Happy reading ..
❄❄❄❄❄❄❄
Putra sudah memasuki kamar pribadinya dalam Villa. “Anth?” Panggil Putra karena Anthony sudah tidak ada di ranjang.
Putra membuka pintu kamar mandi untuk mengecek keberadaan bocah itu didalam sana.
“Anth??!”
Tapi Anthony juga tidak ada didalam kamar mandi. Panggil Putra lagi yang mulai panik sembari mengecek balkon dan menengok ke bawah balkon. Sedikit lega karena kosong di tanah bawah balkon. Putra kemudian melebarkan langkahnya untuk keluar dari kamar pribadinya.
“Anth! Anthony!” Putra memanggil panik Anthony karena bocah itu tidak ada di kamar.
Meski sedikit lega karena sempat berpikir yang bukan – bukan tentang Anthony saat Putra mencari bocah itu di balkon kamar pribadinya, namun tetap saja Putra panik karena Anthony tidak ada di dalam kamar.
“ANTH! ANTHONY!”
Damian, Bruna, Garret termasuk Pak Abdul langsung berhambur ke kamar Putra berada karena mendengar suara keras pria itu yang sedang memanggil Anthony.
Dan kelima orang itu kemudian berpencar untuk mencari Anthony disekitar Villa.
***
Putra langsung mengambil sweaternya. Berhubung Villa tempat tinggal mereka berada di area dekat pegunungan, jadi udara malam akan sedikit dingin, meski tak sedingin saat musim dingin di Eropa.
“Anth....?”
Langkah Putra seketika berhenti kala ia sampai di ruang tamu Villa.
Lalu Putra menyalakan lampu utama sembari lewat agar cahaya di ruangan tersebut tak lagi temaram.
“Oh Anth ....”
“Dad-dy.... Mom-my ....”
“Anth ....” Putra langsung bersimpuh disisi Anthony dan merengkuh bocah yang sedang berdiri sembari terisak di depan sebuah figura foto besar yang berisikan lukisan Anthony bersama kedua orang tuanya.
“Dad-dy.... Mom-my ....” Anthony masih melirih.
“Anth....”
Putra membiarkan anak itu luruh dalam pelukannya. Ia melirik lukisan bahagia Anthony dan orang tuanya. Hati Putra pun seperti dire**s nyeri.
Damian dan yang lainnya sudah bergabung juga dengan Putra di ruang tamu. Sama seperti Putra, Damian, Bruna dan Garret melirik lukisan bahagia Anthony dan orang tuanya, lalu melihat pada bocah kecil itu yang luruh dalam rengkuhan Putra.
Sekarang mereka memahami sumber kehisterisan Anthony tadi pagi. Mungkin bocah malang itu teringat tragedi yang terjadi padanya, juga orang tuanya saat melihat lukisan dirinya bersama Daddy dan Mommy tercintanya.
**
Hari berlalu
“I will bring Anthony to the Hospital tomorrow (Aku akan membawa Anthony ke Rumah Sakit besok)”
“I will go with you (Aku akan pergi denganmu)”
“Tsk! Bruna will go with me. She can communicate with the Doctor connected with Anth’s condition (Bruna yang akan pergi denganku. Dia bisa berkomunikasi dengan Dokter terkait dengan kondisi Anth)”
“Oh come on Putra, I am a little bit bored here (Oh ayolah Putra, aku sedikit bosan disini)”
“I am taking Anth to get some treatment at the Town Hospital. Not for a stroll (Aku mau membawa Anth untuk melakukan pengobatan di Rumah Sakit Kota. Bukan jalan – jalan)”
“Ya I know. Me and Garret will accompany you to go to the Hospital and after that we can take Anth to stroll at the Town. Maybe he will like it”
”(Ya aku tahu. Aku dan Garret akan menemanimu ke Rumah Sakit dan setelah itu kita bisa membawa Anth sekalian jalan – jalan di kota. Mungkin saja dia menyukainya)”
“I think Damian was right (Aku rasa Damian benar)” Celetuk Garret.
“I am always right (Aku selalu benar)” Sambar Damian sambil cengengesan. Putra memberikan lirikan sebal padanya namun Damian malah terkekeh.
“I also agree with his idea. We can take Anth to go around the Town. Maybe we can found something that makes him happy”
”(Aku juga setuju dengan idenya. Kita bisa membawa Anth mengitari Kota. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang membuatnya senang)”
“Alright. Alright. As you guys wish then (Baiklah. Baiklah. Terserah kalian saja)”
***
Putra dan lima orang lainnya sudah dalam perjalanan mereka untuk pergi ke Kota di daerah dimana Villa mereka berada. Ada dua mobil yang memang sudah disiapkan Putra dan Damian saat mereka ke tempat itu untuk mempersiapkan kepindahan Rery dan keluarganya.
Putra bersama Anthony dan Bruna ada di mobil pertama yang disupiri oleh Pak Abdul.
Sementara Damian mengikuti mobil yang dikendarai Pak Abdul dibelakangnya. Cukup jauh juga memang dari tempat mereka untuk sampai ke Kota yang dibilang Pak Abdul. Namun untungnya jalanan sangat sepi jadi mereka tidak sampai bosan atau keletihan di jalan.
Hingga sampailah mereka semua pada Kota yang dimaksud oleh Pak Abdul.
Putra dan yang lainnya langsung menuju ke Rumah Sakit yang ada di Kota tersebut saat sudah mencapainya. “Just like Ravenna (Mirip Ravenna)”
“Heem” Sahut Putra yang setelah keluar dari mobil berdiri sambil memutar badannya untuk melihat ke sekeliling Rumah Sakit yang tidak terlalu besar itu.
“I don’t think that we can get a Psychiatrist here (Aku rasa kita tidak akan menemukan seorang Psikiater disini)”
“We will see. Now better we get in. Pak Abdul knows a good Doctor here, he said (Lihat nanti. Sebaiknya kita masuk. Pak Abdul kenal dengan salah seorang Dokter bagus disini, katanya)”
“Ya right. The point is we do a medical check up for Anth first (Ya benar. Intinya kita melakukan pemeriksaan kondisi Anthony secara keseluruhan dulu)” Sahut Bruna. “Let us get in (Ayo kita masuk)”
“Come (Ayo)” Ucap Putra dan dia pun berjongkok disamping mobil untuk berbicara pada Anthony yang masih duduk diam di dalam mobil. Meski Anthony tak merespon dengan ucapan bahkan tak lagi menoleh saat Putra berbicara padanya, namun bocah tersebut mau ikut turun saat Putra menggandeng tangannya.
Kemudian Putra langsung menggendong Anthony setelah bocah itu turun dari mobil dan langsung membawanya masuk ke dalam Rumah Sakit.
***
Dari sejak kedatangan Putra dan saudara – saudara bulenya itu di Rumah Sakit Kota setempat, mereka sudah menjadi pusat perhatian orang – orang.
Bukan hal yang aneh sih, meski tak banyak. Orang - orang berkebangsaan asing juga ada di Kota tersebut, namun tak banyak. Jadi tetap para orang asing yang terlihat seliweran apalagi yang tampan dan cantik akan otomatis jadi pusat perhatian.
Diantara mereka, wajah Putra lah yang nampak sedikit memiliki wajah orang Indonesia selain rambutnya yang hitam seperti sang ibu.
Namun tetap wajah Putra didominasi potongan orang asing dengan kulit putih dan hidung mancung serta matanya yang berwarna hijau gelap.
Sisanya, dari Damian hingga Anthony benar – benar terlihat seperti wajah orang asing baik kulit, perawakan, warna mata dan rambut mereka.
“You both stay here (Kalian berdua tunggu disini)” Ucap Putra pada Damian dan Garret.
Damian dan Garret cengengesan sambil mata mereka melirik beberapa perawat gadis pribumi yang wara – wiri.
“Me and Garret will be waiting for three of you here (Aku dan Garret akan menunggu kalian disini)” Ucap Damian sambil sesekali tebar pesona lewat senyumannya pada perawat yang melewati mereka.
Putra memutar bola matanya malas, kemudian meninggalkan Damian dan Garret di ruang tunggu Rumah Sakit sementara ia pergi bersama Bruna dan Pak Abdul untuk membawa Anthony menemui seorang Dokter yang menurut pengurus rumah mereka itu adalah Dokter yang paling terkenal disana.
Anthony menjalani beberapa pemeriksaan dengan tenang. Terlalu tenang bahkan. Jangankan bicara, bergerak pun jika bukan untuk diperiksa rasanya bocah itupun enggan. Selalunya dia hanya diam seperti sebuah boneka.
***
Satu jam kemudian Anthony benar – benar selesai menjalani pemeriksaan termasuk Putra dan Bruna melakukan konsultasi perihal Anthony. Lalu setelahnya menghampiri Damian dan Garret yang tampak anteng sambil masih mengobrol di ruang tunggu Rumah Sakit, tetap masih tebar pesona.
Putra memang tidak lancar menggunakan Bahasa Indonesia, namun untuk pemahaman dia sangat mengerti. Hanya lidah Putra memang belum terbiasa untuk berbicara Bahasa Indonesia lebih banyak.
Jadi apa yang disampaikan Dokter tadi Putra cukup lah mengerti.
“Let us go (Ayo kita pergi)”
“Finish? (Sudah selesai?)”
“Ya”
“Too bad (Sayang sekali)”
“Hem?” Putra melirik Damian.
“I have to left those beautiful nurses (Aku harus meninggalkan para perawat cantik itu)”
Putra dan Bruna memutar bola mata mereka malas pada Damian sementara Garret hanya terkekeh. Pak Abdul senyum – senyum saja.
Meski Pak Abdul tidak paham Bahasa Inggris namun dari gelagat Damian dia bisa membaca, kalau pria asing itu mengagumi dan tertarik pada para perawat di Rumah Sakit tersebut.
“I will learn the language they use here, huh? (Aku sepertinya harus belajar Bahasa yang mereka gunakan disini ya?)”
Damian berceloteh.
"What a shame I do not understand their language. I am just wasted my chance to talk with those beautiful nurses (Sayang sekali aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku melewatkan kesempatan untuk bicara dengan para suster yang cantik itu)"
“Whatever! (Masa bodoh!)”
“Women Eater! (Dasar penjahat wanita!)”
***
Setelah keluar dari Rumah Sakit, enam orang itu kemudian berjalan – jalan di sekitar Kota yang mereka datangi saat ini.
“Are you hungry Anth? (Apa kamu lapar Anth?)”
“......”
“Apa ada Restoran bagus disini, Pak Abdul?”
Putra yang mendengar Bruna bertanya pada Anthony seketika langsung bertanya pada Pak Abdul yang berada disampingnya itu. Bruna benar, mungkin saja Anthony lapar.
Namun berhubung anak itu diam saja, jadi kurang tahu juga Putra apakah bocah itu sudah lapar atau belum. Tapi biar saja, Putra akan tetap mengajak mereka yang bersamanya makan.
Toh perjalanan kembali ke Villa juga cukup jauh.
“Ada Tuan. Ada dua Restoran yang bagus disini” Jawab Pak Abdul.
“Apa menyediakan makanan yang biasa kami makan?”
Putra memastikan. Karena empat orang yang bersamanya itu pasti tidak terbiasa dengan makanan yang biasa tersedia di daerah tempat mereka sekarang. Kalau Putra sedikit banyak sudah tahu dan mencicipi beberapa, karena sudah diperkenalkan sang Ibu dengan makanan pribumi – istilahnya, sejak ia kecil.
Untuk sementara waktu, ia akan bergantung pada Pak Abdul. Toh saat dia datang bersama Damian ke Villa sebelumnya juga ia hanya tinggal didalam Villa saja. Untuk semua kelengkapan dalam Villa baik bangunan itu sendiri termasuk pembelian mobil juga Putra meminta bantuan Pak Abdul yang cukup punya banyak relasi.
“Ada Tuan. Ada Restoran yang cukup besar dan terkenal yang menyediakan makanan – makanan barat Tuan” Jawab Pak Abdul lagi.
“Baiklah. Antar kami kesana”
“Baik Tuan”
***
Pak Abdul kemudian membawa Putra dan empat orang lain yang bersamanya ke sebuah Restoran yang cukup terkenal di Kota tersebut.
Sebuah Restoran Vintage yang sudah ada sejak jaman Belanda dan menyediakan berbagai jenis hidangan – hidangan khas Eropa itu pastilah sesuai dengan selera dan tentunya kantong para majikannya itu.
Pak Abdul tahu, meskipun tidak persis jumlah kekayaan sang majikan. Yang jelas saat melihat Tuannya itu menukar uang dengan orang Bank yang dipanggil ke Villa, ia sampai terperangah saking banyaknya.
“Woah what a fine Restaurant (Wah Restoran yang sangat bagus)” Puji Damian.
“Oh ya I forgot about this place. My parents ever brought me here if we were visited Indo (Oh ya aku lupa tentang tempat ini. Orang tuaku pernah membawaku kesini jika kami sedang mengunjungi Indonesia)”
“Pak Abdul is a competent person I guess (Pak Abdul orang yang kompeten juga kurasa)” Ucap Bruna.
“He ever worked in this City (Dia pernah bekerja di Kota ini)”
“Huumm .. I see .. (Begitu..)” Bruna manggut – manggut.
“Come, let us in (Ayo, kita masuk)”
“Come (Ayo)”
“Come, Anth. Let us eat (Ayo, Anth. Mari kita makan)” Putra kemudian berbicara pada Anthony yang masih duduk diam di mobil.
Karena Anthony tak merespon, seperti biasa Putra akan menyentuh tangan Anthony dengan lembut lalu menggenggamnya. Suatu cara yang sudah Putra pelajari sendiri untuk menyadarkan Anthony akan maksudnya.
Dan ya, memang cara itu berguna bagi Putra agar Anthony memahami maksudnya.
Anthony pun keluar dari mobil, namun ia tidak celingak celinguk seperti dulu jika dia dibawa untuk berjalan – jalan kala orang tuanya masih hidup.
Putra langsung menggendong Anthony saat bocah itu turun dari mobil dan Pak Abdul menutup pintu mobil dengan pelan.
“Ayo, Pak Abdul. Bergabung bersama kami”
Ucapan Putra nampak membuat Pak Abdul sedikit terkejut.
“Oh tidak Tuan, terima kasih. Biar saya menunggu disini”
“Ini perintah saya pada Pak Abdul” Ucap Putra. “Masuklah dan duduk bersama kami”
“Tapi Tuan, saya akan membuat citra anda buruk Tuan Putra”
“Saya tidak suka dibantah Pak Abdul”
“Ma-maaf Tuan. Ba-baik saya ikut kedalam bersama Tuan”
Dengan rasa yang canggung setengah mati, tergambar jelas di wajah Pak Abdul ia pun menuruti perintah Putra untuk makan bersama Tuannya itu.
“Do not feel hesitate to us Pak Abdul (Jangan sungkan pada kami Pak Abdul)”
Damian sengaja berjalan disamping Pak Abdul sambil menepuk – nepuk bahu laki – laki itu. Namun karena tidak paham ucapan Damian, ia pun menoleh kearah Putra.
“Damian berkata Pak Abdul tidak perlu sungkan pada kami” Ucap Putra yang menjawab kebingungan Pak Abdul dengan melemparkan senyum keramahannya.
“Te-terima kasih Tuan..” Pak Abdul nampak terharu dengan perlakuan para Tuannya yang tidak membedakan orang itu. Ia sampai membungkukkan badannya saat seorang pelayan mengantarkan ke sebuah meja yang sudah diatur sedemikian rupa dengan beberapa kursi yang melingkar.
“Jangan seperti itu. Anggaplah kami seperti keluarga, Pak Abdul” Ucap Putra sambil membawa Anthony duduk dan mempersilahkan Pak Abdul juga untuk duduk.
Untung pelayan di Restoran tersebut mengerti Bahasa Inggris jadi untuk pemesanan dapat dilakukan tanpa kendala Bahasa. Sesuai memang dengan Restoran yang mengusung tema Eropa.
Bahkan Manajer Restoran tersebut juga merupakan orang Eropa dan dia yang melayani Putra dan rombongannya secara langsung.
‘His face looks familiar.. (Wajahnya terlihat tak asing)’ Batin Putra.
“What is it Putra? (Ada apa Putra?)” Tanya Bruna pada Putra yang nampak seperti melamun setelah Manajer Restoran itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
‘It was just my feeling if that man was noticed my face? (Apa hanya perasaanku saja kalau pria itu memperhatikan wajahku?)’
***
To be continue ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
Lindra
lni cerita manly bingiiittss .. kalau BBS romance nya kelihatan banget , kalau baca The Smith rasanya kayak nonton film action , kalau AC ngaduk ngaduk perasaan . othor memang hebaattt 👍👍👍
2022-01-03
3