NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VARIABEL PALING MENGEMASKAN

Matahari baru saja terbit di atas megahnya gedung National Center for Advanced Biomedical Sciences. Di lantai atas, ruang kerja Head of Biomedical Research yang biasanya tenang dan steril kini menunjukkan pemandangan yang tak biasa.

Di atas meja kerja jati milik Profesor Akira, di antara tumpukan draf jurnal ilmiah, analisis data genetika, dan laporan riset laboratorium, terselip sebuah botol steril berisi ASI perah dan panduan cetak berformat tabel rapi bertuliskan: "Protokol Transisi MPASI & Jadwal Tidur Sena (Revisi v3.2)".

Akira menyesuaikan letak kacamata bacanya, menatap layar monitor yang menampilkan dua hal bersamaan: skema penelitian biomedis terbaru dan rekaman CCTV kamar bayi di rumah Meguro melalui ponselnya.

"Profesor Akira, ini data hasil uji klinis dari Tim B—" Asisten risetnya, Haruto, terhenti di ambang pintu. Matanya berkedip bingung menatap tas punggung hitam besar berlogo brand perlengkapan bayi yang bersandar anggun di samping jas laboratorium Akira.

"Letakkan di meja, Haruto. Dan tolong pastikan seminar pukul dua siang selesai tepat waktu," ujar Akira dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Saya ada jadwal mendesak yang tidak bisa diganggu."

"Ada eksperimen sampel sensitif di laboratorium, Prof?" tanya Haruto penasaran.

"Tidak. Saya harus menggantikan tugas istri saya menjaga putri kami karena dia ada jadwal shooting pemotretan perdana hari ini," jawab Akira datar, seolah hal itu setara dengan misi penyelamatan sains tingkat tinggi.

Haruto tertegun sejenak sebelum tersenyum canggung. Di mata para ilmuwan muda di lembaga penelitian bergengsi ini, Profesor Akira Meguro adalah sosok jenius tanpa cela yang dingin, kaku, dan berdedikasi penuh pada ilmu pengetahuan. Namun, sejak kelahiran Sena lima bulan lalu, aura sang Profesor bergeser tipis—masih tajam dan rasional, tetapi kini beraroma lembut minyak telon.

Sementara itu, di sebuah studio pemotretan yang bising di pusat kota Tokyo, suasana tak kalah tegang. Lampu-lampu kilat bernilai ratusan juta rupiah berkedip tanpa henti. Yuki berdiri anggun di depan cermin besar bernuansa emas, dikelilingi oleh dua makeup artist dan Mbak Maya yang sibuk memeriksa detail gaun-gaun koleksi terbaru.

Meskipun riasan wajahnya sempurna dan stamina fisik sang supermodel telah kembali seperti semula, mata jernih Yuki terus melirik layar ponselnya yang tergeletak di atas meja rias setiap beberapa puluh detik.

"Yuki, relax... Bahumu tegang sekali. Garis lehermu jadi kelihatan kaku di kamera," tegur Mbak Maya lembut seraya memegang kedua bahu model utamanya itu. "Sena aman bersama Prof Akira. Lagi pula, dia memimpin seluruh departemen riset biomedis negara ini, mengurus bayi lima bulan tentu bukan masalah besar baginya, kan?"

Yuki terkekeh pelan, meremas jemarinya sendiri saat meresapi rasa sesak halus di dadanya—sebuah perasaan asing yang baru ia pahami setelah menjadi seorang ibu: separation anxiety.

"Justru itu yang bikin aku cemas, Mbak," bisik Yuki penuh kekhawatiran. "Akira itu menganalisis tangisan bayi pakai variabel logika. Kalau Sena rewel karena kangen aku, rumus fisika atau biokimia apa yang mau dia pakai untuk menenangkannya?"

Mbak Maya tertawa renyah. "Percayalah pada suamimu. Pria yang bisa memecahkan struktur DNA kompleks tidak akan kalah hanya oleh sesendok puree buah dan bayi yang sedang mengantuk."

Yuki menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya telah berubah—pinggulnya sedikit lebih lebar dan tatapan matanya kini menyimpan kehangatan naluri keibuan yang dalam. Namun, ketika lensa kamera mulai mengarah padanya, pendar keanggunan seorang supermodel papan atas kembali memancar sempurna. Yuki profesional, dan ia bertekad menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa segera pulang.

Di saat yang sama, batas antara dunia laboratorium yang steril dan dinamika pengasuhan di rumah Meguro mulai menguji kapasitas otak sang Profesor.

Akira telah memajukan jadwal diskusinya dengan para peneliti. Usai menyerahkan tanggung jawab pengawasan sampel kultur sel kepada asistennya, ia melangkah keluar dari gedung National Center for Advanced Biomedical Sciences persis pukul satu siang.

Dengan langkah tegap dan tas bayi hitam tersampir di bahunya, Akira mengendarai mobilnya kembali ke rumah. Di dalam pikirannya, seluruh skenario telah terkalkulasi secara matematis:

 * Pukul 13.30: Tiba di rumah, mensterilkan tangan dan mengganti baju pakaian luar dengan pakaian rumah bersuhu stabil.

 * Pukul 13.45: Memanaskan puree alpukat dan ASI perah pada suhu ideal 37^\circ\text{C}.

 * Pukul 14.00: Pemberian MPASI, diikuti jadwal tidur siang Sena tepat pukul 14.30.

Namun, variabel sains sering kali runtuh di hadapan naluri seorang bayi lima bulan.

Saat Akira membuka pintu rumah, suasana hening. Ibu Yuki yang bertugas menjaga Sena sejak pagi tersenyum lega menyambut menantunya.

"Ah, Akira, kamu sudah datang," bisik Ibu Yuki pelan agar tidak mengejutkan Sena yang sedang berada di dalam boks bayi. "Sena baru saja bangun. Dia agak gelisah sejak setengah jam lalu, sepertinya mencari keberadaan ibunya."

"Terima kasih banyak, Ibu. Saya akan mengambil alih sisanya," ujar Akira sopan.

Setelah mertuanya pamit pulang, Akira segera menjalankan protokol yang telah ia susun. Ia mencuci tangan hingga steril, mengganti kemejanya dengan kaus katun lembut, lalu menyiapkan mangkuk berisi puree alpukat segar.

Akira menghampiri boks bayi. Sena sedang terlentang, menatap langit-langit kamar dengan bibir yang melengkung ke bawah. Matanya yang bulat jernih berkaca-kaca. Begitu melihat sosok ayahnya mendekat, bayi mungil itu langsung menendang-nendangkan kakinya yang gempal ke udara, menyuarakan tangisan kecil yang makin lama makin nyaring.

"Oea... oea..."

Akira mengangkat Sena dengan kehati-hatian ekstra, menopang kepala dan punggung putrinya dengan lengan kokohnya. "Sena, berdasarkan analisis waktu, kamu belum memasuki fase lapar ekstrem. Apakah ada ketidaknyamanan pada popok atau regulasi suhu tubuh?"

Akira memeriksa popok Sena—kering. Ia memeriksa suhu leher belakangnya—normal. Namun, tangisan Sena tidak kunjung mereda. Bayi itu menyandarkan wajahnya di dada Akira, meraba-raba kain kaus ayahnya dengan tangan kecilnya, seolah mencari aroma khas ibunya yang biasa menyusuinya di jam-jam seperti ini.

Akira menghentikan sejenak analisis logisnya. Ia teringat tulisan dalam salah satu jurnal psikologi perkembangan anak yang pernah ia baca sekilas: stimulasi emosional dan kontak kulit-ke-kulit mampu menekan kadar kortisol pada bayi yang mengalami kecemasan perpisahan.

Pria berotak dingin itu menghela napas lembut. Ia duduk di kursi goyang dekat jendela ruang keluarga, meletakkan Sena tegak di dadanya, lalu mulai menepuk-nepuk punggung mungil putrinya secara konstan dengan irama ritmis—sekitar 60 ketukan per menit, menyerupai detak jantung manusia dalam kondisi tenang.

"Sena," bisik Akira dengan suara basnya yang dalam dan berat. "Ibu sedang bekerja. Dia akan segera kembali. Secara kalkulasi, probabilitas kepulangannya adalah 100% sebelum matahari terbenam."

Ajaibnya, nada suara bernuansa ilmiah namun tenang dari sang ayah mulai memberikan efek. Tangisan Sena perlahan surut menjadi isakan pelan. Bayi cantik itu mengerutkan hidungnya, mendongak menatap wajah Akira yang begitu dekat dengannya. Jemari gempalnya menggapai dan memegang erat kerah kaus Akira.

Akira tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang hanya tercipta untuk dua wanita dalam hidupnya. Ia mengambil sendok silikon kecil di meja, lalu menyuapkan sedikit puree alpukat ke bibir Sena. Sena mengecap rasa baru itu dengan ragu, sebelum akhirnya membuka mulutnya lebar-lebar dengan antusias, membuat Akira menghembuskan napas lega yang tak disadarinya telah ia tahan.

Pukul empat sore, pintu depan rumah Meguro terbuka. Yuki melangkah masuk dengan wajah lelah namun penuh antisipasi. Ia melepas sepatu tumit tingginya dan bergegas menuju ruang keluarga.

Pemandangan yang menyambutnya di ruang tengah seketika meluluhkan seluruh rasa lelah dan kecemasan yang ia rasakan sepanjang hari di studio pemotretan.

Akira tertidur bersandar di sofa dengan kacamata baca yang sedikit miring di hidungnya. Di atas dada bidang sang Profesor, Sena terlelap dengan sangat nyenyak, bernapas halus dengan satu tangan mungilnya masih menggenggam ibu jari ayahnya erat-erat. Di meja samping sofa, terdapat mangkuk MPASI yang sudah kosong bersih dan sebuah catatan kecil bertuliskan tangan rapi:

‘Puree alpukat habis 100%. Tidur dimulai pukul 14.42. Respon emosional terstabilkan.’

Yuki menahan pekikan gemasnya. Ia mendekat perlahan, berlutut di samping sofa, lalu mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen berharga tersebut dalam satu jepretan foto.

Klip!

Kilatan lampu ponsel membuat Akira terbangun perlahan. Mata tajam di balik kaca matanya menyesuaikan cahaya sebelum berfokus pada sosok istrinya yang tersenyum hangat di hadapannya.

"Kamu sudah pulang, Yuki?" suara Akira terdengar serak khas orang bangun tidur, namun tangannya refleks makin melindungi tubuh Sena di dadanya.

"Iya, aku pulang..." bisik Yuki lembut, mengusap pipi Akira lalu mencium kening putrinya yang tertidur pulas. "Bagaimana hari pertama Head of Biomedical Research menjaga bayinya?"

Akira membetulkan posisi kacamatanya, menatap Yuki dengan pandangan teduh. "Eksperimen hari ini membuktikan satu hal, Yuki."

"Apa itu?" tanya Yuki penasaran.

"Menjaga Sena jauh lebih rumit daripada mengendalikan reaksi biokimia di laboratorium," ujar Akira datar, namun ada binar kehangatan di matanya. "Tapi... tingkat kepuasannya jauh melampaui publikasi jurnal ilmiah manapun."

Yuki tertawa kecil tanpa suara, menyandarkan kepalanya di bahu Akira, menikmati ketenangan sore di rumah mereka yang kini terasa makin utuh, hangat, dan penuh oleh cinta yang tak terukur oleh rumus apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!