Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.
Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."
Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."
Brama : " Hapuslah!"
AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
"Apa! Kamu sudah menikah?" tanya Rika, kaget ketika Naya menceritakan semuanya.
"Huss! Jangan rame-rame!" Naya mengangguk. "Iya, tapi semua hanya pura-pura dan sebagai status saja."
"Ya Tuhan, bukankah ini seperti di drama-drama korea. Pria tampan menikahi gadis miskin dan..."
Naya langsung menjitak kening temannya itu. "Jangan asal deh! Mas Bram itu gak sama, gak akan pernah sama."
"Aduh! Bikin penasaran aja, seperti siapa mas Bram mu itu?" tanyanya bersamaan gelak tawa.
"Ada deh, orangnya galak banget! Ngeri."
"Ah, bikin orang takut aja." Rika bergidik ngeri. "Mungkin mirip pilm pilm India."
Naya jadi tertawa. "Ha ha, sekarang nyasar ke India. Jangan banyak berkhayal!"
"Kamu tahu gak? Cinta itu datangnya dari sebuah kebersamaan." ucap Rika menggoda temannya.
"Apaan? Pengen kabur aja, iya." sahutnya asal.
"Jangan gitu! Nanti jatuh cinta beneran loh."
"Duh! Jangan sampek deh! Dia sendiri yang mengatakan hal itu berulang, aku tidak boleh sampai menyukainya."
"Wah! Kalau kalian akan hidup bersama selamanya, bagaimana mungkin kalian akan terikat selamanya tanpa perasaan?"
Naya mengangkat kedua bahunya. "Gak tau lah! Aku jalani aja selama itu nyaman. Tapi sepertinya hubungan ini cuma sementara, gak akan selamanya."
"Bener juga sih." Rika memeluk temannya itu. "Oh, jadi kasian."
Naya mengangguk. "Iya. Hiiiksss"
****
Brama tengah selesai menjalani rapat dan kembali ke ruang kerjanya.
"Ah, berikan lagi laporan keungan kepadaku!" perintah Brama pada Ilham.
"Baik Tuan." sahutnya menunduk.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan itu pasti kekasihnya karena mengetuk pintu ruang kerjanya tanpa pemberitahuan.
"Sayang." ucap Selena.
Langsung saja Selena masuk, dan Brama tentu menyambutnya senang.
Selena langsung duduk dipangkuan Brama dan memanja padanya, tanpa memperdulikan Ilham yang masih berdiri ditempatnya.
Brama kemudian memberikan isyarat pada asisten sekaligus sekretarisnya itu agar pergi segera dari ruang kerjanya.
Ilham lalu menunduk, dan berbalik keluar segera.
"Sayang, besok aku sudah kembali keluar kota untuk melakukan syuting. Bisa gak malam ini kamu temenin aku aja?" pinta Selena sembari berbisik ditelinga kekasihnya itu.
"Bagaimana kalau kamu meminta yang lain saja? Aku akan memberi semua yang kamu inginkan kecuali hal itu."
"Ah, kamu jahat banget sih. Aku udah gak tahan tahu." ucapnya kecewa.
Brama jadi terkekeh geli menanggapinya. "Tenang ya! Beberapa bulan lagi aku akan menceraikannya lalu menikahimu." mengelus rambut Selena.
"Baiklah! Aku akan sabar menunggu itu." sahutnya, mendekatkan diri untuk menyatukan bibir miliknya dengan bibir milik Brama.
Tapi tak sampai menyatu, Ilham langsung masuk begitu saja mengganggu mereka dengan sengaja.
Brama menoleh. "Ilham, ada apa?"
"Laporan keuangan yang Tuan minta." sahutnya, sembari menyodorkan berkas.
"Ah, baiklah. Taruh saja dimeja. Sebaiknya kita pulang saja mengantarkan Selena lebih dulu."
"Sayang." dengus Selena dengan nada manja.
"Aku akan mengantarmu pulang! Sebentar lagi memasuki petang. Ya?" pintanya tak bisa ditolak.
Selena beranjak berdiri dengan kesal. "Huh, baiklah."
Menyebalkan.
Akhirnya mereka memasuki mobil untuk segera melaju ke apartemen Selena, dan Ilham bertugas mengendalikan mobil untuk mereka berdua.
Dan tentu, setiap Selena mengambil kesempatan untuk mencium kekasihnya, Ilham menghentikan mobil secara mendadak agar mereka selalu gagal.
"Kamu bisa nyetir gak sih?" bentak Selena kesal.
"Maaf Nona." sahut Ilham penuh kemenangan.
Tentu karena Brama tidak menyukai tingkah kasar itu. "Jangan membentak Ilham!" pintanya, menyatukan alisnya.
"Maaf sayang? Aku tidak sengaja. Lagian dia sih ganggu aja."
"Aku tidak suka jika kamu berbicara kasar terhadap asistenku. Ilham itu bukan hanya bawahanku tetapi dia adalah temanku, jadi jagalah sikap ketidak sopananmu itu."
"Maaf sayang." memeluk Brama, merengek meminta ampun.
Hingga akhirnya telah sampai didepan gedung apartemen, mobil berhenti didepan tak sampai masuk kedalam parkiran. "Kita sudah sampai, turunlah!" pinta Brama.
Selena hanya bisa menghela nafas, turun dengan kekalahan. "Baiklah."
Lalu Brama dan Ilham melaju begitu saja untuk pulang.
"Ih, dasar nyebelin! Kalau bukan karena kamu kaya dan tampan. Mana betah aku denganmu." umpatnya kesal pada mereka yang sudah berlalu pergi.
Lalu tiba-tiba datang seorang pria menutup mata Selena dari belakang. "Eh, siapa?" tanyanya.
Pria itu melepas jemarinya yang menutup penglihatan Selena, dan Selena berbalik menatapnya.
"Aku merindukanmu." ucapnya.
"Aku juga merindukanmu." sahutnya, memeluk pria itu.
****
Sesampainya dirumah, Brama langsung melihat kearah jendela yang biasanya istrinya selalu termenung disana.
"Nona kemana?" tanya Brama pada pelayannya.
"Non Naya belum pulang Tuan."
"Apa!" Brama kaget. "Ini sudah malam, kenapa dia belum juga pulang sih." gumamnya kesal.
Brama lalu menoleh pada asistennya. "Cepat hubungi Naya! Suruh dia untuk pulang." pintanya.
Ilham menunduk. "Maaf Tuan, saya tidak mempunyai nomor telfon Nona. Kenapa tidak Anda sendiri yang menghubunginya?"
Brama mengangguk, menelaah. "Ah, iya." mengambil ponsel yang ada disakunya. "Eh! Aku akan tidak tahu nomor telfonnya." ia mulai bingung.
Brama mulai gelisah, berpikiran kemana-kemana. Pikiran terburuknya adalah Naya diculik oleh preman. Dalam pikiran anehnya.
Ia berjalan mondar mandir, membuat Ilham yang melihat tingkahnya jadi pusing.
Brama menepuk kepalanya untuk berpikir, mengingat nama temannya itu. "Ri... Rika." akhirnya berhasil mengingat. "Cari tahu rumah Rika, teman sekelasnya. Kita harus menyusulnya sekarang."
"Baik Tuan."
Belum sampai Ilham penghubungi pihak sekolah, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
Naya baru saja datang.
"Selamat malam." sapa Naya memasuki rumah.
"Kamu darimana saja, hah?" bentak Brama membuat Naya terhenyak kaget.
****
Kamsamida :*