Noted: Untuk kalian para reader yang merasa terganggu dengan banyaknya bahasa Inggris atau bahasa lainnya selain bahasa Indonesia dalam novel ini, authornya mohon maaf.
Namun dengan tidak mengurangi rasa hormat, penggunaan bahasa Inggris atau bahasa lainnya di novel ini, bukan semata-mata othor sok-sok an ya, mentang-mentang bisa.
Tapi lebih kepada feel yang mau authornya dapat dari penyertaan bahasa di luar bahasa Indonesia, yang mana disesuaikan dengan latar belakang cerita maupun asal kebanyakan tokoh disini.
Seperti itu kira-kira.
Kalau masih rasa tidak puas.
Stop baca.
Selesai masalah anda.
Okay?.
Terima kasih.
******************
Happy reading..
******************
Bolzano, Italia Utara.....
“Are you sure about this Putra? (Apa kau yakin soal ini Putra?)”
“Yes (Iya)” Sahut Putra pada pertanyaan Bruna. “If, me and Dami are not coming tonight, you know what you have to do. Garret knows where he should bring you and Anth (Jika, aku dan Damian tidak kembali malam ini, kau tahu yang harus kau lakukan. Garret tahu kemana dia harus membawamu dan Anth). We count on you Bruna (Kami mengandalkan mu Bruna)”
Bruna pun mengangguk paham. “Both of you, be careful (Kalian semua, hati – hati)” Ucap Bruna setelah dia, Putra, Damian dengan membawa serta Anthony keluar dari dalam save house yang selama tiga bulan mereka tinggali.
“You take care Bruna. Also take very care of Anth, if me and Dami never showed up until tonight (Jaga dirimu Bruna. Juga rawat dan jaga Anthony dengan sangat baik, jika aku dan Dami tidak pernah muncul lagi sampai malam ini)” Ucap Putra pada Bruna.
“I will (Iya pasti)” Sahut Bruna lalu memeluk Putra dan Damian satu persatu.
“Make sure they are safe until we comeback here or even never (Pastikan mereka aman sampai kami kembali ataupun jika kami tidak pernah kembali)”
Putra berbicara pada salah satu orang setia Rery yang ditempatkan pada sebuah kota kecil di Italia Utara, dimana Rery menyimpan sebuah pesawat penumpang berukuran tidak terlalu besar di kota tersebut. Dimana pria bernama
Garret dipercaya Rery untuk bertanggung jawab pada pesawat tersebut dan landasan kecil tempat Rery menyimpannya.
Pria itu, Garret namanya. Orang yang ditempatkan Rery di sebuah kota bernama Bolzano itu. Yang sekaligus merangkap sebagai pilot pribadi Rery kala lelaki itu masih hidup.
“You never doubted me (Kau jangan meragukan ku)”
“Never (Tidak pernah), Garret” Sahut Putra dan Damian. “Ever (Sekalipun)” Mereka terkekeh kecil bersama.
“Anth, me and Uncle Dami have to go. You stay with Aunt Bruna, hem? (Anth, aku dan Paman Dami harus pergi. Kau tetap bersama Bibi Bruna, hem?)” Putra merendahkan dirinya setidaknya untuk bisa sejajar dengan tingginya
Anthony. “I am happy, now you want to see me (Aku bahagia, sekarang kau mau melihatku)”
Putra tersenyum pada Anthony yang berada dihadapannya.
Meski Anthony hanya melihatnya dalam diam, namun Putra memang bahagia.
Setidaknya Anthony sudah perlahan menunjukkan lagi perkembangan.
“Be a good boy, if me and Uncle Dami never return, hem? (Jadilah anak baik, jika aku dan Paman Dami tidak pernah kembali, ya?)”
Putra mengusap lembut kepala Anthony lalu mengecup kening bocah tersebut setelah ia kembali berdiri.
“Bruna, Garret. We go now (Kami pergi sekarang)” Ucap Putra pada Bruna dan Garret yang kemudian mengangguk.
‘Hem?’
Putra yang sudah berbalik untuk pergi dari hadapan Bruna, Garret dan Anthony spontan menghentikan langkahnya kala ia rasa sedikit kain jubahnya tertarik.
“A-Anth...?” Putra tergugu saat mendapati tangan mungil Anthonylah yang sedang memegangi sedikit kain jubahnya itu sembari menatapnya, terdiam namun pandangannya menyiratkan sebuah isyarat yang memintanya agar tidak pergi.
“An-th..”
Damian dan Bruna juga tergugu.
Putra tak lanjut melangkah, kembali setengah berjongkok didepan Anthony. “Do-do.. you recognize me, Anth?... (Apa kau mengenaliku Anth?)”
“.....”
“Oh, Anth ..”
Putra membawa Anthony dalam dekapannya.
Meski Anthony tak menjawab, tapi dengan Anthony sudah menahannya dengan menarik jubah yang sedang ia pakai. Putra cukup bahagia. “I promise, I will be back for you, hem? (Aku berjanji, aku akan kembali untukmu, ya?)” Ucap Putra sembari mengelus kepala Anthony dengan sayang. “Do you trust me? (Apa kau percaya padaku?)”
Putra menatap Anthony lekat – lekat sembari menampakkan senyumnya.
Dan tak ada yang lebih membahagiakan bagi Putra saat ini setelah Anthony mengangguk kemudian.
Senyum Putra makin mengembang.
“I will be back. I promise, me and Uncle Dami will comeback for you. Now let us go just for a little bit moment, hem? (Aku akan kembali. Aku janji, aku dan Paman Dami akan kembali untukmu. Sekarang biarkan kami pergi sebentar,
ya?)”
“We promise Anth (Kami berjanji Anth)” Damian menimpali.
Damian ikut bersuara sembari mengelus kepala Anthony, dan senyumpun terurai tak hanya dari Putra dan Damian, namun juga dari Bruna dan Garret saat Anthony kemudian mengangguk. “We love you, Anth (Kami menyayangimu, Anth)”
“See you soon, Anth (Kita akan bertemu secepatnya, Anth)” Ucap Putra kemudian bergegas pergi bersama Damian sembari melambaikan pada Anthony. Putra dan Damian pergi dengan perasaan yang lebih bersemangat untuk melakukan suatu misi yang sudah Putra rencanakan dengan baik.
**
Messina, Italia ..
“Signore! ( Tuan!)”
Seorang pria Italia berbadan tegap, datang mengendap – endap ke dekat Putra dan Rery yang berada dibelakang luar sebuah Mansion yang cukup besar.
“Parlare (Bicara)”
Putra menghampiri pria yang mengendap – endap dan bersembunyi disebuah pepohonan itu, lalu mendengarkan baik – baik apa yang pria itu bisikkan padanya dan kembali lagi mendekat pada Damian dan tiga orang yang bersamanya termasuk Ghai setelah memberikan sesuatu pada Putra kemudian pergi dengan tergesa.
“Yanni will return here not quite longer (Yanni akan kembali kesini tidak lama lagi)”
“Dam, use this (Dam, kenakan ini)”
Putra memberikan apa yang diberikan informan tadi pada Damian. Damian pun langsung melakukan apa yang disuruh Putra.
“You still remember the way to go to the kitchen right? (Kau masih ingat jalan menuju dapurnya kan?)” Tanya Putra pada Dami yang sudah berganti dengan pakaian pelayan di Mansion milik Yanni Aberto.
Damian mengangguk. “Yes (Iya)”
“They already give a sign (Mereka sudah memberikan isyarat)”
Ghai menunjuk seseorang yang berada di balkon lantai dua sebuah ruangan sedang berdiri dan nampak mengibaskan sebuah kain dengan satu gerakan.
Putra dan Damian mengangguk.
“Let us move then (Kita bergerak sekarang kalau begitu)”
Damian masuk lebih dulu, lalu diikuti seorang pria berkebangsaan Inggris anak buah Ghai yang akan menjadi mata Putra untuk menyelinap ke area kolam renang dalam Mansion milik Yanni. Ghai dan satu orang pria lagi menunggu dengan sigap di tempatnya. Dua orang itu tidak ikut masuk ke dalam Mansion karena mereka punya tugas yang akan mereka lakukan setelah Putra menyelesaikan urusannya didalam Mansion Yanni.
**
Damian langsung masuk ke area dapur.
“You know what you have to do if I failed (Kau tahu harus bagaimana jika aku gagal)”
Damian mengangguk cepat setelah Putra berbicara.
Setelahnya Putra dan satu orang yang bersamanya itu melangkah ke arah yang berbeda dengan mengendap – endap untuk masuk ke sebuah pintu yang terhubung dengan sebuah lorong yang tembus ke area kolam renang dalam Mansion Yanni.
Pria yang bersama Putra nampak masuk duluan, lalu keluar lagi setelah ia menyatakan kalau keadaan sekitar lorong dan kolam renang aman.
Putra pun masuk ke lorong tersebut mengekori orangnya lalu kemudian mereka berhenti dan masuk ke dalam sebuah ruang yang sedikit kecil. Putra membuka seluruh pakaiannya dan menyisakan celana pendek saja yang melekat ditubuhnya.
Kemudian Putra bergerak ke arah kolam renang dalam Mansion Yanni yang keadaannya masih gelap dan sepi itu lalu menceburkan dirinya sesunyi mungkin ke dalam kolam renang tersebut.
Putra dan orangnya itu saling berbicara melalui isyarat kepala.
Putra yang memang jago menyelam dan menahan nafas dalam air kemudian menenggelamkan dirinya dengan cara sesunyi mungkin. Misi Putra kali ini adalah menghabisi Yanni Aberto saat pria itu akan berenang setelah sampai di Mansion.
Putra dan Damian mendapatkan informasi tentang jadwal Yanni Aberto dari salah seorang informan Ghai yang menyelusup sebagai seorang pelayan di Mansion Yanni. Dan pada akhirnya informan tersebut berhasil mengganti pelayan lama dengan dua orang yang ikut bekerja untuk Putra dan Damian.
Putra dan Damian belum sanggup membangun pasukan yang sangat besar untuk melawan Jaeden yang kiranya punya beberapa sekutu yang pasti mau membantunya, karena bisnis kotor yang Jaeden jalankan.
Namun langkah awal untuk menghancurkan Jaeden yang sudah direncanakan Putra dan Damian adalah mematahkan salah satu ‘tangan’ atau ‘kaki’ Jaeden, dimulai dari sekutunya yang berada di Italia ini.
Yanni Aberto, yang Putra dan Damian ketahui bersama Jaeden saat pria kejam itu membantai Rery dan Madelaine adalah memang orang pertama yang menjadi target Putra dan Damian untuk mereka habisi.
Betapa Putra ingin menghabisi Yanni dengan cara yang sangat menderita.
Namun mengingat waktunya terbatas, Putra harus menghabisi Yanni dengan cara yang cepat tanpa membuat keributan lalu jika berhasil dia dan Damian akan bergegas menuju Bolzano untuk menyambangi Anthony dan Bruna, hingga kemudian mereka akan bertolak ke Indonesia untuk memulai hidup baru disana, dan tentunya
berusaha untuk membangun pasukan yang kelak akan mereka pakai untuk melawan Jaeden.
Putra sudah masuk ke dalam area kolam renang, lalu meletakkan sesuatu didasar kolam renang, kemudian bersembunyi di sebuah celah kecil yang ada dipinggir kolam renang.
Tidak akan terlihat ada orang yang bersembunyi disana, jika orang itu tidak masuk ke dalam kolam renang dan sedikit menyelam.
*****
Bolzano, Italia Utara.....
Bruna menunggu dengan gelisah di sebuah bangunan kecil tempat pesawat penumpang kecil milik Rery tersimpan. Hari sudah malam namun tidak ada tanda – tanda kemunculan Putra dan Damian bahkan Ghai.
“It is almost time we have to leave Bruna (Sudah hampir waktunya kita harus pergi Bruna)”
“I know (Aku tahu)”
Bruna nampak gelisah.
Sementara Garret sudah nampak mulai mempersiapkan pesawat kecil milik Rery tersebut karena waktu yang ditentukan sudah hampir tiba.
Dan sesuai apa yang diperintahkan Putra, mereka harus meninggalkan Bolzano diwaktu yang telah ditentukan itu dengan atau tanpa Putra dan Damian.
“I am afraid we have to go without them, Bruna (Aku rasa kita harus pergi tanpa mereka, Bruna)”
Garret melihat arloji sakunya dan waktu sudah sedikit lagi tiba untuknya membawa pergi Bruna dan Anthony keluar dari Bolzano dan Italia.
“Let us go, Bruna. I don’t think that they will come (Ayo pergi, Bruna. Aku rasa mereka tidak akan datang)"
*****
To be continue ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
Ana
sangat menyakitkan kisah keluarga Anthony 😢
rasanya selalu berdebar baca tiap part nya
2022-06-19
0
dewi azyahra
tragis kehidupan Anthony ya emak 😢
2021-12-04
1