Happy reading...
‘His face looks familiar.. (Wajahnya terlihat tak asing)’ Batin Putra.
“What is it Putra? (Ada apa Putra?)” Tanya Bruna pada Putra yang nampak seperti melamun setelah Manajer Restoran itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
‘It was just my feeling if that man was noticed my face? (Apa hanya perasaanku saja kalau pria itu memperhatikan wajahku?)’ Putra larut dalam pikirannya hingga mengabaikan pertanyaan Bruna.
“Putra?”
“Hemm?..”
“What is it? (Ada apa?)” Tanya Damian.
“Nothing. Just a little bit tired (Bukan apa – apa. Hanya sedikit lelah)”
****
Putra dan lima orang yang bersamanya sudah sampai di Villa tempat tinggal baru mereka.
“Terima kasih Pak Abdul, silahkan beristirahat” Ucap Putra.
“Saya yang harusnya berterima kasih Tuan”
Pak Abdul sedikit membungkuk hormat pada Putra yang sedang menggendong Anthony yang nampak terlelap.
“Terima kasih sudah memperlakukan saya dengan baik. Bahkan sampai membawakan ini untuk istri dan anak saya”
Putra menampakkan senyumnya.
“Sudah dikatakan Pak Abdul tidak perlu sungkan”
“Iya Tuan. Terima kasih sekali lagi” Ucap Pak Abdul sopan, kembali menundukkan sedikit badannya.
“Terima kasih kembali. Silahkan beristirahat” Sahut Putra.
“Saya permisi kalau begitu, Tuan Putra, Tuan Damian, Tuan....”
“Garret namanya” Sambar Putra yang melihat Pak Abdul masih belum hafal Garret dan Bruna. “Nona ini bernama Bruna” Putra kembali mengingatkan nama Bruna dan Garret pada Pak Abdul.
“Baik. Saya permisi Tuan Putra, Tuan Damian, Tuan Gar-ret dan Nona Bruna”
Ke empat orang itupun mengangguk sembari tersenyum pada Pak Abdul.
“Selamat beristirahat. Jika membutuhkan sesuatu silahkan memanggil saya kapanpun Tuan” Ucap Pak Abdul.
“Iya terima kasih”
“Have a good rest everyone (Selamat beristirahat semua)” Ucap Damian yang kemudian berpamitan untuk pergi ke kamarnya duluan.
Sisanya pun mengikuti tak lama kemudian.
**
‘Could it be ..?.... (Mungkinkah ....?) ...’
Mata Putra tidak bisa terpejam meskipun ia merasakan sedikit letih pada tubuhnya.
Ada yang sedang mengganggu pikiran Putra sejak di Restoran tempat dirinya dan rombongan singgah. ‘That man, I thought that I ever saw him before. But where? ... (Laki – laki itu, aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?..)’
Putra membatin lagi.
‘Is he Jaeden’s man? (Apa dia orangnya Jaeden?)’
Putra berpikir.
‘Is Jaeden found out that Anth is still alive? (Apa Jaeden sudah tahu kalau Anthony masih hidup?)’
Putra menggeleng pelan.
‘No. People at Ravenna are trusted (Tidak. Orang – orang di Ravenna sangat bisa dipercaya). They will help consider Rery (Mereka pasti menolong terkait Rery). But Jaeden also know me (Tapi Jaeden juga tahu tentangku)’
Putra berpikir keras.
‘Is he guess that was me who killed Yanni since I wan not with Rery when he killed him, Madelaine, Yann, Clarence and Haig? (Apa dia sudah menduga kalau akulah yang menghabisi Yanni karena dia tidak melihatku saat di membunuh Rery, Madelaine, Yann, Clarence dan Haig?)’
Putra masih berpikir keras, dan kini memandangi Anthony yang sudah terlelap di atas ranjang milik Putra.
‘Even so, Jaeden will never thought about this place, not even this country (Meski begitu, Jaeden tidak akan pernah kepikiran soal tempat ini ataupun negara ini). But who was that man? (Jadi siapa laki – laki itu?)’
Putra teringat Manajer Restoran tempatnya singgah tadi yang ia perhatikan, kalau sang Manajer tersebut nampak juga mencuri – curi pandang memperhatikannya.
Insting Putra seperti bekerja otomatis jika ada sesuatu yang janggal di dekatnya.
‘I need to find out (Aku akan mencari tahu )’ Putra meyakinkan dirinya.
**
Putra tidak dapat tidur dengan nyenyak semalam. Saat sarapan tiga rekannya yang melirik pada Putra menyadari hal tersebut.
“What’s wrong Putra? (Ada apa Putra?)”
“Nothing (Tidak ada apa – apa)”
“Tsk! Like we just know you (Seperti kami ini baru mengenalmu saja)”
“You seems anxious since yesterday (Kau sepertinya nampak gelisah sejak kemarin)”
Damian dan Bruna bersuara.
“Something disturb your mind? (Ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?)” Tanya Garret .
Putra tidak langsung menjawab. Menatap tiga orang yang tadi mengajaknya bicara seraya bertanya.
Putra mengangguk sangat pelan, lalu melirik Anthony. Damian, Bruna dan Garret yang memang sedang memperhatikan Putra pun melihat anggukan Putra sekaligus kode matanya yang menyiratkan tidak sebaiknya dibahas sekarang karena ada Anthony.
Ketiga orang itu pun seketika langsung paham. Lalu melanjutkan sarapan mereka dalam diam, dan sesekali mencoba mengajak ngobrol Anthony, meski bocah itu masih bergeming.
***
Putra langsung menuju ruang baca yang merangkap ruang kerja di Villa setelah memenuhi segala kebutuhan Anthony di kamar. Bocah itu memang seolah tidak ingin pergi ke tempat lain selain kamar Putra setelah dari ruang makan bila waktu makan tiba. Itupun dengan digendong oleh Putra dan didudukkan disana, kemudian diarahkan untuk makan.
Putra meninggalkan Anthony di kamarnya dan meminta Pak Abdul untuk menemani sekaligus menjaganya. Sementara itu istri Pak Abdul kini juga sudah ikut bekerja di Villa untuk melayani tiga Tuan dan satu Nona dan satu Tuan Muda dalam Villa.
Dan anak laki – laki Pak Abdul juga kini sudah dipekerjakan oleh Putra untuk menjadi supir pribadi mereka, sekaligus membantu kedua orang tuanya untuk mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan para Tuan dan satu Nona yang tinggal di Villa tersebut.
“So what was wrong Putra? (Jadi ada apa Putra?)” Tanya Damian saat Putra sudah bergabung dengannya, Bruna dan Garret di ruang baca.
“You have something in your heart, don’t you? (Kau sedang ada ganjalan dihatimu, bukan begitu?)”
“Yes I am (Iya memang)” Sahut Putra pada Damian dan Bruna.
“What is it? (Apa itu?)”
“Is there something that we missed behind? (Apa ada hal yang kita lewatkan dibelakang?)”
“I am sure not. But ... (Aku yakin tidak. Tetapi)..”
Putra menggantungkan ucapannya.
“But what? (Tapi apa?)” Tanya Garret penasaran sama seperti Damian dan Bruna.
“I am impeach something .. (Aku mencurigai sesuatu) ...” Ucap Putra sembari nampak seolah berpikir.
Damian, Bruna dan Garret spontan saling tatap lalu kembali lagi menatap Putra. “Tell us (Katakan pada kami)”
Damian berucap.
“Someone actually (Seseorang sebenarnya)” Ucap Putra lagi.
“You mean... (Maksudmu..)”
“Stupid! Not Pak Abdul and his family (Bodoh! Bukan Pak Abdul dan keluarganya)”
Putra menyanggah pemikiran Damian yang ia tahu mengarah pada Pak Abdul.
“Who knows, right? (Siapa tahu?)” Sahut Damian sambil mengendikkan bahunya.
Putra menggeleng. “I already find every information of him before I hired him to work for us here. Nothing is wrong with him and his family also (Aku sudah menggali setiap informasi tentangnya sebelum aku mempekerjakan nya
untuk kita disni. Tidak ada yang salah dengannya begitu juga keluarganya)”
“......”
“Beside, his parents was served my parents. And they were very loyal (Lagipula, orang tuanya pernah bekerja pada orang tuaku. Dan mereka sangat setia)”
“Then what is something and who is someone that you are getting suspicious? (Lalu apa itu sesuatu dan siapa seseorang yang membuatmu merasa curiga?)”
“The Restaurant’s Manager (Manajer Restoran)” Sahut Putra.
“The Restaurant’s Manager?”
Putra mengangguk menanggapi pertanyaan tiga orang yang bersamanya.
“Yes (Iya)”
“But why? (Tapi kenapa?)”
“I noticed him, like he was keep an eye on me (Aku memperhatikan, dia seperti sedang mengamatiku)” Jelas Putra.
Damian, Bruna dan Garret terdiam sejenak.
“Are you sure about it? (Apa kau yakin akan hal itu?)”
“That what I was thinking (Itu yang sedang ku pikirkan)” Jawab Putra.
“You think he has a connection with Jaeden? (Apa kau berpikir dia ada hubungannya dengan Jaeden?)” Ucap Damian seraya bertanya sambil mengelus – elus dagunya sendiri.
“Jaeden never know my parents. My Father was pass away before he came into Kingsley’s life. The only person that Jaeden know as Kingsley trusted man is your Dad, Dam. But since you never be at England nor around of your father, Jaeden won’t ever thought it is you who bring Kingsley’s will to Rery”
“(Jaeden tidak pernah tahu tentang orang tuaku. Ayahku sudah meninggal sebelum Jaeden muncul disisi Kingsley. Satu – satunya orang yang ia tahu sebagai orang kepercayaan Kingsley adalah ayahmu. Tapi sehubungan selama ini kau jarang sekali berada di Inggris ataupun dekat dengan ayahmu, Jaeden tidak akan menduga kalau kaulah yang membawa surat wasiat Kingsley pada Rery)”
“.....”
“But me, Jaeden knows that I am Rery’s trusted person. He knows my face, and I was not there when he killed Rery, Madelaine, Clarence, Yann and Haig. So about Yanni’s death he must be thought it was me”
“(Tapi aku, Jaeden tahu pasti kalau aku orang kepercayaan Rery. Dia tahu wajahku, dan aku tidak disana saat dia membunuh Rery, Madelaine, Clarence, Yann dan Haig. Jadi soal kematian Yanni dia sudah pasti menduga kalau itu
perbuatanku)”
“So you worried that you left a trace and Jaeden finally knows that you are here? (Jadi kau khawatir kalau kau meninggalkan jejak dan Jaeden akhirnya tahu kalau kau ada disini?)”
“I am pretty sure that no such trace I left and lead Jaeden here(Aku sangat yakin tidak ada sedikitpun jejak yang aku tinggalkan dan mengarahkan Jaeden kesini)”
“Then why you need to be worried? (Lalu mengapa kau harus khawatir?)” Timpal Garret.
“I don’t know (Entahlah). I just feel that maybe I ever saw that man before. The Restaurant’s Manager (Aku hanya merasa kalau mungkin aku pernah melihat pria itu sebelumnya. Manajer Restoran itu)”
“You have been very worried about Anth, Putra. Then you seems become kind of paranoid (Kau teramat sangat khawatir tentang Anth, Putra. Jadi sepertinya kau sedikit paranoid)” Ucap Bruna.
Putra manggut – manggut. “Maybe (Mungkin)” Sahutnya kemudian.
“Maybe the reason why that Manager noticed you, is because he never see your face as the Restaurant’s guest (Mungkin alasan dia memperhatikanmu, karena dia tidak pernah melihatmu datang sebagai tamu Restoran sebelumnya)”
“That Town is not a big town, and I think people know as rich person or family still countable. And because of that, the Manager must be noticed every guest (Kota itu bukan kota besar, dan aku pikir orang – orang yang terkenal
dari kalangan atau keluarga kaya masih dapat dihitung. Dan karena itu juga, Manajer itu hafal setiap tamu)”
“You know some people quite ‘want to know’ if there is a new person in the block especially if a man like you, Putra. Young, rich and handsome (Kau tahu beberapa orang terkadang ‘suka ingin tahu’ jika ada orang baru dalam
komunitas terutama jika ada pria seperti kau Putra. Muda, kaya dan tampan). Just like me also, right? (Seperti aku juga, bukan?)”
Ke empat orang yang sedang berdiskusi itu pun spontan terkekeh bersama.
“But I still not feel peaceful if I don’t make sure about that man (Tapi tetap aku tidak bisa merasa tenang jika aku tidak memastikan siapa laki – laki itu)” Ucap Putra.
“What for? (Untuk apa?)” Tanya Garret.
“I don’t think that is necessary Putra. If he had something bad to do, he must be followed us yesterday. No other car behind me while we are going here (Aku rasa itu tidak perlu Putra. Jika dia punya niat buruk, dia pasti akan mengikuti kita kemarin. Tidak ada mobil yang kulihat ada dibelakang kita, saat kita mengarah kesini)”
“Me and Dami will know if we have been followed. But just like what Dami said, no car or any vehicle I noticed when we are moving here (Aku dan Dami pasti akan tahu jika kita diikuti. Tapi seperti yang Dami katakan, tidak ada satu mobil atau kendaraan apapun yang kulihat saat kita mengarah kesini)”
Putra nampak berpikir.
“Still we need to make our head up, don’t we? (Tapi kita tetap harus waspada, bukan?)” Ucap Putra.
***
To be continue..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments