”
“Well, aku tidak terlalu ahli untuk sampai tingkat itu tetapi ada sampel lain yang mengandung DNA kurang lebih seperti darah yang baru saja kita bahas, air mani, sel kulit, rambut, otot, sel otak, tulang, gigi, air liur, lendir, keringat, kuku, urine, feses, dan sepertinya ada lagi tetapi aku tidak tahu apa itu. Aku juga masih pemula di sini. Semua itu akan membantu identifikasi korban dan mengumpulkan informasi yang berdekatan dengan korban.”
“Mengapa ada banyak sekali?” tanya Saintess Vallie.
“Karena secara logis, tubuh kita terdiri dari berbagai macam material bukan? Jika kita mengambil contoh dari tempat ini. Untuk mencari tahu bagaimana tempat ini dibangun kita bisa mengambil beberapa bagian tempat ini mulai dari kayu yang menopang dinding, lapisan kecil batu yang berdiri kokoh sebagai penopang tangga, serta bagian lantai dasar keramik yang menyimpan material bahan dasar fondasi. Dengan bagian yang diambil itu, kita bisa memperkirakan bagaimana cara membangun tempat ini. Begitu pula dengan DNA, banyak penyusunnya hingga kita dimudahkan untuk mencari tahu bentuk apa yang disusunnya dari rangkaian penyusun DNA itu.”
“Aku.. makin.. tidak mengerti..”
“Yah, wajar saja. Karena ilmu ini pada dasarnya tidak ada di dunia ini. Bahkan aku sendiri ragu apakah bisa menemukan DNA lain. Mengingat.. banyak ras di dunia ini yang bukan manusia. Itu jadi menimbulkan pertanyaan baru bagiku, seperti apa bentuk DNA mereka?”
Saintess Vallie merasakan aura buruk mengenai ini. Dia lalu berdiri dan berjalan ke pintu keluar.
“...” pemuda itu memandangi Saintess Vallie yang diam-diam pergi ke pintu ruangan ini.
Saat Saintess Vallie membuka pintu itu, dua gadis berpakaian maid berdiri dengan posisi ingin mengetuk pintu ruangan.
Saintes Vallie tidak terkejut saat melihat kedua gadis tersebut seolah dia sudah tahu mengapa mereka berdiri di sana.
“Apa yang kalian lakukan selanjutnya?” tanya Saintess Vallie.
Kedua gadis itu saling memandang satu sama lain, dengan anggukan kecil mereka lalu menatap Saintess Vallie.
“Saintess Vallie, ijinkan kami mengurus mayat kakak kami” kedua gadis itu berbicara bersamaan.
Saintess Vallie memandang kedua gadis itu, “Jadi, kalian sudah tahu kondisi kakak kalian?”
“Tentu saja! terlebih saat mengetahui kondisi kakak seperti itu, tidak mungkin kami berdiam diri!” ucap salah satu gadis itu.
“Kalian berdua masuklah” Saintess Vallie mengajak kedua gadis itu memasuki ruangan.
Ketika dua gadis itu masuk, pandangan mereka teralihkan pada pemuda yang sedang duduk di sofa. Saintess Vallie duduk bersebelahan dengan pemuda itu dan disusul dengan mereka duduk berseberangan.
“Perkenalkan, mereka merupakan adik dari seseorang yang kau.. uh.. bagaimana cara menjelaskannya.. yang kau mintai tolong, mungkin?” sembari mengatakan itu Saintess Vallie memperkenalkan mereka.
“Viona Nala, senang bertemu denganmu, Guest177013.”
“Viera Nala, senang bertemu denganmu, Guest177013.”
Mereka mengatakan itu secara bersamaan, bukan hanya penampilan fisik mereka yang kembar tetapi perkataan mereka sepertinya saling terhubung satu sama lain. Apakah itu hanya sebuah kebetulan belaka untuk saudara kembar?
Pemuda itu kini memandangi mereka.
“Em.. ada yang bisa kubantu?” tanya pemuda itu.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu membuat salah satu gadis itu mengangkat tangannya.
“Maaf jika ini terkesan tidak sopan, apa kau yang membunuh kakak kami?” gadis itu bertanya sembari memandang mata pemuda itu. Tatapannya sangat dingin dan tajam bahkan membuat pemuda di hadapannya sedikit terkejut melihat reaksinya.
“Aku tidak menyangkal itu, apa kau keberatan?” balas pemuda itu.
“Tentu sajalah!” gadis itu langsung menjawab.
“Viona, cukup! Bahkan jika kakak tidak dibunuh, dia hanya akan makin menderita! Sihir pemulihan saja tidak memberi efek apa-apa” gadis disebelahnya menahan gerakan tangan yang ingin memukul pemuda itu.
“Viera, apa kau tidak dengar barusan? Dia mengakui telah membunuh kakak kita! Dan kau hanya membiarkannya begitu saja? Apa kau tidak peduli dengan kakak kita? Terlebih.. kau dengar bukan.. dia ingin melakukan sesuatu pada tubuh kakak kita!” gadis itu terlihat begitu marah bahkan kepalan tangannya sudah bersiap menghantam pemuda itu.
Ini menarik.
Gadis itu secara penampilan tidak ada bedanya tetapi sifat mereka berbeda satu sama lain. Sangat agresif dan pasif, kombinasi yang mengejutkan untuk dilihat.
Pemuda itu hanya tersenyum kecil melihat ini, sepertinya dia telah membuka kotak pandora yang hanya berisi masalah satu sama lain dan terus bertambah.
“Ini sangat lucu” kata pemuda itu.
Mendengar kalimat itu, kedua gadis itu memandangi pemuda itu.
“Apanya yang lucu?” nada suara gadis bernama Viona terdengar begitu kesal. Emosinya masih tertanam pada raut wajahnya.
“Tidak apa-apa, aku hanya teringat kejadian masa lalu saja.”
“Viona, tenanglah! Kita dengarkan penjelasannya dahulu. Walaupun ini pertama kalinya kita tahu jika darah bisa menjadi sebuah bukti untuk mengarah pada pelaku sebenarnya-“
“Itu hanya omong kosong Viera!” bantah Viona yang memotong perkataan Viera.
Pemuda itu terlihat menikmati sandiwara ini, bahkan dia sudah memastikan bahwa rencana untuk mendapatkan sebuah sampel DNA akan gagal dan lebih memilih untuk menikmati drama kecil ini.
“Tetapi Viona.. pemuda ini bukan dari dunia kita. Mungkin saja itu bisa terjadi!” kali ini Viera membantah perkataan Viona.
“!”
Pemuda itu terkejut dengan pemikiran gadis bernama Viera ini. Kesampingkan fakta bahwa ini dunia game, tetapi kualitas intelektual setiap NPC rupanya berbeda. Ini menjadi informasi penting untuk melihat seberapa jauh perkembangan NPC pada sebuah game.
Viera mungkin berpikir secara logika dan Viona menggunakan emosinya untuk bertindak.
“Kejadian yang seperti itu mana mungkin ada!” bantah Viona.
“...”
“...”
“...”
“...”
Suara Viona yang lebih besar membuat ruangan ini menjadi hening. Dia sama sekali tidak salah, kenyataannya memang seperti itu. Itu terjadi karena minimnya barang bukti yang ditemukan.
Tetapi, sekali lagi kedua gadis kembar itu saling beradu argumen kembali.
Di Samping mereka, Saintess Vallie hanya menutupi muka dengan tangannya. “Aku tahu ini akan terjadi” suara kecilnya terdengar hingga ke pemuda disebelahnya.
“Oh.. jadi ini bukan pertama kalinya mereka seheboh ini?” balas pemuda itu.
“I-iya.. begitulah..” Saintess Vallie sedikit canggung menjawabnya.
“Tentu saja mereka tidak tahu seberapa pentingnya itu biological evidence. Jika mereka tahu bahwa darah bisa menimbulkan dampak informasi tambahan yang besar, tentu saja mereka akan sadar mengapa ada pekerjaan untuk membersihkan lokasi kejahatan hingga bersih tidak meninggalkan bukti apa pun.”
“Sepertinya dunia mu begitu rumit, apa pekerjaan itu sepadan dengan bayarannya?”
“Tentu saja, membersihkan mayat, noda darah, goresan, itu sudah cukup untuk membuat penyelidik kepolisian kesulitan terlebih jika kondisi tempat kejadian di ruang tertutup.”
“Tetapi, jujur saja.. apa ada sebuah kasus kejahatan yang dapat diselesaikan dengan darah?” tanya Saintess Vallie.
“Tentu saja ada, sebenarnya ada kasus unik yang bahkan kau mungkin akan ragu untuk mempercayainya”
“Kasus apa itu?” tanya Saintess Vallie.
“Sebenarnya itu kasus pencurian mobil biasa, tetapi pemecahan kasus mereka sangat unik karena tersangka dituntun oleh seekor nyamuk.”
“Pencurian mobil? Nyamuk?” Saintess Vallie kebingungan.
“Oh, benar juga, aku lupa, di dunia ini tidak ada hal yang seperti itu ya?”
“Tentu saja! Dunia kita berbeda! Jelaskan dengan menggunakan logika dunia kami!” jawab Saintess Vallie yang sedikit kesal.
“Melihatmu yang seperti ini menarik juga, jika saja kau lebih muda mungkin aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Saintess Vallie terdiam.
“Apa kau sedang mencoba menggoda seorang Saintess?” tanya Saintess Vallie.
“Sial! Ketahuan!” jawab cepat pemuda itu.
“Kau harus lebih kreatif lagi untuk itu, pada masa mudaku, yang seperti itu sudah sangat biasa. Kembali ke topik utama! Jelaskan apa yang kau maksud itu! Jangan coba-coba memindahkan topik pembicaraan lagi!” kali ini ekspresi Saintess Vallie terlihat dipaksakan dengan tatapan serius tetapi rona merah diwajahnya terlihat jelas.
Pemuda itu akhirnya mengerti bagaimana karakter asli dari Saintess Vallie.
“Sebagai permulaan, apa di dunia ini ada serangga yang menghisap darah manusia?”
“Eh? Apa itu? Bukankah itu sangat mengerikan!”
“...”
“Kalian tinggal di dunia nyaman tanpa nyamuk rupanya. Enak sekali, aku sedikit iri dengan ini.”
“Jadi nyamuk ini serangga yang mampu menghisap darah manusia? Dan apa itu mobil?”
“Mobil sendiri merupakan kendaraan dengan empat roda disisinya.”
“Oh, seperti kereta kuda!”
“Ya, mungkin seperti itu.”
“Lanjutkan!”
“Bukankah kau terlalu terburu-buru?”
“Aku sedikit penasaran dengan kasusnya!”
“Baiklah, akan kulanjutkan.. menurut keterangan yang diberikan. Kejadian itu terjadi pada bulan Juni di negara Finlandia, kota Lapua. Mobil itu sendiri ditemukan berdekatan dengan stasiun kereta api Seinaejoki sekitar 25 kilometer dari lokasi awal mobil dicuri.”
“...”
“Kau tidak ingin menanyakan sesuatu?”
“Nama kota atau tempat tidak membuatku tertarik, tolong lanjutkan.”
“...”
“Setelah mobil itu ditemukan dan dilakukan investigasi secara menyeluruh. Mereka menemukan seekor nyamuk yang terlihat telah menghisap sebuah darah. Dengan temuan sekecil itu mereka mengirim nyamuk itu ke laboratorium untuk diuji dan menemukan darah yang dihisap nyamuk itu cocok dengan darah seorang pria yang tidak jauh tinggal di daerah itu. Setelah kejadian itu, mereka menetapkan tersangka dengan darah yang cocok di dalamnya untuk melakukan proses pengadilan. Bukti darah itu kemudian menjadi barang bukti persidangan, mereka bahkan mengakui untuk pertama kalinya serangga digunakan untuk memecahkan sebuah kasus. Untuk itu sampel DNA darah yang diambil dari nyamuk itu merupakan pemecahan kasus pencurian yang unik, karena tersangka hanya memiliki alibi mendapat tumpangan dari seorang pria yang mengendarai mobil tersebut, tetapi kebetulan seperti itu jarang terjadi bukan? Terlebih mobil itu sudah tercuri. Pencuri macam apa yang menawarkan tumpangan pada mobil curiannya?”
“Hey, jika saja kau memiliki sampel DNA dari cucuku itu. Apa bisa saja ada petunjuk yang mengarah ke pelakunya?”
“Mungkin saja, tetapi..” pemuda itu memandangi kedua gadis yang masih saja beradu argumen. “Dengan kondisi seperti ini sangat mustahil bukan?”
“Kau benar” Saintess Vallie setuju dengan perkataan pemuda itu.
“Oh, ngomong-ngomong, di mana lokasi kejadian itu? Mungkin aku bisa mencari petunjuk lain di sana.”
“Lokasi tempat itu ada di Boot Camp Servere, mungkin saat ini telah dijaga prajurit dari kerajaan.”
“Boot Camp Servere, nama yang tidak asing. Bukankah ini sebuah kebetulan?” pemuda itu teringat pada perkataan maid yang ditemuinya.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Hmm.. mungkin berkunjung ke Boot Camp Servere, Oh! Ngomong-ngomong.. bolehkah aku mendapat bayaran uang muka dahulu? Aku sedikit kehabisan uang sekarang.”
“...” Saintess Vallie memandang pemuda itu dengan sinis.
“Berapa yang kau butuhkan?” tanya Saintess Vallie.
“Jujur saja, jika kau ingin aku melakukan pengecekan DNA sekitar 30 Koin Ema-“
“30 Koin Emas!” Saintess Vallie terkejut mendengarnya.
“Well, karena aku tidak mendapatkan sampel DNA itu. Kurasa 15 Koin Emas sudah cukup menutupinya saat ini. Anggap saja itu sebagai uang muka, lagi pula mengecek DNA butuh waktu yang tidak sedikit dan kau pikir ada berapa ras di dunia ini?”
“Guh-“ Saintess Vallie sedikit tertekan.
“Aku hanya bisa membayarnya 10 Koin Emas untuk saat ini.”
“Itu tidak masalah” balas pemuda itu.
“Kau tidak keberatan dengan itu rupanya. Oh iya, aku akan mempersiapkan perjalanan mu ke Boot Camp Servere tetapi bisa kurangi jumlah bayaran mu?”
“Itu.. bisa diatur.”
Saintess Vallie dan pemuda itu berdiri lalu meninggalkan kedua gadis yang masih tenggelam dalam pertarungan argumen mereka.
Hingga pintu tertutup sekalipun, suara mereka masih saja tetap terdengar hingga luar.
“Kira-kira, sampai berapa lama mereka seperti itu?” tanya pemuda itu.
“Sepanjang hari” jawab Saintess Vallie.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
TK
jadi pengen buat kyk gini
2023-05-28
0
Lamy
cuma angka random kok
2023-05-08
0
Dr. Rin
gue yakin ini salah satu kode biadab nicknamenya
2023-05-08
0