Happy reading .....
*********************
“Eegghhh ....”
“Anth .....???”
“Eegghhh ....”
“Bruna?”
“It is okay Putra. People who get fever are usual if they are getting delirious ( Tidak apa – apa Putra. Orang yang demam memang biasanya suka mengigau )”
“...........”
“I already give him medicine through the injection ( Aku sudah memberinya obat melalui suntikan )” Ucap Bruna untuk menenangkan Putra.
“...........”
“We will see if the fever was down or not in the next few hours ( Kita lihat apakah demamnya akan turun dalam beberapa jam ke depan )”
“Okay”
****
“How is he? ( Bagaimana keadaannya? )”
“His fever was gone already ( Demamnya sudah hilang )”
“Thanks God .... ( Terima kasih Tuhan ) ...”
“Just wait untill he wake up and make him to eat and I will give another medicine to take ( Hanya tinggal menunggunya bangun dan buat ia memakan sesuatu lalu aku akan memberinya obat untuk diminum )”
Putra pun mengangguk. “Okay then. Thank you Bruna ( Baiklah kalau begitu. Terima kasih Bruna )”
“Do not thank me, Putra ( Jangan berterima kasih padaku, Putra )” Ucap Bruna. “Anth is my son also now ( Anth adalah putraku juga sekarang )” Tambahnya.
Putra tersenyum pada Bruna yang menepuk – nepuk lengan kokohnya. Lalu Bruna meninggalkan Putra di kamarnya untuk pergi ke perpustakaan kecil yang ada di dalam Villa dimana perpustakaan kecil tersebut tadinya adalah untuk ruang kerja Rery juga.
*****
Putra duduk didekat Anthony setelah Bruna keluar dari kamarnya.
“Eegghhh ....” Anthony kembali nampak tak tenang dalam tidurnya dan bulir keringat kembali muncul di dahi bocah kecil yang malang itu.
“Oh Anth ....” Putra menyeka bulir keringat di dahi Anthony dengan rasa prihatin dalam hatinya. “Anth ....” Putra memanggil lagi Anthony karena bocah itu nampak semakin gelisah dengan matanya yang masih terpejam.
“Eegghhh .... Eegghhh ....”
“Anth....”
“Eegghhh .... Dad – dy ... Mom – my.....” Racau Anthony dalam tidurnya.
Putra yang tak tega melihat Anthony mengigau dan gelisah itu pun terus berusaha membangunkan bocah tersebut. “Anth ...”
“DADDYYY!!!! MOMMYY!! ...”
Anthony terbangun dengan histeris dan membuat Putra kaget sekaligus cemas.
“Anth ...”
Damian, Bruna, Garret beserta pengurus rumah pun datang dengan tergesa ke kamar Putra. Karena teriakan Anthony dapat mereka dengar.
“Daddyyyy ... Mommy ... hiks ...”
Putra langsung mencoba menenangkan Anthony dengan memeluk bocah laki - laki yang tubuhnya terasa gemetar
berikut air mata yang mengalir dari mata kecilnya serta bulir keringat yang bertambah banyak dari sebelumnya. “Give me a dry towel ( Berikan aku handuk kering )”
Damian yang cepat berinisiatif masuk ke dalam kamar mandi yang biasanya memang tersedia handuk kering baik yang untuk wajah ataupun badan.
Damian langsung memberikan handuk kecil pada Putra yang kemudian menyeka air mata Anthony dan keringatnya dengan handuk tersebut sementara bocah itu masih terus terisak.
**
Anthony kembali tidur setelah Bruna meminumkannya obat penenang.
“I think Anth trauma that makes him like this. Maybe what was happened at their Mansion that day is running in Anth’s head again"
"( Aku pikir Anth seperti ini memang karena traumanya. Mungkin saja ingatan tentang apa yang terjadi hari itu di Kediaman mereka kembali terputar lagi di kepalanya )”
“And your suggestion? ( Dan saranmu? )”
“But Still, we need to bring Anth to the Hospital for more checking of his health ( Tetapi tetap, kita harus membawanya ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan kesehatannya )”
“And? ( Dan? )”
“A Psychiatrist ( Seorang Psikiater )”
**
Putra, Damian, Bruna berikut Garret sedang duduk - duduk di ruang tengah Villa.
Ke empatnya sedang membahas perihal kondisi Anthony. Dan sesekali mereka akan bergantian untuk menengok Anthony.
Sejak Anthony terbangun dari siang tadi, anak itu kembali bersikap seperti saat ia terbangun dari komanya. Pandangannya kembali kosong, selain ia tetap bungkam.
Bruna tetap masih melakukan pengecekan pada tubuh Anthony terutama di bagian lehernya, namun tidak ada reaksi kesakitan dari Anthony saat Bruna sedikit menekan area tengkuk Anthony dan sekitarnya. Sepertinya memang tidak ada luka fisik luar yang memang tidak ada lagi memar, maupun luka dalam secara harfiah pada tubuh Anthony.
Putra baru selesai mengobrol sebentar dengan Pak Abdul, si penjaga dan penanggung jawab Villa, sebelum ia duduk bergabung dengan Damian, Bruna dan Garret.
“So? ( Jadi bagaimana?)” Tanya Garret pada Putra. Putra ikut duduk sembari menghela nafas yang terdengar frustasi.
“He does not know ( Dia tidak tahu )” Ucap Putra. “He even does not know what is Psychiatrist ( Dia bahkan tidak tahu apa itu Psikiater )”
“How about this .. ( Bagaimana jika begini.. )”
Damian mempunyai ide di kepalanya.
“You and me go to the Town and we check the Hospital by ourselves ( Kau dan aku pergi ke Kota dan mengecek sendiri ke Rumah Sakit )”
Bruna dan Garret nampak manggut – manggut.
“I agree with Dami ( Aku setuju dengan Dami )”
Namun Putra nampak berpikir.
“I don’t know, Dam. I am worried if Anth looking for me while we are away ( Aku tidak tahu, Dam. Aku hanya khawatir Anth mencariku saat kita pergi )”
“Bruna and Garret are here, they can explain to Anth. That if Anth ask however ( Bruna dan Garret kan ada disini, mereka bisa menjelaskannya nanti pada Anth. Itupun jika Anth memang bertanya )” Ucap Damian.
Putra nampak berpikir lagi.
“Why don’t you and Bruna who go?. Pak Abdul can drive ( Kenapa tidak kau dan Bruna saja yang pergi. Pak Abdul bisa mengemudi )”
“You are the only one who can communicate with him for now ( Kau satu – satunya orang yang bisa berkomunikasi dengan dia saat ini )” Sahut Damian.
“Dami was right Putra ( Dami memang benar Putra )” Garret menyampaikan pendapatnya.
“I am going to think about it ( Akan aku pikirkan )”
“Think fast ( Berpikir dengan cepat )”
“Heem” Sahut Putra.
**
“We have no phone here? ( Kita tidak punya pesawat telepon disini? )” Tanya Bruna. Putra dan Damian kompak menggeleng.
“But I will ask Pak Abdul to find someone who can hitch that. We were planning to hitch it after we and ..... Rery also Madelaine arrived here”
“( Tapi aku akan meminta Pak Abdul mencari orang untuk memasangnya. Kami berencana memasang saat kami dan.. Rery dan Madelaine sampai disini )”
“Why you asked about a phone? ( Kenapa bertanya tentang pesawat telepon? )” Tanya Putra seraya menoleh pada Bruna.
“Do you impeach me, Mister Putra Adjieran? ( Apa anda mencurigaiku, Tuan Putra Adjieran? )”
Putra dan dua pria lainnya terkekeh kecil menanggapi pertanyaan Bruna yang meledek itu.
“Just ask ( Hanya bertanya ). Also anticipate if I have thorn in a flesh ( Juga antisipasi jika aku punya duri dalam daging )” Ucap Putra. “Are you? ( Apa kau begitu? )” Sambungnya.
“Heh! I can easily kill both of you at the Save House if I want to! ( Aku bisa saja dengan mudah membunuh kalian di Save House jika aku mau )”
“Women! ( Dasar wanita! )”
“Very sensitive ( Sensitif sekali )”
“Huh!”
Keempat orang itu pun kemudian terkekeh bersama.
**
Ke empat orang itu larut dalam obrolan mereka di hari yang menjelang malam itu. Udara malam sebuah Negeri yang masih asing bagi tiga orang selain Putra. Namun semilir angin yang masuk dari jendela yang terbuka menyapa lembut di kulit mereka.
“I wonder what is going on now at Italy ( Aku penasaran apa yang sekarang terjadi di Italia )”
“Why? You left your boyfriend behind? ( Kenapa? Apa kau meninggalkan kekasihmu? )”
“Huh!”
Bruna mencebik. Lagi – lagi ia mendapat ledekan dari ketiga pria yang bersamanya yang kemudian terkekeh lagi.
“Just curious about Jaeden, after he knew that Yanni was dead an his Mansion was burned into ashes ( Hanya penasaran tentang Jaeden setelah dia mendapat kabar kalau Yanni sudah mati dan Kediaman pria itu sudah hangus menjadi abu )” Ucap Bruna.
Putra menyunggingkan satu sudut bibirnya.
“He must be already know about that, right? ( Dia pasti sudah mendapat kabarnya, bukan? )”
“I believe so ( Aku rasa begitu )”
Ke empat terdiam sebentar.
“Whatever happen at Italy. For now, we better start to left it behind until the time has arrived for us to get back there if you are really want to get back at Italy or Ravenna even Bolzano”
“( Apapun yang terjadi di Italia sekarang. Untuk saat ini, lebih baik kita tinggalkan dibelakang sampai waktunya tiba untuk kita kembali kesana. Italia, Ravenna atau bahkan Bolzano jika memang kalian ingin kembali kesana )”
“.....”
“This time, I want focus to Anth untill he become normal and after that, I will make step to build everything against Jaeden ( Saat ini, aku ingin fokus pada Anth sampai ia bisa kembali normal dan setelahnya, aku akan memulai membangun langkah untuk melawan Jaeden )”
**
“I go check Anth. Maybe he already wake up and hungry ( Aku akan mengecek Anth. Mungkin dia sudah bangun dan lapar )” Putra bangkit dari duduknya.
“Is that guy prepare our dinner or not, Putra? ( Apa pria itu menyiapkan makan malam kita atau tidak, Putra? )”
“Yes. Pak Abdul is preparing dinner for us ( Iya. Pak Abdul sedang menyiapkan makan malam untuk kita )”
"He can cook? ( Dia bisa memasak? )"
"Yes. Have a little knowledge about our food also ( Ya. Punya sedikit pengetahuan tentang makanan kita juga )"
“Is he lives here? ( Apa dia tinggal disini? )”
“Yes. But he stay in the different house behind this place ( Iya. Tetapi ia tinggal di bangunan yang berbeda dengan tempat ini )” Ucap Putra dan Bruna berikut Garret manggut – manggut.
“Can we trust him? ( Apa kita bisa mempercayainya? )”
“Sure. His family ever worked for my parents. They are loyal workers ( Tentu. Keluarganya sejak dulu bekerja untuk orang tuaku. Mereka pekerja yang setia )”
“Is he alone taking care of this house? ( Apa dia sendirian yang merawat rumah ini? )”
“No. He has wife but she will come here tomorrow morning with his son ( Tidak. Dia punya istri tetapi baru akan datang besok pagi dengan anak laki – lakinya )”
“.....”
“They were live at Town before we planned to move here. His son works there. And cleaned this house for every once a week. But when me and Dami came here, I asked Pak Abdul to stay and bring his family also”
“( Mereka sebelumnya tinggal di kota sebelum kita berencana pindah kesini. Anak laki – lakinya bekerja disana. Dan mereka membersihkan rumah ini setiap satu minggu sekali. Saat aku dan Dami datang kesini, aku meminta Pak Abdul untuk tinggal dengan membawa keluarganya serta )”
“I see ( Begitu )” Sahut Bruna sambil manggut - manggut.
“I will go check Anth ( Aku akan mengecek Anth )”
**
Putra sudah memasuki kamar pribadinya dalam Villa. “Anth?” Panggil Putra karena Anthony, Putra lihat sudah tidak ada di ranjang.
Putra membuka pintu kamar mandi untuk mengecek keberadaan bocah itu didalam sana.
“Anth??!”
**
To be continue .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments