"Kamu sudah diperbolehkan pulang."
Aku mengangguk. "Kita akan pulang ke mana, Mas? Bukan...?"
"Tidak, Sayang. Kita tidak akan pulang ke rumah. Lagipula rumah kita masih disegel police line." Reza yang tadinya beberes barang-barang kami yang hendak dibawa pulang -- langsung duduk di hadapanku. Dia menggenggam tanganku dan menatap mataku dengan lekat. "Untuk sementara kita tinggal di mes resto, ya? Sampai kita diperbolehkan pulang ke Jakarta."
Aku mengangguk lagi. Jelas aku setuju. "Kurasa itu lebih baik."
"Em, tentu. Oh ya, tadi... Bunda, Tante, Oom, mereka minta kita tinggal di rumah mereka sementara. Tapi... aku khawatir kamu tidak mau. Tapi kalau kamu mau--"
Aku menggeleng. "Tidak usah, Mas. Aku tidak mau merepotkan mereka. Apalagi kondisiku seperti ini. Aku tidak mau mereka mengkhawatirkan aku terus nanti."
"Tepat seperti dugaanku. Kamu hanya mau berduaan denganku, kan?"
Hah! Dia mulai kumat. "Dasar! Percaya diri sekali kamu."
"Fakta."
Aku tersenyum. "Iya, iya. Aku... maunya berduaan terus denganmu. Disayang-sayang... dimanja-manja... dielus-elus... di--"
"Diterapi cinta terus, kan?"
Ck! Spontan aku ngakak. "Kamu... selalu bisa membuatku tertawa. Terima kasih."
"Sudah? Hanya seperti itu?"
"Maksudnya?"
"Caramu berterimakasih pada suami. Cuma seperti itu?"
Aku mengangguk. Aku paham betul apa yang ia maksud. "Oke," kataku. Yap, dalam sekejap bibir kami pun saling bertaut sempurna. Seperti biasa, dia suka sekali menikmati rasa kenyal dari bibirku.
Ceklek!
"Eh, Bund, Tant. Sori, maaf," kata Reza. Dia malu tertangkap basah sedang memonopoli bibir istrinya di depan mata mertuanya.
Ibuku dan bibiku mesem-mesem. "Santai kelles...," kata bibiku. "Kan halal. Lanjut, gih! Lanjut...! Pura-pura tidak ada orang."
Hah!
Ibuku yang juga super jahil tidak mau kalah. "Iya, monggo dilanjut. Atau mau yang lebih? Sana, ke kamar mandi."
"Yey! Ayo, Mas! Capcusss...!" seruku dengan tampang cengengesan.
Wajah Reza langsung merah menahan malu. "Kamu malah ikut-ikutan."
"Aku serius, Mas! Ayo... gendong aku. Kita seru-seruan di kamar mandi. Ya, ya, ya?" Kugigit bibir bawahku dengan sensual, dengan wajah tersenyum, dan menaikkan alis beberapa kali. Menggodanya.
Reza mendelik, mencubit gemas kedua pipiku, lalu berbisik, "Kamu sama dengan mereka."
"Bunda...," pekikku.
Spontan Reza hendak menutup mulutku yang ingin mengadu.
Aku pun menepisnya lalu nyengir. "Hanya bercanda, Mas," kataku.
Semoga tidak berdosa, ya. Kan aku cuma bercanda. Peace....
"Kalian mending tinggal di rumah Tante dulu," ujar bibiku menyelip canda tawa kami. "Lebih banyak orang yang menjaga kan lebih aman. Ya, Sayang. Mau, ya?"
Aku dan Reza saling melirik. Saling menyampaikan pertanyaan melalui tatapan dan mimik muka. Hanya dengan dua alis terangkat, kami berdua saling mengerti pertanyaan masing-masing.
"Kalau Reza oke oke saja, Tant. Tergantung Nara."
Eit dah, nih laki....
"Oke, berarti fix, ya! Ayo, kita pulang."
Eh? Jawabanku tidak penting, kah?
"Kamu dilarang menolak. Tante ke sini khusus untuk menjemputmu. Karena Tante menyayangimu."
Hmm, baiklah. Aku mulai terbiasa dengan cara mereka semua menyayangiku -- dengan menyetirku, mengharuskan aku untuk menuruti semua keputusan yang mereka tetapkan.
Reza mengangguk dan merema* lembut jemariku. "Menurut saja," pintanya.
Ya sudahlah. Aku pun balas mengangguk. Satu yang pasti, aku harus bersyukur karena orang-orang di sekitarku benar-benar peduli dan sayang padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rifa Endro
aku masih penasaran aja . apakah Reza terlibat ?
2023-06-12
1
Deliana
nara bruntung smua anggota kluarga ny mnyayangi ny..
2022-07-20
1
Elvis Elvis
aris
2022-06-21
1