"Tolong ambilkan ponselku."
"Untuk apa?"
"Jangan cerewet! Aku cuma mau menelepon Bunda."
Mantraku berhasil. Reza langsung meraih tasku dan mengeluarkan ponselku. Aku pun langsung menelepon ibuku. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin mengabarkan tentang keadaanku, supaya ibuku dan keluargaku yang lainnya tidak khawatir. Itu saja.
"Bunda tidak perlu ke sini. Jangan beritahu Ihsan juga. Paling besok Nara sudah boleh pulang. Kalau tidak, ya Nara bakal kabur dari sini."
Pelesetan yang tidak lucu. Padahal dalam hati, aku menangis, menjerit, kesal dengan situasi -- situasi yang membuatku frustasi.
"Iya, oke. Bunda tidak akan ke sana. Tapi kalau besok kamu belum boleh pulang, Bunda ke sana, ya?"
Aku bergumam, "Emm... oke. Kalau Nara belum kabur, ya. Haha!"
"Kamu ini, Nak. Sudah, dong. Jangan pura-pura. Bunda tahu persis bagaimana kamu. Jangan pura-pura happy."
Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya keras-keras. "Bund...."
"Bunda tidak akan bertanya sekarang. Bunda cuma berharap pikiranmu segera jernih, supaya masalah yang kamu anggap terlalu berat itu bisa terasa lebih ringan. Kasihan cucu-cucu Bunda yang akan menjadi korban dari permasalahan orang tuanya."
Aku diam. Sekelumit rasa bersalah mulai menyelinap masuk. Mendengar ceramah panjang-lebar ibuku itu, membuat perasaanku semakin tak karuan. Segala rasa di hatiku menyatu, campur aduk dan ingin meletup-letup.
Sisa hari itu kulewatkan di tempat tidur -- di ranjang rumah sakit. Aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Lagi-lagi harus terbaring di sana.
Aku tidak melakukan aktivitas apa pun. Tidak bermain ponsel, tidak memikirkan tentang tulisanku apalagi menulisnya. Juga tidak tidur. Otakku terasa penuh. Perasaanku benar-benar campur aduk, seperti gado-gado pedas berkaret dua. Hah! Panas dan pedasnya sampai ke ubun-ubun.
Aku kasihan pada Aulian, aku juga ingin dia punya keluarga. Aku ingin dia mendapatkan kehidupan yang layak, dan memiliki seseorang yang menjamin kelangsungan hidupnya -- memenuhi semua kebutuhannya. Bukan hanya tentang materi, tapi juga kasih sayang dan cinta yang cukup dari kedua orang tua, ayah dan ibu untuknya.
Akan tetapi, mengapa aku tetap tidak bisa menerima kalau sosok itu adalah Reza, suamiku -- ayah dari anak-anakku?
Mengapa hatiku tidak rela?
Jika pun aku tetap menolak atau pun menyetujuinya, tetap saja, itu keputusan yang berat, karena diputuskan dengan setengah hati. Setengah hati karena rasa bersalah, setengah hati karena rasa kasihan. Akhirnya aku memutuskan untuk membahas ini dengan Reza saat dia menyuapiku makan malam.
"Aulian tidak hanya membutuhkan materi untuk hidup, untuk semua kebutuhan pokoknya. Tapi juga butuh cinta dan kasih sayang. Dia butuh orang tua, bukan sekadar pengasuh."
Reza menatapku dengan penuh harap. Aku tahu dia ingin aku bersedia mengurus dan memberikan cinta dan kasih sayangku pada Aulian. Meski dia tidak mengatakannya, tapi aku tahu persis harapan di hati Reza yang sesungguhnya. Dia ingin aku menjadi ibu untuk bayi malang itu.
"Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Karena itu... boleh aku membahas ini dengan Mayra? Mungkin dia--"
Reza menggeleng pelan. "Kita tidak boleh meminta itu, kecuali kalau Mayra sendiri yang berkenan tanpa paksaan atau karena rasa tidak enak hati terhadap kita."
"Aku tahu, Mas. Tapi--"
"Alfi sudah punya empat anak."
"Ya, tapi mungkin saja Mayra mau, Mas."
"Kalau dia mau. Kalau tidak?"
Aku memejamkan mata. Aku tahu ini akan menjadi perdebatan yang berlanjut jika aku bersikeras menyahut.
"Sayang, maaf, tapi... aku berharap...."
Reza tidak berani melanjutkan kata-katanya. Aku tahu persis, dia ingin memintaku supaya mau mengurus Aulian. "Kenapa?" tanyaku -- pura-pura tidak mengerti.
Reza menggeleng. "Tidak apa-apa. Tidak usah dibahas dulu."
"Aku cuma minta satu hal, Mas. Jika kamu bersikeras ingin merawatnya, statusnya bukan sebagai anakmu. Terserah, keponakan angkat atau apa. Asal bukan anak. Aku ingin hanya anak-anak yang terlahir dari rahimku yang berstatus sebagai anakmu, yang memanggilmu ayah -- memanggilmu papa seperti yang kamu mau. Bisa janji? Dia tidak akan memanggilmu ayah, kan? Please?"
Reza mengangguk. "Ya," katanya. "Tidak akan."
"Please... jangan ingkar. Cukup aku yang merasakan berbagi ayah, bahkan ayahku lebih sayang anak-anaknya yang lain. Aku tidak mau anak-anakku kelak bernasib sama sepertiku. Aku ingin hanya anak-anakku yang memiliki kamu, Mas."
Reza mengusap air mataku yang jatuh tak terkendali. "Aku ngerti. Kita bahas lagi lain kali, ya. Kamu jangan nangis."
"Aku tidak ingin masalah ini berlarut."
"Iya, tapi--"
"Aku mau mengurus Aulian."
"Kamu--"
"Aku bersedia mengurusnya seperti anakku sendiri. Aku bersedia memberikan dia kasih sayang seorang ibu. Aku...."
Pupil mata Reza seketika melebar. "Kamu yakin?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Tapi aku tidak ingin dia berstatus sebagai anakku secara hukum. Dan, dia hanya boleh memanggilku tante."
Reza bahagia, dia langsung memelukku erat, lalu mencium keningku dengan hangat dan lama.
"Aku melakukannya untukmu, untuk membantumu meringankan rasa bersalahmu pada almarhumah ibunya. Tahu kenapa? Karena aku mencintaimu. Ingat itu!"
Reza tersenyum lebar, lalu meraih dan menggenggam tanganku dengan lembut. "Aku akan selalu ingat. Terima kasih. Aku menghargai pengorbananmu. Terima kasih, Sayang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Deliana
ikhlas aj nara,,merawat anak yatim bsar pahalany loh...
2022-07-20
1
Mamah Afzar
rezaaaaaaa 👊👊
2022-02-27
1
TikTikTik
rasanya pengen nyekek si Reza
2022-01-04
1