"Jiangwu." ucapnya memperkenalkan diri pada dua orang yang terlihat sama. Dia baru melihat sosok kembar selama ini.
"kenapa aku tak pernah melihatmu sebelumnya?"
"aku baru masuk ke sini." ucap Zhang jiangwu menatap keduanya.
"dimana kelompokmu" tanya Voi melihat sekeliling yang kosong. Zombie pun tidak ada di sini.
"aku sendiri"jawabnya.
"hah? serius?" seru Penlu.
"ya,"
"...dari mana kau berasal?" Voi bertanya.
"sebuah desa."jawab jujur Zhang jiangwu.
"begitu..." Penlu melirik Zhang jiangwu.
"kau di sini untuk makanan?"
"ya, juga tempat untuk bermalam."
Penlu dan Voi mengangguk angguk paham. "kami akan mengambil makanan."
Kemudian keduanya berjalan ke mini market di sana. Ada beberapa cemilan yang di bawa. Juga air dan lain lain. Kedua orang itu membawa makanan di tas yang mereka bawa. Tas yang cukup besar.
"apa kalian akan keluar dan naik ke atas?" tanya Zhang jiangwu.
"ya, kami punya kamar di lantai tiga." ucap Voi.
"sebaiknya jangan." peringat Zhang jiangwu.
"huh, kenapa?" Penlu bingung.
"ada zombie di sana." kata Zhang jiangwu.
"mana mungkin. Lantai itu sudah bersih dari zombie." Kata Penlu datar.
"kalian mungkin tidak menyadarinya. Sebaiknya jangan." Zhang jiangwu kembali mengingatkan. Sebenarnya setelah menjadi zombie dia ada sedikit rasa tidak suka pada manusia.
"kamu tidak berbohong pada kami kan?" tanya Voi curiga.
"kalau kalian tidak percaya, ada lubang kecil di pintu. Kalian bisa lihat zombie yang berada di tangga." ucap Zhang jiangwu menunjuk pintu baja coklat yang sudah ia kunci dengan baik.
Penlu dan Voi yang penasaran kebenarannya berjalan ke pintu itu. Zhang jiangwu menghilangkan auranya sepenuhnya, sedangkan kedua orang yang penasaran itu mencari lubang. Ketika mereka menemukan dan Penlu mengintip dan menyipitkan matanya.
Penlu menyesuaikan kontras matanya. Ketika dia benar benar dapat melihat dengan jelas dia di kejutkan dengan mata putih zombie dan zombie itu mengarahkan mulut pucat berdarahnya pada Penlu. Penlu sontak mundur. Memegangi bahunya dan bergidik.
Zhang jiangwu entah kenapa menikmati wajah terkejut orang itu. Dia tersenyum tipis, sangat tipis sampai tidak dapat di lihat.
"WUUU, mengagetkan..." Penlu masih terbayang bayang pada gambaran dekat dengan zombie.
Voi melihat itu menjadi lebih penasaran. "hemm tidak ad-" badannya membeku atas apa yang ia lihat. Beberapa detik kemudian terdengar seruan Voi.
"benar benar adaa..." Dia awalnya hanya melihat kegelapan biasa di tangga besi itu. Namun entah dari mana sezombie muncul di depan matanya.
"untungnya kita belum keluar." ucap Penlu bersyukur. Lalu ia melirik orang yang tengah memakan dendeng sapi sampil bersandar di dinding putih beroleskan tanah dan darah berbentuk cakar. Begitu santai?
"terimakasih menghimbau kami. Tapi bagaimana kamu tau?" tanya Penlu. Orang itu di dalam ruangan dan sementara zombie di luar sana dan dia juga menebak itu dari atas. Jika penlu berfikir, Itu...sedikit aneh.
"kau bisa mendengar langkah kaki di atas dan aroma." Zhang jiangwu menjawab dengan nada datar. Kemudian dia menghabiskan dendeng sapi itu.
"dari jarak itu? dan aroma? bagaimana kau membedakannya?" voi memandang atap yang merupakan lantai tiga. Bayangkan jarak antara lantai dengan atap saja tiga sampai empat meter bagaimana dia mendengar dan mencium aroba yang jauh dan di batasi oleh tembok.
"kau akan tau jika kau sering bertemu dengan zombie dan berhadapan langsung dengan mereka." ucap Zhang jiangwu yang kini tengah mengambil ikan yang hampir busuk.
Zhang jiangwu mengeluarkan robot bola yang sebelumnya menjadi gelang putih di tangannya yang putih pucat.
Zhang jiangwu dengan cepat mengetik semua apa yang ia butuhkan dan program untuk robot bolat putih seukuran bola basball.
Penlu dan Voi yang melihat benda yang tadinya seperti gelang putih itu berubah terkejut dan kagum. Apalagi proses saat mereka berubah begitu menakjubkan. Seperti sebuah partikel yang menyatu. Zhnag jiangwu yang tiba tiba mengetik dengan sangat cepat juga membuat mata mereka melihat kecepatannya dalam mengetik.
Mereka tidak terlalu mengerti pemograman namun mereka tau sedikit bahwa ia sedang dengan cepat membuat program dalam robot bola putih itu.
Bola putih dengan cepat melayang di atas kulkas yang biasa di mini market. Dia mengeluarkan sinar biru dan sinar itu bergerak dua kali dari ujung kanan freezer ke kirinya. Mescan freezer itu.
Dengan waktu satu menit daging dan makanan dalam freezer menjadi beku dan segar.
"Woah, bagaimana itu melakukannya?" Penlu menatap isi freezer.
Zhang jiangwu hanya tersenyum menanggapi. Dia mengambil ikan tuna yang sudah segar kembali. Dia adalah orang yang sedikit memilih dalam hal makanan.
Setelah menimbang bau dan tekstur dia akhirnya memakan ikan itu secara langsung. Tanpa di cuci dahulu apalagi di masak.
Zhang jiangwu mengunyah ikan tuna menjadi lembut di mulutnya dengan cepat. Dia menelan ikan itu dan mengambil satu potong tersisa. Dia makan dengan cepat dan mengucah dengan cepat juga.
Tiba tiba bola putih itu bergerak kembali setelah menyelesaikan tugasnya menyegarkan makanan dirinya. Dia kembali menjadi gelang putihnya dengan bentuk jam tangan.
"aku belum pernah melihat robot semacam itu. Diamana kau membelinya sebelumnya?"
"aku membuatnya." Zhang jiangwu masih sedikit lapar jadi dia mencari makanan yang dia sukai di sana.
Jajanan ringan udang yang masih awet dia ambil dan dia sobek bungkusnya dan membuka isinya. Dia mencomot dan mengambil keripik berbentuk persegi dengan bumbu seperti rasa udang yang manis dan pedas dan tidak berbubuk namun agak lengket karena gulanya.
Zhang jiangwu bersandar di sofa dan melihat keluar gedung yang dimana fasilitas kota banyak yang rusak dan kesepian dan sunyi. Walau masih siang namun sudah sangat menyeramkan. Memang betul orang yang mengatakan kesepian adalah hal yang menyeramkan.
Penlu dan Voi saling menatap kemudian menatapp Zhang jiangwu yang terlihat sangat santai atas situasi. Dia mengisi kesunyian di ruangan dengan suara 'krek' dari keripik yang ia gigit dan makan. Makanan itu di kunyah dan memngisi ruangan dengan suara 'krauk krauk'.
Suasana semakin canggung. Penlu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya dan mengisi pembicaraan, dia tak tahan dengan ke sunyian!
"kenapa kau ke kota A?" tanya Penlu.
"akan ada tentara militer yang kemari." Zhang jiangwu tidak mengalihkan pandangan dari melihat luar jendela.
"militer? darimana kau mendengar?" tanya Voi penasaran. Kakaknya merupakan jendral militer. jadi dia berfikir, apakah kakak datang menjemputnya dan mencari tau keberadaan kita berdua?
Dia bertanya tanya. tapi dia bahagia karena tidak harus di sini berdua saja dengan Penlu.
"radio. apa kau tak memilikinya?" Zhang jiangwu memandangnya.
"tidak." Voi menggaruk belakang kepalanya. Kenapa dia seperti merasa agak bersalah hanya karena tidak punya radio?
"wajar saja...anak mami berbeda~hanya memiliki handphone internet..." Zhang jiangwu meledek bercanda sambil memakan kembali keripiknya.
Di zaman ini semua orang di haruskan membunyai radio berbentuk jam tangan atau kotak kecil untuk membudayakan mendengar radio. Dan kebanyakan itu untuk orang orang supaya tidak terlalu mengandalkan hp yang canggih dan menjauhkan sedikit dari internet.
Jadi kalau orang yang sudah berada tujuh belas ke atas tidak memiliki radio di pigang sendiri menandakan mereka belum mandiri. Seperti itulah budaya zaman ini.
Muka keduanya memerah karena malu dan marah oleh ucapan Zhang jiangwu.
"kami bukan anak mami!" seru keduanya membantah dengan pipi merah dan mengembung.
"heh," kekehnya sembil mengangguk angguk mengiyakan dan percaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
nurul az-zahra
membayangkan jika ada ballbot di samping kuuu
2021-12-03
0