Happy reading.....
〰〰〰〰〰〰
“Tuan Muda, Tuan Muda tenang ya.....?” Ibu Marsih yang merupakan istri Pak Abdul itu mencoba menenangkan Anthony yang sudah terisak dengan tubuhnya yang gemetar, saat dia berikut Anthony, Pak Abdul dan anak lelakinya sudah masuk ke dalam gudang dan bersembunyi disana.
Ibu Marsih mengelus – elus dada Anthony, sementara Pak Abdul dan anak lelakinya mengunci pintu gudang sambil mengambil barang untuk membantu menahan pintu agar sukar dibuka dari luar. Setelahnya mereka mengambil tempat di salah satu pojokan gudang dengan membiarkan lampu gudang tetap mati.
Pak Abdul dan anak lelakinya ikut menenangkan Anthony.
“Gimana ini Pak, Tuan Muda kan tidak mengerti bahasa kita?” Ucap Ibu Marsih.
Pak Abdul menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia sama bingungnya dengan sang istri yang kebingungan untuk berkomunikasi dengan Anthony. “Bapak juga bingung Bu”
Anak lelaki Pak Abdul dan Bu Marsih nampak sedang berpikir. “Mmm...”
“Kamu tidak tahu sedikit apa Su, bahasa ini orang bule?” Ucap Bu Marsih seraya bertanya pada anak lelakinya.
“Mmm... Mister ... Mister Anthony... doon krai...”
Suheil menggaruk kepalanya sendiri. Ia sedang mencoba mengingat kosakata bahasa Inggris yang ia tahu karena pernah dengar saat di tempat bekerjanya dulu.
“Ssstt oke ...?”
Suheil menaruh telunjuk di bibirnya sendiri, berharap Anthony paham maksudnya. Dan bocah itu nampak paham, karena Anthony mencoba menghentikan isakannya, namun tubuhnya masih terasa gemetar.
“Kasihan Tuan Muda Antoni, dia ketakutan Pak”
“Iya ...”
“Tenang ya anak tampan”
“Tuan Putra memang punya musuh Pak?. Mereka kan baru pindah disini. Orang – orang sekitar sini juga belum tahu kalau rumah ini sudah ada penghuninya” Ucap Suheil dengan berbisik.
“Ya sudah kita jangan ikut campur Su. Kita disini untuk bekerja dan mengabdi pada Tuan Putra dan semua yang tinggal disini. Tuan Putra kan sudah menolong kita. Jadi kita hanya ikut perintahnya saja. Kita disuruh jaga dan lindungi Tuan Anthony. Ya ini yang penting sekarang”
“Iya Pak” Sahut Suheil patuh pada ayahnya.
“Bapak kamu benar Su. Nanti juga kita akan tahu. Tuan Putra pasti cerita sama kita kalau dia memang percaya sama kita orang”
“Iya Bu”
“Ya Alloh Gusti .... mudahan Tuan Putra dan Tuan Damian, Geret sama Nona Bruna selamet”
Ibu Marsih kemudian mendekap Anthony dengan penuh kasih. “Iya, Aamiin”
***
“Sstt...”
Pak Abdul mengkode agar istri dan anak lelakinya diam, karena ia ingin mempertajam pendengarannya atas situasi di luar gudang.
Hening saja, dan Pak Abdul beserta keluarganya tetap bungkam.
Ibu Marsih masih mendekap Anthony yang tidak lagi terisak, namun sesekali air matanya itu menetes jatuh kepipinya yang langsung diseka oleh Ibu Marsih dengan rasa hati yang tak tega. Namun jantung Pak Abdul berikut istri dan anak lelakinya seketika seolah berhenti saat mereka mendengar suara tapak kaki dari sebuah alas kaki yang semakin lama semakin mendekat ke gudang.
***
“How many cars? (Ada berapa mobil?)” Tanya Putra pada Damian yang sedang mengintip dari balik gorden dalam ruang tamu Villa.
“Two (Dua)”
“Seems that they want to get out from the car (Sepertinya seseorang akan keluar dari dalam mobil)” Damian berbicara lagi sambil berbisik pada Putra dan mereka masih mengamati ‘tamu’ yang belum turun dari dalam mobil.
“Where Bruna and Garret? (Dimana Bruna dan Garret?)” Tanya Putra dengan juga berbisik karena tadi tak sempat memperhatikan kemana Bruna pergi setelah sempat menyambanginya ke kamar untuk memberitahukan perihal ‘tamu’ mereka.
“They stand behind (Mereka berjaga dibelakang)”
Damian memberitahukan dan Putra langsung mengangguk.
Lalu mata Putra dan Damian kembali memperhatikan dua mobil di halaman depan tempat tinggal mereka itu dan seseorang sudah turun dari dalam mobil.
“He .... (Dia)...” Putra menggumam.
“Isn’t he The Restaurant’s Manager? (Bukankah dia Manajer Restoran itu?)” Ucap Damian sembari matanya tetap memperhatikan selain siaga dan waspada seperti Putra.
Putra dan Damian menyiapkan senjata mereka. “See? My instinct is often right (Lihat? Insting ku seringnya benar)”
Putra berkata dengan senjata yang sudah siap ditangannya. Damian pun sama.
***
Mata Putra dan Damian masih waspada memperhatikan orang yang mereka kenali sebagai Manajer Restoran yang mereka singgahi kemarin dan nampak membukakan pintu mobil yang satunya setelah ia keluar.
“I can’t believe my eyes ... (Aku rasanya tak percaya)...”
Putra seolah tak percaya dengan yang dilihatnya begitupun Damian yang membulatkan matanya.
Putra dan Damian saling tatap dengan cepat.
“Is that really him, Putra? (Apa itu benar – benar dia, Putra?)”
Damian bertanya pelan setengah bergumam melihat seorang pria yang tak jauh berbeda usia dengan mereka, turun dari mobil yang ditumpangi si Manajer Restoran tersebut.
Putra dan Damian bergeser menuju pintu dari tempat mereka sekarang. Namun senjata mereka masih disiagakan.
“Raise your hand where I can see it .... (Angkat tanganmu dimana aku bisa melihatnya)” Putra dan Damian sudah dengan cepat membuka pintu utama Villa dan kini mengarahkan senjata mereka pada ‘tamu’ yang ada di halaman depan Villa.
“What a warm welcome, huh? (Sungguh penyambutan yang hangat, huh?)” Ucap Pria yang turun dari mobil setelah si Manajer Restoran.
“Who knows if you probably, already change side, hem? (Siapa yang tahu jika kau mungkin sudah berpindah kubu, hem?)”
“Heh! You both go to hell! (Heh! Pergilah kalian berdua ke neraka!)”
Pria itu menyahut santai dengan wajahnya yang meremehkan.
“*Now can I put down my hand?. You bas*rds make my hand feel sore! (Sekarang bisakah aku turunkan tanganku?. Kalian para ba**ngan membuat tanganku pegal!)”
Putra dan Damian kemudian terkekeh. Putra menggeleng pelan.
“A Boss now, huh? (Jadi Bos sekarang, heh?)” Sindir Putra namun senyuman tersungging di bibirnya.
“Envy huh? (Iri heh?)”
Putra yang sudah menurunkan senjatanya begitu juga Damian pun terkekeh.
“Damned, A .... (Sial, A ....)”
“AD!!!”
Tiba – tiba Bruna muncul bersama dengan Garret dari dalam Villa dan Bruna langsung berseru kemudian berlari ke arah pria yang ternyata adalah Addison.
“I think we missed something (Kurasa kita melewatkan sesuatu)”
“I believe so (Kurasa begitu)”
Putra dan Damian menyunggingkan senyum, termasuk juga Garret saat melihat Bruna yang tadi berseru dengan wajah terkejut saat melihat kehadiran Addison dan wanita muda itu langsung berlari dan berhambur ke pelukan Addison dengan sangat antusias.
Dan Addison nampak menerima Bruna dengan wajah yang nampak lega, memeluk wanita muda itu sambil memejamkan matanya dengan erat mendekap.
**
Setelah mempersilahkan Addison dan orang – orangnya masuk, Putra langsung teringat pada Anthony dan ia menyegerakan langkahnya untuk menuju gudang Villa , tempat dimana ia menyuruh Pak Abdul dan keluarganya yang bersama Anthony bersembunyi disana.
Putra sudah sampai di depan pintu gudang, lalu memperhatikan sejenak memperhatikan lampu gudang yang mati. Tangan Putra sudah menggenggam pegangan pintu gudang dan menekannya kebawah. Terkunci.
Putra mencoba mendorong pintu gudang dengan kuat.
“Pak Abdul, ini saya”
“Oh Ya Alloh Tuan Putra..”
Pak Abdul dengan spontan berhambur ke tubuh Putra setelah ia membuka pintu gudang dengan dibantu anak lelakinya. Rasanya hati Pak Abdul lega bukan main saat melihat Tuannya itu tidak kenapa – kenapa.
“Tuan tidak apa – apa?...” Tanya Pak Abdul yang seolah sedang memeriksa Putra dengan menelisik melalui matanya sambil tangannya menyentuh tangan dan pundak Putra dengan antusias tanpa sadar.
“Pak!” Suheil memanggil ayahnya yang sedang sibuk memeriksa keadaan Tuan mereka yang sedang menyunggingkan senyumnya.
“Eh!” Pak Abdul tersadar “Ma – maafkan saya Tuan”
“Tidak mengapa Pak Abdul. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya” Ucap Putra ramah sambil menepuk nepuk pelan pundak Pak Abdul. “Anthony mana?”
“Itu Tuan. Tuan Muda sangat ketakutan. Dari tadi ga mau lepas memeluk Marsih” Ucap Pak Abdul menunjuk sang istri yang masih duduk ditempatnya sambil mengelus – elus punggung Anthony yang memang sedang memeluknya itu.
Putra mengangguk dengan masih tersenyum lalu melangkah masuk mendekati Anthony yang sedang memeluk Ibu Marsih. “Anth...”
Putra menyentuh punggung Anthony dan bocah itu langsung melepas pelukannya dari Ibu Marsih dan menatap Putra dengan mata kecilnya yang berkaca – kaca.
“I am so sorry for making you afraid, hem? (Maafkan aku sudah membuatmu takut, hem?)”
Putra mengelus kepala Anthony yang masih dalam pangkuan Ibu Marsih.
“Don’t leave me .. (Jangan tinggalkan aku..)..”
“Oh Anth..”
Putra mendekap Anthony dengan haru saat bocah itu kemudian berhambur memeluknya dengan sangat erat sembari mulai terisak dan air mata Anthony sudah jatuh lagi.
Putra menciumi kepala Anthony dengan bahagia. Setelah sekian lama, Anthony akhirnya bersuara kembali. Dan bocah itu memintanya agar jangan pergi.
“Don’t leave me .. (Jangan tinggalkan aku..).. Please don’t leave me.. (Tolong jangan tinggalkan aku ..)”
“I won’t Anth.. I won’t .. (Tidak akan Anth .. Tidak akan ..)”
*
“For how long Anth become like that?* (Sudah berapa lama Anth seperti itu?)” Tanya Addison setelah Putra membawa Anthony untuk beristirahat di kamarnya.
“Since he woke up from his comma (Sejak dia terbangun dari komanya)”
“He what?! (Dia apa?!)”
“Jaeden try to kill Anth by drowned Anth (Jaeden berusaha membunuhnya dengan menenggelamkan Anth). He was hardly hit before got drowned and a little bit stay long under water (Dia dipukul dengan keras sebelum ditenggelamkan dan berada sedikit lama dalam air)”
“Monster!” Addison nampak geram.
“Even worst .. (Bahkan lebih buruk)..”
“Ya you were right (Ya kau memang benar)”
“So, any information about that lowly creature? (Lalu, ada informasi tentang makhluk rendahan itu?)”
“He noticed you and I am pretty sure that he must be fixed thinking it is you who killed Yanni (Dia mengingatmu dan aku yakin dia meyakini dan berpikir kalau kaulah yang sudah membunuh Yanni)”
“And? (Dan?)”
“I put someone trusted in Kingsley’s Mansion. She will inform me everything that she might found or heard about Jaeden and every single thing that he is doing”
“(Aku menyusupkan seseorang yang sangat dapat dipercaya ke Kediaman Kingsley. Dia akan menginformasikan segala hal yang ia temukan atau dengar tentang Jaeden dan setiap hal yang sedang dia lakukan)”
Putra manggut – manggut.
“And now, Jaeden is spread his men to find you (Dan sekarang, Jaeden mengerahkan orang – orangnya untuk menemukanmu)”
*
To be continue..*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
Lastri Rahma Fitri
mak.....kok bisa sih bikin novel sekeren ini,awal nya aq fikir novel ni nggk se rame the smith,eh ternyata dad anthony punya banyak uncle yng lindungi dia,kayak andrea yang punya banyak dad and mom yng sayang ama dia,satu lagi...aq br tau kalau nama adjieran itu diambil dr nama uncle putra ya,jadi anthony adjieran smith.duuuhhhhh makin kagum ama keluarga smith,dari jaman nya dady rery sampe jaman nya poppa emang selalu kompak.jangan lama" up nya ya mak.
2021-12-01
6