Aku duduk tegak di tempat tidur, darahku mendesir dan wajahku basah oleh peluh. Jantungku berdebar sangat kencang, seolah-olah hendak meledak keluar dari dadaku. Jam menunjukkan saat itu pukul 03.12 dini hari, tapi itu tak mungkin benar. Rasanya aku baru tertidur selama beberapa menit.
Aku terus menatap jam di ponselku. Mengerjap. Mencoba memfokuskan pandangan dan berusaha membuat segalanya terasa lebih masuk akal. Tapi tetap tidak bisa. Aku ketakutan.
"Sayang? Kamu baik-baik saja?"
Mimpi tadi kembali membanjiriku, dan tiba-tiba saja kamar rawat itu terasa lebih sempit, udaranya pun terasa lebih tipis. Dadaku terasa sesak, dan kucoba untuk menarik napas dalam-dalam. Aku seperti orang yang mengidap asma.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Reza bertanya lagi, lalu ia memelukku. Bisa kulihat raut kekhawatiran di wajahnya. "Tenang," katanya. "Tenang. Kamu hanya mimpi buruk, oke? Rileks."
Tatapi aku masih saja ketakutan.
"Apa soal kejadian kemarin? Kamu mimpi itu lagi?"
Aku mengangguk, lalu menggeleng tidak jelas. "Aku...," tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Kutekan kepalaku kuat-kuat karena kesal -- kesal pada mimpi buruk yang berhasil menggangguku. Air mataku mulai menetes.
Reza melepaskan pelukan, lalu ia berdiri dan mengambilkan air putih untukku. Aku meminumnya, dan merasa lebih baik setelah meneguk hampir setengah gelas air dari tangannya.
Baru kusadari, bajuku -- baju pasien -- basah kuyup dan membuatku merasa tidak nyaman. "Aku ingin ganti pakaian, Mas."
"Biar kubantu."
Aku mengangguk. Reza pun mengambilkan pakaian ganti dari dalam koper dan membantuku berganti pakaian. Sebenarnya aku bisa melakukan itu sendiri, tapi aku suka perhatiannya -- sekecil apa pun itu. Sesaat kemudian, Reza kembali duduk di sampingku setelah menaruh baju pasien itu ke kamar mandi. "Mau membicarakannya?"
"Hm." Aku bergidik. Kemudian berubah pikiran. "Tidak." Kurebahkan kepalaku ke bahunya. "Entahlah. Aku bahkan tidak...." Aku menggeleng lagi.
Alis Reza bertaut. Dia menatapku dengan tanda tanya. "Apa? Ceritakan saja. Hmm?"
"Tidak ada gunanya membicarakan mimpi tadi, Mas. Cuma mimpi bodoh. Tidak berarti apa pun dan tidak mengubah apa pun. Lupakan saja."
Reza mengangkat bahunya, dan merangkulkan tangannya ke tubuhku. Kini aku bersandar di dadanya. "Kadang-kadang akan terasa lebih melegakan jika kita membicarakannya."
"Tapi mimpiku itu tidak masuk akal." Lalu aku menceritakan potongan mimpi yang masih kuingat. "Dalam mimpi itu aku juga ditusuk. Perutku, Mas. Aku tidak bisa melawan. Aku...."
Lagi-lagi kalimatku terputus. Hanya beberapa kalimat saja tapi membuatku terengah. Kuhela napas dalam-dalam, tapi itu justru membuat dadaku semakin terasa sesak.
"Tenang...." Reza mengelus perutku. "Itu tidak akan terjadi. Orang itu tidak melakukannya kemarin. Tidak juga ke depannya, karena aku akan selalu bersamamu, setiap detik, setiap menit, dua puluh empat jam. Kalau perlu, kita pakai jasa bodyguard selamanya. Oke? Demi kebaikanmu, juga demi anak-anak kita."
Aku tersenyum setengah hati. "Ya, kuharap begitu."
"Sayang, dengarkan aku, cobalah untuk tidak menjadikan semua ini sebagai beban. Cukup jalani semuanya. Nikmati saat ini, dan di sini. Ada aku. Kita bisa melewati ini bersama, oke?"
Aku mengangguk, Reza tampak lega. Kami duduk dalam diam beberapa saat. "Aku tidak mau tidur lagi," akhirnya aku menggumam. "Aku tidak mau mimpi buruk lagi."
"It's oke. Kalau yang itu aku bisa membantu." Dia tersenyum, lalu mencium bibirku dengan lembut. "Kita bisa melakukan apa pun untuk menunggu pagi. Apa pun yang kamu inginkan. Ada aku bersamamu. Hmm?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Deliana
siapapun yg melakukan ny,, itu pasti demi kebaikan dan kbhagiaan mu nara....
2022-07-20
1
TikTikTik
antara Mayra dan Alfi
2022-01-04
0
Nietta Harry
mayra kahh...???"🤔🤔
2021-11-23
2