Rasa Takut

》Ada panggilan dari kantor polisi untuk Nara jam 10 nanti. Surat panggilannya dikirim ke rumah Tante kemarin siang. Bunda baru bilang sekarang karena kemarin Nara kan masuk rumah sakit. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa memungkinkan untuk memenuhi panggilan polisi?

Itu pesan whatsapp dari ibuku yang ia kirim ke ponsel Reza dan sempat kubaca saat Reza sedang mandi. Pesan itu membuatku bertanya pada diri sendiri: apakah aku sudah sanggup untuk kembali diintrogasi dengan sekian banyak pertaanyaan? Apa aku masih bisa bertahan dengan cerita yang tidak lengkap seperti yang kupaparkan minggu lalu? Apa aku salah dan apakah aku jahat jika aku tidak menceritakan sepatah kata pun tentang sosok pembunuh Salsya?

Ingat, Nara. Kebenaran yang kamu tutupi -- itu bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk semua orang, terutama untuk anak dan suamimu. Nyawa mereka pun terancam jika sosok pembunuh itu marah. Merawat Aulian, itu sudah cukup untuk menebus rasa bersalahmu pada Salsya. Cukup. Cari aman, jangan menantang! Jangan bodoh! Sayangi diri sendiri, anak, suami, dan semua keluarga. Please, tenang, tenang, tenang. Rileks, Nara! Rileks! Semua akan baik-baik saja. Pasti baik-baik saja. Pasti. Oke? Kamu bisa menghadapi semuanya.

"Sayang, kamu sudah bangun?"

Reza langsung menghampiriku karena aku tidak merespons. Aku sedang melamun di sofa. Waktu itu Reza baru selesai mandi, ada sepotong handuk kecil di tangannya untuk mengeringkan rambut.

"Eh, Mas?"

Aku kaget ketika menyadari sentuhan dari tangannya yang masih dingin, dia menggenggam tanganku, lalu menatapku, seperti biasa -- untuk membaca ekspresiku.

"Lagi memikirkan apa? Hmm? Cerita, ada apa?"

Aku menatapnya sesaat, lalu mengalihkan pandanganku ke ponselnya yang masih berada dalam genggaman tanganku, kemudian memberikan benda canggih itu kepadanya. "Ada whatsapp dari Bunda."

"Oh, ada apa?" gumamnya sambil meraih benda persegi itu. Dia langsung membukanya dan membaca isi pesannya. Lalu...

Seketika ia membeku.

Kuhela napas dengan berat. "Aku akan datang. Ini sudah satu minggu. Aku tidak mau terkesan menghindar dari penyelidikan. Yang ada, pihak berwajib akan semakin mencurigaiku, ya kan? Aku tidak mau itu terjadi."

"Tapi, Sayang."

"Aku sudah tidak apa-apa."

"Keadaanmu--"

"Aku sanggup, kok. Yah, mudah-mudahan."

"Tidak u--"

"Mas...."

"Please...."

Kugenggam tangan Reza dengan kuat. "Aku akan datang," tegasku, berusaha meyakinkannya. "Jangan khawatir. Selama ada kamu, aku tidak akan kenapa-kenapa, ya kan? Cukup temani aku dan kuatkan aku. Kita bisa melewati ini sama-sama," kataku -- berusaha menunjukkan keberanian dan ketegaranku di depan suami yang wajahnya tertekuk sepuluh.

Reza mengangguk lemah, matanya terpejam sesaat bersamaan helaan napasnya yang berat. "Yang kuat, Kesayangan Papa," gumamnya pelan seraya mengelus perutku. "Mamanya juga harus kuat, oke?" Seulas senyum hangat terukir di wajahnya -- senyuman yang menguatkanku.

Aku pun mengangguk dengan senyuman. "Iya, Papa. Kami pasti kuat. Tapi sepertinya kami butuh sarapan yang banyak sebelum diberondong pertanyaan yang... sepertinya akan menguras otak."

"Ayo, siap-siap. Kamu mandi, aku telepon Erik untuk mengurus administrasi rumah sakit, sekalian suruh dia membawakan makanan ke sini. Kamu mau sarapan apa? Ada yang kamu pingin?"

Aku memutar bola mata, berpikir sejenak. "Apa saja, Mas. Semuanya akan enak kalau kamu yang menyuapi." Aku nyengir sejenak, lalu menyuruk dan merebahkan kepalaku di pangkuannya. "Kamu telepon Erik. Setelah itu bantu aku mandi."

Berusaha menyembunyikan rasa takut? Iya, kuakui. Rasa takut itu menyergapku tanpa ampun. Aku takut salah bicara yang tentu akan menjadi boomerang -- ancaman bagiku dan kedua anak di dalam kandunganku.

"Aku tahu kamu takut," kata Reza setelah ia menelepon Erik. Dia mengelus-elus kepalaku.

Aku menoleh sejenak, menatap Reza. "Aku cuma takut salah bicara."

"Em, lalu?"

"Aku takut sosok misterius itu marah."

"Kamu pikir dia akan membahayakan kita?"

"Mungkin. Bisa saja, Mas."

"Sudah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan."

"Iy--"

"Aku janji, orang itu tidak bisa mendekatimu lagi."

Aku mengangguk. "Ya, semoga saja."

"Jangan pesimis, dong, Sayang."

Kupejamkan mataku sejenak, lalu tersenyum kecut. "Tidak ada yang bisa menjamin itu, Mas. Mana tahu, mungkin saja sebenarnya dia ada di sekitar kita, di dalam lingkungan kita. Mungkin kita saja yang tidak menyadari itu. Iya, kan? Itu mungkin."

"Tidak apa. Sudah, ya, jangan bahas ini. Mending kamu mandi sekarang. Yuk, bangun."

Aku menggeleng. "Masih mau dielus-elus. Lagipula kan jam sepuluh masih lama. Ini baru setengah tujuh. Elus aku lagi, ya...."

Aku menyadari, semakin besar kandunganku dan semakin berat bobot tubuhku, aku jadi semakin malas bergerak. Salah satu keberuntunganku -- aku memiliki seorang suami yang bersedia mengeloniku tanpa rasa bosan.

Terpopuler

Comments

Deliana

Deliana

tenang nara,, rileks.. kira2 siapa y sosok misteri itu....

2022-07-20

1

lihat semua
Episodes
1 Season 3 (Mimpi Buruk)
2 Kegelisahanku
3 Bentuk Cinta Dan Sayang
4 Welcome Home
5 Mimpi Lagi
6 Rasa Bersalah Yang Menghantui
7 Perasaan Tak Menentu
8 Suami Siaga
9 Dukungan
10 Bayi Malang
11 Tentang Salsya
12 Galau
13 Pengorbanan
14 Rasa Takut
15 Melebur Rasa
16 Ada Cinta
17 You Are Not Alone
18 Jengah
19 Tak Sesuai Ekspektasi
20 Hampir Saja
21 Kecelakaan Tragis
22 Kekalutan
23 Begitu Berat
24 Kepergian Dinda
25 Sepahit Empedu
26 Sang Penguat
27 Kepiluan
28 Jatuh Tertimpa Tangga
29 Sedikit Rasa Manis
30 Tak Nyaman
31 Kesetiaan, Itu Yang Kumau.
32 Pagi Yang (Tak) Indah
33 Luka
34 Salahkah?
35 Over Protektif
36 Merasakannya Lagi
37 Piknik
38 Secuil Informasi
39 Dia Pelakunya?
40 Dia, Nicholas.
41 Kesepakatan
42 Maafkan Aku
43 Perdebatan
44 Selamat Datang Buah Hatiku
45 Baikan, Ya?
46 Hantu-Hantu Masa Lalu
47 Deskripsi Rasa Sakit
48 Garam Di Atas Luka
49 Pelangi Setelah Hujan
50 Peranku (Istri, Anak dan Ibu)
51 Duri Dalam Daging
52 Curiga
53 Kerikil-Kerikil Tajam
54 Getir
55 Meski Pahit
56 Tamparan Masa Lalu
57 Nasihat Seorang Ibu
58 Keraguanku
59 100% Masih Halal
60 My Lovely Mom
61 Rumit
62 Melting
63 Dilema Akut
64 Coba Dulu?
65 Luka Di Sini
66 Masih Sama
67 Pengakuan
68 Sesak
69 Hambar
70 Tentang Hati Yang . . . .
71 Ijab Itu
72 Kebingunganku
73 Manipulasi
74 Kepulangannya
75 Keputusan Terakhir
76 Tentang Isi Hati
77 Melepasmu Lagi
78 Tentang Aarin
79 Korban Masa Lalu
80 Rangkaian Teka-Teki
81 Kangen Kamu
82 Where Are You, Kay?
83 Happy 30 Tahun
84 Empat Belas Hari Berlalu
85 Mendadak Bahagia
86 Something
87 Penyesalan
88 Janji
89 Hmm....
90 Sakit, Tapi....
91 Mungkin?
92 Cemburu
93 Berpura-Pura
94 Nano-Nano!
95 Aku Milikmu
96 Di Keheningan Subuh
97 Modus!
98 Usaha Yang Manis
99 Sekali Lagi!
100 Quality Time
101 Dasar...!
102 Kembali Mesra
103 Penyelesaian
104 Usai Sudah....
105 Sisa-Sisa Emosi
106 Positif
107 Happy Ending
108 Salam Cinta Author
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Season 3 (Mimpi Buruk)
2
Kegelisahanku
3
Bentuk Cinta Dan Sayang
4
Welcome Home
5
Mimpi Lagi
6
Rasa Bersalah Yang Menghantui
7
Perasaan Tak Menentu
8
Suami Siaga
9
Dukungan
10
Bayi Malang
11
Tentang Salsya
12
Galau
13
Pengorbanan
14
Rasa Takut
15
Melebur Rasa
16
Ada Cinta
17
You Are Not Alone
18
Jengah
19
Tak Sesuai Ekspektasi
20
Hampir Saja
21
Kecelakaan Tragis
22
Kekalutan
23
Begitu Berat
24
Kepergian Dinda
25
Sepahit Empedu
26
Sang Penguat
27
Kepiluan
28
Jatuh Tertimpa Tangga
29
Sedikit Rasa Manis
30
Tak Nyaman
31
Kesetiaan, Itu Yang Kumau.
32
Pagi Yang (Tak) Indah
33
Luka
34
Salahkah?
35
Over Protektif
36
Merasakannya Lagi
37
Piknik
38
Secuil Informasi
39
Dia Pelakunya?
40
Dia, Nicholas.
41
Kesepakatan
42
Maafkan Aku
43
Perdebatan
44
Selamat Datang Buah Hatiku
45
Baikan, Ya?
46
Hantu-Hantu Masa Lalu
47
Deskripsi Rasa Sakit
48
Garam Di Atas Luka
49
Pelangi Setelah Hujan
50
Peranku (Istri, Anak dan Ibu)
51
Duri Dalam Daging
52
Curiga
53
Kerikil-Kerikil Tajam
54
Getir
55
Meski Pahit
56
Tamparan Masa Lalu
57
Nasihat Seorang Ibu
58
Keraguanku
59
100% Masih Halal
60
My Lovely Mom
61
Rumit
62
Melting
63
Dilema Akut
64
Coba Dulu?
65
Luka Di Sini
66
Masih Sama
67
Pengakuan
68
Sesak
69
Hambar
70
Tentang Hati Yang . . . .
71
Ijab Itu
72
Kebingunganku
73
Manipulasi
74
Kepulangannya
75
Keputusan Terakhir
76
Tentang Isi Hati
77
Melepasmu Lagi
78
Tentang Aarin
79
Korban Masa Lalu
80
Rangkaian Teka-Teki
81
Kangen Kamu
82
Where Are You, Kay?
83
Happy 30 Tahun
84
Empat Belas Hari Berlalu
85
Mendadak Bahagia
86
Something
87
Penyesalan
88
Janji
89
Hmm....
90
Sakit, Tapi....
91
Mungkin?
92
Cemburu
93
Berpura-Pura
94
Nano-Nano!
95
Aku Milikmu
96
Di Keheningan Subuh
97
Modus!
98
Usaha Yang Manis
99
Sekali Lagi!
100
Quality Time
101
Dasar...!
102
Kembali Mesra
103
Penyelesaian
104
Usai Sudah....
105
Sisa-Sisa Emosi
106
Positif
107
Happy Ending
108
Salam Cinta Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!