Jengah

"Kenapa Bu Nara menyiapkan kamera khusus dan merekam pertemuan Ibu dengan saudari Salsya?"

Itu -- salah satu pertanyaan yang dilontarkan tim penyidik padaku -- dari sekian banyak pertanyaan yang membuatku jengah. Tapi, sebenarnya aku sudah menduga hal itu akan dipertanyakan oleh pihak berwajib padaku, bahkan aku sudah menyiapkan jawaban -- yang jujur dan apa adanya.

"Saya memang sengaja menyiapkan kamera itu untuk merekam obrolan kami. Saya ingin menunjukkannya pada suami saya, bahwa saya sudah meminta baik-baik pada Salsya supaya dia menjauhi suami saya. Saya sudah menjelaskan pada Salsya -- apa -- yang seharusnya menjadi tugas suami saya. Saya ingin suami saya tahu, saya sudah mewakilinya untuk menghadapi Salsya. Hanya itu tujuan saya, yang ternyata hasilnya jauh dari harapan."

Saat itu, sebelum polisi bertanya lebih lanjut, aku langsung nyerocos lebih lanjut -- aku tidak suka diberi pertanyaan.

"Saya tahu kemungkinan besar Salsya pasti tidak akan mengiyakan permintaan saya. Saya tahu itu adalah hal yang mustahil. Saya hanya sekadar ingin dia tahu kalau suami saya tidak akan pernah menikahinya. Hanya itu. Tapi, siapa yang mengira kalau dia bisa nekat? Saya sama sekali tidak tahu kalau dia bisa berlaku seperti seorang psikopat. Dalam bayangan saya, dia sekadar akan pulang dengan kekalahan dan kemarahan, bukan pulang dengan kematian."

Aku tahu jelas, aku dalam posisi orang yang dicurigai, dan pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dilontarkan untuk menilai kejujuranku. Ada banyak sekali pertanyaan yang ditanyakan tim penyidik padaku, aku jengah. Dan tiba-tiba berharap: semoga anak-anakku bereaksi dan membuatku bisa pergi dari sini -- menyudahi sesi penyelidikan polisi terhadapku.

Angga, Anggi, please... tolong Mama. Mama capek, dongkol, kesal. Batinku meronta, kendati wajahku tetap datar, semaksimal mungkin -- berpura-pura -- biasa-biasa saja. Padahal di dalam hati aku ingin menjawab seperti ini: suka-suka saya, dong, Pak! Mau saya rekam, kek, mau nggak, kek, kan hak saya. Bapak kepo! Saya dongkol, Pak, ditanya-tanya terus. Saya pingin pulang ke Jakarta, tahu!

Tapi apalah daya, aku ini hanyalah seorang rakyat jelata yang harus sopan pada penegak hukum. Semalas-malasnya aku bertemu mereka, mereka mungkin lebih malas lagi bertemu denganku. Bisa jadi, kan?

Pingin rasanya pura-pura kesakitan, tapi takut aktingku tidak maksimal dan malah membuat petugas-petugas polisi itu semakin mencurigaiku. Akhirnya, aku tetap di sana, tetap menjawab semua pertanyaan, sampai selesai.

Sekali lagi, aku jengah. Benar-benar jengah!

Setelah semuanya usai, aku duduk sejenak untuk istirahat, sementara Reza, Ihsan, Rizki, dan ayahku sedang membicarakan sesuatu di sudut sana. Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu dengan apa yang mereka bahas. Aku termenung sendiri di antara empat bodyguard berbadan besar dan seram. Kupikir, rasanya aku tidak butuh mereka selagi ada Ihsan dan Reza. Toh, si pembunuh misterius itu hanya seorang diri dan badannya cukup kecil untuk ukuran seorang lelaki. Atau dia seorang perempuan? Bisa jadi. Dan hatiku seketika kembali bertanya, siapa dia?

Juga di saat bersamaan, terlintas pikiran aneh di benakku: orang-orang bertampang seram seperti bodyguard-bodyguard ini, apa mereka memiliki istri? Apa mereka memiliki orang-orang yang mereka cintai, atau tidak? Kenapa mereka bekerja untuk hal yang sangat berisiko besar, menjaga nyawa orang tak dikenal dengan nyawa mereka sendiri, menjaga keselamatan orang lain dengan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri?

Pada akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, itulah salah satu dampak sulitnya mencari pekerjaan normal di negeri ini.

Aduh... kurang kerjaan kamu, Nara. Hidupmu saja penuh kekacauan, kenapa sempat-sempatnya memikirkan kehidupan orang lain? Pikirkan saja dirimu sendiri. Pikirkan, apa yang sebaiknya kamu lakukan untuk membuatmu senang dan sibuk dengan kesenangan itu.

"Ayo, pulang."

"Eh, sudah selesai obrolannya?" tanyaku.

"Sudah. Itu, Ihsan sudah pulang duluan."

Aku melihat Ihsan dari kejauhan, sementara dari sisi lain, ayahku menghampiriku, bersama Rizki. Pantas saja Ihsan langsung pergi. Dia ingin membiarkan aku bersama ayahku, sementara dia tidak ingin melihatnya. "Ayah tidak pulang ke Palembang?" tanyaku -- kaku.

"Belum," katanya. "Ayah di sini sampai kasus ini selesai, minimal sampai kamu tidak dilibatkan lagi sebagai saksi."

Saksi, bahasa halus untukku. Halus.

"Em, terima kasih, Ayah, Kak Rizki."

Mereka mengangguk. Lalu, ayahku memelukku, mengelus kepalaku. "Sehat terus, ya, Sayang."

Giliran aku yang mengangguk. "Pasti," kataku.

Mereka pun berpamitan. Ayahku merangkul Reza sebelum pergi. "Jaga anak Ayah, ya. Cucu-cucu Ayah juga. Ayah titip mereka," katanya.

Hatiku terenyuh. Walaupun separuh hatiku masih tidak terima dan bertanya, "Kenapa baru sekarang?" -- tapi sebagian hatiku lagi merasa sedikit tersentuh. Aku yang kurang perhatian ini seolah haus akan kasih sayang seorang ayah. Meski aku sadar betul betapa hatiku masih egois, masih gengsi, dan masih ingin menolaknya, tapi akhirnya -- tidak tahu terpaksa atau tidak -- aku tetap dan aku berusaha menerimanya. Aku juga tidak ingin Reza kecewa jika aku masih berkeras menolak ayahku seperti dulu.

"Pasti. Reza akan jaga anak kesayangan Ayah baik-baik. Cucu-cucu Ayah juga pastinya."

Anak kesayangan? Berlebihan kamu, Mas. Ayah pasti lebih sayang anaknya dari istrinya-istrinya yang lain. Kan mereka yang dibesarkan dan dinafkahi oleh ayahku sedari bayi. Bukannya aku. Argh! Please, stop, Nara!

"Kenapa, Sayang? Kok kamu bengong?"

"Oh, emm... tidak. Aku hanya capek."

"Ya sudah. Cepat pulang dan istirahat, ya."

"Em." Aku mengangguk.

"Ayah pulang, ya. Kalian hati-hati di jalan."

"Ya," sahutku.

"Duluan, ya," Rizki bersuara.

Kami mengangguk, dan mereka pun berlalu.

Terpopuler

Comments

Deliana

Deliana

🤣🤣🤣🤣 lucu kmu nara...

2022-07-20

1

TikTikTik

TikTikTik

kadang aku juga kayak kamu Nara,berfikir nggak jelas dan melenceng😂😂😂

2022-01-04

0

lihat semua
Episodes
1 Season 3 (Mimpi Buruk)
2 Kegelisahanku
3 Bentuk Cinta Dan Sayang
4 Welcome Home
5 Mimpi Lagi
6 Rasa Bersalah Yang Menghantui
7 Perasaan Tak Menentu
8 Suami Siaga
9 Dukungan
10 Bayi Malang
11 Tentang Salsya
12 Galau
13 Pengorbanan
14 Rasa Takut
15 Melebur Rasa
16 Ada Cinta
17 You Are Not Alone
18 Jengah
19 Tak Sesuai Ekspektasi
20 Hampir Saja
21 Kecelakaan Tragis
22 Kekalutan
23 Begitu Berat
24 Kepergian Dinda
25 Sepahit Empedu
26 Sang Penguat
27 Kepiluan
28 Jatuh Tertimpa Tangga
29 Sedikit Rasa Manis
30 Tak Nyaman
31 Kesetiaan, Itu Yang Kumau.
32 Pagi Yang (Tak) Indah
33 Luka
34 Salahkah?
35 Over Protektif
36 Merasakannya Lagi
37 Piknik
38 Secuil Informasi
39 Dia Pelakunya?
40 Dia, Nicholas.
41 Kesepakatan
42 Maafkan Aku
43 Perdebatan
44 Selamat Datang Buah Hatiku
45 Baikan, Ya?
46 Hantu-Hantu Masa Lalu
47 Deskripsi Rasa Sakit
48 Garam Di Atas Luka
49 Pelangi Setelah Hujan
50 Peranku (Istri, Anak dan Ibu)
51 Duri Dalam Daging
52 Curiga
53 Kerikil-Kerikil Tajam
54 Getir
55 Meski Pahit
56 Tamparan Masa Lalu
57 Nasihat Seorang Ibu
58 Keraguanku
59 100% Masih Halal
60 My Lovely Mom
61 Rumit
62 Melting
63 Dilema Akut
64 Coba Dulu?
65 Luka Di Sini
66 Masih Sama
67 Pengakuan
68 Sesak
69 Hambar
70 Tentang Hati Yang . . . .
71 Ijab Itu
72 Kebingunganku
73 Manipulasi
74 Kepulangannya
75 Keputusan Terakhir
76 Tentang Isi Hati
77 Melepasmu Lagi
78 Tentang Aarin
79 Korban Masa Lalu
80 Rangkaian Teka-Teki
81 Kangen Kamu
82 Where Are You, Kay?
83 Happy 30 Tahun
84 Empat Belas Hari Berlalu
85 Mendadak Bahagia
86 Something
87 Penyesalan
88 Janji
89 Hmm....
90 Sakit, Tapi....
91 Mungkin?
92 Cemburu
93 Berpura-Pura
94 Nano-Nano!
95 Aku Milikmu
96 Di Keheningan Subuh
97 Modus!
98 Usaha Yang Manis
99 Sekali Lagi!
100 Quality Time
101 Dasar...!
102 Kembali Mesra
103 Penyelesaian
104 Usai Sudah....
105 Sisa-Sisa Emosi
106 Positif
107 Happy Ending
108 Salam Cinta Author
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Season 3 (Mimpi Buruk)
2
Kegelisahanku
3
Bentuk Cinta Dan Sayang
4
Welcome Home
5
Mimpi Lagi
6
Rasa Bersalah Yang Menghantui
7
Perasaan Tak Menentu
8
Suami Siaga
9
Dukungan
10
Bayi Malang
11
Tentang Salsya
12
Galau
13
Pengorbanan
14
Rasa Takut
15
Melebur Rasa
16
Ada Cinta
17
You Are Not Alone
18
Jengah
19
Tak Sesuai Ekspektasi
20
Hampir Saja
21
Kecelakaan Tragis
22
Kekalutan
23
Begitu Berat
24
Kepergian Dinda
25
Sepahit Empedu
26
Sang Penguat
27
Kepiluan
28
Jatuh Tertimpa Tangga
29
Sedikit Rasa Manis
30
Tak Nyaman
31
Kesetiaan, Itu Yang Kumau.
32
Pagi Yang (Tak) Indah
33
Luka
34
Salahkah?
35
Over Protektif
36
Merasakannya Lagi
37
Piknik
38
Secuil Informasi
39
Dia Pelakunya?
40
Dia, Nicholas.
41
Kesepakatan
42
Maafkan Aku
43
Perdebatan
44
Selamat Datang Buah Hatiku
45
Baikan, Ya?
46
Hantu-Hantu Masa Lalu
47
Deskripsi Rasa Sakit
48
Garam Di Atas Luka
49
Pelangi Setelah Hujan
50
Peranku (Istri, Anak dan Ibu)
51
Duri Dalam Daging
52
Curiga
53
Kerikil-Kerikil Tajam
54
Getir
55
Meski Pahit
56
Tamparan Masa Lalu
57
Nasihat Seorang Ibu
58
Keraguanku
59
100% Masih Halal
60
My Lovely Mom
61
Rumit
62
Melting
63
Dilema Akut
64
Coba Dulu?
65
Luka Di Sini
66
Masih Sama
67
Pengakuan
68
Sesak
69
Hambar
70
Tentang Hati Yang . . . .
71
Ijab Itu
72
Kebingunganku
73
Manipulasi
74
Kepulangannya
75
Keputusan Terakhir
76
Tentang Isi Hati
77
Melepasmu Lagi
78
Tentang Aarin
79
Korban Masa Lalu
80
Rangkaian Teka-Teki
81
Kangen Kamu
82
Where Are You, Kay?
83
Happy 30 Tahun
84
Empat Belas Hari Berlalu
85
Mendadak Bahagia
86
Something
87
Penyesalan
88
Janji
89
Hmm....
90
Sakit, Tapi....
91
Mungkin?
92
Cemburu
93
Berpura-Pura
94
Nano-Nano!
95
Aku Milikmu
96
Di Keheningan Subuh
97
Modus!
98
Usaha Yang Manis
99
Sekali Lagi!
100
Quality Time
101
Dasar...!
102
Kembali Mesra
103
Penyelesaian
104
Usai Sudah....
105
Sisa-Sisa Emosi
106
Positif
107
Happy Ending
108
Salam Cinta Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!