Happy reading.....
〰〰〰〰〰〰〰
“Me and Dami will know if we have been followed. But just like what Dami said, no car or any vehicle I noticed when we are moving here (Aku dan Dami pasti akan tahu jika kita diikuti. Tapi seperti yang Dami katakan, tidak ada satu mobil atau kendaraan apapun yang kulihat saat kita mengarah kesini)”
“Still we need to make our head up, don’t we? (Tapi kita tetap harus waspada, bukan?)”
Damian, Bruna dan Garret manggut – manggut menyadari ucapan Putra ada benarnya juga.
“What you will do then, Putra? (Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Putra?)” Tanya Bruna.
“I think I will go to the Town and probe about the Restaurant’s Manager this afternoon and I will stay for a night (Aku pikir aku akan pergi ke Kota dan menyelidiki tentang Manajer Restoran itu dan aku akan bermalam)” Jawab Putra.
“I will accompany you (Aku akan menemanimu)” Ucap Damian.
Namun Putra segera menggeleng.
“No Dam. You need to be here, all of you need to be here to protect Anthony (Tidak Dam. Kau disini saja, kalian semua disini saja untuk melindungi Anthony)”
“I think Damian and Bruna are enough to protect Anthony. Let me go with you, Putra (Aku pikir Damian dan Bruna cukup untuk melindungi Anthony. Biar aku pergi denganmu, Putra)” Garret menawarkan diri.
“Garret was right. I think here is more save than Town. Anth will be okay with me and Bruna. We will protect him with our lives if something unexpected happen (Garret benar. Aku pikir disini lebih aman daripada di Kota. Anth akan baik – baik saja denganku dan Bruna. Kami akan melindunginya dengan nyawa kami jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi)”
Damian berkata dengan keseriusan yang nampak di wajahnya. Putra pun mengangguk.
**
“Tuan sepertinya akan turun hujan. Jika kita tetap berangkat, rasanya akan sedikit sulit karena biasanya jalanan disini berkabut dan menjadi sangat licin saat hujan Tuan. Saya takut itu membahayakan”
“Baiklah jika seperti itu Pak Abdul. Besok pagi saja Pak Abdul mengantar saya dan Garret ke Kota” Sahut Putra yang didatangi Pak Abdul ke kamarnya.
“Baik Tuan Putra”
**
Hujan turun, persis seperti yang Pak Abdul katakan pada Putra tadi. Hawa di Villa menjadi sedikit lebih dingin saat hujan tiba.
Meski tak sedingin Eropa saat musim dingin disana tiba, namun Putra tetap memakaikan Anthony sebuah baju hangat yang tidak terlalu tebal pada Anthony.
“Anth.....”
“........”
“Why you become like this to me, hem? Do you hate me, because I can’t save your Daddy and Mommy?....”
“(Mengapa kamu menjadi seperti ini lagi padaku, hem?. Apa kamu membenciku karena aku tidak bisa menyelamatkan Daddy dan Mommy mu?) ....”
“.........”
“I am so sorry Anth.... (Aku benar – benar minta maaf Anth)....”
“........”
Putra yang memang benar – benar sangat menyayangi Anthony dan sudah bertekad bahwa akan menganggap dan memperlakukan Anthony seperti anaknya sendiri itu mengusap pelan kepala Anthony yang nampak seperti sedang membaca buku yang ada diatas meja selurusan sepasang mata kecilnya jika ia menurunkan pandangannya.
Namun yang sebenarnya jika diperhatikan, Anthony bahkan tidak melihat gambar – gambar yang ada dalam buku yang sedang dibolak – balik halamannya oleh bocah itu dengan tatapan kosong.
“Forgive me also, for not letting you to be there at.... (Maafkan aku juga, karena tidak membiarkanmu menghadiri ....)”
Putra tak jadi meneruskan kata – katanya. Hatinya rasa tak tega untuk mengatakan tentang pemakaman Rery dan Madelaine yang pasti sudah dilakukan oleh Addison dan Larry serta orang – orang di Ravenna yang sangat menghormati dan menghargai Rery dan Madelaine.
“However, I will take a very good care of you from now on (Tetapi bagaimanapun, mulai sekarang aku akan selalu dan benar - benar menjagamu)” Putra masih tetap sabar mengajak Anthony bicara.
Bagi Putra saat ini, Anthony adalah hartanya yang paling berharga.
Katakanlah kalau Anthony adalah amanat terbesar yang Rery berikan padanya setelah sahabat sekaligus Bosnya itu tewas dengan cara mengenaskan di tangan Jaeden.
Putra kemudian bangkit dari duduknya.
“I will tell Ibu Marsih to bring us some fruits (Aku akan meminta Ibu Marsih untuk membawakan buah – buahan untuk kita)”
**
Putra meninggalkan Anthony dalam kamarnya untuk mencari istri Pak Abdul agar memotong kan beberapa jenis buah untuknya dan Anthony.
Hujan yang turun tidak terlalu deras, namun cukup membuat tanah disekitar Villa menjadi sangat basah.
Dinginnya udara juga terasa meski tidak sampai menusuk tulang.
Sedikit berangin dan Putra merasakan angin yang berhembus menyentuh wajahnya dari jendela lorong lantai dua yang terbuka.
Putra berjalan untuk menutup jendela tersebut, namun sebentar dia diam seperti sedang memastikan sesuatu.
Putra menelengkan sedikit kepalanya dan kemudian menutup jendela.
Tadi sekilas sepertinya Putra mendengar suara mesin mobil, namun hilang dan kemudian ia teringat ucapan Damian, Bruna atau Garret. Entah. Yang mengatakan mungkin saja dirinya terlalu was – was karena terlalu khawatir atas keselamatan Anthony.
Putra pun melanjutkan langkahnya untuk kembali menuruni tangga menuju lantai bawah dan mencari istri Pak Abdul. Namun Putra kembali menghentikan langkahnya setelah mencapai lantai dibawah anak tangga terakhir.
Putra seperti sedang memastikan sesuatu yang tertangkap oleh telinganya, seperti saat hendak menutup jendela di lorong tadi.
Kemudian dengan cepat ia berteriak sangat keras.
“DAMI! BRUNA! GARRET!”
Putra memanggil kencang tiga orang yang tinggal bersama. Tiga orang yang mulai sekarang adalah keluarganya.
Suara Putra yang membahana di dalam Villa sontak membuat ketiga orang yang ia panggil dengan kencang itu berlari dengan sangat tergesa ke arahnya, termasuk Pak Abdul, sang istri dan anak lelakinya. Mereka ber enam datang dengan wajah yang amat terkejut juga panik.
“WHAT HAPPEN PUTRA????!!!!.... (ADA APA PUTRA??!!)”
“WE HAVE ‘COMPANY’!!! (KITA KEDATANGAN ‘TAMU’)” Teriak Putra lagi.
“I will go get my gun! (Aku akan ambil senjataku!)”
“Kalian bertiga ikut saya!” Putra berkata Pada Pak Abdul berserta istri dan anak laki – lakinya.
“Baik Tuan!”
Kemudian Putra bergerak cepat menuju kamarnya diikuti oleh tiga orang tersebut.
“Suheil tutup semua gorden dan matikan lampu!”
Anak laki – laki Pak Abdul dengan cepat melakukan apa yang disuruh Putra sementara kedua orang tuanya mengikuti Tuan mereka itu.
Putra kemudian masuk dengan cepat ke kamarnya. Lalu mengambil sebuah senjata dari dalam lemarinya, mengecek peluru didalamnya. Lalu menyelipkan senjata itu dipinggangnya.
Kemudian Putra dengan cepat dan tergesa langsung meraih Anthony.
“Anth come! (Anth ayo!)”
Kini sudah dengan cepat Putra menggendong Anthony.
“Kalian bersembunyi di gudang. Bawa Anthony bersama kalian. Lindungi dia!”
“Baik Tuan!”
Putra berbicara dengan cepat sambil mencoba untuk mengoper Anthony ke Pak Abdul yang sudah siap menerima bocah itu.
“Anth, you go with Pak Abdul okay?. I don’t want you get hurt because a bad guy (Anth, kamu ikut Pak Abdul dulu ya?. Aku tidak ingin kamu terluka karena orang jahat)”
Putra berbicara dengan cepat seraya membujuk Anthony yang memeluknya erat dengan tubuh kecilnya yang terasa gemetar.
Putra menangkup wajah Anthony lalu mengangguk sambil tersenyum.
“Hem?...”
Lalu Putra memberikan Anthony yang nampak mulai menangis namun tanpa suara pada Pak Abdul.
“Jika kalian mendengar suara senjata, tetaplah bersembunyi di gudang sampai rasanya keadaan sudah memungkinkan bagi kalian untuk keluar”
“Baik Tuan”
“And ..”
“Putra! They arrived at the front yard! (Mereka sudah sampai di halaman depan!)”
Bruna datang dengan tergesa ke kamar Putra.
Putra mengangguk cepat.
“Pergilah Pak Abdul! Jika sesuatu terjadi pada kami, kamu tahu dimana saya menyimpan uang saya dalam rumah ini”
“Iya Tuan”
“Sekarang pergilah! Lakukan seperti apa yang tadi saya katakan!”
Pak Abdul dan istrinya mengangguk cepat dan bergegas pergi dari hadapan Putra bersama Anthony.
****
“Suheil kau pergilah bersama Ayah dan Ibumu!”
Putra berkata pada anak laki – laki Pak Abdul yang tidak mengikuti Ayah dan Ibunya.
“Tidak Tuan, biarkan saya disini membantu anda dan yang lainnya jika ada sesuatu yang membahayakan”
Anak laki – laki Pak Abdul yang bernama Suheil itu menolak untuk pergi.
“Go! Pergi! Temani Ayah dan Ibumu, jaga Anthony! Aku mengandalkan mu untuk menjaga anakku”
“Baik Tuan!” Suheil akhirnya menuruti perkataan Putra dan dengan cepat menyusul Ayah dan Ibunya yang membawa Anthony untuk bersembunyi.
Putra tidak tahu siapa yang datang. Namun nampak seperti ancaman. Karena seharusnya tidak ada yang tahu Villa dimana Putra, Anthony dan tiga lainnya itu berada sekarang.
“How many cars? (Ada berapa mobil?)” Tanya Putra pada Damian yang sedang mengintip dari balik gorden dalam ruang tamu Villa.
“Two (Dua)”
****
To be continue......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments