"Ayo, aku mau cepat sampai di rumah," kataku.
Reza pun tersenyum bahagia. Dan seperti permintaan Raline dan Raheel, kami mampir sebentar di sebuah minimarket dalam perjalanan pulang.
"Mas, itu sepertinya Mas Alfi. Iya, bukan, sih?" kataku, sesaat setelah Reza memarkirkan mobil.
Reza celingak celinguk. "Mana?"
"Itu...." Kutunjuk posisi mereka di kursi santai di depan kedai kecil tidak jauh dari minimarket itu. Mereka tampak bencengkerama dengan riang. "Dengan siapa dia? Itu bukan Mayra, kan?"
Reza berdeham. "Itu Dinda, yang satunya babysitter, tiga anak kecil itu anak-anaknya. Kamu masih ingat, kan, dengan Bella dan Claudya? Kamu pernah bertemu dengan mereka."
"Ya, ingat. Memangnya aku pikun?"
"Hmm...."
"Tapi bukannya ini lebaran ketujuh, ya?"
"Ya, kenapa?"
"Harusnya Mas Alfi hari ini bersama Mayra, kan? Kok ini?"
"Emm... tidak usah dibahas, ya, Sayang, ya? Itu bukan urusanmu. Bukan urusan kita. Oke?"
Aku menyeringai. "Aku tahu. Tapi kan--"
Reza memotong kalimatku dengan cepat, "Kita tidak usah ikut campur rumah tangga orang, oke?"
"Bukannya begitu, Mas...."
"Sudah. Stop. Dengarkan kata suami."
"Em, iya," kataku seraya mengangguk. "Kita cari minimarket lain, ya. Aku tidak nyaman di sini."
Aku tidak suka melihat canda tawa seseorang di atas luka orang lain. Sepertiku dulu, kebahagiaan ayahku dan para selingkuhannya di atas perih luka-lukaku. Aku tidak suka. Aku jadi berpikir, apa Mayra sekadar menutupi kekurangan suaminya sewaktu ia menjawab pertanyaanku tentang keadilan Alfi tentang pembagian waktu untuk dia dan Dinda?
Ah, mood-ku kembali menurun. Tapi untungnya Reza menuruti mauku tanpa bantah. Mobil yang baru saja terparkir langsung melaju dan kembali melintasi jalan raya.
"Itu ada minimarket di depan," kataku. "Berhenti di situ saja, Mas."
Reza mengangguk. Kami segera menepi, masuk ke dalam minimarket dan membeli cukup banyak snack dan es krim dengan rasa sesuai pesanan adik-adik sepupuku -- dalam waktu sesingkat mungkin, untuk mengejar waktu makan siang bersama di rumah. Tidak enak juga orang-orang sudah menunggu, pikirku.
"Yakin sudah selesai?" tanya Reza ketika kami sudah kembali ke mobil. Dia sudah bersiap mengemudi.
Aku mengangguk sembari mengecek kantong belanjaan. "Sudah," gumamku pelan. "Ya, sudah, Mas. Ayo, kita langsung pulang." Reza menghidupkan mobil dan segera melajukannya. Kami pun keluar dari pelataran parkiran minimarket.
Entah bagaimana, hanya dalam beberapa menit sepeninggal kami masuk ke dalam minimarket dan sekembalinya kami ke mobil, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung, hujan tampaknya akan turun. Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik, bulir-bulir air hujan telah menimpa kaca mobil kami, semakin banyak dan akhirnya cukup deras.
Aku dan Reza memilih tetap melanjutkan perjalanan, kendati curah hujan yang cukup deras membuat pandangan kami tidak leluasa. Reza tetap serius menatap jalanan, sementara banyak pengendara motor yang menepi dan pengendara bermobil memperlambat laju kendaraan mereka karena licinnya jalanan, sedangkan bagi mereka -- pengendara bermobil yang tidak sabar, mereka sibuk membunyikan klakson.
Dalam kericuhan itu pula, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba ada sebuah mobil menyerempet dari arah belakang, Reza panik lalu membanting setir ke kiri jalan, seketika aku menjerit dan kami terkesiap. Untunglah, Reza masih mampu menguasai keadaan, ia mengerem mobil dengan tajam, menimbulkan suara berdecitan dari ban mobil yang bergesekan dengan jalanan aspal yang basah hingga mobil kami keluar dari jalan. Hampir saja. Untungnya kami berdua selamat. Tapi tetap saja, perutku jadi sedikit sakit.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Sakit," kataku.
"Kita ke rumah sakit, ya."
"Um, ti--"
Tiiiiiiiin!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rifa Endro
kenapa lagi ?
2023-06-12
1
Deliana
uuuuuuhhhh jd dek2 ser....
2022-07-21
1
TikTikTik
pasti ada yang sengaja tuh
2022-01-04
0