Kurang lima belas menit jam sepuluh pagi, kami sudah tiba di kantor polisi. Setibanya di parkiran, Reza menolehku, kekhawatirannya nampak lebih besar daripada aku. Dengan lembut, ia merema* jemariku. "Janji, kamu dan anak-anak akan baik-baik saja selama penyelidikan nanti, ya?"
"Pasti. Aku akan berusaha menjaga emosiku supaya tetap stabil, dan anak-anak kita, mereka kuat, persis kamu, Papanya."
Reza mengangguk, kendati rasa takut terjadi sesuatu yang buruk padaku -- terlihat jelas di matanya. "Iya, harus seperti Papa. Apalagi Angga, harus lebih dari Papa. Anak laki-laki harus kuat, harus bisa menjaga Mama dan Anggi. Angga harus lebih dari Papa. Papa pernah lalai, sering. Tapi, Angga jangan, jangan pernah, Nak," dia bicara sambil menatap dan mengelus perutku.
"Mas, tidak ada manusia yang tidak pernah lalai. Sudah, ya. Jangan bahas ini. Nanti anak-anak kita jadi penasaran apa maksud papanya. Terus, mereka demo. Mamanya nanti yang jadi sasaran. Mamanya yang nanti ditendang-tendang."
Tidak lucu! Aku tahu. Tapi semuanya mengalir begitu saja. Seperti itu adanya. Dan, tetap saja, mata kami berkaca-kaca. Tidak bisa dipungkiri, rasa takut dan cemas tertanam kuat di dalam benak kami masing-masing.
Yeah, mengenai kalimat yang dituturkan Reza tadi, aku tahu Reza menyimpan banyak penyesalan. Tapi, toh, manusia tidak bisa menjadi super hero yang selalu bisa melindungi orang-orang di sekitarnya. Tentang musibahku, tentang Salsya, juga tentang penderitaan dan kematian Aruna.
"Mas?"
"Em, apa?"
"Lebih dekat, please...."
"Mmm-hmm, untuk apa?"
"Aku mau...."
Cium. Aku menciumnya -- cukup lama. "Aku tidak suka kekhawatiran dan penyesalan di matamu," kataku. Lalu aku menciumnya lagi, lebih dalam, lebih lama -- sangat lama. Ciuman yang berbalas. Kubiarkan ia menikmati bibirku dengan rakus, seakan-akan ciuman itu benar-benar bisa melebur semua keresahan di hati kami masing-masing. "Kita akan baik-baik saja. Iya, kan?"
Dia mengangguk dengan senyuman. "Pasti, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja."
Benar. Selama kita bersama. Aku harus meyakini itu. Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu, dari suatu tempat di kedalaman relung-relung hatiku, suatu pemikiran mulai mendesak menerobos kumpulan emosi yang berputar-putar. "Aku menginginkan sesuatu," cetusku.
Reza menatapku, sebelah alisnya terangkat. "Apa?"
"Sesuatu yang bisa membuatku bahagia hingga berdebar-debar. Aku tidak tahu apa. Tapi aku menginginkan itu darimu."
Reza diam untuk berpikir sejenak. "Akan kupikirkan nanti. Tapi sekarang kita masuk dulu. Hmm? Siap, kan?"
"Oke. Tapi... sebelum itu, beri aku satu ciuman lagi. Itu akan membuat perasaanku lebih baik."
Senyuman hangat seketika menghiasi wajah suamiku. "Tentu," sahutnya. "Kamu juga akan mendapatkannya lagi nanti, setelah sesi tanya jawab yang menyebalkan itu."
"Mmm-hmm, obat mujarab. So, give me."
Reza melirik jamnya, tujuh menit menuju jam sepuluh pas. "Aku akan memberimu lebih."
Hah! Agak konyol, dia membuka kancing-kancingku dan membenamkan wajahnya di dadaku.
"Kamu mau apa, Mas?"
Ssst....
Hanya desisan itu yang keluar. Aku terkikik. Bisa-bisanya dia menyempatkan diri berpanas-panasan di menit-menit seperti ini. Dia seperti serangga nakal yang menggigit dan mengisa* darahku.
"Eummmmm... uh...," napasku tersengal. "Sudah, Mas. Nanti kamu kebablasan. Bahaya, tahu!"
Mulutku berkata demikian, tapi hasratku meminta lebih. Dan seperti biasa, Reza pura-pura tuli. Bukan Reza namanya kalau dia tidak ngeyel. Kuakui, ini kemesraan yang menyenangkan, dan tidak ada yang salah dengan hal ini. Toh, dia menikmati tubuh istrinya sendiri, di dalam mobil milik sendiri dengan kaca yang super gelap.
"Uh, Mas... harusnya tadi di kamar mandi rumah sakit... Eummmmm...," mulutku masih saja mengoceh di sela-sela kemesraan. "Mas...." Kugigit bibir untuk menahan luapan hasratku yang menggebu.
Reza nyengir. "Di sini lebih menantang," katanya. Dan, uuuh... tangannya yang nakal tahu-tahu menyelinap ke sela pahaku dan memberikan sensasi menggelitik. "Mau dilanjutkan? Hmm?"
Aku menggeleng dan kusingkirkan tangannya dari sela pahaku. "Tidak mau, aku tidak suka momen singkat dan terlalu cepat. Maunya yang extra hot dan super lama."
Reza cekikikan. "Istriku yang tak pernah terpuaskan."
"Mmm-hmm, dan kamulah suami yang beruntung."
Kami saling menatap, saling tersenyum, lalu berciuman sekali lagi.
"Aku mencintaimu."
Kuanggukkan kepala dengan mata berbinar. "Aku juga mencintaimu. Terima kasih karena kamu setia di sisiku. menemaniku menghadapi semuanya."
Reza balas mengangguk. "Semangat, jangan takut, jangan stres, oke?" Lalu ia berkata dengan suara yang lebih pelan di telinga, "Ingat saja, nanti aku akan memberimu kenikmatan yang lebih daripada ini."
Eummmmm... satu *sapan lagi mendarat di leherku.
"Yeah. Aku menantikannya. Menantikan yang lebih."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Deliana
aahhh kok panas y... 🤣🤣🤣
2022-07-20
1
Mamah Afzar
reza bikin hareudang nih 🤣
2022-02-27
1
TikTikTik
hot hot pop
🤣🤣🤣
2022-01-04
0