Happy reading..
Ravenna, Italia ...
Rery sedang berada disebuah ruangan yang nampak seperti tempat latihan, di kediamannya saat ini. Tempat yang Rery tinggali saat ini hanya sebuah rumah di daerah pinggir pantai Ravenna. Rumah yang memiliki tiga kamar tidur, tidak juga bisa dibilang kecil atau sederhana.
Karena memang hanya memiliki tiga kamar tidur utama, namun ada juga kamar untuk pelayan dan dua kamar tamu, serta ruang kerja dan beberapa ruangan lainnya, dengan lahan pekarangan luas yang mengelilingi rumah tersebut.
Namun tidak ada apa – apa dibandingkan tempat tinggal Rery dulu, yakni Mansion besar nan mewah milik keluarganya.
**
“My Dear....” Panggil Madelaine, istri tercintanya Rery.
“Yes Love ....?.” Rery menoleh sembari tersenyum pada Madelaine istrinya.
“Are you okay?. ( Apa kamu baik – baik saja? ).” Tanya Madelaine pada suaminya yang sedari pria itu sampai di rumah setelah pergi dengan Putra, wajah tampan itu nampak gelisah.
Madelaine membantu menyeka peluh yang ada disekitar wajah dan leher Rery yang baru saja berlatih dengan samsak tinju di dalam ruang latihan dengan handuk kecil yang memang sudah sengaja ia bawa. Berikut segelas air putih ditangannya yang lain.
“Of course I’m okay, My Love. ( Tentu aku baik – baik saja, Sayang )” Sahut Rery kemudian tersenyum pada Madelaine.
Madelaine ikut tersenyum, namun dia menatap lamat – lamat suaminya yang seperti sedang memikirkan suatu hal
yang berat. “Your mouth can lie, but your eyes not. ( Mulutmu bisa berbohong, tapi matamu tidak ).”
Rery memandang teduh pada Madelaine yang juga sama memandangnya.
“You don’t really love me, don’t you?. ( Kamu tidak benar – benar mencintaiku ya? )” Ucap Madelaine.
“Hey, why you talked like that?. ( Hey, kenapa bicara seperti itu? )” Rery menangkup wajah Madelaine.
“You still won’t be open to me, still keeping few things for yourself, don’t trust me. ( Kamu masih tidak terbuka padaku, masih menyimpan beberapa hal untuk dirimu sendiri, tidak mempercayaiku )”
“No, my Love .. don’t talk like that, please.. ( Tidak Sayang, aku mohon jangan berbicara seperti itu ). I don’t mean to hide some things from you. I just don’t want encumber you ( Aku tidak bermaksud menyembunyikan beberapa hal darimu. Aku hanya tidak ingin membebanimu )”
Madelaine menghela nafas.
“You will encumber me, if you hide your problems from me. ( Kamu malah membebaniku, jika kamu menyembunyikan sendiri masalahmu dariku )”
“Okay my love.. ( Baiklah sayangku )..”
“........”
“Jaeden already found out that I’m here... ( Jaeden sudah mengetahui keberadaanku disini... )” Rery menatap lamat – lamat wajah Madelaine. "Still a notion, Putra said. But could be right. ( Masih dugaan, menurut Putra. Tapi bisa saja benar )"
“Are we going to run again?... ( Apa kita akan kabur lagi? )” Tanya Madelaine ragu – ragu.
Rery kemudian menghela nafasnya, masih memandangi Madelaine dengan tatapannya yang hangat seperti biasanya jika ia memandangi istri tercintanya itu, namun raut wajah Rery juga nampak serius.
“We’re not running, my love... ( Kita bukan kabur, sayang )” Jawab Rery yang kemudian menangkup wajah Madelaine. “We’re just avoiding that greedy and mean man... ( Kita hanya menghindari manusia serakah dan kejam itu )” Sambungnya.
"....."
"I actually don't want to have anything with him, since my own Father didn't trust me, trust him moreover. ( Aku sebenarnya tidak ingin punya urusan apapun lagi dengannya, sejak Ayahku sendiri tidak mempercayaiku dan lebih mempercayainya )
Madelaine mengangguk dan tersenyum tipis.
“But This time I have to face him ( Tetapi kali ini aku harus menghadapinya )” Ucapan Rery terdengar yakin namun ada gurat diwajahnya yang juga seolah menggambarkan keraguan.
“Are you really sure about that?... ( Apa kamu benar – benar yakin akan hal itu? )” Tanya Madelaine lagi. Wajahnya nampak cemas.
Rery pun mengangguk yakin.
“This time ... I have to finish everything. Whether him, or me who die... ( Kali ini ... aku harus menuntaskan semuanya. Antara dia, atau aku yang mati ) ...”
“Love ... Please don't talk like that. ( Tolong jangan bicara seperti itu )” Ucap Madelaine dengan tatapan sendu.
“Come, let’s have a rest, my love... ( Ayo, kita pergi beristirahat, sayangku )”
***
Pagi – pagi sekali Putra datang ke Kediaman Rery.
Orang kepercayaan sekaligus sahabat terbaik Rery itu benar – benar gelisah semalaman.
Putra benar – benar terusik dan tak tenang dengan keputusan Rery yang ingin menghadapi saudara angkatnya yang tamak dan kejam itu. Dengan harta Keluarga Kingsley yang kini berada dalam kekuasaannya, pastilah ia bisa membayar sejumlah orang yang bisa mengancam nyawa Rery dan keluarganya.
“Sir!.. ( Tuan! )”
“Tsk! Putra ...”
Rery menampakkan senyumnya setelah sebelumnya berdecak, kala Putra sudah berada dihadapannya kini.
Putra menarik sudut bibirnya. Paham mengapa Rery sempat berdecak tadi.
Putra memang selalu datang setiap hari ke rumah Rery dari sejak pagi. Rery membangun bisnis di sekitar tempat mereka tinggal sekarang. Dan seringnya Putra akan menemani Rery untuk mengunjungi sebuah pabrik garmen yang Rery punya di Italia, namun tidak terlalu besar.
Namun begitu, Rery masih memiliki sumber penghasilan yang lain selain dari pabrik miliknya. Selain Rery juga menyimpan harta milik almarhum ibunya dan miliknya yang sempat ia bawa dari Inggris.
Namun kedatangan Putra pagi ini tidak hanya untuk melakukan kegiatan rutinnya menemani Rery. Ada hal lain yang ingin Putra bicarakan, bahas dan pastikan. Tentang keputusan Rery untuk menghadapi saudara angkatnya itu.
“Have a seat Putra. ( Duduklah Putra )”
Rery yang sedang duduk dibalik meja kerja dalam ruangan pribadinya itu mempersilahkan Putra untuk duduk di
kursi yang bersebrangan dengan tempatnya duduk saat ini. Putra pun mendudukkan dirinya dikursi tersebut.
Wajah Putra sedikit tegang pagi ini. Pria itu menatap Rery lamat – lamat. “Sir, ( Tuan, )” Putra bersuara. Rery
berdecih geli padanya.
“There’s only you and me here, Putra. ( Hanya ada kamu dan aku disini, Putra )” Ucap Rery.
“Yeah, Rery I mean. ( Yeah, Rery maksudku )”
Rery terkekeh kecil, melihat pria didepannya yang kadang bersikap kaku padanya, padahal sudah puluhan tahun mereka kenal dan bisa dibilang sudah dekat. Sangat dekat bahkan.
Dan sudah berapa kali juga Rery mengingatkan Putra untuk tidak bersikap terlalu formal padanya.
Namun Putra tetaplah Putra, meskipun Rery adalah sahabatnya juga, namun tetap Putra menghormati Rery sebagai Bosnya.
“We’re family Putra, how many times I have to remind you about that, hem?. ( Kita ini keluarga Putra, berapa kali harus aku ingatkan padamu soal itu, hem? )” Ucap Rery lagi. Putra pun mengangguk.
“Ya, ya, My mistake, then. ( Salahku, kalau begitu )”
**
“Rery .....”
Putra memanggil Rery sembari menatap pria itu dengan pandangan yang sedikit sulit dijabarkan.
“Yes Putra?”
“About your decision to face Jaeden now, Rery ..... are you really sure about it?. ( Tentang keputusanmu untuk menghadapi Jaeden sekarang, Rery..... apa kamu benar – benar yakin untuk itu? ). For now, I mean. ( Untuk sekarang, maksudku )”
“I am Putra. ( Iya Putra )” Jawab Rery atas pertanyaan Putra barusan.
“But Rery..... ( Tapi Rery ).....” Putra mencoba memberi sanggahan.
“I have to face him Putra. I have to finish everything with him. ( Aku harus menghadapinya Putra. Aku harus
menyelesaikan segalanya dengan dia )”
“I understand it Rery, but even we have a lot of men who are willing to be at your side now, still we can’t
underestimate what Jaeden can do now. You know what I mean, right?”
"( Aku mengerti itu Rery, tapi meskipun kita punya banyak orang yang berada dipihak kita saat ini, tetap saja kita tidak bisa meremehkan apa yang bisa Jaeden perbuat saat ini. Kamu tahu maksudku, bukan? )"
Rery manggut – manggut sembari menarik sudut bibirnya.
“Ya I know, Putra. ( Ya aku tahu, Putra )”
“For at least, we need to take more time if we, you want to face him, Rery. ( Setidaknya, kita butuh waktu lagi jika kita, kamu ingin menghadapinya, Rery )” Ucap Putra.
“All this time been enough..... ( Selama ini sudah cukup ) ..... Putra.....”
“....”
“He slayed my father, our loyal entire family and our trusted people who also been loyal to our family. ( Dia membantai ayahku, keluarga kami yang setia juga orang – orang yang setia kepada keluarga kita ), I think that’s enough. ( Aku rasa itu sudah cukup )”
“........”
“Then I need to prepare everything. ( Kalau begitu aku harus mempersiapkan segalanya )” Ucap Putra.
Rery mengangguk.
“But if I may more to talk, you need to re – consider your decision to face Jaeden, Rery .. ( Tapi jika aku boleh berkata lagi, kamu perlu mempertimbangkan keputusanmu untuk menghadapi Jaeden sekarang, Rery.... )”
“....”
“You need to think about your wife and Anthony. ( Kamu perlu memikirkan tentang istrimu dan Anthony )”
**
“Love ...”
“Yes, my beautiful wife?. ( Iya, istriku yang cantik )” Rery menyambut Madelaine yang masuk ke ruang kerja
pribadinya selepas kepergian Putra.
“You’re not going to our factory today, or going some where?. ( Kamu tidak pergi ke pabrik kita hari ini, atau pergi ke suatu tempat? )” Tanya Madelaine. Rery menarik Madelaine hingga duduk dipangkuannya.
“Heemm.. is it an invitation to go to our bed room?. ( Heemm.. apakah ini undangan untuk pergi ke kamar tidur kita? )”
Madelaine terkekeh kecil mendengar ucapan Rery. “If my very handsome husband want it very bad, then how can I refused?. ( Jika suamiku yang sangat tampan ini sangat menginginkannya, lalu bagaimana aku bisa menolak? )” Sahut Madelaine dengan manja.
“Hahaha..” Rery tergelak dan Madelaine lebih menarik sudut bibirnya. Sejenak mereka pun saling tatap. “I love you, Madelaine. ( Aku mencintaimu, Madelaine )” Ucap Rery kemudian lalu mengecup mesra bibir Madelaine.
“As the way I am. ( Akupun begitu )” Sahut Madelaine.
“What is it, hem?. ( Ada apa, hem? )”
“.....”
“I believe there is something that you want to discuss with me. ( Aku rasa sedang ada yang kamu ingin diskusikan denganku )”
“Yes, it is. ( Iya, memang ada )”
**
“I’m sorry.. but I heard what you have been talked with Putra few moment ago. ( Maaf .. tetapi aku mendengar apa
yang kamu dan Putra bicarakan beberapa waktu lalu )” Ucap Madelaine.
Rery terdiam sesaat sembari memandangi Madelaine.
“So this my beautiful lovely wife is become an eaves dropper, hem?. ( Jadi sekarang istri cantik tercintaku sudah
menjadi penguping, hem? )” Canda Rery.
“I’m sorry.. ( Maafkan aku .. )” Ucap Madelaine.
“....”
“I’m worried Rery .. afraid .. ( Aku khawatir Rery .. takut ..)”
“What things make you worried and afraid, hem?. ( Apa yang membuatmu khawatir dan takut, hem? )”
“Your plan to face Jaeden. ( Rencanamu untuk menghadapi Jaeden )”
“I think we were done talk about it yesterday. ( Kurasa kita sudah selesai membicarakan tentang hal itu kemarin )”. Rery membelai lembut wajah Madelaine, sembari menatap lembut istrinya itu.
“I know .. ( Aku tahu ).. But what Putra said, all of it was right. ( Tapi apa yang Putra katakan semuanya benar )” Ujar Madelaine. “For at least you need to think about Anthony. ( Setidaknya kamu perlu memikirkan tentang Anthony )”
“....”
“I really worried, if Jaeden hurt our son. ( Aku sungguh khawatir, jika Jaeden menyakiti putra kita )”
Rery nampak seperti sedang berpikir.
“Re – consider your decision to face Jaeden right now, Rery.. ( Pertimbangkan kembali keputusanmu untuk menghadapi Jaeden saat ini, Rery.. ). For at least, untill you have more backup around you, more than Jaeden ( Setidaknya, sampai kamu memiliki lebih banyak dukungan disekelilingmu, lebih dari yang Jaeden punya )” Mohon Madelaine.
Rery menghela nafasnya.
“Alright my love ( Baiklah Sayangku ), I will re – consider my decision ( Akan aku pertimbangkan kembali keputusanku itu )”
**
To be continue..
Mohon maaf jika masih ada typo
Selebihnya, nikmati aja dulu bacanya, okeeeehhh
Loph Loph
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
Samsul Wanci
kalau pakai bahasa Inggris Inggris saja Thor , jangan campur macam kala bikin kue aja
2023-01-12
0
ifanggiaish
baca ini kok hati berasa dugem yaaa,,,jedag jedug terus tiap baitnya,,,berasa mw terjun😫😨
2022-03-07
0
Lindra
ini cerita kakeknya juleha ... kapan kapan bikin cerita hantu Lucca ya othor cakepp🤗
2022-01-02
2