Cowok usia 21 tahun ini melajukan motor matic dengan sentuhan warna dominan hitam masuk ke gang perkomplekan rumahnya.
Dari jauh ia melihat banyak orang di sekitar ruko tempat tinggal sekaligus tempat sang ibu mencari nafkah. Di sana juga terlihat mobil pemadam kebakaran.
Jantung Dylan berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menambah kecepatan laju kendaraan. Hatinya gelisah memikirkan keadaan sang ibu. Sampai di dekat kerumunan orang-orang, Dylan menghentikan motor, lalu memarkirkan asal.
Ia melihat ruko tempat tinggalnya sudah habis terbakar. Api sudah padam. Namun, ia tidak melihat batang hidung sang ibu.
“Ibu saya mana? Ibu selamat ‘kan?” tanyanya pada warga yang menjadikan peristiwa kebakaran itu tontonan.
Namun, tidak ada satu pun orang yang menjawabnya. Dylan menjadi panik. Pemuda itu mendekati ruko yang telah gosong sambil terus berteriak, memanggil ibunya.
“Ibu... Ibu...”
“Dylan!”
Suara yang tidak asing itu berhasil membuat Dylan menoleh. Ibunya selamat. Ia berdiri di dekat wartawan TV. Cowok itu lekas berlari dan memeluk orang tua tunggalnya.
Hanya ibunya-lah yang ia punya saat ini. Maka itu Dylan sangat khawatir jika wanita usia 47 tahunan itu terjadi apa-apa. Ayah sudah meninggal sejak Dylan berumur satu tahun. Namun, Ibu tidak pernah dan tidak memperbolehkan anak laki-lakinya ini melihat rupa dari sang ayah.
Ibu berkata kalau tidak baik terus meratapi orang yang sudah tak ada. Maka dari itu Dylan tidak tahu sama sekali wajah ayahnya.
“Ibu baik-baik saja ‘kan? Nggak ada yang luka?” Dylan memeriksa tubuh ibu dari atas hingga ke bawah.
Wanita ini tertawa pelan. Sedikit geli karena Dylan begitu khawatir. Padahal sudah terlihat dia tidak terluka sama sekali.
“Ibu nggak apa-apa sayang.” Ibu mengusap-usap pipi anaknya sambil tersenyum.
Dylan menghela napas, “Syukurlah, tadi aku tanya sama warga, tapi nggak ada yang jawab. Aku ‘kan jadi cemas.”
“Ibu nggak apa-apa, tapi...” wanita paruh baya ini melihat tempat tinggalnya telah rusak, “kita nggak ada tempat berteduh lagi. Usaha Ibu juga hancur. Bagaimana cara Ibu membiayai kuliahmu?”
Dylan mendengarkan ucapan ibunya dengan mata juga memandangi ruko yang sudah dia tempati sedari kecil.
Cowok itu kembali memeluk ibunya, “Ibu jangan khawatir. Soal kuliah Aku ‘kan pakai beasiswa. Untuk kurang-kurangnya biar Aku cari kerja part time.”
Ibu melepas pelukannya, “Kamu nggak boleh kerja! Kamu harus fokus pada kuliah. Kamu belajar saja sampai benar-benar menjadi dokter. Untuk mencari uang serahkan pada Ibu.”
“Ibu mau cari uang bagaimana?” Dylan menunjuk ruko di depannya, “warung makan Ibu sudah terbakar. Semuanya sudah hangus.”
Wanita dengan rambut dicepol itu berusaha tersenyum walau sebenarnya dia sangat sedih sekarang.
“Tenang saja bakal ada jalan buat Ibu buka warung makan lagi.”
Dylan tertegun melihat wanita di depannya sangatlah tegar. Dari dulu wanita bernama Rania ini memanglah tangguh. Sebagai anak, Dylan sangat bangga mempunyai ibu seperti Rania.
•••
Luna sedikit membanting pintu saat akan menutupnya. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampirinya yang sedang melepas sepatu.
“Luna, mama liat kamu ada di Instagram, facebook, sama twitter.”
Gadis yang sudah selesai melepas alas kakinya ini terkejut.
“Hah yang benar, Ma?”
Sinta mengangguk, “Kamu ada di mana-mana. Mama nggak nyangka anak perempuan Mama bisa sesepiral itu.”
Mama begitu senang mengetahui Luna menjadi sangat terkenal.
“Mama, viral bukan sepiral!” protes Luna yang terus berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
“Iyalah itu sepiral.”
Luna memutar bola matanya.
“Mama salut sama kamu yang berani nembak cowok.” Sinta membuntuti putrinya hingga ke kamar.
Luna membuang ransel ke atas kasur dan berkacak pinggang menatap sang mama.
“Ini tuh malu-maluin Mama. Sekarang Luna jadi bahan ejekan di Kampus. Harusnya Luna nggak nembak cowok. Apa lagi cowoknya Brian yang jelas-jelas nolak Luna.”
Gadis berusia 21 tahun itu mendudukan bokong di tepi ranjang.
“Luna emang bodoh, bodoh!” Luna meruntuki dirinya sendiri, “sekarang Luna nggak sanggup masuk kampus, Ma.”
“Nembak cowok itu bukan sebuah aib, Nak.” Sinta ikut duduk di sebelah anak sulungnya, “mama dulu juga terus-terusan ditolak Papa, tapi Mama nggak pernah nyerah. Sekarang Papamu cinta banget sama Mama ‘kan? kalau kata anak zaman sekarang tuh, bucin.”
Luna menatap Sinta, “Jadi Mama dulu nembak Papa juga?”
Wanita itu mengangguk, “Sampai nggak kehitung berapa kali.” Ia tertawa setelahnya.
“Terus respons Papa gimana?”
“Papamu terus menolak. Ia juga sering mengatai Mama gadis bodoh.” Sinta mengambil ancang-ancang akan menirukan gaya suaminya, “hei gadis bodoh jangan terus-terusan mengikutiku! Aku tidak suka padamu! Carilah laki-laki lain!”
“Terus Mama nggak tersinggung?”
Sinta menggeleng, “Omongan Papa hanya Mama anggap angin lalu. Kalau Mama menyerah waktu itu mungkin kamu dan Bhiru nggak akan lahir ke dunia ini.”
“Cerita Mama buat Luna kembali percaya diri. Terima kasih, Ma.” Luna melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Sinta.
“Sama-sama sayang.” Sinta membalas pelukan, “jadi kamu nggak usah malu dan menganggap apa yang kamu lakukan salah.”
Luna yang menempelkan pipinya ke dada sang mama berkata, “Iya ma, tapi Luna nggak mau mengemis cinta pada Brian lagi. Brian sudah bikin malu Luna. Terus ngancurin gambar yang Luna bikin susah payah. Luna benci banget sekarang sama Brian.”
“Iya-iya, kamu nggak usah berhubungan lagi sama Brian. Dia nggak bisa menghargaimu. Dulu walau ucapan Papamu itu pedasnya mengalahi cabai, tapi ia tidak pernah menghancurkan apa yang Mama beri. Ia selalu menghargainya.” Sinta mengusap-usap kepala putrinya, menyalurkan rasa kasih sayang yang berhasil membuat anaknya ini nyaman.
“Sinta cepat ke sini!” teriakan seorang pria menggema pada rumah yang tak seberapa besar itu.
Luna melepas pelukannya, “Itu suara Papa ‘kan Ma? Papa nggak ke kantor?”
“Iya itu Papamu. Pinggangnya kumat lagi. Jadi, minta izin pulang cepat,” jelas Sinta.
“Sinta!” teriakan itu terdengar lagi.
Sinta segera bangkit, “Mama ke bawah dulu ya.”
Luna menganggukkan kepala.
“Iya, Pa. Mama datang!” Sinta tergesa-gesa pergi.
Sinta lekas berjalan memasuki ruang tengah. Di sana suaminya sedang menyasikkan acara dari televisi.
“Ada apa sih, Pa?” Sinta berdiri di belakang sofa tempat suaminya duduk.
“Lihat itu berita kebakaran!”
Sinta memfokuskan matanya pada berita di televisi, “kasihan ya, Pa. Ibu itu sudah nggak ada tempat tinggal.”
“Coba lihat lebih teliti lagi, Ma!”
Sinta hanya menurut saja dengan pria berusia 47 tahun itu.
“Mama udah lihat, Pa. Ibu itu kasihan rukonya terbakar.”
“Mama nggak kenal sama ibu yang diwawancarai itu?”
Pertanyaan Wardana membuat Sinta memperhatikan wanita yang sedang diwawancarai wartawan dengan background ruko yang sedang dipadamkan.
Masih terus memperhatikan Wardana bersuara lagi, “itu Rania, Ma. Teman SMA Papa dulu.”
“Hah?” Sinta begitu terkejut, “yang rumahnya di depan rumah Papa ‘kan?”
“Nah itu kamu ingat.” Wardana menjentikkan jarinya.
“Sekarang tempat tinggalnya terbakar, Pa?”
“Itu yang sedang Papa pikirkan Ma. Kasihan sekali teman Papa itu. Dulu keluarganya sangat baik dengan keluarga Papa.”
“Bagaimana kalau kita ajak tinggal di rumah ini saja, Pa?” senyum Sinta mengembang.
“Papa juga kepikiran begitu, Ma.” Pria ini ikut tersenyum dengan menatap istrinya sebentar, lalu melihat televisi kembali.
“Sepertinya Papa juga tahu daerah itu.”
•••
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
adade
sepiral 😂
2020-08-06
0
RiNaa SaRinah
perasaan kaya nonton drama jepang n korea ni yg judul ny miscisius kiss n versi korean naughty kiss tp ni kebalikannya yg cowo mlh numpang d cewe🤣
2020-08-05
4
Siti Khoeriyah
klo jodoh tak kan kmna😁😁
2020-07-10
0