Di jalan, Reza melajukan mobil tiga puluh kilometer per jam di bawah batas kecepatan, dan terus menerus melirik ke arahku. Tindakannya itu membuatku gila.
"Tidak apa-apa, Mas. Kamu mengemudi saja seperti biasa."
Reza melirikku lagi, tampak khawatir. "Perutmu terlalu sering sakit. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu tidak terguncang-guncang."
"Ini berlebihan, tahu!"
"Kamu diam, rileks dan jangan bawel."
"Ya, tapi tidak begini juga, Mas."
"Sayang... jangan bawel... bisa?"
Sebal. Aku menghela napas dalam-dalam, lalu berkata, "Aku baik-baik saja. Mengemudilah dengan kecepatan normal supaya kita cepat sampai. Itu tidak akan membunuhku."
"Sayang!"
Reza, ibuku, dan bibiku berseru kompak dengan ekspresi mereka yang super mengerikan.
"Maaf," kataku. "Pemilihan kata yang buruk." Duh... kalian ini, memperlakukan aku seolah-olah aku ini serapuh kaca.
Beberapa menit kemudian Reza membelokkan mobil ke jalan kecil dan rumah bibiku mulai terlihat. Spanduk raksasa bertuliskan SELAMAT DATANG, BUMIL KESAYANGAN! tergantung di atas pintu masuk.
"Oh, ya ampun," kataku.
Reza menghentikan mobil, dan kami semua pun keluar dari mobil. Ihsan, Aarin, Raline, dan Raheel yang sudah menunggu kami sedari tadi langsung menyambut kami dan membawa masuk barang-barang ke dalam rumah.
"Bagus! Kukira kamu akan keras kepala," kata Ihsan.
Aku melotot. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," sahutnya dingin sembari terus berjalan.
"Kamu akan menyeretku pulang kalau aku tidak menurut? Hmm?"
"Pasti, tentu aku akan melakukan itu kalau kamu keras kepala."
"Bukankah itu berarti kamu tidak menghargai keputusanku?"
Langkahnya terhenti, lalu ia berbalik. "Apa pentingnya menghargai keputusanmu kalau yang kulakukan itu untuk menjagamu dengan ekstra? Hmm?"
"Oke, anggaplah aku tidak penting. Bagaimana dengan suamiku?"
Praktis, Ihsan melirik Reza sekilas dengan tatapan tak bersahabat. "Dia menikahimu, artinya menjadi suamimu dan menjadi bagian dalam keluarga kita. Bukan berarti dia mengambilmu dari kami dan mengatur sepenuhnya apa yang terbaik untukmu."
"Iya, tapi kan...."
Ihsan menempelkan telunjuk ke bibirnya hingga aku terdiam. "Dia bisa membawamu pergi kalau dia menang suara. Kurasa itu tidak mungkin. Dan, yap, menikahimu bukan berarti mengajakmu menentang keluarga. Apalagi menentangku. Paham?"
"Pikiranmu berlebihan!"
"Terserah...."
"Dasar! Egois! Tukang atur!"
"Apa? Aku yang selama ini menjagamu dengan nyawaku."
Aku mendongak menghadapinya yang sekarang berdiri persis di depanku. "Jadi? Kenapa?"
"Kamu harus hormat dan patuh padaku. Dengar?"
Aku baru hendak menjawab ketika suara tepuk tangan heboh mendahuluiku.
"Dialog yang bagus!" kata ibuku.
"Ihsan tu, Bund."
"Kamu yang keras kepala!"
"Kamu yang menyebalkan!"
"Kalian berdua seperti anak kecil, baru ketemu langsung ribut."
Ibuku berlalu dan aku langsung merengut. Di saat yang bersamaan, Raline menghampiri Ihsan. "Bang Ihsan memang sering menyebalkan," katanya. "Tapi kali ini Raline ikut tim Bang Ihsan. Cayo!"
Bibirku semakin maju dua senti. Ternyata semua orang menonton kami sedari tadi.
"Sudahlah." Reza menghampiriku, meletakkan kedua tangan di bahuku dari arah belakang, lalu merema* bahuku dengan lembut. "Aku mengerti semuanya," katanya.
Aku mengedikkan bahu, lalu memutar tubuh menghadapnya. "Kamu tidak merasa tersinggung dengan perlakuan keluargaku?"
"Tidak sama sekali, Sayang." Ia tersenyum kecil, tapi nampak sangat tulus. "Aku malah senang, mereka sangat peduli dan sangat menyayangimu."
Oh... aku terharu. "Terima kasih. Kamu sangat pengertian."
Reza mengangguk. "Sudah seharusnya. Lagipula, aku yang harus mengucapkan terima kasih, karena berkatmu sekarang aku punya keluarga yang sehangat ini. Terima kasih."
"Hm, yeah. Ayo, kita masuk."
"Biar kubantu." Ia sigap membimbingku.
"Bantu apa?"
"Bisa saja kamu masih pusing, kan?"
"Ya ampun, Mas. Aku sudah sehat."
"Jangan bawel!"
"Aku serius. Kamu ajak main pun aku sanggup."
"O-owww... bagus kalau begitu."
Secepat kilat aku sudah berpindah ke gendongannya. Reza cekikikan melihatku yang memekik karena kaget. "Mas... turunkan aku. Aku malu...."
"Ssst... buktikan kalau kamu sanggup."
Ck! Sablengnya kumat. "Jangan sekarang juga kali... malu...."
Ish! Pura-pura tulinya juga kumat. Dia menggendongku dan langsung menyelonong masuk dan kami berpapasan dengan ibuku, ia pun langsung khawatir. "Kenapa, Nak? Kok digendong?"
"Katanya pusing, Bund," Reza beralibi.
Aku mengatupkan bibir menahan tawa. "Percuma. Bunda pasti tahu kalau begini."
"Diam, Sayang...," katanya menegurku dengan matanya yang sedikit melotot. "Kamarnya di mana, Bund?"
Ibuku menoleh dan menunjukkan arah. "Kanan, dekat tangga," katanya." Lalu ia berjalan mendahului kami untuk membukakan pintu.
"Terima kasih, Bunda."
Ibuku mengangguk dengan senyuman. "Hati-hati. Jangan terlalu digempur."
Eh?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rifa Endro
bunda ikutan sableng juga kaya reza
2023-06-12
1
Deliana
tdk ad jarak antara bunda dan anak2ny..
2022-07-20
1
Mamah Afzar
bunda pengertian sekalii
2022-02-27
1