Menjalani kehidupan di kota metropolitan membuat seorang gadis cantik, berparas menawan harus berkerja apa saja demi memenuhi hidupnya hingga tak sengaja masuk ke dalam dunia gelap.
- Viola Kinara, 17 th
Gadis cantik dari desa berharap kejayaan di kota, semata-mata ingin mengubah takdir hidupnya menjadi wanita sukses namun di tengah jalan, langkahnya berubah.
- Rehan Ferryan, 25 th
Pria tampan, salah satu CEO perusahaan ternama. Rehan memiliki sikap arrogan, sombong dan angkuh hingga pada suatu malam bertemu dengan Viola.
Viola yang selama ini bersikap tertutup pada siapa pun, seketika berubah setelah dipertemukan Rehan, si pria kulkas.
Akankah Viola mampu merubah sikap arrogan dan mencuri simpati Rehan yang masih tidak terima atas kepergian Keysa untuk selama-lamanya?
Pantengin aja ya! See you.. part new :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Langit Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Trio Semprul Bertemu
Di Restoran terkenal.
Matahari sudah tidak tampak lagi, langit pun sudah menjelma menjadi gulita hanya terangnya lampu yang menyinari seluruh gedung yang sudah dipenuhi pengungjung.
Tampak dari sana, 3 manusia yang sedang saling menatap dalam diam.
Rehan yang melihat Hari dalam dan lama, begitu pun sebaliknya sedang Wisnu, ia menatap kedua manusia menurutnya bodoh itu dengan kepasrahan.
"Astaga, mengapa mereka hanya saling menatap saja." gumam Wisnu.
Karena bosan melihat tingkah kedua sahabat nurjananya itu yang memilih saling terdiam.
Bila tahu seperti ini, Wisnu akan memilih untuk tidak ikut dibanding harus ikutan seperti orang bodoh.
Rehan dan Hari yang mendengar, langsung menatap kearah Wisnu dengan tatapan tajam.
"Diam kau!!" bentakan Rehan dan Hari berhasil membuat Wisnu kaget.
Ia tidak menyangka bila kedua sahabatnya itu mendengar semua ocehannya.
Melihat Wisnu sudah bungkam, Rehan dan Hari kembali saling menatap dan tidak lama setelahnya, mereka pun tertawa bersama.
"Hahahaha!!"
Suara mereka akhirnya menggema, mereka bahkan sudah menjadi pusat perhatian di restoran itu.
"Astaga, kecilkan suara kalian. Apa kalian tidak malu diliatin banyak orang." ucap Wisnu menempelkan jari telunjuk dibibirnya.
"Tidak." lagi-lagi Rehan dan Hari berucap kompak namun Wisnu melihat itu menghela napas.
"Baiklah, baiklah. Terserah kalian saja." tidak mau ambil pusing, Wisnu memilih memainkan ponsel.
Sedang Rehan dan Hari kembali bercerita, ketiganya memang selalu bertemu bila ada waktu senggang.
Sekalian menghapus penat yang seharian ini sibuk dengan urusan masing-masing.
"Hari, apa kau tahu hari ini aku sangat sibuk." ucap Rehan memberitahu.
"Sibuk? sibuk apanya?" Hari menautkan kedua alisnya tanda penasaran.
"Sibuk dengan urusan kantor kah atau sibuk berduaan dengan Viola maksudmu?" tambah Hari semakin serius.
"Kau!!"
Mendengar nama itu disebut, membuat Rehan mendadak kesal. Hari yang tahu perubahan sikap Rehan kembali menautkan alisnya.
"Ada apa? ada apa dengan wajah jelekmu itu?" tanya Hari heran.
"Enak saja jelek, wajah Wisnu tuh yang jelek." tidak suka dikatai jelek, Rehan melampiaskannya kepada Wisnu.
Namun itu memang benar. Diantara ketiga pria tampan yang diidolakan para wanita, wajah Wisnu lah yang bisa dikata biasa, bila dibandingkan dengan wajah Rehan dan Hari.
Wisnu yang sadar diri hanya bisa memutar bola matanya jerah, bila sudah dikatai jelek oleh kedua sahabat nurjananya.
"Mereka selalu saja mengataiku jelek, padahal merekalah yang si buruk rupa." tidak mau kalah, Wisnu pun membalas ucapan Rehan dan Hari dalam hati.
"Iya aku ini sangat kesal, mengapa kau malah memilih membahas gadis menjengkelkan itu."
"Menjengkelkan?" ulang Hari.
Rehan langsung mengangguk, menurutnya Viola adalah gadis aneh akan setiap tindakan yang ia lakukan.
"Kau tahu Viola itu selalu saja membuat darahku mendidih, sejak kemarin wanita itu selalu berbuat seenaknya saja."
"Cih, katanya mendidih padahal dalamnya meleleh." gumam Wisnu dalam hati dengan tatapan masih terfokus pada ponselnya.
Hari yang tahu seluk-beluk sikap Rehan, ikut dibuat kaget.
"Benarkah? astaga, apakah gadis kecil itu semenyeramkan itu?"
Bukan Hari namanya bila tidak mengusili balik kedua sahabatnya, ia sangat jahil bila sudah bertemu.
"Iya, bukan hanya itu. Gadis kecil itu juga sangat sensitife. Baru juga telponnya tidak diangkat sama neneknya, eh dia sudah menangis."
"Hahahaha!!"
Wisnu yang sedari tadi memilih mendengar percakapan Hari dan Rehan akhirnya tertawa.
Membuat Rehan dan Hari kembali fokus kepada Wisnu yang masih tertawa.
"Kenapa kau malah tertawa, apa ucapanku ini salah?" tanya Rehan dengan wajah datar.
"Tentu, kalian itu sangat lucu. Kalian sudah lama mengenal wanita tapi kenapa hal begitu saja kalian tidak tahu."
Hari dan Rehan lalu saling memandang, seakan ucapan Wisnu lelucon untuknya. Mereka pun ikut tertawa.
"Wahwah, dasar gila." cibir Wisnu karena kedua sahabatnya terlihat sudah tidak ada yang waras.
Setelah puas tertawa, Hari pun melihat Wisnu sambil menahan tawa.
"Apa kau tahu, diantara kita siapa yang tidak waras?" ucap Hari lalu menatap kedua sahabatnya yang sudah menggeleng.
"Itu adalah kau." Hari pun menatap Wisnu yang sudah melotot sambil menunjuk dirinya.
"Aku?" ulang Wisnu karena masih belum percaya akan ucapan Hari.
"Iya kau." jawab Hari penuh penekanan.
"Haha, apa kau kira kami tidak tahu kebodohanmu. Kau itu adalah pria terngenes diantara kita, apa kau tidak sadar itu?" lanjut Hari.
"Iya, kau kan sudah diputusin Gea tapi kenapa kau masih mengejarnya seakan kau tidak laku saja." tambah Rehan ikut menimpali.
Hari dan Rehan memang seperti itu, mereka selalu berbicara blak-blakan ketika sudah kumpul.
Wisnu mendengar ucapan Hari dan Rehan mulai menggeram, niatnya ingin membuat Hari dan Rehan malu malah dia sendirilah yang menjadi korban.
"Bacot kau!!"
Ucapan Hari dan Rehan memang benar tentangnya tapi Wisnu masih tidak menyangka bila Rehan dan Hari tahu akan hal itu.
Rehan dan Hari melihat ekspresi Wisnu, kembali menertawai kebodohan sahabatnya.
"Apa kau tahu, aku dan Rehan tahu semua itu dari Gea sendiri. Gea bilang kau pria paling brengs*k."
Masih belum percaya, Wisnu membelakakkan matanya. Semua pikiran negatife sudah terbelenggu menjadi satu.
Flashback On
Wisnu menatap wajah cantik Gea saat pintu sudah terbuka lebar.
Saat itu Wisnu dalam keadaan mabuk berat karena habis minum bersama kedua sahabat nurjananya.
"Gea, kau cantik sekali."
Wisnu sudah jalan sempoyongan, mendekati Gea yang sudah melotot.
Ia begitu terkejut melihat kekasihnya itu, sudah dibuat tidak waras akibat minuman.
"Apa semua ini perbuatan kedua sahabat nurjanamu lagi?" tanya Gea yang langsung diangguki Wisnu.
"Te-tentu tapi kau jangan menyebut mereka seperti itu, bila mereka tahu kau itu sudah mengatainya mereka tidak akan tinggal diam."
Saat Wisnu sudah berada di depan Gea, ia langsung menangkup wajah kekasihnya lalu menyatukan benda kenyal miliknya dan Gea.
Walau itu bukan hal pertama bagi keduanya namun Gea dengan cepat melepas penyatuan itu, ketika ia sadar ciuman Wisnu sudah begitu panas.
Bagaikan orang kerasukan, Wisnu sudah mulai merabah sesuatu yang selama ini Gea jaga dan lindungi.
Plakk..
Satu tamparan lepas ke pipi kanan Wisnu, pria yang dalam keadaan mabuk itu langsung memegang wajahnya.
"Mengapa kau menampar kekasihmu sendiri?" ucap Wisnu masih setengah sadar.
"Kekasih? kau bilang dirimu kekasihku?" Gea berkata dengan wajah padam, memerah.
"Mulai sekarang kau bukan kekasihku lagi karena kau dan kedua temanmu itu sama-sama pria brengs*k."
Plakkk..
Tamparan kedua kembali melayang di pipi kiri Wisnu. Gea memang kekasih Wisnu namun dia bukanlah wanita yang mudah diluluhkan bila sudah menyangkut harga diri.
"Jangan kau sangka, bila aku kekasihmu maka kau sudah bisa berbuat apapun padaku, Nu."
"Aku memanglah kekasihmu tapi tubuhku ini belum pantas untuk kau miliki sepenuhnya."
Wisnu pun bungkam seribu bahasa, kesadarannya mulai kembali setelah mendapat tamparan kedua dari Gea, wanita yang paling ia cintai.
"Oh iya, dimana kedua teman nurjanamu itu?" tanya Gea sebelum pergi meninggalkan Wisnu.
"Mereka masih ada di club Hari." jawab Wisnu apa adanya.
Tanpa menunggu lama, Gea pergi meninggalkan Wisnu yang masih berada di apartemen milik Gea.
Saat ini, Gea dalam keadaan emosi tingkat dewa. Di dalam pikirannya dipenuhi oleh dua sosok pria tampan yang sebentar lagi akan mendapat balasan yang setimpal darinya.
"Kau tenang saja, aku akan membalas perbuatan mereka berdua."
Setelah tiba di club, mata Gea menerawang jauh mencari 2 sosok pria yang akan menjadi korban selanjutnya.
Senyum licik terbit di wajah Gea ketika penglihatannya tertujuh kepada dua sosok tersebut.
Dengan hentakan kasar, Gea mendatangi meja yang ditempati Hari dan Rehan yang juga sudah sama kacaunya seperti Wisnu.
"Ini untukmu." Gea meraih minuman wanita yang berada disisi Rehan lalu kembali meraih minuman wanita yang berada disisi Hari.
"Dan ini juga buatmu." Gea tersenyum pekik melihat Rehan dan Hari yang sudah mengusap wajahnya karena basah.
Terima kasih..
semangat
"Hot Young Mom and King Mafia"
"Young Grandmom"
lanjut kak
semangat
Hadir nya diriku 💕💕💕💕💕memberikan like pada mu 👍👍👍👍