Baru saja Luna ingin menempelkan bokongnya ke jok mobil tiba-tiba aktifitasnya harus tertunda saat Wardana bersuara.
“Luna berangkat sama Dylan saja ya!”
Gadis yang memakai bandana ini menurunkan lagi kakinya ke tanah, “kenapa harus sama dia? Luna nggak mau!”
“Papa ada meeting pagi ini. Sedangkan Papa harus antar adikmu dulu. Kalau antar kamu juga Papa bisa telat.” Pria berjas hitam itu menoleh ke Dylan yang duduk di atas motornya, “mau ‘kan Lan bareng Luna? Kalian ‘kan satu kampus.”
Cowok itu bergeming untuk beberapa detik. Sebenarnya ia malas sekali harus membonceng gadis cerewet itu. Namun, kalau ditolak tidak enak juga. Karena pria yang berbicara padanya sudah sangat baik pada dia dan sang ibu.
“Mau, Om. Nggak apa-apa bareng saya saja.” Dylan berupaya ramah di depan keluarga Luna.
Luna mendesis kesal. Dengan mengentakan kaki ia berjalan mendekati Dylan.
“Papa berangkat ya!” Wardana serta Bhiru pamit lebih dulu dan pergi menggunakan mobil.
“Nih, dipakai! Gue nggak mau sampai kena tilang gara-gara lo nggak pakai helm.” Dylan memberikan helm yang biasa dipakai ibunya.
Luna menerimanya dengan kasar. Ia memasang helm itu ke kepala, lalu melipir ke belakang dan naik ke boncengan Dylan.
Dylan memencet klakson motornya. Menoleh ke belakang untuk berpamitan dengan kedua orang wanita yang berdiri mengantarkan kepergian mereka.
“Luna pergi Ma, Te!” teriak Luna saat motor sudah melaju meninggalkan perkarangan rumah.
“Nanti lo turun di depan gerbang aja ya!” teriak Dylan yang membuka percakapan.
Gadis yang diajak berbicara ini memajukan kepalanya. Hingga dagu ada di bawah bahu cowok yang fokus menyetir itu.
“Nggak mau! Sampai di gedung fakultas dong.” Luna juga membalas dengan bersuara keras karena suara kendaraan lebih berisik.
“Gue nggak mau kalau ada yang lihat kita berdua boncengan. ‘Kan kemarin gue sudah bilang nggak ada yang boleh tahu kalau kita tinggal bareng. Gue nggak mau ada gosip baru lagi yang akan nyeret-nyeret nama gue.”
Luna mengerutkan bibirnya, “Oke, lo ada benarnya.”
Dylan mengangguk dan kembali diam. Tidak terasa motor matic milik lelaki yang selalu berpakaian rapi ini berhenti.
Luna celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.
“Cepat turun sudah sampai!” perintah Dylan yang ikut mengamati sekitarnya, takut-takut ada teman sekelasnya yang melintas, “buruan!”
“Iya-iya, sabar dong.” Dengan bermalasan Luna turun dari boncengan. Perlahan melepas helm dan capat Dylan merebut helm itu dari tangan gadis ini, “benaran nih lo nggak mau nganterin gue sampai ke kelas?”
“Benarlah.” Dylan sudah bersiap-siap akan melajukan motornya lagi untuk masuk ke kampus.
Luna memegangi jaket yang Dylan pakai, “Dylan... anterin sampai kelas...” gadis itu merengek manja.
Dylan menatap gadis yang berdiri di sebelahnya itu. Ia tidak tega kalau benar-benar meninggalkannya.
“Ya sudah ayo naik!”
Senyum di bibir tipis milik Luna mengembang. Ia dengan cepat menaiki motor lagi. Dylan merasakan sengatan kecil saat tangan Luna dengan refleks melingkar di perutnya.
“Nggak usah peluk-peluk!” Cowok itu melepas pelukan di pinggangnya.
Luna cemberut atas sikap Dylan yang sedikit kasar. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum lagi.
“Ayo jalan mumpung belum banyak yang datang!”
Dylan mengangguk dan menggas kembali motor masuk lebih dalam ke kawasan perkuliahannya.
“Kalau nggak salah lo fakultas psikologi 'kan?” Dylan memastikan tujuannya pada Luna.
Luna mengangguk, “Iya, berasa artis gue semua orang sudah tahu jurusan gue gara-gara video itu. Lo sendiri fakultas apa?"
Dylan tidak bersuara. Namun, Luna berkata kembali, "Dengar-dengar dari Mama, lo fakultas kedokteran."
“Iya, benar. Gue ini calon dokter.”
“Wah, nggak nyangka ternyata lo pintar juga. Pantesan saat obatin luka gue tahu banget.”
Dylan hanya menyimak saja perkataan cewek di belakangnya hingga sampai ke depan gedung yang dituju.
“Sudah sampai.”
Luna pun turun dengan wajah yang sumbringah, “Makasih. Gitu dong, kalau kasih tebengan jangan nanggung.”
“Kalau lo bukan anak Om Ardan mungkin gue nggak akan antar sampai sini.” Dylan sibuk memutar arah motornya, “gue pergi dulu.”
Setelah itu Dylan buru-buru meninggalkan Luna yang mematung di tempatnya.
“Songong betul itu cowok. Untung cakep.” Baru saja Luna berbalik dan akan melangkah, sosok Elina mengejutkannya, “astaga!”
“Siapa itu?” tanya Elina menunjuk dengan dagunya.
“Ih, lo ngagetin aja.” Luna melihat ke arah Dylan pergi, “bukan siapa-siapa cuma tukang ojek.”
“Tumben naik ojek? Biasanya lo diantar bokap.”
“Sudah-sudah nanti gue ceritain di dalem aja. Ayo masuk!”
Luna mendorong Elina untuk mengikutinya berjalan menuju kelas pagi ini.
“Cerita dong, kenapa lo naik ojek?” Elina yang melangkahkan sepasang kaki bersamaan dengan sahabatnya itu terus saja mengintrogasi, “Tapi kok ojeknya kayak gue kenal. Pernah liat di mana ya?”
Luna menggigit bibir bawahnya. Jantungnya serasa mau copot saat Elina penasaran dengan Dylan. Bisa-bisa kalau ketahuan cowok itu akan mengeksekusinya.
“Bokap gue sibuk beberapa hari ini. Meeting aja kerjanya sampai nggak bisa ngantar gue. Jadi dengan terpaksa gue harus panas-panasan naik ojek.”
Elina mengangguk-anggukan kepala. Tanda ia paham. Luna bisa bernapas lega sekarang.
Namun, saat kakinya menginjak kelas. Luna berpapasan dengan Brian. Cowok yang sampai sekarang susah untuk Luna lupakan. Walau kelakuannya sering bikin gadis ini naik pitam.
“Senang ya bisa terkenal gara-gara bawa-bawa nama gue?” tanya cowok itu. Belum apa-apa lelaki di depan Luna itu sudah membuat jengkel.
“Apaan Luna malu tahu. Kenapa sih Brian nggak terima Luna aja?”
Elina menyenggol lengan Luna. Gadis itu hanya menoleh sebentar, lalu menatap Brian lagi.
“Gue sudah bilang lo harus secantik Alexandra dulu. Mungkin gue masih bisa mempertimbangkan.”
Luna terdiam. Dia pernah dengar nama Alexandra, si anak hukum yang mempunyai tubuh seperti model itu. Namun, Luna belum pernah bertemu secara langsung dengan gadis primadona kampus itu.
“Lagian yang mau sama gue itu banyak. Pusing kalau gue harus memutuskan. Gue lebih suka begini. Jadi jangan lagi-lagi sebut lo suka sama gue. Nikmati saja, status kita yang teman satu kelas ini. lo masih bisa memandangi gue dari jauh.” Setelah itu Brian melanjutkan jalannya keluar dari kelas.
Elina bergeser sedikit sambil menggelengkan kepala melihat kepergian Brian.
“Gila tuh cowok. Sok ganteng.” Elina menatap Luna yang masih mematung, “lo juga apaan sih masih saja minta jadi pacarnya. Cukup lo mempermalukan diri sendiri karena video yang viral itu.”
Luna memajukan sedikit bibirnya dan berjalan menuju kursi yang kosong. Kelas saat itu sudah lumayan ramai.
“Move on itu susah Elin. Gue butuh waktu. Gimana mau cepat lupa coba kalau orangnya aja masih mondar-mandir di depan gue.”
Elina tertegun dan ikut duduk di sebelah sahabatnya, “Maaf, gue terlalu maksain lo.”
Luna bergeming kembali.
•••
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Siti Khoeriyah
tambah penasaran
2020-07-10
0
Putri Dwiriwanty
ditunggu up nya thor
2020-06-27
0
Nenden Nuranisa
author aku kangen hopeless udah berapa bulan nih ga up
dilanjuutt yaahhh
seru ini ceritanyaaa
2020-06-19
0