Andreas yang baru selesai percakapannya dengan Aulia, langsung kembali duduk dikursi kerjanya, dia bersemangat kembali setelah mendengar suara yang ia sukai, Aulia seperti vitamin bagi dirinya.
Saat sedang bekerja, suara pintu menghentikan rutinitasnya dengan melihat siap sosok yang datang dari balik pintu kerjanya. ternyata Ayahnya baru saja tiba.
Bimo yang sedari tadi diluar dengan wajah gelisah memutuskan masuk ke ruang kerja Adrian, dengan merubah mimik mukanya seakan-akan tidak ada yang terjadi.
"uuppss, apa ayah mengganggumu? atau ayah harus keluar saja.?" tanya Bimo, yang melihat anaknya sangat berantakan dengan berkas laporan dimeja.
Adrian yang melihat snag Ayah, langsung tidak keberatan dengan kedatangan Ayahnya, toh dia sudah merasa membaik.
"tidak yah, ayah masuk aja, apa rian sudah bisa pulang.?" jawab Adrian, sambil melangkahkan kakinya ke sofa ditengah-tengah ruang kerja Ayahnya, yang disusul pula oleh Ayahnya.
"apa semuanya lancar?" tanya Bimo.
"it's fine yah, semua oke, rian bisa dengan mudah menyelesaikan beberapa laporan, walau masih ada yang belum" jawab Adrian santai.
karena sejak kecil para 3 sepupuh Kusuma sudah diajarkan tentang mengelolah bisnis, tidak seperti anak pada umumnya, 3 sepupuh tersebut sudah pintat sejak usia 3 tahun makanya Kakek Kusuma memutuskan mengajarkan mereka bisnis. tetapi semua itu harus bubar setelah kejadian Andreas dan Adrian bermusuhan karena suatu hal.
"baguslah, ayah harap kamu bisa dengan senang menjalani ini, karna ayah beberapa minggu ini akan kembali dulu" ucap Bimo.
"oh ya, ibu akan ikut juga, rian akan lakukan itu, tapi ayah ingat janji itu kan" ucap Adrian,
Ucapan Adrian, membuat Bimo berpikir dalam menjawab, dia tidak mau sampai Anaknya bisa tahu jika keluarga Aulia memutuskan pertunangan mereka.
"ibumu, nanti ayah tanya dulu, oh yah ayah lupa kalau ayah ada meeting diluar, kalau kamu merasa sudah beres, bisa kamu lanjut besok, ayah pergi dulu yah" ucap Bimo bergegas meninggalkan Adrian tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Setelah Ayahnya pergi, Adrian memutuskan untuk pulang, setelah berkendara saat lampu merah Adrian menengok kearah toko bunga, Adrian pun berinisiatif untuk membeli untuk diberikan kepada Aulia.
......
Buket Bunga mawar merah yang dibalut dengan sangat indah, yang disimpan dikursi penumpang, membuat Adrian merasa Aulia akan menyukainya. Adrian pun melaju menuju kediaman rumah sang gebetan.
Tiba didepan rumah Aulia, Adrian pun menelpon Aulia untuk segera kedepan.
"halo rian," ucap Aulia dibalik ponsel
"ia lia, kamu dirumahkan, aku lagi didepan nih, boleh keluar tidak" ucap Adrian berharap
"aku, apa, kamu didepan" ucap Aulia dan langsung berhambur kedepan.
Aulia dapat melihat dengan jelas mobil Adrian, Adrian pun turun dari mobil dengan tangan kanan melambai dan tangakn kiri ia sembunyikan dibalik badanya, Aulia pun mendekat
"rian, tumben banget kemari, ada apa" ucap Aulia dihadapan Adrian
"iya nih, tumben banget yah, aku kesini pengen kasihin ini" Adrian pun menyodorkan buket bunga mawar yang ia beli ditoko tadi.
Aulia yang mendapat kejutan itu bingung dan segan menerima bunga itu, tetapi ia ambil karena tidak ingin Adrian kecewa.
"terima kasih rian, ada maksud apa dengan ini" ucap Aulia mencium aroma wangi bunga mawar itu.
Adrian yang melihat reaski Aulia hanya menggaruk kepalanga yang tidak gatal denga sedikit tingkah kikuknya.
"enggak ada maksud apapa sih.... cuman" ucap Adrian kikuk, dan langsung memegang tangan Aulia.
"aulia zahra wijaya, aku adrian kusuma ingin memilihmu menjadi kekasihku, apakah kamu mau.?" ucap Adrian
Aulia yang menerima perlakuan Adrian, dengan spontan menarik kembali tangannya dengan wajah bingung dicampur dengan sedikit tidak enak dengan pernyataan tiba-tiba Adrian.
"rian, ka muuu.." ucap Aulia gagap
Adrian pun menunduk, malu dengan tindakan tiba-tibanya dengan hati yang dag-dig-dug memberanikan diri untuk bersuara dengan mengungkapkan apa yabg selama ini ia pendam.
"Aulia, maaf jika ucapanku membuat kamu kaget, hanya saja perasaan ini sudah sangat lama aku pendam, aku ingin hari ini kamu tahu jika aku sangat menyukaimu" Ucap Adrian tanpa merubah mimik mukanya sedari tadi.
Aulia mengeras ditempat, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa, baginya Adrian selama ia kenal tidak lebih dari sosok teman, tapi ia tidak tahu jika lelaki dihadapannya sekarang ini mengungkapkan isi hatinya yang ia pendam.
"aulia, jika kamu tidak bisa jawab hari ini, masih ada hari esok, aku akan selalu menunggu jawaban itu" ucap Adrian sekali lagi.
Aulia yang tidak ingin Adrian makin kecewa memutuskan untuk menjawab semua pertanyaan Adrian tentang perasaaannya, dengan berbicara pelan agar Adrian bisa menerima.
"rian, begini, sebelumnya aku berterima kasih atas semua perasaanmu terhadap aku selama ini, tetapi maaf jika jawabanku akan menyakitimu, aku.. aku sudah dimiliki oleh orang lain dan itu adalah An dre as" ucap jelas Aulia dengan memegang tangan Adrian, takut jawabannya akan sangat membuat Adriab terluka.
Adrian yang mendengar seakan-akan ada kilatan petir menyambar tepat dihatinya, tetapi karena dirinya sedang dihadapn Aulia ia berusaha kuat, tetapi nama Andreas membuat Adrian merasa tidak terima.
"aulia, terima kasih dengan jawabanmu, tetapi mengapa harus andre, aku tidak bisa terima ini lia, mengapa harus dia lagi" ucap Adrian lirih tetapi berusaha tegar.
Aulia yang menerima penolakan Adrian dengan kata mengapa harus Andreas membuat Aulia harus meyakini Adrian.
"rian, kita tidak pernah tahu bagaimana dan kapan cinta akan tumbuh, jika kau mau melihatku bahagia maka terima semua ini, maaf jika aku egois" ucap Aulia.
ucapan Aulia membuat Adrian mau tidak mau menerima itu semua, benar kata Aulia demi orang yang kita sayangi bahagia tanpa kita harus miliki maka kita haris rela dia bersama siapa, tetapi jauh dilubuk hati Adrian ia tidak terima dengan semua ini, ia berjanji jika ada kesempatan dia tidak akan menyia-nyiakan itu.
Adrian pun meminta sesuatu kepada Aulia sebelum ia kembali.
"lia, kamu benar aku akan rela jika itu demi kebahagiaanmu, tetapi jika dia menyakitimu ada aku yang selalu sedia untukmu, boleh aku peluk kamu untuk pertama dan terakhirnya." ucap dan pinta Adrian
Aulia pun tersenyun dengan jawaban Adrian, ia tahu Adrian orang baik, Aulia pun bersedia mereka pun berpelukan, setelahnya Adrian masuk mobil untuk pulang, ia belum terima dengan penusukan yang dilakukan oleh Andreas.
semua kejadian itu, tanpa Aulia dan juga Adriab sadari, bahwa Andreas melihat dari kejauhan dibalik mobilnya yang ia parkir berlawanan dengan mobil Adrian, Andreas melihat semua kejadian dihadapannya.
Andreas sedang memakai mobil berbeda, karena mobil kesayangannya sedang dibengkel, ia melihat denga jelas bagaimana tingkah pacarnya bersama Adrian sepupuhnya. tangan disetir mobilnya mengepal setelah melihat adegan terakhir saat mereka berdua berpelukan. darah Andreas mendidih.
Andreas ingin kejelasan, setelah mobil Adrian pergi Andreas pun menghampiri Aulia yang baru saja membalikan badannya yang mau berjalan ke dalam rumah sangking terkejutnya denga kedatangan Andreas membuat bunga mawar itu jatuh dari tanganya.
"bunny...." kaget Aulia
Andreas yang melihat reaksi Aulia langsung menghela napasnya untuk bisa menguasai dirinya yang sangat marah.
"iya sayang, ini aku, ada apa rian kemari" ucap Andreas tenang
"heehh., oh rian, dia..." ucap Aulia gugup, ia bingung berada diposisi saat ini.
Aulia bingung dan bimbang, ingin beri tahu tapi nanti Andreas cemburu, tidak diberi tahu nanti yang ada Andreas malah salah paham.
"ia, siapa lagi, yang barusan pelukan dan ngasih bunga itu, dan chuby juga ngerespon" ucap Andreas jelas dengan suara yang lembut tapi tetap dengan wajah dinginnya.
Aulia tahu betul jika Andreas akan marah karena perbuatannya yang sudah mempunyai kekasih, perkataan Andreas yang tenang justru membuat Aulia makin tidak bisa berkata-kata.
karena diamnya Aulia yang terpatung tanpa memberi kejelasan, Andreas hanya mengernyitkan keningnya sambil bertolak pinggang dan menunduk, sebelum berbicara Andreas tidak lupa mengehla napasnya yang sudah kesekian kalinya.
"hheemmm., maaf yah sayang, aku marah-marah enggak jelas, sebelum mendengar penjelasanmu, cuman.." terjeda, Andreas pun memegang kedua pundak Aulia dan melihat lebih dekat kedua bola mata cantik itu.
"cuman kamu tahu sendirikan, bagaimananya aku yang sangat sayang dan cinta sama kamu, sayang.... aku cuman enggak mau kehilanganmu" ucap Andreas dengan sangat lembut.
Aulia yang mendengat dan melihat lebih jelas wajah Andreas dengan penjelasannya hanya bisa tersenyum simpul dan juga memeluk Andreas., Andreas yang menyambut pelukkan Aulia dapat merasakan dengan betul jika dirinya sangat mencintai gadisnya ini, sampai cemburu yang tak jelas.
"bunny., bunny sayang, harusnya aku yang minta maaf, jika tingkahku membuat kamu cemburu, tapi percayalah, aku tidak pernah melirik selain bunny, itu semua karna aku hanya menerima sikap baik mereka, apa lagi jika itu saudara bunny." ucap Aulia didalam pelukkan Andreas.
Andreas yang mendengar hanya mendaratkan ciuman dipuncak kepalanya, sontak Aulia mendongkakkan kepalanya dan mengoda Andreas.
"lagian, aku suka kalau bunny cemburu tak jelas bunny itu tandanya bunny sangat mencintaiku, iya kan.?" goda Aulia.
Andreas yang mendengar langsung gengsi mengakui.
"siapa juga yang cemburu, aku cuman enggak suka aja kalau kepunyaanku disentuh orang lain itu saja enggak lebih" elak Andreas tidak mengakui.
"oh ya, terserah bunny aja deh, bunny kemari ada apa.?" ucap Aulia penasaran, karena tumben Andreas kemari tanpa memberi tahu dia dulu.
ngomong-ngomong, mereka berdua tidak membahas maksud Adrian kemari yah, karena mereka saling percaya dan itu Andreas akan menanyakan langsung pada sih penggoda Adrian, karena bagi Andreas dia sangat percaya dengan Aulia dengan cinta mereka, maka dari itu Andreas akan berbicara langsung pada Adrian nanti sepulang dari rumah Aulia.
"oh, aku.. aku hanya pengen liat senyummu aja" Andreas pun memegang kedua pundak Aulia dengan menatap penuh arti.
Aulia yang ditatap hanya memiringkan wajahnya dengan tersenyum seakan-akan dia mengetahui senyum yang diberikan dari Andreas untuknya.
"apa kita hanya akan begini saja., tidak mau masuk dulu.?" tanya Aulia
Andreas pun melepas tangannya dan kembali memeluk wanita dihadapannya.
"hhmmm., aulia, apa kita bisa hadapi apa saja kedepannya.?" tanya Andreas
pertanyaan mendadak dari Adndreas membuat Aulia sempat mendongakkan kepalanya melihat mimik wajah Andreas dengan tatapan heran dan bingung.
"tidak, hanya saja aku ingin selalu bersamamu, walau ada yang berusaha melepaskan kita, tapi aku ingin kita selalu bersama" ucap Andreas kembali seakan tau maksud dari tatapan Aulia.
Andreas pun melepas kembali pelukkannya dan bermaksud untuk pulang,
"aulia sayang, sepertinya waktunya cukup, aku sudah puas memandang dan memelukmu, aku pulang dulu yah" pamit Andreas
Aulia tidak banyak bicara, dia hanya menurut apa saja yang diucapkan Andreas, Andreas pun masuk kemobil tak lupa dia menurunkan kaca mobil untuk melihat wajah Aulia untuk berpamitan sekali lagi.
"bye bunny, hati-hati" ucap Aulia.
Andreas pun nampak menatap sejenak wajah Aulia dan melambaikan tangan lalu menancap gas mobil.
Aulia masih terpaku ditempat, masih memikirkan ucapan Andreas sejenak, ia tak yakin apa bisa mereka bertahan disaat ia harus bertunangan dengan orang lain.
......
dirumah Adrian baru saja selesai mandi, dia turun kelantai bawah untuk menyegarkan dahaganya, terlihat rambut yang masih basah karena habis keramas, Adrian pun melangkah menuju kulkas bermaksud untuk membuka dan mengambil air mineral membuka penutupnya dan meneguk air tersebut seakan dia sangat kehausan,
sekejap Adrian menghentikan minumnya dia duduk dikursi yang tidak jauh dari pantry dapur sambil mengingat ucapan Aulia yang membuat dia menyeringai disudut bibirnya seakan tidak terima dengan semua yang ia dengar, Adrian yang sedang minum kembali tersadar dengan kedatangan Andreas yang berjalan menuju hadapannya.
Andreas yang baru saja masuk sempat melihat dipantry nampak Adrian duduk, dia pun melangkah menuju Adrian, ingin rasanya meluapkan emosinya secara langsung tapi urung ia lakukan, Andreas pun menghembuskan nafas secara kasar membuka beberapa kancing kemejanya, mengambil minuman didalam kulkas dan meneguk secara kasar.
Adrian yang melihat hanya tersenyum simpul seakan mengejek bahwa Disini dia yang harusnya lebih marah, tatapan dingin itu berlangsung lama untuk mereka, tidak mau berlangsung lama Adrian membuka pembicaraan yang sedari tadi ia ingin dengar alasannya.
"heemm., kapan elu jadian sama aulia.?" entah mengapa Adrian langsung mengucapkan begitu saja yang ada didalam pikirannya.
mendengar Adrian bertanya Andreas hanya melihat dengan tatapan yang datar dan tidak bisa dibaca, ia duduk di kursi makan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantry mereka.
Andreas duduk meneguk minuman dan menengok Adrian dengan tatapan dingin, Adrian yang menunggu responnya dijawab hanya duduk dikursi pantry sambil mengambil air mineral kembali dari kulkas, ia merasa pembicaraan ini akan memakan waktu yang lama.
"elu sendiri, ngapain menemui lia, dan mengapa harus memeluknya" ucap Andreas dingin.
"ditanya malah balik nanya" gumam Adrian didalam hati
Andreas yang masih bisa mendengar ucapan Adrian hanya melirik dan tersenyum mengejek.
"elu kan tau kalau gue suka sama aulia, uda deh gue malas berdebat dengan elu" terlihat Adrian melangkah meninggalkan Andreas didapur.
Adrian malas untuk berdebat, dia lebih memilih beranjak dari tempatnya daripada nantinya emosi mereka tidak terkontrol, yang ada kejadian seperti 2 tahun lalu terjadi lagi.
Andreas paham dengan menghindanya Adrian dari pembicaraan mereka, tapi ia masih kesal dengan sikap Adrian yang memeluk Aulia dengan rasa sayang,
"mengapa aku harus jadi seperti orang yang posesif terhadap pasangan" umpat Andreas dalam hatinya ia merasa seperti bukan dirinya, selama ini dia tidak pernah memikirkan wanita sampai seperti ini.
.....
Angga yang baru saja tiba dari kantor, menyempatkan singgah sebentar ingin mengecek Restoran miliknya, tidak lupa ia mengabari Bunga untuk menyiapkan laporan keuangan minggu ini sebelum Angga tiba di restoran.
drreett drreett
"halo, unge bisa minta laporan keuangan, sedikit lagi saya tiba di Resto, tidak perlu untuk menyambutku" ucap Angga terputus memutuskan panggilannya dengan Bunga.
Bunga hanya mendengar dan segera menyiapkan semua berkas.
tiba di Resto Angga yang sudah sedikit lelah dengan pekerjaannya, nampak menundukan kepala untuk merefleksikan sedikit ketegangan ototnya.
Angga tidak melihat jalan masuk ke Resto, dari arah samping ada seorang wanita yang sedang sibuk dengan ponselnya yang tidak melihat jalan untuk masuk ke Resto sama seperti Angga
akhirnya mereka pun saling bertabrakan, ponsel wanita itu berserakan dilantai, Angga dan wanita itu memakukan diri mereka masing-masing, nampak berusaha mencairakn suasana Angga pun langsung mengambil ponsel itu dan memperbaiki ponsel itu dengan senyum canggungnya.
Angga yang sedikit tidak enak dengan suasana itu langsung mengulurkan tangan sambil memberikan ponsel wanita itu.
"eehh., maaf, sebelumnya, ini ponselnya, Angga" ucap Angga sambil mengulurkan tangan dengan wajah yang canggung.
wanita itu nampak mengela nafas sejenak dan memberi senyum khasnya sambil mengambil ponselnya dan menyambut uluran tangan pria dihadapannya.
"mmm., makasih, aku juga yang salah, Ayla" ucap Ayla sambil memberikan senyumnya.
sesaat Angga terdiam terpaku dengan wanita dihadapannya karena wanita dihadapnnya ini sangat mempesona olehnya, karena merasa diawasi dengan tatapan wanita itu, Angga pun langsung berdehem sambil tertawa garing dengan wajah yang terlihat kikuk.
"hehehe., maaf, mmm., mau masuk.?" tanya Angga memecahkan kecanggungan didirinya.
"ia aku mau makan, kamu.?" tanya Ayla balik
"sepertinya, mari" ucap Angga, yang direspon dengan senyum penuh tanya diwajah Ayla.
Angga pun mempersilahkan terdahulu Ayla untuk masuk, Ayla hanya tersenyum dan membukuk sedikit tanda terima kasih, mereka pun masuk berjalan berdampingan, karena merasa aneh
Ayla pun bertanya kembali
"mmm..." sambil menoleh kearah Angga, seakan tau tatapan Ayla, Angga pun langsung menjawab.
"Angga., silahkan saya akan kebelakang dulu" ucap Angga sambil menarik kursi dihadapannua untuk mempersilahkan Ayla untuk duduk.
Ayla langsung duduk, dan melihat kearah punggung laki-laki itu menjauh pergi, sejenak Ayla terpesona dengan sikap Angga, dia pun tersadar akan niatnya yang dari awal untuk makan Ayla pun mengangkat tangan untuk pemberi kode ke pelayan Resto untuk kearahnya.
"abang, ini berkasnya, oh ya bang, pemasukan sejak bulan ini tidak berubah masih sama seperti bulan kemarin" ucap Bunga, sambik memberikan berkas map bening dihadapan Angga.
Angga yang duduk dimeja kerja Bunga membuka map tersebut sambik mendengarkan Bunga memberi info.
"pertahankan semua itu, apa semua sudah terkendali di gudang.?" ucap Angga, sejenak menghentikan tatapannya di map.
"sudah bang, kak leon tadi siang membantu unge" ucap Bunga
melihat Angga hanya menghayal, Bunga pun heran dan menggoncangkan bahu Angga agar mendengarnya, Angga yang tersadar langsung menatap Bunga Kembali.
"oke, berarti aman kan semua, apa ada yang belum beres." ucap Angga sambil menyandarkan badanya dikursi.
"untuk sejauh ini, masih bisa unge kendalikan kak, kalau ada apa-apa pasti unge langsung lapor ke abang" ucap Bunga percaya diri
Angga yang merasa sudah bisa pergi langsung berdiri dan berbalik lagi ke arah Bunga.
"unge, bisa abang minta tolong bawakan makanan abang kedepan oke" pinta Angga sambil berlalu tanpa menunggu jawaban Bunga
"terima kasih" ucap Ayla kepada pelayan yang sedang mempersilahkan Ayla untuk makan.
Angga yang dari jauh melihat posisi Ayla tidak berubah langsung duduk tanpa menunggu Ayla mempersilahkan.
"tanmpaknya sudah mau makan yah, selamat makan" ucap Angga menyadarkan Ayla yang sedang mengaduk makanannya.
Ayla langsung melihat kearah Angga, dan meneguk air dihadapnnya.
"kamu enggak makan" tanya Ayla
"silahkan duluan, sebentar lagi datang pesananku" ucap Angga mempersilahkan Ayla untuk makan.
Ayla yang tidak enak harus makan duluan, hanya bersandar di kursinya sambil menyelidik wajah Angga.
"kenapa, apa ada yang aneh diwajahku" tanya Angga menyadari dirinya ditatap
"enggak, tidak ada yang aneh, hanya saja kita yang aneh" ucap Ayla
sadar akan ucapan Ayla, Angga hanya tersenyum dia tahu maksud dari ucapan itu.
"kenapa, apa ada yang lucu" tanya Ayla kembali
"tidak, hanya saja, apa aku boleh jujur" ucap Angga sambil mendekat kearah wajah Ayla dengan mengadahkan kedua tangannya di meja, Ayla langsung merespon dengan tindakan mengangkat kedua bahunya dan tangannya menpersilahkan
"apa boleh aku kenal kamu lebih jauh lagi" ucap Angga
"sepertinya ada yang tertarik padaku" ucap Ayla tersenyum menggoda Angga
"mungkin.." ucap Angga
tidak lama makanan Angga datang dibawah oleh pelayan yang didampingi Bunga, dari kejauhan Bunga nampak menyelidik kearah Angga dan wanita dihadapan Abangnya, karena penasaran Bunga langsung segera melangkah ke meja Angga.
"silahkan tuan angga" terlihat Bunga membungkuk dan menyelidik kearah wanita dihadapan Angga.
Angga yang menyadari pertanyaan dari tatapan Adik sepupuhnya itu, langsung memperkenalkan Bunga dihadapan Ayla
"oh ya, bunga ini ayla, ayla ini bunga manager resto disini..." ucap Angga terpotong
"dan kamu bosnya, aku sudah bisa tahu dari tadi, oh ya ayla" potong Ayla sambil mengulurkan tangannya dihadapn Bunga.
Bunga yang melihat suasana dihadapannya nampak ada sesuatu langsung menyambut uluran tangan Ayla
"bunga, manager resto ini dan saya adalah adik sepupuh laki-laki ini" ucap Bunga dengan senang hati
"oh, adik, senanh bertemu, tidak ingin bergabung" tawar Ayla
"tidak perlu, saya harus kebelakang dulu, masih banyak yang harus diatasi, mari" ucap Bunga sambil berlalu, sesekali tatapannya bertemu dengan Angga dengan penuh tanya.
Angga hanya tersenyum sambil makan dengan santai, Ayla yang merasa aneh dengan Angga hanya bisa tersenyum simpul.
.....
maaf readers, author baru bisa update lagi, karena masih harus banyak inspirasi, maklum 😁 masih belajar.. jangan lupa like dan vote yah supa author semangat buat ide-ide baru. gomawo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments