" Bagaimana tadi di kantor polisi? Kok sampai seharian. " tanya Ikke saat mereka sedang berkumpul di ruang tamu rumah kost mereka.
" Ya gitu deh kak. Setelah mereka mendengar laporan ku, aku di suruh menunggu keputusan dari pihak kepolisian. " jawab Armell.
" Awalnya ada seorang polisi ngeselin yang tidak percaya sama ceritaku. Dia pikir aku mengada-ada. Pikirnya, bayi itu anakku, hasil hubungan gelap sama pacarku. Gila nggak sih kak? Secara, aku pacaran saja belum pernah. " ucap Armell dengan nada sedikit kesal mengingat tuduhan Seno siang tadi.
" Oh ya? Terus...terus .." tanya Ikke dengan antusias.
" Ganteng sih kak polisinya. Keren. Ganteng abis malahan. Kayak artis. Eh, setelah denger tuduhan gilanya itu, aku jadi iilfeel. Untung aja komandan polisinya baik. Dia percaya sama aku. Oh iya, tadi hampir aja aku tonjok polisi sok ganteng itu kalau nggak di lerai sama komandan polisinya. " jelas Armell panjang lebar dengan mempraktekkan bagaimana dia tadi siang hampir menghajar Seno.
" Ha...ha...ha...." buunyi tawa menggelegar dari semua teman kost Armell yang berada di ruangan itu.
" Emang kamu nggak takut di masukkan ke penjara? Mentang-mentang jago karate berani-beraninya menghajar polisi di kantor polisi pula. " ucap Ririn.
" Habisnya aku kesel banget. " jawab Armell.
Teman-teman kost Armell sudah lumayan mengenal Armell dengan baik. Mereka tahu bagaimana wataknya. Dia tidak pernah takut pada apapun. Dia juga seorang gadis yang pemberani dan nekat. Dia bisa menjadi lemah lembut saat tidak ada yang mengusiknya. Tapi dia bisa menjadi seperti singa yang kelaparan saat ada yang mengganggunya.
" Terus, nasib bayi itu bagaimana? " tanya Ikke kembali.
" Pihak kepolisian menyuruhku merawat bayi itu untuk sementara waktu sampai mereka menemukan titik terang terhadap kasus ini. Menurut analisa mereka, bayi itu sengaja di buang. Bukan di culik baru di buang. " jelas Armell kembali.
Semua yang ada di situ manggut-manggut. Dan sang bayi yang sedang mereka bicarakan sedang asyik bermain main dengan salah satu teman kost Armell.
" Jadi Armell minta tolong sama semua. Tolong bantu Armell jagain dan merawat bayi itu ya, semuanya. " pinta Armell.
" Tentu saja Armell. " jawab mereka bersamaan. " Kita pasti akan ikut jagain dia. Bayi itu akan bersama dengan kita semua bergantian saat kamu sedang sibuk. " lanjut Ikke.
" Terimakasih semuanya. " ucap Armell sambil memeluk teman-temannya bersamaan. " I lop yu puuuulllll......" ucap Armell kembali.
" Ha...ha...ha..." semuanya kembali tertawa.
" Oh iya, bayi itu sudah punya nama sekarang. " ucap Armell setelah dia melepas pelukannya.
" Kamu kasih nama siapa? " tanya Ririn.
" Bukan aku yang kasih nama. Tapi polisi nyebelin itu yang kasih nama. Dia kasih nama Arvin. Bayi itu namanya Arvin. " ucap Armell.
" Wah, nama yang bagus. Kita panggil dia baby Arvin. " sahut teman Armell yang lain.
Sedangkan di tempat lain, seseorang sedang menggerutu kesal setelah membaca sebuah pesan dari atasannya.
" Dasar komandan sial*n ! Br3ngs3k! " gerutu Seno sambil melempar handphone nya ke ranjang dan ' klotak '... Handphone itu menendang ujung ranjang.
Pesan yang membuat Seno kesal itu berisi ' IPTU Seno, saya tugaskan kamu untuk selalu memantau dan mengawasi Armell beserta bayi yang dia temukan. Sering-seringlah datang menemui Armell sambil membantunya menjaga bayi itu. '
Tapi sekesal dan semarah apapun Seno, dia tetap harus mematuhi perintah sang komandan. Meskipun sang komandan adalah sahabat baiknya saat di luar kantor.
Sedang kesal-kesalnya, tiba-tiba handphone nya berbunyi.
" Siapa lagi yang telpon? Jangan sampai lo yang telpon gue, komandan Alif. Awas aja Lo! " gumam Seno sambil mengeratkan giginya.
" Halo ! Mau apa lagi Lo? " bentak Seno saat dia menerima panggilan itu tanpa melihat nama si pemanggil.
" GAEL !!!" bentak sang penelepon balik.
Spontan Seno menjauhkan handphone nya dari telinga dan melihat nama si pemanggil. Setelah melihat nama itu, Seno memejamkan matanya erat.
' Mami ' batin Seno. Ternyata si penelepon itu adalah maminya. Seno langsung sadar saat dia mendengar nama tengahnya di sebut. Siapa lagi kalau bukan maminya. Karena hanya beliaulah yang selalu memanggilnya dengan nama tengahnya.
" Ehm ...Halo, mam. " sapa Seno sambil menetralkan suaranya.
" Kamu ini. Di telpon mami bukannya salam dulu kek. Main bentak-bentak aja. " gerutu mami Seno.
" Maaf, mam. Gael nggak tahu kalau yang nelpon mami. Kirain temen Gael mam. " jawab Seno dengan nada yang sudah berubah halus.
" Kenapa kamu marah-marah sama temen kamu? Ada masalah apa? " tanya mami Seno.
Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil duduk di sofa yang ada di kamar tidurnya. " Biasa mam, masalah pekerjaan. " jawab Seno.
" Alif kasih perintah apa sampai kamu kesel gitu? " tanya mami Seno yang mengenal Alif sang komandan juga. Mami Seno sudah bisa menebak, kalau anaknya kesal seperti itu, pasti karena perintah dari atasannya.
" Nggak ada mam. Udah ah nggak usah bahas kerjaan Gael. " ucap Seno menghindari maminya.
" Bilang sama mami, dia kasih tugas apaan? Biar mami urus dia. " ucap maminya.
" Mam, Gael bukan anak kecil lagi. Gael udah bisa urus semuanya sendiri. Mami sukanya main urus-urus aja. " sahut Seno.
" Buat mami, kamu tetap masih kecil. Kalau memang kamu sudah besar, mestinya kamu sudah mau menikah. Punya istri. Kasih mami cucu. " ucap mami Seno tegas.
" Itu lagi ..itu lagi yang di bahas. " protes Seno.
" Ya habisnya kamu ini kalau di suruh nikah nggak mau. Umur kamu udah 28 tahun El. Temen SMA kamu, si Sofia, anaknya udah gede. Udah mau masuk SMP. " ucap mami Seno.
" Orang kan beda-beda mam. Jangan di sama-samain. Kalau El udah nemuin yang cocok, El pasti nikah mam. Mami tenang aja. " jawab Seno.
" Makanya, kamu berhenti jadi polisi. Urus tuh perusahaan. Biar kamu nggak di perintah terus. Tapi kamu bisa memerintah. Papi sudah makin tua. Harus sampai kapan papi mengurus perusahaan terus menerus? Papi juga pengen bersenang-senang, jalan-jalan berlibur, sama mami kamu. " kini papi Seno yang menjawab. Sepertinya, panggilan itu di loud speaker.
" Papi...." Seno hendak memprotes, tapi papinya segera memotong.
" Mami kamu benar. Kamu sudah cukup umur buat punya istri. Mumpung papi sama mami masih sehat, masih hidup. Masak iya, kamu nggak ngijinin papi sama mami melihat anak kamu? " ucap Papi Seno .
" Papi ini ngomong apaan sih. Papi sama mami pasti bakalan panjang umur. El pasti menikah pi. Tapi nanti. El janji, secepatnya El akan menikah. Untuk masalah perusahaan, papi masih bisa lah untuk menghandle. Biarkan El menikmati pekerjaan El yang sekarang. El janji, El pasti akan meneruskan usaha papi. El akan mengurus perusahaan. Lagian pi, selama ini El juga sudah ikut mengurus perusahaan meskipun tidak secara langsung kan? El selalu memantau perkembangan perusahaan pi. " jelas Seno.
" Terserah kamu. Yang pasti papi tidak mau menunggu lama-lama. Kamu harus secepatnya mengurus perusahaan. Kembali ke perusahaan. " ucap sang papi.
" Iya, pi. " jawab Seno.
" Kamu kapan pulang? Sudah lama kamu tidak pulang. Kamu nggak kangen sama mami, gitu? Mentang-mentang punya rumah sendiri. Mami di lupakan. Tahu gitu, dulu mami nggak kasih kamu ijin buat beli rumah. " ucap sang mami dengan nada merajuknya.
" Bukan gitu mam... Kerjaan El sedang banyak. El janji, akhir pekan ini, El pulang. Tidur di rumah. Mami siapin aja masakan kesukaan El, oke. " jawab Seno membuat wajah maminya berubah bahagia
" Bener ya? " tanya mami Seno memastikan.
" Iya, mamiku yang cantik. "
***
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
bunda syifa
klo teman nya Seno berarti kn masih umur 28thn kurang lebih, trus anak nya udah mau SMP, jadi nikah nya umur berapa Thor
2023-08-06
3
Momy Haikal
polisi aja kenapa gak usah pakai CEO".udh jenuh
2022-01-03
1
Rangrizal28
ternyata bang seno tajir melintir,msh2an authornya jodohin seno sama armel
2021-12-22
2