Kurapikan kembali pakaianku, dan kancing-kancing yang terlepas itu sudah kembali terpasang. Kami pun keluar. Ayahku dan Rizki sudah menunggu di dalam, pun Ihsan yang turut hadir.
Berani taruhan, Ihsan dan ayahku pasti tidak bicara sepatah kata pun sedari tadi -- meski, andaipun ayahku berusaha. Yap, jangan menilai buruk pada Ihsan, kurasa kau pun akan bersikap seperti itu seandainya kau punya ayah yang berselingkuh sejak kau berada di dalam rahim ibumu, dan ayahmu meninggalkan kalian begitu saja demi bersama selingkuhan-selingkuhannnya sejak kau berusia empat bulan. Hanya empat bulan. Jangankan menafkahi, dia bahkan tidak pernah menemuimu, dan -- nyaris -- tidak pernah menggendongmu sewaktu bayi. Kecuali kau punya hati bak malaikat. Sementara Ihsan, tidak. Dia hanya lelaki biasa. Dia bisa merasakan sakit yang teramat di dalam hatinya. Tak ada yang berhak berkomentar buruk, apalagi menghakiminya.
"Hai," sapanya. Dia bangkit dari kursinya, menghampiri dan memelukku erat -- seakan kami sudah terpisah begitu lama. "Sudah sehat?"
Aku mengangguk sambil mengulu* senyum. "Sehat, kok. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja."
Bohong? Berusaha menipu diri sendiri? Huh!
Ihsan mendengus. "Kata-kata bodoh! Mana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu. My lovely sister, the one and only."
"Keep calm. Everything's gonna be ok. Kan ada kalian semua. Ada kamu, yang menjagaku dengan nyawamu, ya kan?"
Entahlah, kalimat itu terdengar dan terkesan seperti lelucon, balasan atas ucapan Ihsan hampir seminggu yang lalu.
Ihsan tersenyum. "Yes, you are not alone, My Sist. I am here with you."
"Nyanyi pake toa sekalian!" Aku terkikik. Huh! Kalian semua, kenapa begitu melankolis di depanku? Tapi, ya, terima kasih kalian ada di sisiku, mendampingiku dengan cinta dan kasih.
Dan, yeah. Dua orang polisi dengan wajah kaku menyambut kehadiran kami. Senyum sedikit, napa! Seram, tahu!
Uh, tatapannya seolah berkata, "Siap-siap, kami akan mengulitimu!"
Lalu...
Ada suara yang menggema di kepalaku: Rasakan, Nara! Membusuklah kau di penjara!
Aku terkesiap. Suara Salsya? Itu suara Salsya?
Dengan cemas, aku mengedarkan pandangan, menyapu seisi ruangan -- tiap titik, tiap sudut. Tidak ada apa-apa.
"Kenapa, Sayang?"
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, Mas."
Tidak. Bukan. Itu bukan Salsya. Itu hanya pikiranku. Ada setan yang mengganggu pikiranku.
"Jangan di dengarkan," bisik Ihsan. "Istighfar. Tenangkan hatimu."
Aku mengangguk, sementara Ihsan merema* lembut jemariku. Dia tahu betul aku sering seperti ini di saat aku tertekan. Sadar atau tidak, masalah ini mulai membuatku stres.
Oh, Tuhan... kenapa aku seperti ini lagi? Apa aku perlu bicara dengan Aris? No, no, no. Tidak! Jangan mengundang Aris ke dalam hidupmu lagi. Ayolah, Nara. Kamu sudah berjanji pada semua orang, dan kamu harus bisa melewati semuanya.
"Mau minum?" Reza menyorongkan air mineral kepadaku.
Aku mengangguk, mengambil dan mereguknya. Aku tidak punya pengalaman berhadapan dengan polisi, aku yakin ini salah satu faktor yang membuatku cemas.
Iya, ini. Katakanlah aku ikut andil dalam peristiwa itu. Tapi bukan aku yang membunuh Salsya. Bukan aku.
Dari ruangan di sudut sana, ayahku yang baru saja bicara dengan polisi -- menghampiriku. Dia memelukku. "Jangan gugup, Sayang," katanya, lalu ia mengusap kepalaku.
Apa Ayah pernah bersikap semanis ini sewaktu aku kecil dulu? Sebelum meninggalkan aku? Aku mengangguk. "Iya."
"Ayo, tim penyidik sudah menunggu."
Kuhela napas dalam-dalam. Huuuuuh... dengan gemetar, aku melangkahkan kaki, introgasi dimulai.
Berikan berkatmu, Tuhan....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Deliana
ayo nara kmu pasti bisa....
2022-07-20
1
Mamah Afzar
deg"an bnget
2022-02-27
1