Munafik.
Aku tahu aku pun tidak akan rela kehilangan Reza. Tapi... kejadian seperti ini? Rasa bersalahku malah semakin membesar, karena aku Reza tidak bisa kembali pada masa lalunya. Karena aku....
Banyak kata yang tidak bisa kuungkapkan. Hati ini -- benar-benar terasa sesak di dalam.
Reza menggeleng. "Aku tidak ingin menikahinya tanpa restu. Ibu juga tidak mengizinkan, Ibu melarangku membawa lari Salsya. Dan sedikit banyak, kamu tahu karakter Alvaro. Bersama Salsya, itu berarti membahayakan keluargaku. Aku memang pengecut, tapi bagiku -- keamanan keluargaku adalah prioritas utama. Lagipula, tidak ada kesempatan kedua, dia kembali di saat aku sudah mencintaimu."
Tuhan... kenapa takdirmu sepelik ini? Aku menelan ludah getir. "Mas, kan April tahun lalu Ibu sudah meninggal, Alvaro juga sudah berjanji tidak akan mengganggumu lagi setelah penusukan waktu itu. Harusnya--"
"Aku sudah melakukan kesalahan sekali, sudah pernah mengorbankan seorang gadis karena sikapku yang pengecut. Aku tidak mau hal itu terulang. Aku tidak mau kamu... aku tidak mau menyakitimu."
Bohong! Aku tahu apa yang hendak ia ucapkan. "Aku tidak akan gila, Mas. Aku pasti bisa menata hidupku tanpamu. Aku--"
"Tapi aku hanya ingin hidup bersamamu. Katakanlah aku egois. Tapi aku mau bersamamu. Mungkin kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Tapi aku tidak. Aku yang tidak bisa tanpa kamu. Aku bisa gila kalau aku kehilangan dirimu. Aku mau kamu. Kamu satu-satunya, Ra. Kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku sangat sayang padamu."
Aku menggeleng. Aku tahu, tapi ini sama-sama menyiksa. Kenapa Tuhan tidak memberikan kita pilihan yang mudah? Kenap-- "Auw... aduh! Perutku...."
"Sayang?"
Reza panik. Aku pun sama. Suasana tegang, aku berusaha bertahan dan meredam rasa sakitku. Kuelus perutku sambil memejamkan mata. Aku meringis, aku takut kalau-kalau aku akan melahirkan saat itu juga, selain karena belum siap mental sepenuhnya, juga karena khawatir, sebab kandunganku belum masuk usia sembilan bulan.
"Mas... sakit...!"
Reza spontan menstrarter dan melajukan mobil hingga tiba di rumah sakit, dia langsung menggendongku hingga ke ruang pemeriksaan dokter kandungan. Lagi-lagi aku harus menerima obat penenang, lagi-lagi jarum suntik kecil yang menyakitkan itu harus menusuk kulitku. Tapi tidak apa, meski sedikit sakit, tusukan jarum kecil yang berisi cairan obat itu menenangkan.
"Pak, biarkan Bu Nara istirahat dulu. Jangan dibebani dengan pikiran yang terlalu berat, itu akan memicu stres dan tidak baik untuk kondisi ibu dan anak di dalam kandungannya. Mohon kerjasamanya, ya, Pak. Obat-obatan itu hanya membantu secara medis. Tapi yang istri Bapak butuhkan adalah lingkungan yang nyaman, jauh dari hal-hal yang membuat hati dan pikirannya terbeban."
Reza mengangguk. "Ya, Dok. Terima kasih," ucapnya.
"Kalau begitu saya permisi." Sang dokter pun berlalu.
Aku mendengar semua yang diucapkan oleh dokter cantik paruh baya itu. Tapi rasanya mustahil bagi kehidupanku untuk berjalan normal setelah semua hal yang sudah terjadi. Masalah yang saat ini mengganggu pikiranku tidak bisa dienyahkan begitu saja, kecuali sudah ada jalan keluarnya, solusi terbaik yang bisa meringankan beban untuk hati dan otakku yang kecil ini.
"Jangan bahas apa pun dulu," kataku, sebelum ada pencetusan kata yang sekiranya menjadi obrolan atau malah menjadi perdebatan berulang di antara kami.
Reza kembali mengangguk. Dia menghampiriku, mengelus kepalaku dan mengecup keningku, kemudian duduk di sampingku. Dan, suasana seketika menjadi hening.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Deliana
klu aq dposisi nara y,, aq akan adopsi dan mrawat anak itu,,mnyayangi ny tanpa mmbeda2kn,, itu bsa mngurangi rasa bersalah klian.. toh ibuny sdah mninggal..
2022-07-20
1
Deliana
uda lh nara jgn bebankn pikiran mu dgn msa lalu,, buang jauh2 dan tata hidup mu mulai skarang jgn pikirkn apa2,,tkutny akan berdampak pd kandungan nnti..
2022-07-20
1