Audrey baru saja menyusul Kyle masuk ke dalam kamar, saat pria itu sedikit kaget dengan kehadiran Audrey di kamarnya.
"Kau, sedang apa disini?" Tanya Kyle menatap canggung pada Audrey.
"Ini juga kamarku-" suara Audrey tercekat di tenggorokan.
"Maksudku, dulu ini juga kamarku. Tapi aku akan mengemasi barangku dan pindah ke kamar lain jika memang kau merasa tak nyaman," lanjut Audrey cepat seraya berjalan ke arah lemari besar di kamar Kyle dan meraih kopernya.
"Tidak, tunggu! Bukankah kau istriku?" Kyle mencegah tangan Audrey yang hendak membuka koper besarnya.
"Ya. Aku istri sahmu. Tapi kau tidak ingat sama sekali, jadi aku akan pindah ke kamar lain saja sampai ingatanmu pulih. Aku benar-benar tak mau membuatmu merasa tidak nyaman," tutur Audrey dengan nada sendu dan wajah yang menunduk sedih.
"Maaf jika sakitku ini menyakiti perasaanmu, Audrey! Tapi aku sungguh tak ingat apapun yang pernah terjadi di antara kita-"
"Aku tahu!" Sergah Audrey cepat memotong kalimat Kyle.
"Aku sudah berusaha untuk mengingatnya, tapi kau tahu sendiri, aku tidak bisa ingat apapun!" Raut wajah Kyle berubah frustasi.
"Jangan dipaksa jika memang belum ingat, karena itu hanya akan menyakiti dirimu." Nasehat Audrey pada Kyle.
"Kita tetap bisa berbagi kamar besar ini." Kyle memasukkan koper Audrey kembali ke dalam lemari.
"Maksudku, aku bisa tidur di sofa, dan kau tidur saja di atas ranjang. Apa kau keberatan?" Tanya Kyle meminta pendapat Audrey.
"Sama sekali tidak, atau kau yang tidur di atas ranjang dan aku di sofa, begitu juga aku tak keberatan. Bukankah ini adalah kamarmu," jawab Audrey sedikit tergagap, karena Audrey sedang sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak jatuh.
Satu tahun melalui malam hangat bersama Kyle, saling berbagi ranjang, berbagi pelukan dan kehangatan, lalu mendadak Audrey tak bisa menyentuh suaminya sendiri sama sekali, meskipun suaminya ada di depan matanya.
Di depannya.
Hanya berjarak sangat dekat.
Kenapa rasanya begitu menyakitkan?
"Tidak! Jangan kau yang tidur di sofa. Kau seorang wanita. Tidak baik jika aku membiarkanmu tidur di sofa. Biar aku saja," ujar Kyle lagi dengan nada memaksa.
"Kau tidur saja di atas ranjang. Aku tidak akan berbuat macam-macam!"
"Aku tidak akan menyentuhmu karena-" Kyle menatap pada wajah Audrey yang berubah sendu. Namun secepat kilat Audrey mengulas senyum demi menutupi wajah sendunya.
"Maaf, Audrey! Meskipun saat ini kau adalah istriku, tapi aku benar-benar tak ingat apapun tentang hubungan kita. Jadi aku tak bisa menyentuhmu," ucap Kyle merasa bersalah.
"Aku tahu!" Audrey masih mengulas senyum di bibirnya meskipun hatinya sedang menangis sekarang.
"Aku tak bisa menyentuh seorang wanita asing," sambung Kyle lagi yang terasa mengiris hati Audrey.
Audrey adalah wanita asing bagi Kyle sekarang.
"Sebaiknya kau beristirahat, Kyle! Aku akan keluar dan tak mengganggumu," pamit Audrey yang kini melangkah lesu ke arah pintu kamar.
Kyle bahkan tak berniat mencegah Audrey sama sekali. Kyle hanya diam saja sekarang dan membiarkan Audrey keluar dari kamar.
"Kau harus istirahat, Kyle! Agar demammu cepat turun dan kau cepat sembuh!" Nasehat Audrey pada Kyle yang tiba-tiba demam pagi ini.
Suami Audrey itu menggeleng.
"Kau akan meninggalkanku jika aku tidur. Jadi aku tidak usah tidur agar kau bisa disini terus memelukku," rengek Kyle manja.
"Jangan kekanakan begitu! Kau bukan bayi!"
"Dan aku harus ke kantor bertemu klien sebentar," bujuk Audrey yang langsung membuat Kyle merengut.
"Aku bayi besarmu! Jangan kemana-mana, oke! Kau harus merawatku sampai sembuh!" Ucap Kyle tegas seraya menggamit lengan Audrey dengan kuat.
"Lepaskan, Kyle! Kau itu sebenarnya benar-benar sakit atau hanya pura-pura sakit?" Audrey mulai curiga karena cengkeraman tangan Kyle yang begitu kuat, sekuat saat Kyle sehat.
"Aduuh! Kepalaku sakit. Aku benar-benar sakit. Mengapa kau tidak percaya?" Kyle meringis dan memegangi kepalanya.
"Karena sakitmu mencurigakan! Dan sifat manjamu melebihi Alle saat sakit!" Jawab Audrey sedikit mengomel.
"Aku sedang sakit dan kau mengomeliku. Kalau aku tak kunjung sembuh, kau harus merawatku dalam waktu yang lama dan kau tak boleh kemana-mana!" Kyle kembali merengek seperti bayi besar.
Ya!
Pria ini memang bayi besarnya Audrey.
"Aku tinggal ke kantor sebentar! Klienku sudah menunggu," Audrey berusaha membujuk Kyle
"Tidak boleh!" Jawab Kyle tegas dan tak mau dibantah.
"Sebentar saja, Kyle-ku yang tampan," Audrey mengusap wajah Kyle dengan lembut masih berusaha merayu suaminya tersebut.
"Tidak!"
"Hanya satu jam. Paling lama dua jam." Bujuk Audrey pantang menyerah.
"Kyle-ku Sayang! Kyle cintaku!" Rayu Audrey yang benar-benar membuat Kyle menjadi gemas.
"Tunggu aku tidur," Kyle menguap lebar menandakan kalau ia sudah mengantuk. Obat sakit kepala yang diminum Kyle tadi sepertinya mulai bekerja.
"Peluk aku sini, biar aku cepat tidur!" Rengek Kyle manja seraya menarik Audrey agar ikut naik ke atas tempat tidur.
Padahal Audrey sudah rapi dan siap bertemu klien. Tapi kenapa sekarang malah diajak berpelukan oleh Kyle di atas tempat tidur?
"Cium!" Kyle memonyongkan bibirnya ke arah Audrey.
Ck!
"Nanti lipstikku rusak, Kyle!"
"Sebentar saja!" Paksa Kyle yang langsung meraup bibir Audrey yang memang merupakan candu untuknya.
"Kyle!"
Sebentar apanya coba?
Kyle bahkan tak mau berhenti mencecap bibir Audrey dan terus saja memperdalam ciuman mereka. Entah seperti apa bentuk riasan Audrey sekarang.
Kyle baru melepaskan ciumannya pada Audrey saat pria itu benar-benar sudah mengantuk dan akhirnya tertidur efek dari obat yang tadi ia minum.
Audrey segera beranjak dari atas tempat tidur, merapatkan selimut Kyle, dan mencium kening suaminya tersebut.
"Aku akan segera kembali!" Bisik Audrey sebelum kekuar dari kamar meninggalkan Kyle yang sudah terlelap.
****
Audrey menutup pintu kamar Kyle perlahan, meninggalkan Kyle yang hanya mematung di tempatnya.
Kyle yang sekarang menganggap Audrey orang asing dan mungkin tak akan pernah lagi menyentuh Audrey.
"Audrey!" Tegur Mom Bi saat mendapati Audrey yang turun dari tangga seraya melamun.
"Kyle sedang istirahat, Mom!" Lapor Audrey pada Mom Bi.
"Kau tidak ikut istirahat?" Tanya Mom Bi seraya mengusap kepala Audrey.
Audrey hanya menggeleng.
"Mungkin Audrey akan tidur di kamar lain malam ini, karena Kyle terlihat tidak nyaman jika Audrey berada di dekatnya," tutur Audrey mengungkapkan rencananya pada Mom Bi.
"Tapi kau adalah istri Kyle, Audrey! Kyle harus menyesuaikan dirinya dengan kehadiranmu, sekalipun ingatannya belum pulih," pendapat Mom Bi yang seakan bisa merasakan apa yang kini tengah dirasakan oleh Audrey.
"Tapi mungkin Kyle butuh waktu lebih kama lagi untuk beradaptasi, Mom!"
"Audrey akan bersabar dan terus berdoa agar ingatan Kyle lekas pulih," sambung Audrey lagi yang langsung membuat Mom Bi memeluk menantunya tersebut.
"Kita akan berusaha dan berdoa bersama-sama agar ingatan Kyle lekas pulih, Audrey! Bersabarlah dulu!" Mom Bi menepuk-nepuk punggung Audrey seolah sedang memberikan kekuatan tambahan untuk Audrey.
Ya, saat ini yang Audrey butuhkan hanyalah kekuatan dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
Audrey harus tetap bertahan bagaimanapun sikap Kyle terhadapnya sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
dyul
Yg paling menyedihkan ketika org yg kita sayang, lupa ttg kita😭
2023-05-22
0
Hernita
sabbaar ya cantik Audrey
2022-04-15
0
Anna Aqila 🏚️ 🌺
sabar ya Audrey
2021-09-21
0