Happy reading .......
**********************
“Do not go to the hospital Dam! (Jangan pergi ke rumah sakit Dam!)”
“But Anthony.... (Tapi Anthony)....”
“Too risky if we bring Anthony to hospital Dam. We don’t know if Jaeden or Yanni know someone at there who
probably will inform them about Anthony and Jaeden could be came back or sent someone to kill Anth”
“(Terlalu beresiko jika kita membawa Anthony ke rumah sakit Dam. Kita tidak tahu apakah Jaeden atau Yanni kenal seseorang disana yang mungkin saja akan menginformasikan soal Anthony dan Jaeden kemungkinan akan kembali atau menyuruh seseorang untuk membunuh Anth)”
“....”
“I know a place (Aku tahu sebuah tempat)”
“Where? (Dimana?)”
“Bruna”
***
“Bruna ....”
“Oh Dio.... (Oh Tuhan) ....”
“Per pavore .... (Tolong) ....”
**
“Anthony is okay, right Bruna? (Anthony baik – baik saja, kan Ama?)”
“He needs to be take to the hospital Putra (Dia perlu dibawa ke rumah sakit Putra)” Ucap seseorang yang bernama Bruna yang ditemui Putra yang merupakan seorang wanita dengan paras yang cantik namun ketegasan juga tergambar jelas disana.
“Hard Bruna (Sulit Bruna)”
Wanita kenalan Putra yang bernama Bruna itu terdiam sejenak. Ia sudah mendapat cerita lengkap dari Putra dan
Damian tentang apa yang sudah menimpa Anthony dan orang tuanya yang Bruna kenal juga.
Wanita Italia yang paham dan lancar berbahasa inggris itu juga sama bingung dan khawatirnya soal Anthony
sebagaimana Putra dan Damian. Diapun berduka cita atas tewasnya Rery dan Madelaine yang kehilangan nyawa dengan cara yang mengerikan. Bruna memang bukan seorang Dokter resmi, tapi ia cukup memahami ilmu kedokteran.
Makanya Putra langsung berpikir untuk membawa Anthony ke tempat Bruna yang berada di ujung Ravenna.
“*I can *understand Putra, Dam (Aku bisa mengerti itu Putra, Dam)”
Lalu Bruna nampak berpikir.
“Then, how is Anthony?. Is he in bad condition? (Lalu, bagaimana Anthony?. Apa dia dalam kondisi yang buruk?)”
Tanya Putra.
“Is there is no reaction from him for about twelve hours, I appology to say, yes. But if Anthony can through that time and wake up, even just for a small move then he could become better”
“(Jika tidak ada reaksi dari selama dua belas jam, maaf jika harus kukatakan, Iya. Tetapi jika Anthony bisa
melewati waktu itu dan kemudian ia terbangun, walaupun hanya sedikit pergerakan makan kondisinya bisa membaik)”
“How bad his condition could be if he is not giving any reaction? (Seberapa buruk kondisinya jika ia tidak
memberikan reaksi sama sekali)”
“......”
“Just tell us the truth Bruna (Jujur saja pada kami Bruna)” Pinta Damian yang juga mewakili Putra.
“Comma... Death, also (Koma.. Juga, kematian)”
“How it is going to be now Putra? (Lalu bagaimana selanjutnya Putra?)” Kini Damian bertanya pada Putra.
“.......”
“I saw a bruise at Anthony’s neck. He might hit by something with that hard, and I think that’s the reason why he won’t wake up untill now. And based on what both of you told me, he was drowned quite longer. So that could be another probability also”
“(Aku melihat ada memar di leher Anthony. Dia kemungkinan dipukul dengan cukup keras, dan kurasa itu yang
membuatnya tak sadarkan diri hingga saat ini. Sesuai dari apa yang kalian berdua katakan padaku, dia tenggelam sedikit lama. Jadi itu bisa jadi kemungkinan yang lain juga)”
“....”
“I only can have a detail diagnose if Anthony could be brought to hospital. But according to what was happened, also I have the same concern with you too Putra. I think you were right. It is risky too bring Anthony to hospital, since people known him as Rery’s Son”
“(Aku hanya bisa memberikan diagnosa detailnya jika Anthony dapat dibawa ke rumah sakit. Tetapi sehubungan
dengan apa yang telah terjadi, aku juga punya kekhawatiran yang sama denganmu Putra. Kurasa kau benar. Cukup beresiko jika kita bawa Anthony ke rumah sakit, karena orang – orang tahu kalau dia putranya Rery)”
“Don’t you have complete medicine here Bruna? (Bukankah kau punya obat – obatan yang lengkap disini Bruna?)”
“Medicine yes. Hospital equipments No (Obat – obatan iya. Peralatan rumah sakit tidak)”
“Suggestion?(Saran?)”
“......”
Bruna nampak berpikir lagi.
“I think I can put forth of something (Aku rasa aku bisa mengusahakan sesuatu)”
“What is it?! (Apa itu?!)”
“I have a friend. Trusted friend, don’t you guys worried. I can get those hospital equipment from him. But you guys
need to bring Anthony to another place but here”
“(Aku punya teman. Teman yang sangat bisa ku percaya, kalian jangan khawatir. Aku bisa mendapatkan peralatan
rumah sakit yang dibutuhkan dengan bantuannya. Tapi kalian harus membawa Anthony ke tempat lain selain disini)”
Putra dan Damian kemudian saling tatap.
“I think we know where (Kurasa kami tahu dimana)” Ucap Putra.
“Good. I will prepare everything, then you both can bring Anthony when the night is getting late (Bagus. Aku akan
mempersiapkan segalanya, lalu kalian dapat membawa Anthony saat malam sudah larut)” Bruna kemudian berdiri dari duduknya. Putra dan Damian menawarkan diri untuk membantu mempersiapkan segala hal sesuai yang Bruna arahkan sembari juga berdiskusi cepat untuk mempertimbangkan segala hal.
***
Waktu yang telah ditentukan oleh Putra, Damian dan Bruna telah tiba.
Segala peralatan untuk menopang hidup Anthony sementara waktu hingga Bruna bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk merawat Anthony sudah rapih dan siap berikut Anthony yang sudah ditempatkan dalam sebuah truk yang biasa untuk membawa bahan pangan.
Namun truk tersebut sudah dibersihkan dengan sangat bersih sebelumnya.
Bruna memang dapat selalu diandalkan baik saat Rery masih hidup karena Bruna punya banyak koneksi di
Ravenna dan hampir setengah Italia, namun hanya orang – orang tertentu saja yang dekat dengan Bruna dan ia percaya tentunya.
Bruna yang dikenal Rery sejak pertama kali laki – laki itu menginjakkan kaki di Ravenna, adalah seorang
buronan di Italia dan bersembunyi di Ravenna. Fakta itu baru diketahui Rery setelah mengenal Bruna lebih dulu. Meski begitu, Rery tak pernah melaporkan Bruna pada pihak berwajib karena Rery tahu, kisah Bruna kurang lebih sama dengan dirinya.
Yah serupa tapi tak sama.
Namun Rery menemukan fakta kalau Bruna tidak bersalah, namun banyaknya polisi korup di Italia yang mungkin saja beresiko atas keselamatan Bruna menjadi pertimbangan Rery kala itu.
Toh saat itu juga Rery baru saja mengenal Italia, belum mempunyai nama besar seperti sekarang meski kini Rery sudah tiada.
Jadi bagi Bruna, Rery dan keluarga kecil berikut orang – orang kepercayaan yang setia pada pria itu baik yang masih ada ataupun yang sudah tiada adalah keluarga. Dan Bruna cukup berhutang budi bahkan nyawa pada mereka semua.
Dan inilah saatnya ia membayar hutangnya pada Rery, dengan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra Rery satu – satunya.
Anthony.
***
“Putra, Damian. This is Ghai. He understand English but not really fluently yet. But I think you both still can
communicate with him (Putra, Damian. Ini Ghai. Dia paham bahasa inggris tetapi belum dapat bicara dengan lancar. Tapi kurasa kalian tetap dapat berkomunikasi dengannya)” Ucap Bruna menjelaskan seseorang yang ia perkenalkan pada Putra dan Damian.
“Okay”
“Ghai is someone that you can trust like you both trust me. So you both can count of him for anything (Ghai adalah seseorang yang kalian bisa percaya seperti kalian mempercayaiku. Jadi kalian bisa mengandalkannya untuk hal apapun)” Jelas Bruna lagi.
“Alright, we get that Bruna (Baiklah, kami paham Bruna)”
“Thank you to you too, Ghai (Terima kasih juga padamu, Ghai)”
“My pleasure, Sir (Dengan senang hati, Tuan)”
“Go now. It’s the safest time in Ravenna (Pergi sekarang. Ini adalah waktu yang paling aman di Ravenna) You guys
can reach save house with no obstacle (Kalian bisa mencapai rumah aman tanpa kendala)”
Bruna kembali berbicara.
Putra, Damian dan Ghai langsung mengangguk. Lalu Putra dan Damian memindahkan Anthony dari rumah Bruna ke dalam bagian belakang truk dengan perlahan dan hati – hati berikut tempat tidur sementara yang dapat menjaga kenyamanan bocah itu dalam tidurnya yang sudah sedikit lama.
Lalu Ghai akan menutup truk itu rapat rapat dan menumpukkan beberapa kardus yang diisi berbagai macam barang ringan untuk menutupi keberadaan tiga orang yang juga didalam bagian belakang truk.
“You guys be careful (Kalian hati – hati)” Ucap Bruna sembari membantu Ghai memasukkan beberapa dus untuk
menutupi keberadaan Putra, Damian dan Anthony. Putra dan Damian pun mengangguk pada Bruna.
“You also be careful when you reach Rery’s Mansion, Bruna (Kau juga hati – hati saat nanti kau sampai di
kediaman Rery, Bruna)”
Gantian Bruna yang mengangguk.
“I will. I wish I can meet Addison (Pasti. Aku harap dapat bertemu Addison) I also a little bit worried of him (Aku juga sedikit khawatir padanya)”
“Don’t worry. Ad knows everything that he should do (Jangan khawatir. Ad tahu persis apa yang harus dia lakukan)” Ucap Damian.
“Okay. See you guys soon, then (Baiklah. Sampai jumpa lagi secepatnya)”
***
Waktu bergulir ....
Sudah satu bulan sejak duka yang terjadi pada Rery dan Madelaine, termasuk beberapa orang setia mereka yang
kebetulan sedang berada di Kediaman Rery saat Jaeden membantai mereka tanpa ampun.
Namun hingga detik ini, Anthony belum juga sadarkan diri.
Bocah malang itu seperti terlena dalam alam bawah sadarnya.
Meski Bruna, yang dengan setia dan teliti sudah mengecek kondisi fisik Anthony secara keseluruhan dengan
peralatan rumah sakit lengkap sebagai bantuan untuk merawat Anthony dari seorang teman baiknya yang seorang Dokter, namun Anthony seolah enggan untuk ‘kembali’.
Meski fisiknya sudah bisa dikatakan dalam keadaan yang sudah cukup baik.
‘‘Are you lost, Boy? (Apa kau tersesat, Nak?)’’ Untuk yang kesekian kalinya, Putra berbicara pada Anthony yang wajahnya nampak begitu damai dalam tidurnya yang sudah lama.
“Hey, Anth, we have a lot of ice cream. If you wake up, we will give that all for you (Hey, Anth. Kami punya banyak es krim. Kalau kau bangun, akan kami berikan semua itu untukmu)”
Damian juga sama seperti Putra, sering mengajak Anthony bicara meski bocah itu belum memberikan respon yang signifikan sampai sekarang.
Namun Putra dan Damian selalu bersabar. Asa, agar Anthony bisa segera sadar tak pernah hilang dari hati mereka.
Setelahnya, Putra dan Damian juga Bruna yang kini sudah tinggal bersama mereka dalam sebuah tempat rahasia yang mereka sebut ‘save house’ itu kemudian akan menghabiskan waktu dengan mengobrol, dan menyusun rencana hingga waktu yang belum ditentukan.
Lalu mereka pun juga menghabiskan waktu dengan diri mereka sendiri, melakukan hal – hal apapun dalam bangunan rahasia tersebut, karena selama sebulan ini, sejak Putra dan Damian juga Anthony dan disusul Bruna, mereka semua belum lagi keluar dari sana.
Sementara Ghai, ditempatkan di luar Save House. Untuk menjadi mata bagi Putra, Damian dan Bruna dan hanya akan datang di waktu – waktu yang sudah mereka tentukan sebelumnya, atau saat Ghai memiliki berita penting yang harus segera didengar Putra, Damian dan Bruna.
***
“Sir, Miss (Tuan, Nona). Yanni Aberto is coming to Mister Rery’s Mansion (Yanni Aberto mendatangi Kediaman Tuan Rery)” Ghai datang membawa berita di larut malam yang begitu gulita. Membuat Putra, Damian dan Bruna sontak terkejut dengan berita yang Ghai sampaikan barusan.
Ghai yang punya akses ke save house itu, sudah memprediksikan waktu yang aman untuk pergi ke tempat tersebut.
“You know the reason, Ghai? (Kau tahu alasannya, Ghai?)” Tanya Damian.
“From the – information, he wants to take over Mister Rery’s Mansion. (Dari – informasinya, dia mau mengambil
alih kediaman Tuan Rery)”
***
To be continue...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
Babayaga
ayo putra, musnahkan Yanni aberto & kelompoknya kemudian baru habiskan sampai tak bersisa jaeden & anggotanya juga...
2021-11-19
2