Aku merasa sedikit gugup dan canggung saat tengah memilih pakaian, sebab mas Pandu sama sekali tak mengalihkan pandangannya padaku.
"Sudah mas" ucapku dengan ekspresi yang sedikit khawatir.
"Kok cuma tiga baju" sahut mas Pandu santai yang justru membuatku tercenung "Tidak kurang memangnya?" tambahnya masih sesantai tadi.
Padahal tadinya aku khawatir sudah ambil tiga baju dan bagiku ini berlebihan, tapi sebaliknya, dari kalimatnya yang tersirat, aku tahu dia menawarkan lebih.
"Sudah cukup" jawabku tak enak hati "Aku akan sering menghabiskan waktu di dalam rumah bukan, jadi tiga baju sudah cukup untuku. Aku cuma akan memakai ini ketika keluar rumah" lanjutku dengan gugup.
Mas Pandu yang hanya diam, sorot matanya kian sulit ku pahami. Dari ekspresi wajahnya ku lihat seperti terkejut, namun detik kemudian kembali dengan gestur santai.
"Mau kemana lagi?" tanyanya setelah keluar dari toko bertuliskan Uniqlo.
"Mas sendiri butuh apa?" tanyaku balik. Tangan kanannya terus menggandeng tangan kiriku. dan tangan lainnya memegang paperbag berisi baju yang baru ku beli.
Tak menjawab pertanyaanku, dia membawaku ke stand food and vegetable di lantai tiga.
Setelah selesai belanja berbagai macam bahan makanan dan buah, secara tiba-tiba mas Pandu membisikan kalimat yang membuatku gemetar.
"Aku akan jalan terlebih dulu, kamu ikuti aku dari belakang" bisiknya tepat di telingaku. Belum sempat aku menanyakan alasannya, tahu-tahu dia sudah berjalan sekitar tiga langkah di depanku. Dan aku menurut mengekor di belakangnya dengan hati yang penasaran dan takut tentunya.
"Apa ada musuh mas tadi?" tanyaku ketika kami sudah berada di dalam mobil.
"Ada Haikal tadi, asisten Alvin" jawabnya sambil menggeser tuas gigi ke paling kiri lalu mendorongnya ke depan.
"Siapa Alvin?" Aku di buat penasaran dengan pria ini. Ada begitu banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya.
"Dia temanku, tapi selalu melempar tatapan sinis padaku, dia juga selalu ingin merebut apa yang sudah ku miliki, dan akan membuangnya jika dia sudah merasa bosan" mas Pandu mengatakannya dengan pandangan fokus ke depan. "Kamu ja,,,"
"Padahal aku orang yang hampir tidak pernah melakukan kesalahan" aku memotong ucapannya "tapi harus hidup seperti buronan yang melarikan diri dari penjara"
Tak ada sahutan lagi dari mas Pandu, mungkin ucapanku ini bagai boomerang untuknya.
Aku menahan napas sesaat, lalu membuangnya secara kasar. Setelah lepas dari kekejaman tanteku yang menjadikanku mesin uang dan pembantu, justru hidupku kini terancam karena menikah dengannya.
Melempar pandangan ke sisi jendela sebelah kiri, tanganku saling meremat di atas pangkuan, aku benar-benar merasa frustasi dan hanya bisa pasrah menerima jalan takdirku.
****
Aku menatap layar ponsel di tangan, aku duduk menunggu di salah satu kursi dalam ruang kerja suamiku.
Sebuah foto bertengger di atas meja kerjanya, Pandanganku menatap foto manis milik mas Pandu dan seorang wanita cantik paruh baya. Dengan gerak cepat tanganku meraih foto itu, dan menatapnya penuh lekat, reflek ibu jariku mengusap wajah mas Pandu lalu berpindah pada wajah wanita ini.
"Apa kau Ibundanya mas Pandu?" gumamku lirih. "Kalian terlihat sangat bahagia" lanjutku sambil tersenyum.
Hingga lebih dari setengah menit netraku memindai bingkai ini, suara decitan pintu membuyarkan fokusku.
"Ngo ke lou bo "Nayla" kata mas Pandu pada staf kantor yang ku taksir jumlahnya lebih dari 10 orang. Mungkin mereka adalah karyawan terpenting yang di tugaskan oleh mas Pandu untuk membantu mengelola hotelnya. Entah apa yang mas Pandu katakan pada para karyawannya, aku hanya tahu jika namaku di sebut olehnya.
"Lei hou ma siu ce?" ucap salah satu dari mereka yang tidak ku tahu apa artinya. Dia mengatakannya seraya menundukan kepala.
Aku hanya diam sambil tersenyum, lalu melempar pandangan ke arah mas Pandu.
"Dia bertanya "apa kabar Nona". jelas mas Pandu memberitahuku.
Aku membalas dengan menundukan kepala, sebab aku tak tahu harus menjawab apa.
Setelah itu, sebagian dari mereka keluar ruangan dan menyisakan empat karyawan. Mas Pandu mungkin mempersilahkan duduk pada ke empat karyawan itu, terlihat dari tangannya menunjuk ke arah sofa.
Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, fokusku hanya tertuju pada mas Pandu yang dengan fasih berbicara menggunakan bahasa Cantonis.
Saat aku termangu menatapnya, tiba-tiba dia mencuri pandang padaku, membuatku seketika menunduk dan aku makin salah tingkah.
Setelah dari hotel, dia mengajaku mengunjungi beberapa restauran miliknya. Ada pria bernama Rondi asisten mas Pandu.
"Alvin sudah kembali Ndu" ucapnya.
Alvin pria yang di sebut mas Pandu saat di mobil. Karena di iringi rasa penasaran, aku menajamkan pendengaranku berusaha mendengar pembicaraan mereka dari jarak sekitar lima meter. Dua pria yang saling berhadapan, dan aku duduk di sofa pura-pura fokus dengan gawaiku.
"Apa dia memenangkan permainan megabucks di Las Vegas?" tanya mas Pandu dengan siku bertumpu di atas meja, dan jemarinya saling meremat.
Pria yang menjadi lawan bicaranya tampak mengangguk sebelum kemudian bersuara "Dia memenangkan permainan slot itu pada kesempatan ke sembilan. Dia meraup uang sebesar tiga puluh empat Milyar"
"Apa dia sudah menghubungimu?" tanya mas Pandu dengan nada datar khas miliknya.
"Sudah, dia menanyakanmu"
"Dia tidak tahu kalau aku sudah menikah kan?"
"Tidak" sahutnya seraya menggelengkan kepala.
"Sebaiknya kamu segera amankan Nayla, tidak menutup kemungkinan dia akan merebutnya darimu"
"Iya, lusa aku akan ke Hongkong mengantarnya"
"Semua sudah di siapkan oleh Clara, termasuk Visa dan juga pasport" kata Rondi "aku sudah memilih jalur laut untuk kalian menuju ke sana. Aku juga sudah menyuruh Clara untuk mengalihkan perhatian Alvin, dia akan bersama Alvin seharian agar tidak mencarimu"
Mas Pandu tampak menganggukan kepala, seolah paham dengan ucapan Rondi.
"Jam berapa perjalanan besok?"
"Sebelum jam delapan kita sudah harus di pelabuhan. aku akan menjemputmu pukul enam pagi"
"Baiklah" sahut mas Pandu "thanks Bro"
"Sama-sama"
*******
Setelah seharian menuruti mas Pandu mengunjungi dua hotel, dan empat restauran miliknya, Pikiranku kacau saat mengingat pembicaraannya dengan Rondi.
Selesai mencuci piring bekas makan malam, aku masuk ke dalam kamar. Tidak ku temukan mas Pandu di dalam sini, sepertinya dia masih di kamar mandi.
Aku memutuskan menyiapkan baju ganti setelahnya, aku duduk di depan meja rias lalu membersihkan make up selagi menunggunya keluar untuk bergantian mandi.
Tepat ketika aku selesai membersihkan make up di wajahku, Mas Pandu keluar dari arah pintu kamar mandi, dan sepasang mata kami bertemu pandang melalui pantulan cermin.
Pria ini benar-benar tak ada manis-manisnya. sekedar tersenyum tipis, apalagi romantis pun tak ada.
Ketika aku bangkit, tiba-tiba mas Pandu memelukku dari arah belakang, hal ini tidak pernah ku duga sama sekali. Saat aku kembali menatapnya melalui cermin, kulihat mas Pandu menyembunyikan wajahnya menempel di bahuku.
"Maafkan aku" lirihnya dengan suara sedikit teredam. "Jangan pernah merasa takut, aku akan selalu melindungimu" lanjutnya sendu.
Aku masih di buat bingung dengan sikap pria yang baru aku kenal, begitu gigihnya dia ingin melindungiku. Siapa sebenarnya laki-laki ini.
"Baju mas sudah ku siapkan, ada di atas tempat tidur" ucapku tenang yang sebenarnya menahan gelisah. "Aku mau mandi dulu"
Alih-alih melepasku, mas Pandu justru memutar badanku, lalu merangkum wajahku.
To be continue
*Ngo ke lou bo~ Istriku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Vina Suzanna
lanjuttttt 😄😄😄
2022-01-14
1
Nuah Lira
masih teka teki pandu dan nayla
2021-12-18
0
Ita Sinta
penuh misteri🤔
2021-12-04
0