Happy reading ....
“Rery...”
“Yes?”
“Yanni Aberto wants to meet you (Yanni Aberto ingin bertemu denganmu)” Clarence yang berbicara. Dia dan Rery
sedang berada di pabrik milik Rery.
Rery tak langsung menyahut pada Clarence, hanya memandangi salah satu orang terdekat dan setianya itu. “What is it? (Ada apa?)” Tanya Clarence.
“Nothing, just I feel something about that man (Bukan apa – apa, hanya aku merasakan ada sesuatu dengan orang
itu)”
Rery menopangkan satu kakinya yang sedang duduk diatas sofa.
“I think that I familiar with his name. Same as Madelaine feel (Aku merasa kalau aku familiar dengan namanya. Sama, Madelaine pun merasa seperti itu)”
“Hmm ..”
Clarence manggut - manggut
“Well I think, no wonder if his name sounds familiar. Since he was known as one of a big business man here in Italy, and also known an man with a dirty business. You know ..”
“(Kalau menurutku sih, tidak heran jika namanya terdengar akrab. Dia dikenal sebagai salah satu dari para pebisnis besar di Italia ini, dan juga dikenal dengan bisnis kotornya. Kau tahulah ..)”
“Huumm.. Maybe you were right (Mungkin kau benar)”
****
“You said, Yanni Aberto want to meet me? (Kau bilang Yanni Aberto ingin bertemu denganku?)”
“Yes he is (Iya)”
“What for? (Untuk apa?)”
“Maybe want to negociate (Mungkin mau bernegosiasi)”
“For? (Untuk?)”
“Buy this factory of course. What else? (Membeli pabrik ini tentu saja. Apalagi?)”
“I thought you already emit the announcement to who that I am going to sell this factory to all people who ever bid
this factory? (Kukira bukannya kau sudah mengeluarkan pengumuman kepada siapa aku akan menjual pabrikku pada mereka yang pernah menawar pabrik ini?)”
“I did (Iya sudah kulakukan)” Sahut Clarence pada Rery.
“Then why Yanni Aberto still want to negociate? (Lalu kenapa Yanni Aberto masih ingin bernegosiasi?)”
“From what I heard is he is a person who can’t accept a refusement about business (Dari apa yang kudengar dia orang yang tidak bisa menerima penolakan tentang bisnis)”
“Maybe he wants to make this factory as his drugs barn (Mungkin dia mau menjadikan pabrik ini sebagai gudang
narkoba?)”
“Hahahahaha ....”
Clarence tertawa dan Rerypun terkekeh. Clarence dan Rerypun mengobrol santai setelahnya, membicarakan soal
kepindahan mereka.
***
“Sir ....” Seorang pria bersetelan rapih mendatangi Rery di ruangannya.
“Yes Ad?....” Sahut Rery pada pria yang barusan datang itu. Addison namanya, tangan kanan Rery di pabrik
miliknya.
Salah satu orang setianya Rery juga, yang sudah berdedikasi cukup lama dengannya.
“He is here (Dia disini)”
“Who? (Siapa?)”
“Yanni Aberto”
***
Di tempat yang berbeda...
“Have you already got information about to who Rery wants to sell his factory, Dam? (Apa kau sudah mendapat
informasi pada siapa Rery mau menjual pabriknya, Dam?)”
Putra bersama Damian sudah dalam perjalanan menuju Italia setelah mereka menyelesaikan segala hal yang
menyangkut Rery dan keluarga kecilnya, serta mereka semua yang setia pada Rery juga untuk segera pindah ke Indonesia dan istilahnya ‘membangun pasukan’ disana untuk melawan saudara angkat Rery yang ingin menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Rery.
Damian menggangguk. “Ya, already. I had time to call Yann and he told me about that (Ya, sudah. Aku sempat
menghubungi Yann dan dia memberitahukanku soal itu)” Ucapnya.
“Then to who, Rery wants to sell his factory? (Lalu pada siapa jadinya, Rery akan menjual pabriknya)”
“The Delano’s (Keluarga Delano)”
“Hmm ...”
“But Yann also said about another thing (Tapi Yann juga membicarakan hal yang lain)”
“About? (Tentang?)” Putra memfokuskan dirinya pada Damian.
“Yanni Aberto”
“Go on (Teruskan)”
“You know him right? (Kau tahu dia bukan?)”
“Ever heard. Don’t care. You know I don’t pay any attention about thing or people who didn’t have any connection
with us or due Rery and our business (Pernah dengar. Tak memperdulikan. Kau tahu aku tidak memperhatikan hal – hal tidak penting atau orang – orang yang tidak berhubungan dengan kita atau pun Rery dan bisnis kita)”
Damian manggut – manggut. “Ya, he is a bug you know, running black business under the fake business to cover it
(Ya dia kriminal tahu, menjalankan bisnis gelap dibawah naungan bisnis palsu untuk menutupinya)”
“Huh”
Putra tersenyum miring.
“Then what Yann talked about him? (Lalu apa yang Yann bicarakan tentangnya?)”
“Yann has kind of uncomfortable feeling about that guy (Yann merasakan perasaan tidak nyaman tentang pria itu)”
“Kind of? (Seperti?)”
“Yann also can’t tell, he just feel like that. Like, something wrong with that guy. Inept (Yann juga belum bisa bilang, dia hanya merasa seperti itu. Seperti, ada sesuatu yang salah dengan pria itu. Janggal)”
“I see .... (Begitu ya....)”
“I think we need to pin him (Kurasa kita harus menandai dia)”
“You were right. If Yann feel something not good about something or someone, means we have to aware (Kau benar. Jika Yann merasa gelagat yang kurang baik akan sesuatu atau seseorang, artinya kita harus waspada)”
“I’m going to find every information from the very small thing about that guy, Yanni Aberto right after we arrived at Italy (Aku akan segera menggali informasi dari yang terkecil tentang pria bernama Yanni Aberto itu tepat setelah kita tiba di Italia)”
Putra pun manggut – manggut.
***
“Sir ....”
“Yes Ad?....”
“He is here (Dia disini)”
“Who? (Siapa?)”
“Yanni Aberto”
“Yanni Aberto?”
“Yes, Sir (Iya, Tuan)” Sahut pria yang bernama Addison itu. Rery dan Clarence kemudian saling tatap.
“Tell him to wait (Bilang padanya untuk menunggu)” Titah Rery. Addison pun mengangguk lalu undur diri dari
ruangan Rery.
“You didn’t tell me that he wants to meet me by now? (Kau tidak bilang padaku kalau dia ingin menemuiku sekarang?)” Ucap Rery seraya bertanya memastikan pada Clarence.
“I also don’t know about that. He just said to me yesterday, when he approached me at the restaurant, he wants to
meet you and I said to him to wait for my call to inform him if you want to accept meeting him”
“(Aku juga tidak tahu tentang itu. Dia hanya bilang padaku kemarin, saat ia menghampiriku di restoran, dia bilang ingin bertemu denganmu dan aku katakan padanya untuk menunggu aku menghubunginya jika memang kau mau menemuinya)”
Clarence menjelaskan dengan wajah yang nampak memang keheranan.
Rery pun manggut – manggut, nampak berpikir.
“I wonder why he is longingly, insist to meet me? (Aku heran kenapa dia sangat ingin, memaksa untuk menemuiku?)”
“I think the same thing as you (Aku juga berpikir sama denganmu)”
“.......”
“Let me who go to meet him (Biar aku saja yang menemuinya)” Clarence mengajukan diri. “Call Yann to come
(Hubungi Yann untuk datang)”
“No, let meet him together. You Call Yann first to come, and you tell Addison to bring that man here (Tidak, kita temui saja dia bersama. Kau hubungi Yann untuk datang, lalu pergilah ke Addison untuk membawa pria itu kesini)” Ucap Rery dan Clarence pun mengangguk cepat, lalu melakukan semua yang Rery minta.
***
“Buongiorno Signore Rery Smith (Halo apa kabar Tuan Rery)” Seorang pria Italia namun tidak berwajah khas Italia asli telah dipersilahkan masuk oleh Clarence untuk menemui Rery dalam ruang kerja pribadi di pabrik milik Rery.
“Buongiorno Signore Yanni Aberto”
Rery tersenyum seraya menyambut uluran tangan pria bernama Yanni Aberto yang kemudian dipersilahkan duduk oleh Rery.
“What an honor have a chance to meet one of a man who well-though-of in Ravenna (Suatu kehormatan memiliki
kesempatan untuk bertemu salah satu orang yang dihormati di Ravenna)” Pria bernama Yanni Aberto kembali berkata setelah ia duduk.
“Your English sound so well (Bahasa Inggrismu terdengar lancar), Mister Yanni Aberto” Ucap Rery dengan sopan dan elegan, seperti wibawanya selama ini.
“Haha! Thank you. I have a lot of English friend (Terima kasih. Aku punya banyak teman Inggris)”
“I see (Begitu)”
Pria bernama Yanni Aberto itu tersenyum pada Rery. Namun Clarence intens memperhatikan gerak – geriknya yang
bagi Clarence sedikit mencurigakan, sambil menunggu salah seorang kepercayaan Rery lainnya datang.
Rery pun juga sama. Diam – diam memperhatikan gelagat pria bernama Yanni Aberto itu dibalik sikap tenang dan
senyum keramahannya.
“What makes you very longingly to meet me, Mister Yanni? (Apa yang membuatmu sangat ingin bertemu denganku Tuan Yanni?)”
Pria bernama Yanni Aberto itu tersenyum aneh saat Rery selesai bertanya padanya.
Mata Rery pun tak putus memandang pada pria itu, masih dengan senyum keramahannya juga.
“Ah, forgive me, you want me to speak with Italian? (Ah, maafkan aku, kau ingin aku berbicara dalam bahasa
Italia?)” Ucap Rery.
“English please, I already usual with that (Bahasa Inggris saja, aku sudah mulai terbiasa )”
Padahal Otornya cari aman 😃
“Straight to the point. I like it (Langsung pada intinya. Aku suka itu)” Ucap Yanni Aberto.
“We are not wasting our time in business right? (Kita tidak membuang waktu dalam bisnis bukan?)”
“You are absolutely right! (Kau benar sekali!)” Sahut Yanni Aberto antusias. “That’s why I don’t want wasting
my time, to meet you as soon as possible (Itulah mengapa aku tak ingin membuang waktu, untuk segera menemuimu)”
“I thought that my trusted man had told you to wait until he inform you, whether if I want to meet you (Kupikir orang kepercayaanku sudah mengatakan padamu untuk menunggu dia memberitahumu, jika aku memang ingin bertemu denganmu)”
“Forgive my impudence, Mister Rery. But I have a matter with patience (Maafkan kelancanganku, Tuan Rery. Tapi aku memiliki masalah dengan kesabaran)” Ucap Yanni Aberto sembari memberikan tatapan penuh arti pada Rery.
Rery menyunggingkan senyumnya kemudian. “Alright then, now tell me the reason why you are ‘impatience’ to meet me? (Baiklah kalau begitu, sekarang katakan padaku alasan mengapa kau begitu ‘tak sabar’ untuk bertemu denganku?)”
“This factory (Pabrik ini)”
“I believe you already heard about the announcement that I already decided to who I want to sell it (Aku yakin kau sudah mendengar pengumuman yang sudah ku putuskan kepada siapa aku ingin menjual pabrik ini)”
Yanni Aberto menarik satu sudut bibirnya. “Yes, I already heard about it (Ya, aku sudah mendengarnya). But ... (Tetapi) ....”
“For all things that I have been decided, I usually, never change it (Untuk semua hal yang telah kuputuskan, aku
biasanya, tidak pernah merubahnya)” Ucap Rery sopan, namun ketegasan dalam ucapannya tergambar dengan jelas.
Yanni Aberto manggut – manggut sambil tersenyum tipis. “I see (Begitu ya)” Ucap Yanni Aberto.
“So, if you come here to negociate about this factory, I believe you already know my answer (Jadi, jika kau datang kesini untuk bernegosiasi tentang pabrik ini, aku rasa kau sudah tahu jawabanku)”
“Well, now I know why you have a big respect here in Ravenna (Sekarang aku tahu mengapa kau begitu dihormati di Ravenna)”
“I’m a man with my words (Aku pria yang memegang kata – kataku)”
Yanni Aberto menunjukkan senyumnya sembari memandangi Rery dengan tatapan yang sedikit membuat Clarence
yang tak buka suara saat Rery dan Yanni Aberto bercakap merasa sedikit curiga. Yann baru saja tiba.
“Rery ... Sir ..”
Yann menyapa Rery dan tamunya.
“Alright! (Baiklah!)”
Yanni Aberto kembali bersuara sembari berdiri dari duduknya.
Rery dan Clarence juga bangkit dari duduk mereka.
“Since I do not want to wasting your time, and I believe that I will heard a rejection if I insist to negociate with you to sell this factory to me, then allow me to excuse myself (Selain aku tidak ingin membuang waktumu, dan aku percaya kalau aku akan mendengar penolakan jika aku memaksa untuk bernegosiasi denganmu untuk menjual pabrik ini padaku, ijinkan aku pamit undur diri)”
Clarence dan Yann entah kenapa langsung saling tatap dengan wajah yang menunjukkan keheranan.
“Thank you for your time, and forgive if I was impolite (Terima kasih untuk waktumu, dan maafkan jika aku tidak sopan)” Ucap Rery dengan keramahan, mengulurkan tangannya pada Yanni Aberto yang menyambut uluran tangan Rery kemudian.
Pria bernama Yanni Aberto itupun keluar dari ruang kerja pribadi Rery setelah berpamitan dengan diantar oleh
Addison.
***
“What is it? (Ada apa?)”
Rery menatap pada Clarence dan Yann yang masih berada bersamanya dalam ruang kerja pribadi Rery selepas
kepergian Yanni Aberto bersama dua bodyguardnya.
“I really don’t feel good about that guy (Aku benar – benar merasa ada yang janggal dengan pria itu)”
Itu Yann yang bicara. Rery kemudian menatapnya.
“What makes you feel like that? (Apa yang membuatmu merasa begitu?)”
“Just my feeling, but quite disturbing (Hanya perasaanku, tapi cukup mengganggu)”
“Then it means that we have to find out about that guy more detail (Itu berarti kita harus mencari tahu tentang orang itu lebih detail lagi)” Clarence menimpali ucapan Yann. Clarence juga merasakan hal yang sama seperti Yann tentang Yanni Aberto.
“Beside, from what I know he is someone who like to insist if he wants of something, but as both of you seen, he walked away from here just like that, even without pushed Rery (Lagipula, dari apa yang kutahu dia orang yang sangat suka memaksa atas segala sesuatu yang dia inginkan, tetapi seperti yang kalian berdua lihat tadi dia pergi
begitu saja dari sini, bahkan tanpa mencoba memaksa Rery)
“If you say so, Clarence, Yann. Then do it (Jika kau berkata begitu, Clarence, Yann. Maka lakukanlah)” Ucap Rery. “Find out everything about Yanni Aberto (Temukan segalanya tentang Yanni Aberto)”
***
Keesokan harinya
Putra dan Damian sudah tiba di Italia.
Hari menjelang senja kala keduanya sudah menginjakkan kaki mereka lagi di Negara Kesatuan Republik Parlementer di Eropa. Putra dan Damian sedikit celingukan, sedang mencari – cari orang yang ditugaskan untuk menjemput mereka.
“You already told Rery, Clarence or Yann, Ad, that we arrive here today? (Kau sudah memberitahu Rery, Clarence dan Yann juga Ad, kalau kita tiba hari ini?)”
Putra bertanya pada Damian dan pria itu langsung menganggukkan kepalanya. “I even inform the time (Aku bahkan
menginformasikan juga waktunya)”
“Weird (Aneh)”
“Or they are really forget, because they are getting old (Atau mereka memang lupa, karena sudah semakin tua)” Celetuk Damian dan keduanya pun terkekeh bersama. Damian melirik arloji di pergelangan tangannya.
Putra juga melakukan hal yang sama, melirik arlojinya kemudian melihat ke atas langit.
“It’s almost rain, and I am a little bit hungry (Ini hampir hujan, dan aku sedikit lapar)”
Damian mengangguk, menyetujui ucapan Putra.
“Want to eat in one of Restaurant nearby, while we are waiting someone who pick – up us? (Mau makan disalah satu restoran terdekat, sementara kita menunggu seseorang menjemput kita?)” Damian menawarkan.
Putra langsung menggeleng. “Later, better we eat at Ravenna (Nanti saja, lebih baik kita makan di Ravenna)”
Damian pun mengangguk.
“PUTRA! DAM!” Seseorang yang berseru kencang membuat Putra dan Damian langsung menggerakkan leher mereka ke sumber suara.
“Lucky us, that is Ad (Kita beruntung, itu Ad)”
Putra menunjuk pada orang yang memanggil mereka dan nampak tergesa.
Hosh! Hosh!
“Ad?!”
Putra dan Damian sedikit terkejut dengan Addison yang datang kehadapan mereka sekarang. Pria itu nampak seperti berlari ribuan kilometer padahal, Putra lihat ia sepertinya membawa mobilnya.
“It's ... ( Itu ... )”
“What happened Ad?. What is wrong with you?! (Apa yang terjadi Ad?. Ada apa denganmu?)”
“It’s.... It’s Jaeden! He came! (Ada .... Ada Jaeden! Dia datang!)”
***
To be continue ...
Enjoy aja dulu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
Ana
🤭🤭🤭😁😁
2022-04-15
0
Arvino Shakeil
Lanjuuuut mak
2021-11-10
1