Jarum jam kecil bergambar Winnie The Pooh di dinding kamar tamu yang kami tempati menunjuk ke angka tujuh. Aku bangkit dari tempat tidur, berdiri tegak dan meluruskan punggungku yang sedikit pegal. Lalu memutar kepalaku yang kaku karena banyak tiduran. Kupejamkan mataku sejenak sembari menarik napas lega. Setelah itu aku langsung menuju kamar mandi.
Yeah, tubuhku sudah terasa lebih baik. Tidurku pulas di bawah pengaruh obat tidur. Berdasarkan hitungan, hari ini hari keenam lebaran -- tergantung, kalau kau masih merasakan suasananya. Aku? Iya, masih. Aku akan menggenapkannya sampai satu minggu full.
Dan hari ini, pagi-pagi, setelah mandi aku langsung berdandan sedikit, menyamarkan kepucatan dan kekusaman sisa-sisa sakitku kemarin, lalu menyisir rambut. Aku duduk di tepi ranjang dan menggelung rambut hitamku yang panjang sepinggang, lalu menahannya dengan jepit rambut besar. Tidak lupa pula menggunakan pelembab kulit, deodoran, dan menyemprotkan parfum secukupnya plus merapikan pakaianku. Yap, tentunya lipstik juga tidak akan terlupakan. Dan, aku cantik, setidaknya daripada kemarin.
Waktu aku keluar dari kamar, aku berpapasan dengan Reza --dengan semangkuk oatmeal dan segelas susu hangat di masing-masing tangannya. Ia hendak membawakan sarapan itu ke kamar, untukku.
"Aku mau sarapan di meja makan, mau sarapan bareng dengan yang lain...," rengekku dengan manja -- kemanjaan khas seorang istri pada suaminya.
Reza yang pengertian langsung mengangguk dan berbelok.
"Mas!"
Dia memutar badan. "Kenapa?"
"Istrimu... kok kamu tinggal...? Gandeng...."
Praktis, ia tertawa kecil. "Manja," ledeknya. "Tidak lihat tanganku sedang sibuk?"
Tak peduli. Aku langsung menghampiri dan mengaitkan tanganku ke lengannya. Dia pun terpaksa berjalan sepelan langkahku hingga sampai ke meja makan. Oh, bukan, dia sama sekali tidak terpaksa. Dia melakukan itu dengan senang hati, untukku. Istrinya. Kami pun duduk. Semua penghuni rumah sudah santai di meja makan, kecuali pamanku yang tidak pulang karena semalam gilirannya tugas malam.
"Pagi, Bumil...," sapa adik-adikku yang pagi itu sangat kompak. Kekompakan yang sudah direncanakan dan dijanjikan kalau mereka melihatku.
Aku tersenyum. "Pagi semua," sapaku balik.
"Bagaimana tidurmu, Sayang?" tanya ibuku sambil menaruh nasi goreng hangat yang masih beruap-uap dan menggugah seleraku.
Aku menggeser oatmeal-ku dan menggantinya dengan sepiring nasi goreng. "Pulas, Bund," sahutku. "Yeah, di bawah pengaruh obat tentunya."
Bibiku yang datang dari dapur dengan seteko besar teh hangat dan senyuman yang tak kalah hangat langsung menyahut, "Tidak apa-apa, untuk sementara. Daripada tidak tidur sama sekali, itu lebih bahaya, kan?"
Aku mengangguk. "Yeah, benar. Yang penting aku bisa tidur. Dan, omong-omong, Nara pingin ke panti, mau menjenguk Aulian. Bo...leh, kan...?"
Duuuh... omonganku belum selesai, tapi mata semua orang langsung melirikku dengan tatapan membunuh, apalagi Reza dan Ihsan. Membuat jantungku seketika melorot.
"Bund, Tant, Mas, Ihsan, boleh, ya?"
Ihsan berdiri. "Apa sih? Jangan cari masalah!"
Duuuh... galaknya. Dia membentakku di depan semua orang.
"Ihsan, duduk, Nak," pinta ibuku. "Tahan emosi."
Alih-alih duduk, Ihsan justru pergi meninggalkan meja makan. Kulirik piringnya yang sudah hampir kosong. Syukur makanannya sudah hampir habis, pikirku. Tidak apa-apa kalau mau pergi, mah. Syukur-syukur kalau dia ngadem di kamar atau di halaman belakang. Daripada ngamuk-ngamuk terus, ya kan? Aku nyaris bisa melihat kepulan asap membumbung tinggi di atas kepalanya.
Wusssh... fiuuuh....
"Kalau Tante, sih, yes!"
"Bunda juga yes!"
"Mas, yes juga, kan? Ya dong? Please... ya, ya?"
Yes! Reza mengangguk -- dengan terpaksa. Tidak punya pilihan, ya? Bisa jadi. Biarlah.
Dan, sesaat kemudian, bibiku menghampiri, mengelus lembut puncak kepalaku. "Tidak apa-apa," katanya. "Kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik dan merasa lega, lakukan."
"Tapi jangan cari masalah, jangan macam-macam, jangan sok bertindak sendiri, dan jangan lagi melakukan sesuatu yang membahayakan. Bisa dengarkan omongan Bunda, Sayang?"
Aku nyengir -- merasa disindir. Tapi memang, aku kapok, tidak akan lagi bertindak sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rifa Endro
yaaah.... aku sih setuju dengan Ihsan kali ini. Sebab, dari kecil dia yg melindungi Nara. tahu watak embaknya yg super egois, dan super ngeyel. alias kepala batu, keras kepala.
2023-06-12
1
Deliana
jiwa keibuan nara mulai terpanggil...
2022-07-20
1