Aku kehilangan keseimbangan. Terhuyung-huyung dan memegangi tepian wastafel erat-erat. Kutatap bayanganku di cermin kamar mandi. Bayangan seorang wanita muda dengan wajah kusut dan tak bercahaya. Wajahku kusam, mata sayup, tak bergairah. Perutku terasa melilit -- bukan melilit lagi, tapi diaduk-aduk. Aku menutup mata dan semakin erat memegang tepian wastafel. Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengusir rasa mual.
Namun, yang terjadi kemudian...
Aku cepat-cepat bergeser ke kloset duduk di sebelahku -- memuntahkan isi perut.
"Sayang," suara Reza terdengar setelah ketukan di pintu.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya sebelum menjawab dengan suara parau, "Masuk saja, Mas."
"Mual?"
Aku tidak memberikan jawaban apa pun untuk pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban itu. Reza pun bergegas menghampiri lalu memegang kedua lenganku, menuntunku kembali ke tempat tidur. Dia mengambilkan gelas berisi air mineral dan memintaku untuk meminumnya. Tenggorokanku terasa lebih lega dan nyaman. "Tolong ambilkan minyak kayu putih, Mas," pintaku yang langsung dipenuhi Reza, bahkan ia langsung mengoleskannya ke perut dan punggungku.
"Mau ke rumah sakit?"
Aku menggeleng lemah. "Bosan, Mas, keluar masuk rumah sakit," kataku terengah. Aku merasa badanku sangat lemah dan tak bertenaga setelah memuntahkan isi perut.
"Butuh sesuatu? Atau mau makan?"
Kugelengkan kepala sekali lagi. "Aku tidak selera."
Reza menunduk, lalu menganggukkan kepala dengan berat. Dia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Jangan bangun kalau masih pusing dan mual, istirahat saja."
"Iya, aku tadi bangun karena kebelet. Pingin pipis."
Sejenak Reza mencermati wajahku. Setelah itu dia tersenyum. Ibu jarinya berpindah ke pipi -- mengusap wajahku dengan lembut. "Kalau mau ke kamar mandi lagi nanti panggil aku, ya. Biar kugendong. Bahaya kalau kamu sampai terjatuh."
Aku hanya mengangguk. Yap, tadi Reza di luar karena aku tertidur. Inilah kenapa aku tidak suka menginap di rumah orang, tentu saja Reza tidak enak kalau harus di kamar terus kendati itu untuk menjagaku.
Dari tempat tidur, aku melayangkan pandangan ke luar jendela. Langit berwarna biru cerah dengan awan putih berarak. Beberapa burung terbang melintas. Suasana cerah pagi itu tak mampu membuatku senang dan nyaman. Bagaimana bisa senang kalau hanya bisa menikmatinya dari balik kaca jendela? Di tempat tidur, pula!
Takdir menggariskan kehidupanku menjadi seperti ini. Mimpi-mimpi itu membuatku tidak tenang dan istirahatku terganggu, sehingga daya tahan tubuhku kian melemah.
Memang, semalam aku tidak bermimpi, tapi tetap tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku terbangun beberapa kali dengan perasaan gelisah. Jadi, bagaimana bisa aku mengalami mimpi kalau aku hampir tidak tidur semalaman?
Kuputuskan untuk memejamkan mata. Selain merasa lelah, aku berusaha tidak terlalu larut dalam kesedihan. Aku tahu, semakin aku berpikir negatif, aku akan semakin sedih dan semakin terpuruk. Namun, tetap saja setitik air mata menetes pelan dari sudut mata, jatuh ke bantal.
Reza yang duduk bersandar di sisiku hanya terdiam. Ia hanya terus mengusap kepalaku. Aku tahu dia berusaha selalu terlihat tegar di hadapanku.
"Aku tidak mau merepotkanmu, Mas. Tidak mau membuatmu mengkhawatirkan keadaanku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku juga tidak ingin begini."
Reza tersenyum -- senyuman sedih. "Bukan soal repotnya, Sayang," ujarnya. "Mau serepot apa pun juga aku akan dengan senang hati mengurusmu. Aku hanya... aku tidak suka melihatmu sakit, aku tidak suka kamu menderita psikis seperti ini. Aku mau kamu sehat, bahagia. Aku...."
Aku mendesa* lagi, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih pucat. Sungguh pemandangan yang hampa dan menyedihkan. Wajar, ini kamar tamu, jelas berbeda dengan kamar tidur kami di Jakarta yang dihias dengan foto-foto mesra suami istri yang super seksi -- hanya berbalut handuk. Aku rindu pulang ke Jakarta, tinggal di rumah kami sendiri yang penuh kebebasan untuk bermesraan di mana saja. Tapi keadaan tidak memungkinkan, banyak faktor yang menjadi penghalang.
"Boleh aku minum obat tidur? Aku akan sehat kalau aku cukup istirahat." Kutatap mata Reza dengan penuh harap.
Reza mengangguk. "Nanti aku hubungi Tante, sekalian Tante dari rumah sakit. Tapi sekarang kamu makan dulu, ya. Aku ambilkan makanan."
Aku menggeleng enggan. "Nanti saja, Mas. Masih enek."
"Aku suapi sedikit-sedikit," bujuknya. Aku masih menggeleng. Merasa tidak direspons, Reza langsung mencetuskan mantranya, "Aku menuruti kemauanmu, kamu juga harus mau menuruti kemauanku. Oke?"
Mendengar itu, aku tersenyum lemah. "Dasar tukang paksa!" kataku.
Reza terkekeh. "Kamu yang suka dipaksa. Kalau kamu cepat menurut, tidak akan ada adegan paksa-memaksa, ya kan?"
Tak pelak, senyumku langsung mengembang. "Iya, aku memang suka dipaksa-paksa olehmu. Tapi aku maunya makan ikan saus asam manis, ya. Pesankan untukku, please...."
Dengan tersenyum lebar, Reza mengecup tanganku. "Siap, Nyonya. Apa pun untukmu."
Oh, terima kasih, Suamiku yang super siaga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rifa Endro
apakah sebenarnya ini ulah Kayla, syalsa hanya sebagai umpan. entahlah nebak2 doang sih
2023-06-12
1
Deliana
duuuuuhhhh seneng ny punya suami kyak reza... ☺☺☺
2022-07-20
1