Audrey membuka matanya saat mendapati Mama Hanni yang sedang berada di sampingnya.
Dimana Kyle?
"Kau sudah bangun, Audrey?" Tanya mama Hanni lembut.
Dan sesaat setelahnya, Audrey bisa melihat Papa Hans, Mom Bi dan Dad Nick, serta Sean yang berada di ruangan yang sama.
Dan di ranjang pearwatan ada Kyle dengan banyak alat medis yang terhubung ke tubuhnya.
Kyle koma.
Audrey akhirnya bisa mengingatnya.
Audrey segera bangkit dari kursinya, sedikit dibantu oleh Mama Hanni. Wanita itu menghampiri Kyle yang kini terbaring tak berdaya. Audrey meraih tangan Kyle dan menggenggamnya erat. Meletakkan tangan yang lunglai itu ke wajahnya dan mengecupjya berulang kali.
"Bangunlah, Kyle!" Ucap Audrey yang kembali menangis.
"Kyle sudah melalui masa kritisnya, Audrey! Jadi kita sama-sama berdoa saja, agar Kyle bisa bangun secepatnya," ujar mama Hanni yang sedari tadi terus berada di samping Audrey dan merangkul pundak putrinya tersebut.
Jemari Audrey terulur dan mengusap lekukan wajah Kyle yang terdapat beberapa luka.
"Bangunlah, Sayang! Cepatlah bangun!"
"Ups! Maaf!" Ucap Audrey karena ia tak sengaja menabrak seorang pria yang mengenakan setelan tuxedo warna hitam. Sama seperti yang dikenakan mayoritas tamu pria malam ini di resepsi pernikahan Valeria dan Arga.
"Ini sudah yang keempat kalinya kita bertabrakan, Nona Audrey."
Suara itu!
Suara dari mempelai pria yang batal menjadi suami Valeria.
Kyle Aditya Arthur!
"Mungkin yang kelima nanti akan berhadiah payung cantik," sahut Audrey sedikit berkelakar.
"Resepsi pernikahan yang sempurna!" Puji Kyle pada Audrey selaku pemilik Wedding Organizer yang mengatur pesta malam ini.
"Kau dan Valeria yang merencanakannya, dan aku hanya mewujudkan sesuai konsep yang kalian ajukan."
"Tapi kenapa bukan kau yang menjadi mempelai prianya?" Lanjut Audrey yang kembali terkekeh.
"Semua hanya tentang jodoh. Aku rasa Valeria bukan jodohku, dan aku hanya bertugas menjaganya selama enam tahun terakhir." Jawab Kyle sok diplomatis.
"Wow! Enam tahun dan kandas begitu saja. Sayang sekali!" Gumam Audrey merasa prihatin.
"Bukan kandas! Aku hanya tak mau menyakiti dua gadis bernama Valeria itu. Valeria sudah menemukan jalan hidupnya bersama Arga dan Vaia. Jadi aku tak mau menjadi penghalang kebahagiaan mereka," tutur Kyle yang langsung membuat Audrey berdecak kagum.
"Hatimu mulia sekali, Kyle! Kau pria yang baik!" Audrey menepuk bahu Kyle.
"Kau pasti akan mendapatkan gadis yang baik juga suatu hari nanti," sambung Audrey lagi mengulas senyum pada Kyle.
Senyuman yang manis dan hangat.
"Akan ku anggap ucapanmu itu sebagai doa yang baik," Kyle mengangguk-angguk pada Audrey, sebelum pria itu lanjut menatap dalam ke arah wajah Audrey yang cantik.
Jika dilihat sedekat ini dan diperhatikan dengan seksama, Audrey ternyata memang cantik.
"Masih banyak yang harus aku urus. Jadi, aku pergi dulu. Bye!" Pamit Audrey pada Kyle.
"Bye, Nona Audrey!" Kyle meraih tangan Audrey dan mengecupnya.
Terang saja hal itu membuat Audrey benar-benar kaget. Namun Kyle hanya tersenyum pada Audrey dan memasang raut wajah tanpa dosa.
"Aku duluan!" Pamit Audrey yang mendadak menjadi canggung.
Gadis itu segera berlalu dari hadapan Kyle dan kembali bergabung bersama tim Wedding Organizer-nya. Memantau jalannya pesta malam ini dan memastikan tak ada masalah.
****
Sudah hampir satu pekan sejak kecelakaan yang menimpa Kyle, dan suami Audrey itu masih belum bangun dari koma-nya. Keluarga Abraham dan keluarga Arthur bergantian datang ke rumah sakit, untuk menemani Audrey yang memang tak pernah mau beranjak dari sisi Kyle sejak sepekan yang lalu.
Ayah Satria dan Bunda Naya juga beberapa kali datang untuk menjenguk Kyle bersama dengan Emily yang merupakan adik perempuan kesayangan Kyle. Semuanya sayang pada Kyle. Tapi kenapa Kyle tak kunjung bangun?
"Pagi!" Sebuah sapaan terdengar dari arah pontu ruang perawatan, bersamaan dengan pintu yang dibuka dari luar.
Sean datang sendiri pagi ini dan sudah mengenakan kemeja serta dasi. Sepertinya adik ipar Audrey itu hendak pergi ke kantor.
"Pagi, Sean! Kau datang sendiri?" Balas Audrey yang segera menyambut Sean dan mengambil alih tas kain yang dibawa oleh Sean.
Biasanya setiap pagi, Mom Bi memang mengirimkan makanan untuk Audrey.
Ya, meskipun selera makan Audrey sudah menguap pergi beberapa hari ini, namun Audrey tetap harus makan agar ia tidak sakit dan tetap bisa menjaga Kyle.
"Mom dan Dad mungkin datang sedikit siang, Kak. Karena sedang ada urusan," lapor Sean pada sang Kakak ipar.
Audrey hanya mengangguk paham.
"Bagaimana kondisi Abang?" Tanya Sean selanjutnya yang kini sudah mendekat ke arah tempat tidur Kyle.
"Masih belum ada perkembangan," jawab Audrey lesu.
Audrey membuka rantang susun yang tadi dibawa oleh Sean dan memeriksa isinya.
"Kau sedang buru-buru, Sean?" Tanya Audrey yang kini ganti mengambil baju ganti dari dalam koper kecil miliknya di sudut ruangan.
"Tidak!"
"Kakak bisa membersihkan diri dulu. Biar Sean yang menjaga Abang Kyle," jawab Sean yang masih duduk di samping ranjang perawatan Kyle.
"Baiklah! Aku tidak akan lama," ucap Audrey sebelum waniga itu menghilang ke dalam kamar mandi yang masih menyatu dengan kamar perawatan kelas president suite yang kini ditempati Kyle.
Sean masih mengutak-atik ponselnya, saat tiba-tiba pria itu merasakan tangan Kyle yang bergerak sedikit.
Buru-buru Sean menyimpan ponselnya dan memperhatikan dengan lebih seksama. Jemari Kyle memang bergerak-gerak sekarang, meskipun madih terlihat lemah.
"Bang!" Sean meletakkan jarinya di telapak tangan Sean dan langsung digenggam erat oleh abangnya tersebut, bersamaan dengan kedua mata Kyle yang perlahan terbuka.
"Abang!" Panggil Sean sekali lagi pada Kyle yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ada apa, Sean?" Tanya Audrey yang baru selesai mandi.
"Sean rasa Abang Kyle mulai sadar. Sean akan memanggil dokter." Sean sudah beranjak dari dudukmya dan menghubungi dokter lewat interkom yang ada di dalam kamar.
Audrey sudah mendekat ke arah Kyle yang masih mengerjapkan matanya, dan beberapa kali merintih seakan sedang menahan sakit di tubuhnya.
"Kyle, kau sudah bangun?" Tanya Audrey lirih dengan sejuta kelegaan yang menyeruak di hatinya.
Kyle masih diam dan tak menjawab pertanyaan Audrey.
Dokter dan beberapa perawat sudah datang untuk memeriksa kondisi Kyle.
Semuanya baik dan stabil, kecuali Kyle yang masih diam dan menatap bingung pada Audrey.
"Bang!"
"Sean senang karena akhirnya Abang sudah bangun," Sean memeluk Kyle demi meluapkan rasa syukurnya.
"Sean," panggil Kyle lirih pada Sean yang masih berada di dekatnya.
"Iya, Bang!"
"Mom dan Dad mana?" Tanya Kyle pada Sean.
"Masih di perjalanan. Mereka akan tiba tak lama lagi," jawab Sean yang langsung membuat Kyle mengangguk.
"Kyle!" Audrey ganti memeluk Kyle dan meluapkan kegembiraan karena akhirnya Kyle bangun dari koma.
Namun bukannya membalas pelukan Audrey, Kyle malah menyentak tangan istrinya tersebut dan sedikit mendorong Audrey agar menjauh.
"Bang, ada apa?" Tanya Sean bingung karena sikap Kyle yang mendadak ketus pada Audrey.
"Siapa wanita ini, Sean? Kenapa tiba-tiba dia memelukku?" Tanya Kyle seraya menuding pada Audrey.
"Dan dimana Valeria? Dia tidak menjengukku?" Tanya Kyle lagi menatap serius pada Sean.
Audrey mematung di tempatnya saat Kyle tidak mengenali Audrey dan malah bertanya tentang Valeria.
"Bang, ini Kak Audrey! Istri Abang!" Jawab Sean yang sudah merangkul Audrey dan membawanya mendekat ke arah Kyle.
"Istri?" Kyle bergumam tak percaya.
Sebelum pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku belum menikah! Dan calon istriku adalah Valeria! Bukan wanita ini!" Jawab Kyle tegas.
Airmata Audrey lolos meluncur di kedua pipinya mendengar pernyataan Kyle yang sama sekali tak ingat kepadanya.
"Tapi Kak Audrey istri Abang! Bagaimana Abang bisa lupa?" Sean bertanya dengan bingung.
Dokter yang sejak tadi masih berada di dalam ruangan kembali memeriksa Kyle. Dan ternyata Kyle ingat pada semua keluarganya dan teman-teman lamanya.
Kecuali Audrey!
Kyle sama sekali tidak ingat pada wanita bernama Audrey yang merupakan istri sahnya.
Kyle bahkan tidak ingat kalau ia sudah menikah dengan Audrey satu tahun ini.
Hancur dan sakit!
Mungkin seperti itulah perasaan Audrey saat ini.
Audrey memilih keluar dari ruang perawatan Kyle karena pria itu terus melempar tatapan tidak senang pada Audrey.
Kenapa Kyle bisa tidak ingat pada Audrey?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
dyul
Haduh baru part 2 aku dah🤧🤧😭😭
2023-05-21
0
Sulaiman Efendy
NAMANYA JUGA AMNESIA, DN AMNESIA KYLE, MMORINYA HNY INGAT MASA2 DI BELAKANG... MKANYA GK INGAT AUDREY, HNY INGAT VALERIA
2023-05-16
0
Sulaiman Efendy
YAA CANTIKLH, PAPA HANS GANTENG, MMA HANNI CANTIK... DN ABG ZAYN TAMPAN... DN TENTUNYA AUDREY JUGA CANTIK..
2023-05-16
0