Hujan deras masih mengguyur di luar gedung kantor Audrey, membuat udara sore menjelang malam semakin dingin.
Tapi tidak demikian di dalam ruang kerja Audrey.
Audrey yang kini duduk dipangkuan Kyle terus meremas rambut Kyle yang sejak tadi tak berhenti menciumi wajah, leher, serta dadanya.
Bahkan dua orang yang kini hanya memakai baju dalam tersebut seakan tak merasa kedinginan sama sekali.
Gaun Audrey serta kemeja Kyle yang basah kuyup sudah teronggok di lantai, tak jauh dari sofa di mana Audrey dan Kyle duduk berpangkuan, dan saling mencecap.
"Kyle, sudah!" Audrey menarik kepala Kyle agar menjauh. Dan pria itu hanya terkekeh.
"Kau membuatku gila, Audrey!" Ucap Kyle sebelum mengecup singkat bibir Audrey.
"Kau saja yang mesum!" Audrey memukul dada Kyle yang kini tak tertutupi selembar kainpun.
"Kita akan menikah akhir pekan nanti," bisik Kyle yang sontak membuat Audrey terkejut.
"Kenapa mendadak sekali, Kyle! Aku belum menyiapkan apapun."
"Kadang, seorang perencana pernikahan juga butuh orang lain untuk merencanakan pernikahannya." Jemari Kyle menyusur lekuk wajah Audrey dan berhenti di bibir Audrey yang merekah menggiurkan dan merupakan candu baru untuk Kyle.
"Mom, Dad, Om Hans, Tante Hanni, dan Abang Zayn, mereka semua yang sudah mengatur pesta pernikahan kita di hotel milik keluarga Abraham. Dan acaranya akhir pekan nanti.
"Kenapa lagi-lagi tak ada yang memberitahuku?" Audrey memukul-mukul dada Kyle dengan gemas.
Pria itu kembali tergelak.
"Apa Mom dan Dad-mu tidak merasa keberatan dengan statusku?" Tanya Audrey yamg mendadak merasa rendah diri.
"Kenapa harus keberatan. Mom saja statusnya juga sama sepertimu saat menikah dengan Dad. Tapi lihatlah sekarang, mereka masih saja mesra sampai tua," ujar Kyle berusaha menghibur dan meyakinkan Audrey.
"Masa?" Audrey masih mengernyit tak percaya. Namun Kyle segera mengangguk dengan sangat yakin.
"Status bukan masalah, Audrey!" Kyle menyatukan tangannya dan tangan Audrey.
"Karena yang terpenting adalah, kita saling mencintai." Kyle lanjut mengecup tangan Audrey yang masih ia genggam dengan erat.
Audrey segera mengulas senyum di bibirnya karena begitu bahagia mendengar pernyataan cinta yang tulus dari Kyle.
"Kita akan menua bersama," Kyle menyatukan keningnya dan kening Audrey yang hanya mengangguk-angguk tanpa berucap sepatah katapun.
"I love you, Audrey!"
"I love you too Kyle!"
Tangan Audrey meraih paperbag yang berisi bajunya dan baju Kyle.
"Kita lanjut ke apartemenku malam ini, ya!" Ajak Kyle dengan nada merayu.
Kyle membantu Audrey menaikkan ritsleting gaunnya.
"Nggak! Dasar mesum!" Tolak Audrey cepat.
"Kita belum resmi menikah! Jadi jangan aneh-aneh!" Cerocos Audrey pagi yangkini ganti meraih baju Kyle yang rupanya hanya sebuah celana panjang dan kaus lengan pendek berwarna putih.
"Kau tidak bawa kemeja?" Audrey mencari-cari kemeja Kyle di dalam paperbag. Namun tidak ada.
"Kaus saja cukup. Memangnya aku mau meeting?" Jaeab Kyle seraya terkekeh.
"Baiklah!" Audrey memakaikan kaus Kyle masih sambil dudul di pangkuan Kyle.
Astaga!
Pria ini seakan tak mengijinkan Audrey turun dari pangkuannya.
"Pakai celanamu, dan ayo kita cari makan! Aku lapar sekali" perintah Audrey seraya memberikan celana Kyle dan wanita itu lanjut turun dari pangkuan Kyle. Namun Kyle masih mencegahnya.
"Satu kecupan lagi, Calon istri!" Kyle sudah dengan cepat menangkup wajah Audrey dan mencecap bibir Audrey dengan dalam.
Dasar mesum!
"Kita makan malam di apartemenku, ya!" Ajak Kyle yang masih berusaha membujuk Audrey agar mau menginap bersamanya di apartemen.
"Tidak, Kyle!" Jawab Audrey tegas.
Meskipun beberapa hari lagi Audrey dan Kyle akan menikah, namun rasanya sangat salah jika Audrey dan Kyle mencicil malam pertama mereka sekarang.
"Kita makan malam di luar, lalu kau akan mengantarku pulang ke rumah Papa dan Mamaku!" Audrey membungkuk di depan Kyle yang kini sudah selesai memakai celananya, berucap dengan tegas, dan telunjuknya menuding ke arah dada Kyle.
"Tentu saja, Nyonya Audrey Arthur!" Jawab Kyle dengan ekspresi wajah lebay.
Audrey sontak tergelak melihat ekspresi wajah Kyle.
"Ayo pergi! Aku juga sudah lapar." Kyle bangkit berdiri dan segera merangkul Audrey denga mesra.
Dua orang itu keluar dari ruangan Audrey, dan turun ke lantai bawah. Suasana kantor Audrey sudah sepi karena memang ini sudah malam.
Tak butuh saktu lama, dan mobil Kyle sudah melaju meninggalkan kantor Audrey, mrnuju ke sebuah resto yang takmjauh dari kantor Audrey.
****
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, saat mobil Kyle tiba di kediaman Abraham.
"Kau yakin tidak mau ikut bersamaku ke apartemen?" Kyle merayu Audrey sekali lagi.
"Tidak! Berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu?" Jaeab Audrey sedikit kesal.
"Baiklah! Berikan satu kecupan selamat malam!" Kyle menarik kepala Audrey dengan cepat dan meraup bibir Audrey.
Cukup lama Kyle dan Audrey saling mencecap.
"Terima kasih untuk hari ini, Kyle! Cincinnya indah sekali." Audrey kembali menunjukkan cincin berlian yang tadi disematkan oleh Kyle di jari manisnya.
"Kau menyukainya?"
Audrey mengangguk.
"Sangat menyukainya."
"Kau bahagia?" Tanya Kyle lagi.
"Sangat bahagia," jawab Audrey seraya tersenyum.
"Aku juga sangat bahagia." Kyle mengusap lembut wajah Audrey.
"Selamat malam, Kyle!" Pamit Audrey akhirnya seraya membuka pintu mobil Kyle.
"Selamat malam, Sayang!" Balas Kyle dengan nada mesra.
Audrey hanya tertawa kecil dan segera turun dari mobil Kyle.
Setelah melambaikan tangan pada Audrey, Kyle segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Abraham.
****
Audrey masuk ke rumah seraya bersenandung kecil. Wanita itu sedikit kaget saat mebdapati keluarganya yang masih berkumpul di ruang tengah dan sepertinya sedang membicarakan hal penting.
"Calon pengantinnya sudah datang," ucap Abang Zayn saat melihat Audrey yang baru masuk ke ruang tengah.
"Sedang membicarakan apa?" Tanya Audrey yang segera ikut bergabung dan duduk bersama Mama Hanni serta Kak Thalita.
"Pernikahanmu dengan Kyle. Apalagi memangnya?" Jawab Zayn santai.
"Lamaran Kyle sore ini romantis sekali," Thalita menunjukkan video saat Kyle melamar Audrey di depan kantor tadi.
"Kakak dapat darimana videonya?" Tanya Audrey yang wajahnya sudah tersipu malu.
"Dari karyawanmu. Kakak yang minta mereka merekam videonya, buat kenang-kenangan," jawab Thalita seraya terkekeh.
"Pas kita dulu nggak ada yang ngrekam, Yang! Padahal romantis juga, di Paris lagi," komentar Zayn yang langsung membuat semua anggota keluarga Abraham tertawa.
"Salah sendiri nggak ngajak Audrey waktu itu!" Sahut Audrey yang hanya dibalas Zayn dengan cibiran.
"Coba Mama lihat cincinnya," Mama Hanni meraih tangan Audrey dan melihat cincin pemberian Kyle.
Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia dan segera memeluk sang putri.
"Mama senang karena akhirnya kamu kembali menbuka hati dan menemukan kebahagiaanmu sekarang, Audrey."
Audrey hanya mengangguk-angguk, karena kini Audrey juga merasa sangat bahagia.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
kika
didikan mama hani berhasil semua....didikan mama bela kebobolan 2, wkwk...
2023-08-21
0
dyul
Si Kyle... ngelamarnya romantis, tapi nyosor mulu gak tahan😂😂😂
2023-05-21
0
Sulaiman Efendy
MSH SJA NI KYLE INGIN AJAK AUDREY KE APARTEMEN, JGN MRENDAHKN MARTABAT WANITA TRUTAMA JANDA, SEOLAH OLAH JNDA ITU HAUS SEX, APALAGI 4 THN AUDREY MNJANDA.. TPI SYUKUR AUDREY TTP MNOLAK, MSKI TDK MNOLAK CIUMAN KYLE..
2023-05-16
0